TAKHRIJ HADITS SHAHIH MUSLIM NO. 1793

TEKS HADITS.

 صحيح مسلم ١٧٩٣: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ {رواه مسلم}

 Artinya : “Shahih Muslim 1793: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr telah menceritakan kepada kami Isma’il -ia adalah Ibnu Ja’far- dari Abu Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Bila bulan Ramadlan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan pun dibelenggu.” [HR. Muslim]

DARI SEGI PERIWAYATAN.

000000

  • Sahabat ialah orang yang bertemu Rasulullah sahallahu’alaihi wa sallam dan ia seorang muslim sampai akhir hayatnya.
  • Tsiqah atau Tsiqah Hafidz ialah Perawi yang mempunyai kredibilitas yang tinggi, yang terkumpul pada dirinya sifat adil dan hafalannya sangat kuat.
  • Tsiqah / Mutqin / ‘Adil = Perawi yang mempunyai sifat ‘adil dan kuat hafalannya.
  1. Abdurrahman bin Shakhr, kunyah-nya adalah Abu Hurairah. Ia adalah sahabat yang hidup di Madinah dan wafat tahun 57 H.
  2. Malik bin Abi ‘Amir adalah seorang tabi’I dari kalangan tua dengan kunyah-nya Abu Anas. Ia hidup di Madinah dan wafat tahun 74 H. an-Nasa`i dan ibnu Hajar al-Asqalani memberikan predikat tsiqah padanya.
  3. Nafi’ bin Malik bin Abi ‘Amir adalah seorang sahabat yang tinggal di Madinah dengan kunyah-nya Abu Suhail. Ahmad bin Hambal, Abu Hatim, an-Nasa`i, Ibnu Hibban dan ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa ia tsiqah. Sedangan menurut ibnu Kharasy, ia berpredikat shaduq.
  4. Isma’il bin Ja’far bin Abi Katsir kunyah-nya ada Abu Ishaq, ia adalah tabi’ut tabi’in dari kalangan pertengahan yang tinggal di Madinah dan wafat tahun 180 H. Menurut Ahmad bin Hambal, Abbas al-Dauri, Muhammad bin Sa’ad, Ibnul Madini, an-Nasa`i, ia berpredikat tsiqah. Menurut Abdurrahman bin Yusuf, ia shaduq. Sedangkan menurut Ibnu Abi Khaitsmah, ia itu tsiqah ma’mun, qalil al-khatha`, dan shaduq.
  5. Yahya bin Ayyub adalah tabi’ul atba’ dari kalangan tua dengan kunyah Abu Zakariya. Ia hidup di Baghdad dan wafat tahun 234 H. Menurut Ibnul Madini dan Abu Hatim, ia berpredikat shaduq. Sedangakan menurut Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar al-Asqalani, ia berpredikat tsiqah.
  6. Qutaibah bin Sa’id bin Jamil bin Tharif bin Abdullah merupakan tabi’ul atba’ dari kalangan tua yang hidup di Himsh dengan kunyah Abu Raja` dan wafat tahun 240 H. menurut Abu Hatim, an-Nasa`i dan Ibnu Hajar al-Asqalani, ia adalah orang yang tsiqah.
  7. Ali bin Hajar bin Iyas adalah tabi’ut tabi’in dari kalangan biasa yang hidup di Baghdad dengan kunyah Abu al-Hasan dan wafat pada tahun 244 H. Menurut an-Nasa`i, ia adalah orang yang tsiqah ma’mun hafidz. Menurut Ibnu Hajar, ia tsiqah hafidz. Sedangakn menurut al-Hakim, ia adalah seorang syaikh.

Dengan demikian, berdasarkan penilaian kwalitas dari para periwayat di atas di mana tidak ada komentar negatif di dalamnya, maka derajat haditsnya dapat dikategorikan sebagai hadits yang shahih.

FAHMUL HADITS DARI SEGI MATAN.

