POLWAN INDONESIA HARAM PAKAI JILBAB ?

Oleh :

Ahmad Rajafi Sahran, M.Hi

Sudah 68 tahun Indonesia merdeka, namun semua itu hanya terasa dalam tataran seremonial kenegaraan semata dan belum meresap ke dalam seluruh dimensi hidup masyarakat Indonesia. Warga negara Indonesia tidak pernah tahu bagaimana cara hidup tenang dan aman baik dari segi fisik maupun psikis, khusunya dalam beragama. Sila pertama yang disepakati oleh pendiri ini, yakni Ketuhanan yang Maha Esa, ternyata tidak juga memberikan tempat yang layak bagi warganya untuk hidup beragama dengan nyaman dan aman. Dahulu dan mungkin hingga hari ini, mahasiswa Indonesia selalu ditanamkan nilai-nilai dasar Pancasila, dan sila pertama menunjukkan bahwa negara ini bukanlah negara agama, namun tetap mengakui eksistensi agama-agama di dalamnya. Bahkan, demi menyerap aspirasi masyarakat dari unsur agama, pemerintah (pada masa Prsiden Soekarno) mendirikan Departemen Agama sebagai “rumah bersama”. Akan tetapi ternyata anak bangsa ini masih belum semuanya menyantap habis pendidikan Pancasila tersebut. Terbukti di tahun 2013 ini, satu masa di mana keran demokrasi begitu terbuka besar, namun kebebasan wanita untuk menunjukkan identitas agamanya berupa jilbab masih belum bisa diterima disalah satu institusi negara yang memegang peran penting di bidang penegakan hukum yakni POLRI. Salah satu contohnya adalah Polda Jateng yang sudah mengirim surat kepada kapolri agar diizinkan mengenakan jilbab saat berseragam. Namun, permintaan itu tidak dikabulkan. Bahkan, kapolri mengeluarkan surat edaran berisi berseragam dengan berjilbab hanya diperbolehkan bagi polwan yang bertugas di Polda NAD.

Jilbab dan Keimanan serta Sejarahnya di Indonesia

Pada awalnya hingga kemerdekaan dipublikasikan, bangsa ini belum mengenal istilah jilbab, kerena istilah yang membumi dan digunakan di masyarakat saat itu adalah kerudung. Baru pada tahun 1983, ketika sudah semakin banyak para pelajar muslim yang pulang dari study di Timur Tengah dan mendalami politik Ikhwanul Muslimin, muncul perdebatan di Depatemen Pendidikan dan Kebudayan tentang penggunaan jilbab oleh siswa dan larangan foto ijazah kelulusan dengan menggunakan jilbab, yang kemudian mendapatkan respon dari Majelis Ulama Indonesia.

Dari sinilah kemudian muncul berbagai gerakan Islam yang sangat menekankan simbol-simbol keagamaan di dalam sendi-sendi kehidupan mereka. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh mereka hendaknya diapresiasi secara positif, karena implikasinya terhadap umat Islam Indonesia adalah dengan bertambahnya pengetahuan tentang begitu warna-warninya khazanah pemikian Islam Indonesia. Dari sinilah pula pada akhirnya, umat Islam pada basis grassroots banyak mencari tahu tentang mana yang lebih baik untuk berpakaian di dalam Islam.

Berdasarkan narasi di atas, pada dasarnya di Indonesia ada dua pemikiran tentang penggunaan jilbab, yakni (1) jilbab dengan pemaknaan substantif, di mana kata humur di dalam al-Qur’an di tafsirkan dengan pendekatan takwil menjadi nilai-nilai kesopanan, sehingga sebelum terjadinya perdebatan tentang jilbab di Indonesia penggunaan kerudung di masyarakat adalah sesuatu yang taken for granted, dan yang ke (2) jilbab dengan pemkanaan tekstual, di mana humur adalah kain panjang yang menutup tubuh si wanita dari kepala hingga kaki, dan yang boleh terbuka darinya hanyalah wajah dan telapak tangan semata.

Melalui dua pendekatan di atas, maka tidaklah layak bagi kita untuk begitu saja menyalahkan orang lain yang berbeda dengannya, apalagi melarang atau memaksakan orang lain untuk menggunakan jilbab, bahkan akan sangat menjadi preseden buruk ketika semua itu dilakukan dengan power kekuasan. Untuk itu perlu difahami dalam hal ini, bahwa penggunaan jilbab saat ini tidak saja sebagai penerapan hukum-hukum Allah, akan tetapi sudah masuk ke dalam ranah keimanan sehingga akan begitu mudah terjadi gesekan atas nama agama ketika ada yang melarangnya.

Dengan demikian, penting rasanya bagi POLRI untuk meninjau ulang aturan berpakai bagi wanita di dalam institusinya. Artinya, jika ada seorang wanita muslim yang kemudian atas nama panggilan iman menginginkan untuk menggunakan jilbab lalu dilarang oleh pimpinannya, maka pelarangan tersebut adalah pelanggaran berat terhadap isi Pancasila sila pertama. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa POLRI adalah salah satu institusi yang sangat menekankan keseragaman (lihat peraturan kapolrisoal tentang seragam anggota Polri termasuk polisi wanita), akan tetapi nilai-nilai demokrasi tidak begitu saja dapat dinegasi. Untuk itu, perlu keberanian dari para pucuk pimpinan Kepolisian Republik Indonesia dalam menanggapi secara positif keinginan dari para polwan Indonesia yang juga menginginkan keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat. Mereka dapat bekerja sebagai angota POLRI, akan tetapi juga harus dapat menguatkan keimanan mereka dengan penggunaan jilbab.

Akan begitu banyak dampak yang negatif jika pimpinan POLRI tetap memakaskan keinginanannya. Implikasi yang paling besar adalah, semakin kuatnya pemahaman radikalisme Islam, dan terus menganggap POLRI sebagai musuh agama dan berhak untuk dibunuh atas nama agama. Sudah cukup bangsa ini mengebiri kebebasan beragama warganya. Sudah banyak nyawa yang hilang sia-sia hanya karena semangat beragamanya lebih tinggi dari pada keilmuannya. Untuk itu, dengan POLRI melegalkan polwannya untuk berjilbab, maka dengan sendirinya POLRI telah melakukan tugasnya berupa pembinaan masyarakat untuk taat hukum. Semoga, dengan begitu banyaknya tanggapan masyarakat, baik dari MUI sebagai Ormas Islam, bahkan dari unsur internal POLRI itu sendiri, tentang kasus polwan tidak boleh menggunakan jilbab ini, dapat membuka mindsite dari para policy makers yang ada di POLRI dan kemudian dapat menetapkan aturan yang lebih bijak dan tidak menimbulkan gesekan dalam agama. Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s