MENGAJI “HIDUP” BERSAMA BUYA SYAFII MAARIF

Hari ini jum’at 6 Desember 2013 di aula Universitas Muhammadiyah Lampung diadakan bedah buku “Memoar Seorang Anak Kampung” karya Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif, MA., yang langsung mendatangkan penulisnya sebagai keynote speaker, dan sebagai pembanding, panitia menghadirkan Prof. Dr. Marzuki Noor, M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Metro.

Ada beberapa ungkapan yang sangat menarik dan dapat dijadikan acuan dan penyemangat bagi anak-anak muda Indonesia, di mana beliau menekankan pentingnya untuk menerapkan filosofi garam dan meninggalkan filosofi gincu (lipstik). Menurut beliau, garam ketika berbaur dengan bumbu-bumbu lainnya dan tercipta sebuah produk makanan maka garam tadi sudah tidak lagi terlihat akan tetapi semua dapat merasakan asinnya garam. Berbeda dengan gincu yang begitu terlihat merahnya namun sangat menipu pandangan karena aslinya bibir yang tidak menarik menjadi tertutupi. Disinilah kemudian dia menegaskan agar kita harus down to earth dan jangan patah arang dalam beramal.

Beliau menceritakan, selain sambutan dan penghormatan yang positif dari banyak orang di sekelilingnya termasuk lembaga pendidikan dan negara, beliau juga mendapatkan cercaan, hinaan, bahkan pengkafiran dari orang-orang yang tidak memahami pemikirannya, percis seperti yang pernah terjadi oleh Gusdur sebelum wafatnya. Sampai saat inipun masih ada baliho besar di kota Jakarta yang memampangkan foto-foto dan nama-nama tokoh muslim di Indonesia yang di anggap liberal dan sesat termasuk beliau, dan namanya tertulis menjadi “Syafii Iblis Maarif”.

Lebih lanjut beliau menceritakan, bahwa sesungguhnya dahulu si anak kampung yang tidak pernah memilki cita-cita apapun ini tidak pernah akan tahu jika akan menjadi besar seperti saat ini, dan menjadi ketua PP Muhammadiyah itupun terjadi karena Amin Rais senang bermain politik dan terpilih menjadi ketua MPR. Disinilah kemudian ia berfilosofi bahwa perjalan panjangnya ditengah samudra hingga sampai ketepian terjadi hanyalah karena adanya belas kasih dari ombak. Artinya, selain adanya usaha yang keras dari diri kita masing-masing akan tetapi sesungguhnya Allah lah yang menghadirkan taqdir dari setiap manusia.

Pelajaran besar dari kedatangan beliau tadi untuk pribadi kita masing-masing adalah, bahwa menunjukkan apa adanya dari diri yang paling dalam dan dengan penuh ketulusan maka akan menghadirkan kebaikan di sekitar kita, akan tetapi jika kepalsuan yang ditunjukkan maka hanya akan menciptakan dan memupuk keburukan di dalam diri. Orang yang membenci dan menghina, menunjukkan bahwa ia sesungguhnya tidak memahami orang tersebut dengan dalam.

Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbih.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s