BUKU KUMPULAN KHUTBAH JUM’AT DAN HARI RAYA : REFLEKSI ISLAM INDONESIA

Umat Islam Indonesia pasca reformasi telah mendapat kebebasan berekspresi dengan begitu lebar. Bahkan, karena begitu luasnya peluang untuk berekpresi, sampai-sampai bangsa ini mulai kewalahan karena siapapun kini dapat berbicara termasuk dalam hal agama, tanpa diketahui asal usul dunia akademik keislamannya. Batas-batas kewajaran dan toleransi kini telah “dikangkangi” karena semangat yang menggebu-gebu untuk menyampaikan ajaran agama karena adanya hadits Nabi Muhammad saw yang memerintahkan untuk menyampaikan ajaran agama walaupun hanya satu ayat, tanpa di dasari oleh kedalaman beragama.

Semangat seperti ini ternyata juga masuk ke dalam mimbar-mimbar jum’at dan kemudian menyamakan antara ceramah bebas dengan khutbah sehingga menegasi unsur-unsur penting di dalam khutbah, yakni syarat dan rukun khutbah. Seringkali saat ini, umat dihadirkan di dalam masjidnya para pengkhutbah seperti di atas, yang secara domisili bukan termasuk muqimin. Mereka menyampaikan agama melalui perspektif mereka tanpa mengetahui dan mencari tahu al-‘adah yang berkembang di tempat itu. Hasilnya, begitu banyak jama’ah jum’at yang akhirnya kecewa dengan peribadatan jum’at pada hari itu. Di sisi yang lain, karena tentunya di dalam peribadatan jum’at berkumpul antara orang-orang yang ‘alim dan awam, maka menjadi sebuah problem besar bagi mereka yang mengetahui adanya kekurangan rukun di dalam penyampaian khutbah tersebut, sehingga harus memaksa mereka untuk menyempurnakan peribadatan jum’at mereka, dengan kembali melaksanakan shalat zhuhur. Prinsip seperti ini merupakan ajaran yang berkembang secara luas di bumi nusantara melalui jalur pikir madzhab Imam asy-Syafi’i rahimahullah ta’ala.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa karena dampak dari reformasi, informasi dari luar Indonesia termasuk faham-faham agama selain yang berkembang secara major, kini masuk dan merasuk secara masal tanpa dapat dibendung. Termasuk di dalamnya faham wahabi dari Arab Sauidi, Syi’ah dari Iran, dan Liberal dari Eropa. Akan tetapi perlu diingat kembali, bahwa kita adalah umat Islam yang lahir dan besar di bumi Indonesia, sebuah wilayah di Asia Tenggara yang mengalami Islamisasi tanpa adanya paksaan dan kekerasan. Islam menyebar ke hampir seluruh bagian di wilayah Indonesia oleh tangan-tangan para penyebar Islam – termasuk Walisongo – dengan penuh ke’arifan, kebijaksanaan dan tingkat toleransi yang begitu tinggi. Mereka mengetahui bahwa semangat ajaran Hindu-Budha begitu kuat dipraktekkan di dalam sendi-sendi kehidupan mereka. Dan untuk menarik hati mereka, maka para penyebar Islam di tanah Nusantara saat itu juga menggunakan hati untuk melakukan pendekatan. Akhirnya, terjadilah asimilasi budaya antara Hindu-Islam dan kemudian menjadi model para pendakwah selanjutnya (yakni murid-murid Walisongo) untuk tetap menjaga nilai-nilai toleransi tersebut.

Melalui penjelasan di atas, maka buku Kumpulan Khutbah yang hadir di akhir Tahun 2013 ini menjadi kado istimewa bagi para pendakwah dan khatib yang ingin terus berdakwah dengan pemikiran yang progresif namun tetap menjaga nilai-nilai tradisi lama yang baik. Dengan bahasa yang lugas dan dengan ungkapan-ungkapan di dalam buku ini dengan memberikan gambaran dan solusi terhadap probelem sosial keagamaan di Indonesia, akan menjadi sangat menarik ketika disampaikan kepada jama’ah jum’at dan dua hari raya yang tentunya haus dengan ajaran Islam yang berwawasan ke-Indonesiaan. Terlebih lagi, buku ini diawali dengan penyampaian fiqh khutbah secara singkat tentang panduan menjadi khatib, maka akan menjadi sangat berhati-hati bagi para khatib dikemudian hari dalam menyampaikan khutbahnya, dengan tidak meninggalkan syarat dan rukun di dalam khutbah tersebut.

Buku Khutbah edit copycropped-beli-buku.jpg

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s