EPISTEMOLOGI SUNNAH (1)

Oleh :

Ahmad Rajafi Sahran, M.Hi

 A.    Pendahuluan.

Al-Sunnah sebagai bagi dari kaji keilmuan Islam terus mengalami perjalan yang tidak selamanya mulus, ada yang memilih untuk mengkajinya sebagai bagian untuk menemukan kelemahan-kelemahan Islam namun juga banyak yang yang mencoba untuk mengkajinya demi meluasnya khazanah pemahaman dan keilmuan Islam di dunia.

Salah satu kajian al-Sunnah yang juga sangat menarik untuk dikaji dari berbagai pendekatan adalah, al-sunnah sebagai salah satu petunjuk syara’ dalam menentukan dan menjawab permasalahan hukum yang tentunya terus mengalami perkembangan secara alamiahnya sebagaimana perkembangan zaman ini. Para peneliti barat yang begitu giat untuk mengkaji al-sunnah dari frame ini sehingga memunculkan satu buah keraguan tentang penetapan sunnah sebagai salah satu sumber hukum Islam terjadi sekitar seratusan tahun yang lalu, seperti C. Snouck Hurgronje dan Ignaz Goldziher.

Pada dasarnya, geliat keilmuan Islam dalam melakukan kritik (al-naqd) al-sunnah sebagai sumber yang otoritatif sudah berjalan pada abad-abad pertama Islam, seperti yang diperlihatkan oleh ahl al-ra’yi dan ahl al-hadits. Namun anti klimaks terjadi ketika muncul Imam al-Syafi’i yang mendapat gelar Nashir al-Sunnah (Penyelamat al-Sunnah) yang seolah-olah telah menyihir semua orang untuk ikut mengiyakan dengan klasifikasi mashadir tasyri’ yang diciptakanannya, yakni ;

والعلم طبقات شتى،الأولى: الكتاب والسنة إذا ثبت السنة. ثم الثانية : الإجماع فيما ليس فيه كتاب وسنة. والثالثة : أن يقول بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ولا نعلم له مخالفا منهم. والرابعة : اختلاف أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فى ذلك. الخامسة : القياس على بعض الطبقات ولا يصار إلى شيء غير الكتاب والسنة وهما موجودان وإنما يؤخذالعلم من أعلى.[1]

 Artinya : “Ilmu terbagi menjadi beberapa tingkatan : Pertama, al-Qur’an dan Sunah yang otentik. Kedua, ijma’ ulama pada masalah yang tidak ada keterangannya secara tekstual di dalam Al-Qur’an dan Sunah. Ketiga, pendapat sebagian sahabat Nabi saw yang tidak kita ketahui adanya sahabat lain yang membantah pendapat tersebut. Keempat, ikhtilaf  para sahabat Nabi saw, dan kelima, qiyas berdasarkan sebagian tingkatan dalil-dalil di atas. Kita tidak boleh berpindah kepada selain al-Qur’an dan Sunah selama pemecahan masalah yang hendak kita carikan solusinya ditemukan di dalam kedua sumber hukum ini. Sebab pengetahuan diambil dari dalil yang lebih tinggi.

 Rumusan di atas menunjukkan bahwa Imam al-Syafi’i menginginkan agar Islam hendaknya dapat dikaji dari pendekatan lughawiyyah. Dan jika dilihat dari berbagai literatur klasik tentang mashadir al-tasyri’ tersebut, maka pastilah didapatkan bahwa para ulama’ madzhab setelah Imam al-Syafi’i tidak satu pun ada yang mempermasalahkan otoritas al-Sunnah sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah al-Qur’an. Implikasi yang paling menonjol dari rumusan al-Syafi’i tentang al-sunnah dengan pendekatan lughawiyyah-nya adalah, dominasi ahl al-hadits yang cenderung tekstual dan mencoba untuk melemahkan otoritas akal yang dikembangkan oleh ahl al-ra’yi.

