KHUTBAH ‘IDUL ADHA 2013 : BERKURBAN BERHALA KESOMBONGAN DI ERA MODERN

Oleh :

Ahmad Rajafi Sahran, M.Hi

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر {× 7} الله أكبر كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لا إ له إلا اللهُ وَحْدَ هْ صَدَقَ وَعْدَ هْ وَ نَصَرَ عَبْدَ هْ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَ هْ ، لا إ له إلا اللهُ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ ، لا إ له إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.

اْلحَمْدُ للهِ الَّذِي مَنْ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ الْجَسِيْمِ، اِذْ مَنَّ عَلَيْنَا بِمُحَمَّدٍ اَفْضَلِ الْخَلْقِ اَجْمَعِيْنَ، فَهَدَانَا اِلَى دِيْنِ الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْكَرِيْمِ الْحَلِيْمِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ الَّذِي خَصَّى بِالْخُلُقِ الْعَظِيْمِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَلَّذِيْنَ فَازُوْا بِالْحَظِّ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا {أما بعد}

فَيَا أ يُّهَاالنَّاسُ اتَّقُواللهَ وَافْعَلُوا مَأْمُوْرَاتِهِ وَاتْرُكُوْا مَنْهِيَّاتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {الأعراف : 204} وقال أيضا: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ، فَصَلِّ لِرَ بِّكَ وَانْحَرْ ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَ بْتَرُ {التكاثر : 3-1}

الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد

Hadirin Jama’ah Shalat Idul Adha yang Dirahmati Oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak terasa perjalanan waktu hingga saat ini, masih mencatat kita sebagai bagian kelompok manusia, yang dapat ikut meramaikan ibadah sunnah ‘idul adha. Bersamaan dengan hal itu pula, satu persatu orang-orang terdekat kita, tidak terasa telah pergi terlebih dahulu meninggalkan kita menghadap Allah Jalla wa ‘Ala. Untuk itu, marilah kita berdoa agar kita yang masih hidup pada kesempatan ini, dapat terus berusaha untuk menjadi hamba yang lebih baik, dan meraih akhirat yang penuh dengan kenikmatan, bukan murka-Nya Allah ta’ala, amin ya Rabbal ‘alamin.

 Hadirin yang Berbahagia.

Fenomena kesombongan sesama makhluk di dunia ini kini semakin menjadi-jadi. Bahkan tanpa disadari, kesombongan baik yang tersirat maupun tersurat pada diri seorang manusia telah sampai pada pembajakan hak-hak Tuhan yakni Allah swt di dunia. Dengan demikian, maka pantas jika kemudian, kesombongan telah menjadi berhala baru di era modern ini.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata kesombongan berasal dari kata sombong yang berarti menghargai diri sendiri secara berlebihan, congkak, dan pongah. Sedangkan di dalam bahasa Arab, kata sombong biasanya merupakan terjemahan dari kata al-kibr yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi istilah takabur.

Al-Qur’an yang merupakan firman Allah subhanhau wa ta’ala telah menyampaikan tentang permasalahan kesombongan sebanyak 58 ayat dengan redaksi yang berbeda-beda. Salah satunya adalah :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا ِلآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ {البقرة : 34}

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur, maka ia kemudian termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. al-Baqarah : 34)

 Pada ayat di atas, Allah swt menggunkan kata istakbara yang berasal dari kata kabara ( كبر ) dengan huruf asalnya adalah kaf ( ك ), ba’ ( ب ), dan ra’ ( ر ), yang kemudian juga menjadi bagian nama-nama Allah swt yang terangkum di dalam 99 asma’ al-husna yakni al-Mutakabbir ( المتكبر ) Sang Maha Pemilik Kebesaran, al-Kabir ( الكبير ) Sang Maha Besar.

Pembajakan seorang hamba terhadap hak Allah di atas inilah yang kemudian memunculkan berbagai sifat keangkuhan dan kebesaran yang tercela terhadap Allah swt beserta tanda-tanda kebesaran-Nya, terhadap Nabi dan Rasul-Nya, dan terhadap makhluk-makhluk-Nya. Adapun kesombongan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala merupakan puncak dari segala keangkuhan, seperti ulah Namrud la’natullah ‘alaih, seorang penguasa pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آَتاهُ اللهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ {البقرة : 258}

Artinya : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (QS. al-Baqarah : 258)

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Hadirin Rahimakumullah.

