KHUTBAH ‘IDUL ADHA 1435 H : REKONSTRUKSI PARADIGMA KURBAN DARI RITUS SERIMONIAL MENUJU PEMBANGUNAN MANUSIA SEUTUHNYA

Oleh :

AHMAD RAJAFI SAHRAN, MHI

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر {× 7} الله أكبر كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لا إ له إلا اللهُ وَحْدَ هْ صَدَقَ وَعْدَ هْ وَ نَصَرَ عَبْدَ هْ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَ هْ ، لا إ له إلا اللهُ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ ، لا إ له إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.

اْلحَمْدُ للهِ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ الْجَسِيْمِ، اِذْ مَنَّ عَلَيْنَا بِمُحَمَّدٍ اَفْضَلِ الْخَلْقِ اَجْمَعِيْنَ، فَهَدَانَا اِلَى دِيْنِ الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْكَرِيْمُ الْحَلِيْمُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ الَّذِي خَصَّى بِالْخُلُقِ الْعَظِيْمِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَلَّذِيْنَ فَازُوْا بِالْحَظِّ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا. أما بعد

فَيَا أ يُّهَاالنَّاسُ اتَّقُواللهَ وَافْعَلُوا مَأْمُوْرَاتِهِ وَاتْرُكُوْا مَنْهِيَّاتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {الأعراف : 204} وقال أيضا: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ، فَصَلِّ لِرَ بِّكَ وَانْحَرْ ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَ بْتَرُ . التكاثر : 3-1

الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد

 

Hadirin Jama’ah Shalat ‘Idul Adha yang Dirahmati Oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak terasa perjalanan waktu hingga saat ini, masih mencatat kita sebagai bagian kelompok manusia, yang dapat ikut meramaikan ibadah sunnah ‘idul adha. Bersamaan dengan hal itu pula, satu persatu orang-orang terdekat kita, tidak terasa telah pergi mendahului kita menghadap sang Khalik Allah Jalla wa ‘Ala. Untuk itu pada kesempatan ini, marilah kita bersama-sama berdoa agar kita yang masih diberi kesempatan menghirup udara dunia ini, mampu untuk dapat terus berusaha menjadi hamba yang lebih baik, dan meraih akhirat yang penuh dengan kenikmatan, bukan murka-Nya Allah ta’ala, amin ya Rabbal ‘alamin.

 Hadirin yang Berbahagia.

Berkurban adalah salah satu ibadah sunah yang mendekati wajib, sehingga sangat ditekankan pengimplementasiannya di dalam Islam. Rasulullah Muhammad saw bersbda sebagimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya Juz. 18 hlm. 27 :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا . رواه احمد

Artinya : “Bagi siapa yang memiliki kesempatan (baik waktu dan finansial) untuk berkurban namun tidak melaksanakan, maka janganlah mendekati tempat shalat kami.” [HR. Ahmad]

Kalimat “janganlah mendekati tempat shalat kami” di dalam matan hadits tersebut, dijelaskan oleh para ulama sebagai sebuah penekanan bahwa ketika seseorang memiliki kemampuan namun tidak mau berkurban maka sesungguhnya ia telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam lubang ketamakan dan keserakahan, sehingga Rasulullah saw dan umat Islam seluruhnya tidak berhak untuk dekat bersama-sama dengannya.

Secara historis, ibadah kurban merupakan produk adopsi yang mendapatkan revisi dari perbuatan Nabi Allah Ibrahim as bersama anaknya Isma’il as. Perintah kurban yang didapatkan oleh Nabi Ibrahim as melalui mimpi yang berulang-ulang, ternyata menjadikan anaknya Isma’il as sebagai objek dari ibadah kurban tersebut. Meskipun demikian, ketika perintah Allah tersebut disampaikan oleh Ibrahim as kepada anaknya, Isma’il as dengan tegas menyatakan penerimaannya atas perintah tersebut secara totalitas.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِ نِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَ نِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ . الصافات : 102

Artinya : “Maka tatkala anak itu telah mampu untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Kisah Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimassalam yang diabadikan oleh Allah swt di dalam al-Qur’an tersebut, kini menjadi pegangan umat Islam seluruh dunia dalam mengaktualisasikan perintah agama. Namun dalam tataran sosial kemanusiaan, ibadah kurban kini hanya menjadi ritus atau ritual serimonial semata sehingga menafikan maksud substantif dari kegiatan ibadah tersebut. Oleh karenanya, pada kesempatan ibadah adhha ini, kami akan menyampaikan sebuah renungan, nasihat agama dengan judul “Rekonstruksi Paradigma Kurban Dari Ritus Serimonial Menuju Pembangunan Manusia Seutuhnya”.

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Hadirin Rahimakumullah.