Barulah setelah Islam berkembang dan menyebar ke penjuru dunia, muncullah para pemikir Islam yang dirasa kritis (pasca jumud) dalam mengkaji al-sunnah seperti al-Syathibi (w. 790 H/1388 M) yang menawarkan teori istiqrai (induktif), Syah Waliullah al-Dahlawi (1702-1762) yang membedakan antara Sunnah Risalah dalam bidang hukum dan ibadah yang harus diikuti, dan Sunnah Ghair Risalah dalam kehidupan praktis sehari-hari yang tidak mengikat.[2]

Inilah seklumit perjalanan al-Sunnah sebagai sebuh kajian ke-Islaman menuju sinthesa-nya yang terbaik. Dan bagi pemakalah, inilah yang kemudian menjadi embrio lahirnya semangat naqd al-sunnah yang langsung kepada sang penyampainya yakni Rasulullah Muhammad saw. Kritik terfokuskan pada apakah semua yang keluar darinya meruapakan wahyu Tuhan atau sesungguhnya, itulah ijtihad Rasulullah Muhammad saw. Untuk itu, penting rasanya jika pada kajian epistemologis al-sunnah yang pertama ini, dikaji ulang secara ilmiah kontroversi al-sunnah sebagai produk wahyu atau ijtihad dan kedudukannya sebagai sumber hukum Islam dari berbagai lingkup pemikiran.

 B.     Pembahasan.

1.  Kontroversi Sunnah Nabi sebagai produk wahyu atau ijtihad dan Implikasinya terhadap dinamika hukum Islam.

Mengenai sub kajian awal ini, pemakalah mencoba untuk melihatnya dalam dua sudut pandang, yakni Muhammad saw ; (a) sebagai seorang manusia biasa yang tidak dapat terluput dari kesalahan, kegagalan dan lain sebagainya, (b) sebagai seorang rasul (utusan) Tuhan yang mengemban tugas suci untuk menyampiakan isi kalam-Nya keseluruh penjuru alam raya ini.

Muhammad saw Sebagai Seorang Manusia.

Bagi kalangan muslim klasik, Muhammad saw digambarkan sebagai sosok yang memiliki segala kelebihan dan lepas dari berbagai kesalahan dan dosa (ma’shum). Ia merupakan pribadi yang kosmik sehingga tidak pantas rasanya jika ada penyematan buruk apalagi mengkritik beliau melalui atau dengan pendekatan apapun. Sikap keras seperti ini menjadi antithesa di masa modern, di mana Muhammad saw memiliki begitu banyak jabatan. Ia adalah suami dari istri-istrinya, ayah dari anak-anaknya, pemimpin bagi seluruh rakyatnya, panglima perang bagi seluruh prajuritnya, dan lain sebagainya.

Sebagai seorang manusia, Muhammad saw pernah memberikan pelajaran penting kepada Mu’adz bin Jabal tentang tiga cara memutuskan hukum :

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِى عَوْنٍ عَنِ الْحَارِثِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أَخِى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ أُنَاسٍ مِنْ أَهْلِ حِمْصَ مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَمَّا أَرَادَ أَنْ    يَبْعثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ « كَيْفَ تَقْضِى إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ ». قَالَ أَقْضِى بِكِتَابِ اللهِ. قَالَ « فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِى كِتَابِ اللهِ ». قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم. قَالَ « فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِى سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَلاَ فِى كِتَابِ اللهِ ». قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِى وَلاَ آلُو. فَضَرَبَ رَسُولُ اللهِ   صلى الله عليه وسلم صَدْرَهُ وَقَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللهِ لِمَا يُرْضِى رَسُولَ اللهِ ». {رواه أبو داود}[3]

 Artinya : “Bahwasanya Rasulullah ketika akan mengutus Mu’adz ke Yaman bersabda, (bagaimana engkau memutuskan perkara hukum ?), Mu’adz berkata, aku menggunakan al-Qur’an, (jika tidak ada di dalam al-Qur’an?), maka aku menggunakan sunnah (tradisi) Rasulullah saw, (jika tidak ada di keduanya ?), maka aku akan berijtihad dengan akalku tanpa berlebihan. Kemudian Rasul menepuk dada Mu’adz seraya bersabda, (segala puji bagi Allah yang telah menyetujui seorang utusan Rasulullah sebagaimana yang diradhai Rasulullah).” [HR. Abu Daud]

