KHUTBAH IDUL FITRI 1434 H : BULAN RAMADHAN MENGAJARKAN MENJADI MUSLIM YANG RAMAH DI TENGAH PERBEDAAN

Oleh :

AHMAD RAJAFI SAHRAN, M.Hi[1]

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر {× 7} الله أكبر كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لا إ له إلا اللهُ وَحْدَ هْ صَدَقَ وَعْدَ هْ وَ نَصَرَ عَبْدَ هْ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَ هْ ، لا إ له إلا اللهُ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ ، لا إ له إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الَّذِي أَنْزَلَ كِتَابَهُ الْمُبِينَ عَلَى رَسُولِهِ الصَّادِقِ اْلأَمِينِ فَشَرَحَ بِهِ صُدُورَ عِبَادِهِ الْمُتَّقِينَ وَنَوَّرَ بِهِ بَصَائِرَ أَوْلِيَائِهِ الْعَارِفِينَ فَاسْتَنْبَطُوا مِنْهُ اْلأَحْكَامَ وَمَيَّزُوا بِهِ الْحَلاَلَ مِنْ الْحَرَامِ وَ بَيَّنُوا الشَّرَائِعَ لِلْعَالَمِينَ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِ يْكَ لَهُ وَ لاَ ظَهِيْرَ لَهُ وَ لاَ مُعِيْنَ شَهَادَةً مُوجِبَةً لِلْفَوْزِ بِأَعْلَى دَرَجَاتِ الْيَقِينِ وَدَافِعَةً لِشُبَهِ الْمُبْطِلِينَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ اْلأَوَّلِينَ وَاْلآخِرِ يْنَ وَخَاتَمُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ الْمَبْعُوثُ لِكَافَّةِ الْخَلاَئِقِ أَجْمَعِينَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِيْنَ وَأَصْحَابِهِ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّينِ {أما بعد}

فَيَا عِبَادَ اللهِ ! اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ, وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ, قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : وَلِتُكْمِلُوْا العِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلىَ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

 الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد.

 Hadirin Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

 Tidak terasa, satu bulan penuh pendidikan jasmani dan ruhani dengan cara berpuasa disiang hari, qiyam al-lail di malam hari, dan sedekah serta zakat dipenghujung bulan ramadhan, yang diajarkan oleh Allah swt melalui wasilah Nabi Muhammad saw telah kita lalu bersama. Harapan yang besar kita munajatkan kepada Allah ta’ala, agar dapat menerima seluruh amaliah tersebut dan meraih kemenangan setelahnya dengan predikat al-muttaqin. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

 Hadirin yang dirahmati Allah swt.

 Bulan Ramadhan memang telah kita lalui, akan tetapi kegundahan dan kegelisahan mengenai intoleransi sikap beragama masih kita rasakan. Untuk itu, di hari yang fitri ini, khatib ingin mengajak kepada kita semua untuk melakukan kontemplasi yang mendalam dengan uraian khutbah ‘Ied mengenai ; “Bulan Ramadhan Mengajarkan Menjadi Muslim yang Ramah di Tengah Perbedaan”.

Berawal dari ungkapan-ungkapan yang mapan di tengah masyarakat, bahkan juga oleh tokoh-tokoh lokal dan nasional, mengenai pentingnya untuk mempelajari dan memahami Islam secara “utuh”. Entah apa sesungguhnya yang dimaksud dengan “utuh”, karena pastilah setiap orang yang telah mempelajari Islam kepada para guru, ustadz, kiai, habib dll, pastilah akan menyatakan bahwa dirinya telah mendapatkan pengetahuan Islam secara utuh dari sumber yang dibenarkan oleh agama yakni para pewaris Islam pasca kenabian, di mana hadits nabi Muhammad saw menjelaskan اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ (ulama’ adalah pewaris dari para nabi)[2], dan warisan dari nabi Muhammad saw adalah kitabullah (al-Qur’an) dan al-sunnah (tradisi Nabi).

Akan tetapi yang terjadi saat ini, banyak muncul kekerasan dari tangan-tangan mereka yang telah belajar dari sumber-sumber di atas, seperti kekerasan yang dilakukan oleh oknum-oknum di dalam ormas-ormas Islam yang berhaluan fundamentalis-ekstrimis, teror bom yang dilakukan oleh Amrozi dkk yang notabene merupakan lulusan dari dunia pendidikan berbasis agama. Maka muncul pertanyaan kemudian, apakah mereka tidak mendapatkan pengetahuan Islam secara utuh dan benar? Inilah pertanyaan yang sangat penting untuk kita telaah demi mendapatkan jawaban, dari problem sosial Islam di negara kita Indonesia saat ini.

