KHUTBAH JUM’AT : KORUPSI DAN KEADILAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Oleh :

AHMAD RAJAFI SAHRAN, M.Hi

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى نهَيَنَاعَنْ أَكْلِ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَ الرِّشْوَةِ اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ رِسَالَتَهُ  اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ  لاَشَرِ يْكَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَوَاةُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ {أَ مَّا بَعْدُ}

فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَ ى اللهِ ، اِتَّقُوا اللهَ مَاسْتَطَعْتُمْ ، وَسَارِعُوْا إِلىَ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .

فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ فىِ الْقُرْآن ِالْكَرِ يْمِ : اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَكِنَّ النَّاسَ أَ نْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ{يونس : 44}

صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْم وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ الْكَرِ يْم وَ نَحْنُ عَلَى ذَالِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِ يْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 Hadirin Sidang Jum’at yang Dirahmati Oleh Allah swt.

Sebagai seorang khatib disetiap jum’at selalu berwasiat kepada diri khatib sendiri dan juga kepada seluruh jama’ah jum’at untuk terus meningkatkan kualitas taqwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala yakni dengan cara melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangannya tanpa harus memilih-milih perintah dan larangan yang selaras bagi diri kita saja dan menafikan perintah dan larangan lainnya.

Hadirin Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Belum lepas dalam ingatan kita kasus korupsi Bank Century dan Wisma Atlit yang belum juga menemukan titik terang, kini bangsa ini dihebohkan lagi dengan tergelincirnya beberapa orang dalam kasus sapi. Dulu bangsa ini begitu geram dengan kekuasaan Soeharto karena menjamurnya KKN, namun kali ini bangsa ini masih belum bisa untuk bangun dan memberangusnya dan bisa jadi turunnya kekuasaan yang satu menuju kekuasan selanjutnya dengan memunculkan berbagai keburukan akan terjadi juga pada masa ini. Menurut Eep Saefullah Fatah, seorang pengamat politik muda Indonesia, dalam bukunya Zaman Kesempatan mengatakan, ada tiga hal mendasar yang menyebabkan kehancuran orde baru, yaitu : Pertama, desakralisasi kekuasaan, yang melahirkan pemimpin yang pongah, berjiwa kadal bermental dajjal, berjiwa tupai bermental keledai, berjiwa raksasa bermental gorila, yang menerkam, menyiksa dan memangsa rakyat jelata. Kedua, degradasi kredibilitas, yang melahirkan jatuhnya martabat aparat di hadapan rakyat, tidak sedikit pejabat yang menjadi penjahat dan penjilat, fungsinya bukan sebagai pelindung rakyat, tapi sebagai penindas, pemeras dan pembunuh hak-hak rakyat. Ketiga, desentralisasi kekuasaan yang melahirkan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang membawa bangsa ini ke arah krisis berkepanjangan.

Akibat korupsi, kolusi, dan nepotisme tersebut hadirin, tidak sedikit rakyat Indonesia yang mati kelaparan, bayi-bayi kekurangan gizi, para pelajar putus sekolah, pengangguran merajalela, kemiskinan di mana-mana, bahkan hutang ke luar negeri membumbung tinggi tidak mampu dibayar lagi. Untuk itu hadirin, dibutuhkan semangat yang kuat di antara kita untuk saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran, termasuk pada kesempatan jum’at ini deng sedikit mengulas tentang korupsi dan keadilan dalam perspektif al-Qur’an, dengan rujukan surat al-Baqarah ayat 188 :

وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِ يْقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِاْلإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ {البقرة : 188}

Artinya : “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” [QS. al-Baqarah : 188]

Sebab turunnya ayat tersebut, menurut Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghwi di dalam Kitab Ma’alim al-Tanzil adalah, berkenaan dengan kasus Umru’ al-Qais bin Abis dan Abdan bin Asywa’ al-Hadrami yang saling memperebutkan sebidang tanah. Lalu Umru’ al-Qais ingin bersumpah sebagai dasar legalitas kepemilikannya, maka turunlah firman Allah kepadanya, ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل “dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil” sebagai bahan penolakan Allah terhadap sumpahnya.

Hadirin, ayat tersebut jika ditinjau dari segi Study al-Qur’an, merupakan kajian tafsir tematik dalam pembahasan korupsi. Sehingga muncullah berbagai definisi tentang korupsi melalui perspektif al-Qur’an. Salah satunya adalah, apa yang ungkapkan oleh Imam al-Baidhawi di dalam Kitab Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil yang memberikan definisi penguaaan terhadap harta orang lain dan dekat dengan pemaknaan korupsi saat ini, yakni ;

يأكل بعضكم مال بعض بالوجه الذي لم يبحه الله تعالى

Artinya : “oknum yang melegitimasi harta orang lain sebagai miliknya dengan jalan yang tidak diindahkan oleh Allah ta’ala.

Penjelasan al-Baidhawi tersebut, sejalan dengan definisi korupsi yang dibangun oleh pemerintah kita melalui UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, di mana perbuatan korupsi adalah (1) kerugian keuangan negara, (2) Suap-menyuap, (3) Penggelapan dalam jabatan, (4) Pemerasan, (5) Perbuatan curang, (6) Benturan kepentingan dalam pengadaan, dan (7) Gratifikasi.