 Pelajaran besar ini diberikan kepada sahabat-sahabat Rasul bahwa sebagai manusia yang tida mendapatkan wahyu Tuhan, maka dua patron utama yang tidak boleh dilepas, yakni patron Tuhan dan yang kedua adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Namun ketika keduanya tidak memberikan solusi kongkrit maka akal sebagai ciptaan Tuhan yang juga suci menjadi sarana penentu dalam memutuskan sebuah hukum. Akan tetapi ketika pertanyaan ini (misalnya) di diungkapakan pada Rasulullah saw, tentunya patron dirinya akan teriliminasi dengan sendirinya dan hanya dua yang sisanya, yakni firman Allah dan yang kedua adalah ijtihad. Rasionalisasinya adalah, jika seorang sahabat telah salah dalam berijtihad maka tentunya Rasulullah saw akan menegurnya, akan tetapi jika Rasulullah saw yang bersalah maka allah lah yang akan langsung menegurnya.

Bukti kongkrit bahwa telah terjadi kesalahan Rasulullah saw dalam berijtihad adalah teguran-teguran Allah kepadanya yang terdapat ; (1) QS. Abasa ayat 1-10 (Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?, Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya, Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman), Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya.), tentang ketidakperdulian Rasulullah kepada orang yang buta ketika ada pemuka kaum yang juga menghadapnya, (2) QS. at-Tahrim ayat 1 (Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang), teguran kepada Rasulullah saw yang pernah mengharamkan dirinya minum madu hanya untuk menyenangkan hati isteri-isterinya, (3) QS. at-Taubah ayat 84 (Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.), Teguran kepada Rasulullah saw yang akan menshalatkan Abdullan bih Ubay seorang pimpinan kaum munafik dan Allah membenarkan keputusan Umar yang menghalangi Rasulullah, (4) QS. at-Taubah ayat 43 (Semoga Allah mema’afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?), teguran Allah kepada Rasulullah saw yang memberikan toleransi kepada kaum munafik untuk tidak ikut berperang, (5) QS. Ali Imran ayat 128 (Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim), teguran Allah atas gerutu Rasul karena terluka dalam perang Uhud, (6) QS. al-Anfal ayat 67 (Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.), Allah membenarkan pendapat Umar ibn Khathab ra untuk membunuh semua tawanan perang badar dan menyalahkan keputusan Rasulullah yang sependapat dengan Abu Bakar ra untuk membebaskan para tawanan perang tersebut.

Upaya memanusiawikan, membumikan dan menjadikan Muhammad saw sebagai manusia biasa yang tentunya tidak bisa terlepas dari kesalahan, kegagalan dan teguran, jelas berimplikasi untuk memberikan peluang terhadap para pemikir hukum Islam untuk lebih fleksibel dalam memahami tradisi yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad saw, untuk selanjutnya mendapatkan modifikasi sesuai dengan konteks dan perkembangan zaman yang terus berubah.

Muhammad saw Sebagai Utusan Allah swt.

Sub yang kedua inilah yang menunjukkan bahwa Rasulullah bersifat terjaga (ma’shum). Di mana tidak akan mungkin akan keluar kata-kata yang salah dari lisan utusan-Nya jika menyangkut firman-Nya. Pada pribadi sebagai utusan Allah inilah fungsi dari kalam Allah swt ;

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى {النجم : 4-3}

 Artinya : “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [QS. an-Najm : 3-4]

Pada tataran ini, ungkapan Rasul selain al-Qur’an yang tentunya langsung atas petunjuk Allah adalah bisikan-bisikan dan ajaran Allah namun melalui wasilah Malaikat Jibril as. Selain itu Allah juga terkadang langsung menyampaikan kalam-Nya namun tidak termasuk di dalam isi al-Qur’an, firman ini biasa disebut dengan hadits qudhsi. Adapun mengenai ajaran Allah melalui malaikat Jibril as ini adalah mengenai ajaran keimanan dan ibadah yang hubungannya langsung dengan Allah swt, seperti ibadah shalat. Sedangkan ungkapan beliau yang tidak ada hubungan keimanan dan ibadah mahdhah maka berkemungkinan untuk dilakukan pembacaan ulang.