Jika kita merujuk pada sumber pengetahuan Islam maka tidak ada kata lain yang muncul selain al-Qur’an dan al-Sunnah-lah sumbernya, namun bagaimankah cara untuk memahami pasca wafatnya nabi Muhammad saw? itu yang menjadi jalan khilafiyah (perbedaan pendapat) dan bahkan memunculkan pertumpahan darah. Sejarah kelam telah menunjukkan adanya peperangan akibat khilafiyah dimasa shahabat, seperti yang dilakukan oleh Aisyah ra yang notabene istri nabi dengan Ali ra yang merupakan menantu nabi dalam perang jamal, dan tidak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut merupakan kecelakaan dalam sejarah Islam.

Adapun jalan dalam memahami dua sumber Islam, yang kemudian memunculkan khilafiyah adalah “al-ijtihad”, dan ini dilegalkan oleh nabi sebagaimana dialog beliau bersama Mu’adz sebelum mengutusnya menjadi hakim di Yaman. Akan tetapi yang sering kita lupakan dari dialog tersebut adalah, proses ijtihad yang tidak hanya menggunakan kemampuan intelektual yang tajam tapi juga kemampuan untuk mengendalikan diri secara bijak melalui ketakwaan. Argumentasi ini dapat dilihat dari ungkapan Mu’adz yang mengembalikan semua urusan hanya kepada bantuan Allah ta’ala, yakni al-Qur’an, al-sunah dan pemikirannya yang hadir dari hidayah Allah.[3] Artinya, dalam mengambil kebijakan Islam saja, kita dituntut untuk normal secara intelektual dan juga normal secara spiritual, bukan karena adanya tuntutan ataupun tekanan, karena jika hal tersebut terjadi maka bisikan syetan lebih dekat daripada tuntunan Allah. Rasulullah saw bersabda :

يَقُوْلُ اللهُ : إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّـيَاطِيْنُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَاأَحْلَلْتُ لَهُمْ {رواه مسلم}

 Artinya : “Allah berfirman: Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) seluruhnya. Maka datanglah setan-setan kepada mereka, lalu menyimpangkan mereka dari agamanya dan mengharamkan bagi mereka apa yang telah Aku halalkan untuk mereka.” [HR. Muslim][4]

  الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد.

 Hadirin Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

 Mengenai permasalah di atas, historis Islam di Indonesia telah memaparkan tentang bagaimana bijaksananya para ulama’ terdahulu dalam memutuskan berbagai permasalahan agama, di mana jika mereka tidak mendapatkannya dari kitab-kitab yang mu’tabar, dan seluruh jalan penetapan hukum (thuruq istimbathil ahkam) sudah dilakukan, maka ia akan menunda jawaban itu dengan melaksanakan shalat sunnah demi mendapatkan jawaban yang diharapkan dapat dekat dengan ridha dan kehendak Allah. Namun yang terjadi saat ini, begitu banyak orang-orang yang sangat mempermudah dalam menjawab permasalahan-permasalahan agama. Begitu banyak para pendakwah baru yang dengan entengnya merampok hak-hak Allah. Akhirnya, muncullah jawaban-jawaban yang simplistis dan sangat mudah untuk menyalahkan orang lain, bahkan mengkafirkannya.

Inilah sesungguhnya kunci permasalahan kita saat ini, yakni runtuhnya kebijaksanaan di dalam beragama. Sejarah khilafiyah tidak bisa kita hindari tapi kecelakaan sejarah perang sahabat jangan kita ikuti dan ulangi. Hal ini dapat kita lakukan jika mau menajamkan spiritual kita sehingga dapat menjadi bijaksana. Kita harus memulai untuk menerima perbedaan baik secara fiqhi (furu’iyah atau cabang agama) ataupun i’tiqadhi (ushul atau dasar agama yang diperdebatkan di dalam ilmu kalam).