Jama’ah Sidang Jum’at yang Dirahmati Allah Ta’ala.

Komisi Pemberantasan Korupsi yang begitu gencar memerangi korupsi ternyata masih belum menghasilkan kesuksesan yang besar, hal ini terbukti dari data yang dibangun oleh Transparency International, sebuah organisasi non-government yang banyak berusaha untuk mendorong pemberantasan korupsi, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling korup di dunia dengan nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tahun 2005 adalah 2,2 dan jatuh pada urutan ke-137 dari 159 negara yang disurvei. Sebagai penegasan bahwa Indonesia adalah salah satu negara terkorup di dunia adalah hasil survei yang dilakukan The Political and Economic Risk Consultancy pada tahun 2012 terhadap 900 ekspatriat di Asia sebagai responden, di mana Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara terkorup se-Asia. Na’udzubillahi min dzalik.

Melalui narasi di atas, maka timbul pertanyaan penting, bagaimanakah teori Islam dalam memberantas korupsi ? dan bagaimana sikap kita sebagai komponen bangsa agar keadilan tetap tegak dan korupsi dapat dikikis habis? Sebagai jawabannya marilah kita renungkan firman Allah dalam al-Qur’an surat an-Nisa` ayat 135 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ ِللهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَ يْنِ وَاْلأَقْرَ بِْينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلاَ تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا {النساء : 135}

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” [QS. an-Nisa` : 135]

Sebab turunnya ayat tersebut menurut Ibnu Katsir bersumber dari as-Shudi adalah berkenaan dengan pengaduan dua orang laki-laki kepada Rasulullah saw, dan yang satunya adalah orang kaya. Ternyata hadirin, Rasul lebih cendrung untuk memenangkan perkara si miskin karena pada mulanya beliau beranggapan, bahwa tidaklah mungkin orang yang miskin dapat menzhalimi orang yang kaya. Tatkala itu maka turunlah ayat tersebut yang memberikan petunjuk kepada Rasulullah saw agar menghukumi siapapun yang bersalah seadil-adilnya, yang diisyaratkan dalam kalimat :

كونوا قوامين بالقسط أي كونوا مجتهدين فى إقامة العدل

jadilah kau pejuang pejuang yang menegakkan keadilan” demikian penafsiran Imam Ali as-Shabuni dalam Shafwatut at Tafasir. Lalu apakah yang di maksud adil dalam Islam itu ? Imam Ali karamullahu wajhah mengatakan “ وضع شيء فى محله ” adil adalah menempatkan sesuatu secara proporsional dan profesional. Lebih tegas lagi Sayyid Qutub dalam bukunya ‘Adalah al-Ijtima’iyyah fi al-Islam mengatakan “ العدل هو إقامة الحق بغير ظلم ” adil adalah menegakkan kebenaran dengan tanpa mendzolimi orang lain”.

Dengan demikian hadirin, prinsip penegakan hukum terhadap para koruptor adalah dengan keadilan tanpa mengenal pandang bulu, status atau jabatan. Walaupun terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, si kaya atau si miskin, pejabat atau rakyat, hukum harus tetap berlaku dan harus tetap di tegakkan dan di junjung tinggi. Oleh karena itu mengingat pentingnya nilai-nilai keadilan dalam memberantas korupsi. Dr. Nurcolis Madjid dalam bukunya Cita-Cita Politik Islam mengatakan, pincangnya penegakkan keadilan menyebabkan pincangnya pemerataan ekonomi, dan menjadikan korupsi tumbuh subur di negara kita laksana cendawan di musim dingin, akibatnya kalau hal ini dibiarkan, lahirlah Fir’aun-Fir’aun yang baru, Qorun-Qorun abad dua satu, Tsa’labah-Tsa’labah masa kini, yang menjadikan hukum dan keadilan bukan lagi milik rakyat tapi untuk konglomerat, kesejahteraan bukan lagi buat rakyat tapi buat para penjilat, dampaknya reformasi yang kita cita citakan tapi destruksi yang kita rasakan, pembangunan nasional yang diidam-idamkan justru bencana nasional yang di timpakan, naudzubillahimindzalik.

Sidang Jum’at yang Dirahmati Allah.

Adapun melalui pendekatan politik hukum, cara untuk memberantas korupsi paling tidak ada dua langkah minimal yang harus dilakukan ; Pertama, menegakkan hukum seadil-adilnya tanpa pandang bulu, status dan jabatan. Kedua harus ada komitmen dari puncak pemimpin suatu negara. Jikalau sikap ini yang kita aplikasikan dalam kehidupan kita, maka insya Allah korupsi di negara kita sedikit demi sedikit akan terkikis habis, sehingga negar kita dapat hidup adil dalam kemakmuran, makmur dalam keadilan, jauh dari korupsi, dekat dengan rahmat Allah swt, amin ya Rabbal ‘alamin.

Sebagai bahan penutup, marilah kita simak bersama nasihat Allah swt :

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا{النساء : 58}

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

 بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s