Terma kurban secara etimologi, menurut Ahmad Warson Munawwir alm, di dalam al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, berasal dari kata qaruba-yaqrabu-qurbanan, yang artinya dekat dan mendekati. Sedangkan dalam tradisi Arab menurut Ahmad bin Umar al-Syathiry al-‘Uluwy al-Husaini al-Tarimy di dalam Kitab al-Yaqut al-Nafis fi Madzhab ibn Idris, hal ini dikenal dengan istilah al-udhhiyyah, yang berarti :

مَا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ تَقَرُّ بًا إِلىَ اللهِ تَعَالىَ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ إِلىَ آخِرِ أَ يَّامِ التَّشْرِيْقِ

Artinya : “Apa yang disembelih dari binatang ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. pada hari nahr (10 dzulhijjah) sampai pada akhir hari tasyriq (13 dzulhijjah).

 

Secara definitif, kurban yang bermakna dekat, bermaksud untuk untuk memberi petunjuk bahwa apa yang dilakukan oleh umat manusia tidak lain adalah hanya untuk selalu dekat dengan nilai-nilai kebaikan. Dan jika ditinjau melalui pendekatan sosial, segala bentuk kebaikan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain baik personal maupun kolektif, maka akan menghasilkan kebaikan pula yang diterimanya baik dalam waktu dekat ataupun panjang. Hal ini selaras dengan kisah Isma’il yang akan dikurbankan oleh ayahnya, di mana ketika ia mendekatkan dirinya kepada nilai-nilai kebaikan berupa kepasrahan yang dalam kepada kehendak Allah, maka dalam waktu yang cepat Allah segera mengganti objek kurban dari manusia mejadi binatang ternak. Allah swt berfirman :

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ . الصفات : 107

Artinya : “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Inilah salah satu substansi dari perintah kurban, di mana dalam membentuk manusia yang seutuhnya, hendaknya didasarkan atas nilai-nilai kebaikan, bukannya atas kehendak syahwatiyyah yang berasal dari syetan la’natullah ‘alaih. Penanaman nilai-nilai kebaikan di atas, hendaknya disalurkan dan disebarkan kepada seluruh sanak saudara, sebagai bentuk pengabdian kita atas nama kebaikan. Karena fenomena sosial kini telah berubah, umat Islam kini tidak lagi susah untuk ikut berkurban, mereka berbondong mengikuti arisan atau tabungan kurban setiap tahunnya demi memenuhi kuota pengkurban di masjid atau dikampung halaman mereka.

Perubahan itu terjadi akibat dari pengaruh globalisasi dan keterbukaan informasi, di mana saat ini setiap praktik-praktik ibadah sosial, harus pula dinformasikan secara umum di hadapan jama’ah. Walhasil, terjadilah pertempuran batin antara kebaikan dan kemaksiatan dalam menyikapi informasi tersebut, apakah terbersit sikap bangga ataukah tidak. Karena jika itu terjadi, maka sesungguhnya ia telah berlaku riya’ (ingin dilihat) dan juga sum’ah (ingin mendapatkan pujian) yang merupakan bagian dari perilaku kesombongan. Rasulullah saw bersabda :

اِنَّ اَخْوَفَ مَا اَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْ كُ اْلاَصْغَرُ، قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ . رواه احمد

Artinya : “Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan dari beberapa hal yang aku khawatirkan adalah syirik kecil. Sahabat bertanya; Apa syirik kecil itu, ya Rasulallah ? Beliau menjawab; Riya’.” [HR. Ahmad]

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa dalam melakukan kebaikan, begitu banyak halangan dan rintangan baik yang berasal dari dalam (internal) ataupun dari luar (external). Oleh karenanya pada konsep ini, kita harus mulai untuk mau melakukan konstruksi ulang atas paradigma ibadah kurban yang kita lakukan, dengan cara penggemblengan secara keras dan continue (terus menerus) aspek bathiniyah kita melalui pengetahuan dan hikmah, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw, yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahihnya Juz. 1, halaman. 141 :

قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم : لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا. رواه البخاري

Artinya : “Boleh berlaku iri kepada dua golongan; (1) seseorang yang diberi kelebihan harta oleh Allah, lalu ia salurkan sesuai dengan haknya, (2) seseorang yang memiliki pengetahuan, lalu ia mengeluarkan kebijakan atas dasar ilmunya itu dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Hadirin Jama’ah Shalat ‘Idul Adha Rahimakumullah.

Fenomena sikap sombong di Indonesia saat ini telah merajalela. Jabatan yang sifanya sementara begitu ditonjol-tonjolkan sehingga tidak lagi merasa takut untuk melakukan korupsi. Kekayaan yang sifatnya tak kekal begitu ditunjukkan sehingga menindas yang lemah. Di antara kita saat ini masih ada rasa risih untuk kumpul dan bersama-sama dengan orang-orang miskin. Orang-orang miskin merasa malu untuk dapat bertemu dengan siapapun yang tingkat sosialnya tinggi, meskipun masih ada hubungan keluarga dengannya. Urusan kantor jika bukan dengan orang-orang yang terpandang, apalagi jika tidak beruang, maka wujudnya sama seperti tidak adanya (wujuduhu ka ‘adamihi). Mereka seringkali kemudian, tidak dianggap sebagai manusia.