Ibadah seperti shalat, puasa, dll hendaknya kita pelajari langsung kepada mereka yang ahlinya, sehingga tidak mudah menyalahkan prilaku atau praktek ibadah orang lain yang berbeda dengannya. Berkhutbah tidak lagi untuk mencaci tapi untuk memberikan kesejukan bagi para pendengarnya. Kalaupun ada khilafiyah yang akan dibahas hendaknya dituntaskan secara ilmiah dan bijaksana.

الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد.

Hadirin Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

 Inilah inti pokok dari pembelajaran satu bulan penuh di bulan Ramadhan ini, di mana problem sosial umat Islam saat ini bukan pada masalah “dalam” dan “utuh”-nya seseorang dalam mempelajari Islam, tapi hendaknya khatamkanlah pelajaran kita itu dengan penajaman spritual, seperti pengkhataman kita terhadap al-Qur’an disetiap bulan Ramadhan, sehingga dapat menjadi lebih bijak dalam menerima perbedaan yang muncul di tanah Indonesia yang sangat plural dan berasaskan Pancasila ini. Imam al-Ghazali rahimahullah pernah berkata ;

وَلاَ شَكَّ أنَّ الْوَعْظَ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَأَهْلِ اْلقُلُوْبِ ، أَشَدُّ تَأْثِـيْراً مِنْ غَيْرِهِمْ ، فَإِنَّ الْكَلاَمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْقَلْبِ وَقَعَ فيِ الْقَلْبِ ، وَإِذَا خَرَجَ مِنَ الِّلسَانِ حَدَّهُ اْلآذَان

 Artinya : “tidak dapat diragukan lagi bahwa keteladanan dari orang-orang yang ikhlash dan bijak, lebih mudah diresapi oleh orang lain, maka sesungguhnya ungkapan itu jika lahir dari hati maka akan tertanam di dalam hati, dan jika keluar hanya dari lisannya maka akan mudah terlupakan.[5]

 Hadirin Kaum Muslim yang Berbahagia.

 Lalu bagaimanakah cara untuk meraih kesempurnaan tersebut? Sesungguhnya bulan Ramadhan yang hanya satu bulan diantara sebelas bulan lainnya, telah mengajarkan tentang pentingnya untuk merasakan menjadi minoritas di sekeliling mayoritas. Ini yang jarang sekali dirasakan oleh kita sebagai umat mayoritas saat ini, yakni belajar untuk merasakan bagaimana menjadi bagian dari minoritas. Pada dasarnya, merasa sebagai mayoritas merupakan kesombongan era baru, berhal-berhala zaman ini. Dan sifat sombong manusia hanya akan mendekatkan diri ini kepada kesesatan atau dalam bahasa lain, mudah terprovokasi oleh kehendak kezhaliman.

Bagi yang pernah tinggal dikantong-kantong muslim minoritas, pasti akan merasakan kebersamaan dan pasti sangat belajar bagaimana harus beragama di bawah tekanan, baik tekanan sosial maupun spiritual. Dari segi spiritual, akan sangat sulit untuk menemukan tempat-tempat ibadah dan majelis ilmu atau zikir, dan sedangkan dari segi tekanan sosial, akan mudah ditemukan praktek-praktek sosial yang sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam, seperti bebasnya penjualan konsumsi yang diharamkan agama, pertemuan sosial dengan hidangan haram, dan lain sebagainya.

Secara historis, pembelajaran seperti ini juga dirasakan oleh Rasulullah Muhammad saw, bagaimana beliau menjadi asing, aneh, bahkan menjadi virus di dalam keluarganya. Ia tinggal di wilayah yang bukan saja membencinya, namun juga menciptakan aksi teror dan bahkan penindasan kepadanya. Akan tetapi, Allah telah memberikan pelajaran berharga kepadanya yakni membangun Islam dari pondasi kesederhanaan dan tekanan sebagai minoritas. Walhasil, dengan pelajaran dan ujian tersebut, Mekah dan Madinah pada akhirnya menjadi wilayah muslim seutuhnya dan bahkan menjadi model peradaban dunia.