Berdasarkan fenomena faktual di atas yang kemudian dikuatkan dengan firman-firman Allah swt, maka pantas rasanya jika hal tersebut kita kaitkan dengan adanya perintah berkurban di dalam Islam. Dan tentunya melalui khutbah ini, kerangka berpikir filosofis akan menjadi modal dasar dalam melakukan analisis. Maksudnya adalah, bahwa saat ini kita sebagai umat Islam, sedang terjebak pada ritual keagamaan, senang dengan sifat untuk menonjolkan aksesoris keagamaan akan tetapi sangat miskin makna dan pemahaman. Kita sangat senang untuk menyalahkan praktek ibadah orang lain yang berbeda, tapi minim koreksi diri (al-muhasabah). Dari sinilah kemudian hadir sifat-sifat kesombongan yang tidak pernah diketahui sedikitpun bagi yang melakukan. Untuk itulah, memaknai perintah qurban yang lebih humanis, dirasa lebih resposif dengan kondisi saat ini.

Jika kita kita lihat bersama definisi qurban dari segi bahasa, menurut Ahmad Warson Munawwir alm, di dalam al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, qurban berasal dari kata qaruba-yaqrabu-qurban, yang artinya dekat dan mendekati. Sedangkan dalam tradisi Arab menurut Ahmad bin Umar al-Syathiry al-‘Uluwy al-Husaini al-Tarimy di dalam Kitab al-Yaqut al-Nafis fi Madzhab ibnu Idris, hal ini dikenal dengan istilah al-udhhiyyah, yang berarti :

مَا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ تَقَرُّ بًا إِلىَ اللهِ تَعَالىَ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ إِلىَ آخِرِ أَ يَّامِ التَّشْرِ يْقِ

Artinya : “Apa yang disembelih dari binatang ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. pada hari nahr (10 dzulhijjah) sampai pada akhir hari tasyriq (13 dzulhijjah).

 Artinya, jika dilihat dari segi definisi qurban dan udhhiyyah, maka maksud dan tujuan dari ibadah tersebut adalah, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Apalagi jika kita ingat kembali sejarah hadirnya perintah qurban ini, di mana sifat-sifat ketawadhu’an, ketundukan, keikhlasan, tertanam dan tumbuh dengan hebat di dalam diri seorang anak manusia bernama Ism’ail ‘alaihissalam, keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Perintah Allah swt kepada Nabi Ibrahim alaihissalam untuk menyembelih anaknya Isma’il ‘alaihissalam yang jika dipikirkan, sangatlah tidak masuk akal, akantetapi tetap ia sampaikan perintah Allah tersebut kepada anaknya, dan dijawab dengan lantang oleh Isma’il ‘alaihissalam, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an al-Karim :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ {الصفات : 102}

Artinya : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. ash-Shaffaat : 102)

 Karena sikap dan sifat yang begitu mulia yang ditinjukkan oleh Nabi muda tersebut, maka kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengubah qurban tersebut menjadi sebuah sebuah qibas yang besar, Allah swt berfirman :

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ {الصفات : 107}

Artinya : “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Hadirin Jama’ah Shalat ‘Idul Adha Rahimakumullah.

Sikap Isma’il ‘alaihissalam di atas, menjadi cermin yang nyata, bagi siapapun yang ingin menjadi hamba yang lebih baik. Sebuah sikap yang mungkin sangat sulit untuk dipraktekkan saat ini, di mana semua kehendak sifat-sifat manusianya takluk di bawah kehendak Allah swt. Semua yang diucapkannya adalah karena Allah ta’ala. Semua yang ia kerjakan adalah kerena Allah semata. Dan seluruh sifatnya, masuk kepada sifat-sifat baik Allah swt.

Inilah ajaran tauhid yang telah diajarakan oleh kisah Nabi Allah Isma’il ‘alaihissalam dan diteruskan oleh baginda Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hasil yang diraih olehnya, sesuai dengan doa yang diajarkan oleh Allah di dalam al-Qur’an :

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ {البقرة : 201}

Artinya : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah : 201)

 Inilah pemaknaan qurban yang sesungguhnya, yang harus dihadirkan saat ini. Qurban yang betul-betul menyembelih semua sifat kesombongan yang ada pada diri setiap manusia. Qurban yang bukan saja sekedar menjalankan sebuah ritus, namun keinginan untuk menonjolkan diri baik dari segi harta, jabatan dan ilmu begitu tinggi. Kita harus dapat merasakan susah dan getirnya kehidupan orang-orang miskin disekitar kita, karena sesungguhnya rasa dari sebuah kemiskinan seperti teriakan hewan qurban yang sedang disembelih. Maka pantaskah jika kita sebagai seorang manusia, makhluk ciptaan Sang Khaliq Allah subhanahu wa ta’ala, berjalan di bumi-Nya dengan sikap sombong dan angkuh ? na’udzubillahi min dzalik.