Hadits di atas secara tekstual menyebutkan keutaman dari bulan Ramadhan tanpa menjelaskan amalaih apa yang ada di dalamnya untuk mendapatkan keutamaan bulan tersebut. Jika diperhatikan secara tekstual, di mana pintu surga di buka, pintu neraka ditutup, dan al-syayathin dibelenggu, maka akan muncul berbagai pertanyaan yang dikaitkan dengan perilaku manusia di bulan tersebut dengan tetap menonjolkan kemasksiatan yang sulit untuk dijawab, ataupun jika dipaksakan untuk menjawabnya dengan sekedarnya maka hanya akan menciptakan masalah baru saja di dalamnya. Untuk itu, hadits di atas tidak dapat difahami dan diamalkan secara tekstual, akan tetapi perlu dilihat konteks dan maksud pembicaraannya sehingga dapat dikontekstualisasikan dengan keadaan saat ini.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan berkah di mana seluruh amaliah perbuatan yang diniatkan untuk ibadah maka semuanya akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah swt. Bahkan perbuatan kecil seperti membuat orang senang seperti memberi senyum saja pahalnya juga dilipat gandakan. Di sinilah maksud dibukanya pintu-pintu surga, di mana dengan terus mengamalkan berbagai perbuatan yang mengandung ibadah atau kebaikan maka artinya ia telah mendedikasikan dirinya untuk masuk ke dalam surga.

Begitu juga dengan maksud ditutupnya semua pintu neraka. Artinya, dengan kehadiran bulan Ramadhan yang begitu menonjolkan perintah dan anjuran untuk memperbanyak amaliah kebaikan maka dengan sendirinya atau secara alamiah kehendak untuk melakukan perbuatan yang tidak baik (kemasksiatan) akan ternegasi. Dengan demikian, maka tidak ada lagi kesempatan untuk bermaksiat, itu artinya sama dengan telah tertutupnya pintu-pintu neraka bagi mereka.

Adapun syetan-syetan dibelenggu maksudnya adalah, bahwa syetan merupakan lambang dari kejahatan, ia diperintahkan untuk memberikan dampak negatif kepada manusia. Akan tetapi ketika bulan Ramadhan datang, semua kehendak dan pola pikir menjurus kepada keinginan dan perbutan yang dikehendaki Allah maka kesempatan syetan untuk menggangu manusia menjadi terhalangi. Tidak ada celah sedikitpun bagi syetan untuk menggangu ketika manusia terkonsentrasi untuk terus beribadah atau berbuat baik di bulan tersebut. ini sama artinya dengan al-syayathin itu dibelenggu di bulan Ramadhan.

Melalalu penjelasan di atas, maka sesungguhnya maksud dari hadits di atas ditujukan kepada setiap individu muslim yang ingin meraih keberkahan bulan Ramadhan. Dengan demikian, seseorang yang masih berlaku jahat, berbuat maksiat di bulan Ramadhan, maka sesungguhnya ia dengan sendirinya telah menutup pintu surga, membuka pintu neraka dan memberikan peluang kepada syetan untuk terus berinteraksi dengannya. Artinya, bukanlah bulan Ramadhan yang menutup pintu neraka, membuka pintu surga dan membelenggu syetan, akan tetapi keinginan dan perbuatan manusia yang sangat terkonsentrasi untuk mendapatkan keberkahan bulan Ramadhan itulah yang menciptakan ketiga hal yang disebutkan di dalam hadits di atas.

KESIMPULAN.

Melalui analisis di atas, maka kesimpulan akhir untuk kualitas hadits di atas secara keseluruhan adalah shahih secara sanad dan shahih secara matan sehinga ia menjadi hadits yang ma’qul-ma’mul, akan tetapi setelah difahami matan-nya secara konteksual bukan tekstual.

KANDUNGAN HUKUM.

Pada dasarnya hadits di atas tidak menjelaskan sedikitpun secara tekstual tentang perbuatan hukum yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf. Akan tetapi setelah ditelaah secara kontekstual maka dapatlah diraih sebuah pemahaman bahwa hadits tersebut memerintahkan kaum muslimin secara qiyasi agar dapat melaksanakan berbagai perbuatan kebaikan dan ibadah di bulan Ramadhan secara baik dan benar sehingga mampu mendapatkan reward seperti yang digambarkan oleh Rasulullah saw di dalam hadits tersebut, yakni jaminan surga dan terlepas dari dosa. Adapun perintah utama di dalam bulan Ramadhan yang harus dikerjakan secara maksimal oleh seorang mukallaf adalah puasa (shaum) sebagai pembersih racun di dalam tubuh, qiyam al-lail sebagai pembersih hati, dan mengeluarkan sebahagian harta sebagai pembersih harta benda.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s