Sesungguhnya inilah yang harus kita lakukan saat ini, yakni belajar merasakan menjadi minoritas, baik minoritas dari segi agama, keyakinan, praktik ibadah, pemikiran dll. Penindasan terhadap yang berbeda dengan kita seperti firqah syi’ah di Sampang, Ahmadiyah di Bogor adalah bukti tidak belajarnya kita menjadi minoritas. Kita boleh beda agama, beda keyakinan, beda praktik ibadah, tapi jangan dijadikan sebagai alasan penindasan, karena kita semua adalah manusia yang memiliki hak hidup yang sama di muka bumi ini. Perlu diingat firman Allah swt :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَ نْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ…{آل عمران : 159}

 Artinya : “maka karena disebabkan rahmat dari Allah lah maka engkau (hai Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka, dan jikalau engkau bersikap kasar dan berhati keras, maka pastilah mereka akan meninggalkanmu, untuk itu maafkanlah mereka…” [QS. Ali Imran : 159]

الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد.

 Hadirin Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

 Pada akhirnya, marilah kita banyak belajar dari puasa kita di bulan ini, yang tentunya penuh dengan rahmat (kasih sayang) dan maghfirah (ampunan) dari Allah swt. Segala dosa yang dihapus adalah dosa yang berhubungan dengan Allah swt. Sedangkan dosa kepada sesama manusia hanya dapat terhapus melalui jalan saling memafkan. Untuk itu, mari kita tampil di hari ini dengan sebaik-baiknya untuk saling memaafkan. Maka sebarkan rasa damai dan kasih sayang, hapuslah luka lama, tinggalkan dendam permusuhan dan kita hapus rasa kebencian. Idul fitri hanya pantas dirayakan oleh orang-orang yang telah berpuasa Ramadhan dan orang-orang yang ikhlas untuk saling memaafkan, dan mau berlapang dada menerima kembali kehadiran orang-orang yang dulu sangat dibencinya. Sebaliknya, bersedihlah orang-orang yang gagal memenuhi undangan Ramadhan, orang-orang yang tidak mau meminta maaf atau enggan memberi maaf pada orang lain.

            Allah swt selalu memanggil hamba-hamba-Nya yang beriman agar mau membuka diri dan toleran seperti firman-Nya dalam surat An-nur ayat 22:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ{النور : 22}

 Artinya : “Dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An-Nuur : 22]

 Kaum Muslimin dan Muslimat yang Mulia.

 Sebagai bahan penutup pada khutbah Idul Fitri tahun ini, marilah kita bersama-sama menengadahkan tangan, berdo’a kepada Allah swt dengan penuh harapan, ketawadhu`an dan keikhlasan :

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَ ْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِ يْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ

 Ya Allah, berilah petunjuk, rahmat dan karunia kepada kami dalam menempuh kehidupan ini. Berilah kami kekuatan dan kemampuan agar kami senantiasa dapat berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Mu kapanpun dan dimanapun kami berada. Tumbuhkanlah kecintaan, keikhlasan dan ketulusan di dalam hati kami untuk saling memaafkan, mencintai dan melindungi.

Ya Allah, dihari yang mulia ini turunkanlah kepada kami cahaya yang menyinari hati kami, berilah kami kekuatan dalam menjalani dan menempuh yang akan datang.

Ya Rabb, berilah petunjuk dan kemampuan kepada para pemimpin kami agar dapat membawa bangsa ini keluar dari segala kesulitan menuju suasana yang aman, damai dan makmur di bawah ampunan dan keridhaan-Mu.

 اللهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَاالَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشنَا وَاجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اللهُمَّ أَعِزَ اْلإِسْلاَ مَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاخْذُلِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِ يْنِ

اَللّهُمَّ رَ بَّنَا آتِنَا فىِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفىِ اْلأخِرَةِ حَسَنَة ً وَ ِقنَاعَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّنَارَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمٌ عَلىَ الْمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.

{و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته}


[1] Leturer at STAIN Manado and Muslim Scholar at Doctoral Program of Islamic Law IAIN Raden Intan Lampung.

[2] Sulaiman bin al-Asy’ats Abu Daud al-Sajistani, Sunan Abi Daud, (Beirut : Dar al-Fikr, t.th.), Juz. 2, h. 341

[3] Lihat Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal, Musnad Ahmad bin Hambal, (Beirut : Alim al-Kutub, 1998), Juz. 5, h. 236

[4] Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj, al-Jami’ al-Shahih al-Musamma Shahih Muslim, (Beirut : Dar al-Afaq al-Jadidah, t.th.), Juz. 8, h. 158

[5] Ibnu Ujaibah, al-Bahr al-Madid, (t.t. : t.p., t.th.), Juz. 6, h. 311

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s