Jika ini yang terjadi, maka masih pantaskah kita berkeyakinan untuk menjadi penghuni surga-Nya Allah subhanahu wa ta’ala ? atau sesungguhnya kita inilah kayu bakarnya neraka jahannam, yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ? Untuk itu hadirin, dalam membentuk manusia yang seutuhnya di muka bumi ini adalah dengan cara menyembelih sifat-sifat kesombongan dan angkuh sebagai bentuk berhala kehidupannya, dan hal ini sama wajibnya dengan perintah berkurban dengan cara menyembelih binatang ternak. Pemahaman seperti ini, sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an :

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ . لقمان : 18

Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Begitu juga dengan nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ : إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ . رواه مسلم

Artinya : “Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan. Seorang laki-laki bertanya; Sesungguhnya seseorang menyukai baju dan sandal yang bagus (apakah ini termasuk kesombongan)? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Pada akhirnya melalui khutbah ini, kami mengajak kepada kita semua sebagai umat Islam, untuk bersama-sama melakukan revolusi mental melalui rekonstruksi paradigma ibadah kurban, dari yang hanya sekedar rutinitas serimonial menuju pembangunan manusia yang seutuhnya, penuh dengan cinta, kemanan, ketenangan, dan kesejahteraan bersama. Jangan sampai kita hidup di era modern ini, akan tetapi nuansanya adalah jahiliyyah. Mari kita alirkan dan habiskan darah keangkuhan kita seperti kita mengalirkan darah hewan kurban kita. Sehingga nilai ketakwaan betul-betul masuk dan merasuk ke dalam diri kita masing-masing. Allah swt berfirman :

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ . الحج : 37

Artinya : “Daging-daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Hajj : 37)

 بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 KHUTBAH KEDUA

 

 الله أكبر {× 7} الله أكبر كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لا إ له إلا اللهُ وَحْدَ هْ صَدَقَ وَعْدَ هْ وَ نَصَرَ عَبْدَ هْ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَ هْ ، لا إ له إلا اللهُ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ ، لا إ له إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.

اَلْحَمْدُ ِللهِ عَلىَ فَضْلِهِ الْمُتَرَادِف اْلمُتَوَالىِ ، أَّشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ نَرْقِى ِبهَا فِى دَرَجَةِ اْلمَعَالىِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ذَوِاْلأَوْصَافِ الَّتِى فَاقَ نَظْمَهَا عَقْدُ الَّلآ لِى ، اَللّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلهِ وَأَصْحَابِهِ مَدَّى اْلأَ يَّامِ وَاللَّيَالِى . أمابعد

فَيَا عِبَادَاللهِ إِتَّقُوْا اللهََ حق تقاته ولا تموتن إلا وأنـتم مسلمون ، فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ : إِنَّ اللهَ وَمَلاَ ئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأ َيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آل سَيِّدِنَا مُحَمَّد.

اللهُمَّ اغفر للمسلمين و المسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قر يب مجيب الدعوات ياقاضي الحاجات

Ya Allah, berilah petunjuk, rahmat dan karunia kepada kami dalam menempuh kehidupan ini. Berilah kami kekuatan dan kemampuan agar kami senantiasa dapat berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Mu kapanpun dan dimana pun kami berada. Tumbuhkanlah kecintaan, keikhlasan dan ketulusan didalam hati kami untuk saling memaafkan, mencintai dan melindungi.

Ya Allah, dihari yang mulia ini turunkanlah kepada kami cahaya yang menyinari hati kami dan yang memberi kekuatan dalam menjalani akhir tahun ini dan dalam menempuh tahun-tahun yang akan datang. Ya Rabbana, berilah petunjuk dan kemampuan kepada para pemimpin kami agar dapat membawa bangsa ini keluar dari krisis global ini menuju ke dalam suasana kedamaian dan kemakmuran di bawah ampunan dan keridhaan-Mu.

اللهُمَّ اصْلِحْ لَنَا د ِيْـنَـنَا الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا وَاجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اللهُمَّ أَعِزَ اْلإِسْلاَ مَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاخْذُلِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِيْنِ

اَللّهُمَّ رَ بَّنَا آتِنَا فىِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفىِ اْلأخِرَ ةِ حَسَنَة ً وَ ِقنَاعَذَابَ النَّارِ .سُبْحَانَ رَبِّنَارَبِّ الْعِزَّ ةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمٌ عَلىَ الْمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

 {و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته}

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s