Fenomena sikap sombong di Indonesia saat ini begitu tinggi. Jabatan yang sifanya sementara begitu ditonjol-tonjolkan sehingga tidak lagi merasa takut untuk melakukan korupsi. Kekayaan yang sifatnya tak kekal begitu ditunjukkan sehingga menindas yang lemah. Di antara kita saat ini masih ada rasa risih untuk kumpul dan bersama-sama dengan orang-orang miskin. Orang-orang miskin merasa malu untuk dapat bertemu dengan siapun yang tingkat sosialnya tinggi, meskipun masih ada hubungan keluarga dengannya. Urusan kantor jika bukan dengan orang-orang yang terpandang, apalagi jika tidak beruang, maka wujudnya sama seperti tidak adanya (wujuduhu ka ‘adamihi). Mereka seringkali kemudian, tidak dianggap sebagai manusia.

Jika ini yang terjadi, maka masih pantaskah kita berkeyakinan untuk menjadi penghuni surga-Nya Allah subhanahu wa ta’ala ? atau sesungguhnya kita inilah kayu bakarnya neraka jahannam, yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ? Untuk itu hadirin, menyembelih qurban berupa sifat kesombongan dan angkuh sebagai berhala kehidupannya, sama wajibnya dengan perintah untuk berkurban dengan menyembelih hewan qurban. Pemahaman seperti ini, sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an :

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ {لقمان : 18}

Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

 Begitu juga dengan nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ : إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ {رواه مسلم}

Artinya : “Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan. Seorang laki-laki bertanya; Sesungguhnya seseorang menyukai baju dan sandal yang bagus (apakah ini termasuk kesombongan)? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Pada akhirnya kami mengajak kepada kita semua sebagai umat Islam, untuk bersama-sama mulai hari ini, agar dapat mengurbankan berhala kesombongan kita yang mengalir didarah kita masing-masing. Jangan sampai kita hidup di era modern ini, akan tetapi nuansanya penuh dengan kebodohan seperti masa-masa jahiliyyah. Kita alirkan dan habiskan darah keangkuhan kita seperti kita mengalirkan darah hewan qurban. Sehingga nilai ketakwaan betul-betul masuk dan merasuk ke dalam diri kita masing-masing. Allah swt berfirman :

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ {الحج : 37}

Artinya : “Daging-daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Hajj : 37)

 Hadirin Rahimakumullah.

Untuk menutup khutbah ‘Idul Adha ini, marilah kita bersama-sama menengadahkan tangan berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan penuh harapan dan keikhlasan :

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَ ْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِ يْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ

Ya Allah, sesungguhnya kami adalah hamba-hamba-Mu yang begitu penuh dengan dosa dan khilaf, tak pantas rasanya kami menjadi penghuni surga-Mu, akan tetapi kami tak akan pernah mampu jika engkau masukkan ke dalam neraka-Mu. Untuk itu ya Rabb, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengaihi kami diwaktu kecil.

Ya Allah ya Rabbana, berilah kami kekuatan dan kemampuan agar kami senantiasa dapat berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Mu kapanpun dan di mana pun kami berada. Tumbuhkanlah kecintaan, keikhlasan dan ketulusan di dalam hati kami untuk saling memaafkan, mencintai dan melindungi.

Ya Allah, dihari yang mulia ini turunkanlah kepada kami cahaya yang menyinari hati kami dan yang memberi kekuatan dalam menjalani hari-hari ini dan dalam menempuh hari-hari yang akan datang. Berilah petunjuk dan kemampuan kepada para pemimpin kami agar dapat membawa bangsa ini keluar dari segala kesulitan menuju ke dalam suasana kedamaian dan kemakmuran di bawah ampunan dan keridhaan-Mu.

اللهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا وَاجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللهُمَّ أَعِزَ اْلإِسْلاَ مَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاخْذُلِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِيْنِ

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s