Dalam hal ini, ‘Ubaidullah Sindi menyatakan bahwa al-Qur’an telah membawa hukum yang sangat asasi (dasar), sedangkan sunnah sebagai hukum yang provosional. Hubungan antara al-Qur’an dan al-sunnah seperti hubungan antara konstitusi dengan peraturan pelaksananya. Seperti konstitusi, Qur’an memberikan prinsip-prinsip dasar yang tidak berubah, sedangkan sunnah menguraikan hukum-hukum tersebut secara detil, yang diturunkan dari prinsip-prinsip ini, dan oleh karena itu dapat berubah. Dengan demikian, ada ruang gerak yang luas untuk menafsirkan Sunnah dan sekaligus untuk menegaskan superioritas al-Qur’an atas al-Sunnah.[4]

Melalui pola pikir seperti ini maka akan terbangun paradigma bahwa Rasulullah Muhammad saw tidak lagi tergambar sebagai manusia super, akan tetapi ia juga adalah seorang manusia biasa. Adapun yang membedakannya dengan manusia kebanyakan adalah bahwa dedikasinya yang tinggi untuk memahami, menyampaikan, mengajarkan dan mengamalkan ajaran atau pesan-pesan Tuhan yang termaktub di dalam al-Qur’an.

Pada dasarnya pola seperti ini telah diimplementasikan di masa khulafa’ al-rasyidin yakni oleh Amir al-Mu`minin Umar bin Khathab ra, di mana ia tidak begitu saja langsung mengambil tradisi yang dibangun oleh Rasulullah saw. Ia sangat meneladani Rasulullah saw, akan tetapi ia tidak begitu saja mengambil dan mengikuti tanpa ilmu. Ia mencoba untuk membaca dan menafsirkan ulang tradisi Rasul dengan konteks hukum yang terus berubah karena perubahan waktu. Dengan demikian maka keputusan yang diambil oleh Umar pada dasarnya adalah mengikuti irama substansi sunnah itu sendiri, “berdasarkan model bukan bukan pemahaman literal, formal dan perkasus, atas sunnah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw”[5].

 2.  Kedudukan Dan Otoritas Hadis Sebagai Sumber Ajaran Islam (pandangan klasik kelompok muhaddisin, ahlur ra’yimutakallimin, sufisme).

Para ahli ilmu ke-Islaman baik yang hidup di masa klasik sampai saat ini belum ditemukan perbedaan pandangan tentang kedudukan al-sunnah di sebagai sumber ajaran Islam, semua sepakat bahwa keabsahannya sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Dasar pijakannya adalah beberapa firman Allah swt :

… وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا … {الحشر : 7}

Artinya : “…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.…” [QS. al-Hasyr : 7]

قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ {آل عمران : 32}

Artinya : “Katakanlah: Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” [QS. Ali Imran : 32]

لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ {آل عمران : 164}

 Artinya : “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [QS. Ali Imran : 164]

 Berdasarkan firman-firman Allah di atas, para ulama sepakat menetapkan, bahwa al-Sunnah itulah yang bertindak menerangkan segala yang dikehendaki al-Qur’an. Meskipun kemudian muncul perbedaan faham antara ulama mujtahidin tentang klasifikasi penerangan al-sunnah tersebut.[6] Bagi kaum muhadditsin, segala yang keluar dan di sandarkan kepada Rasulullah saw lalu berkualitas shahih mengenai masalah yang telah diterangkan di dalam al-Qur’an maka ia harus dapat menjelaskannya, mentakhshish keumumannya dan mengqaidkan muthlak al-Qur’an. Tegasnya, meskipun kalam Allah itu sudah bersifat khusus, namun perlu juga untuk dicari keterangannya, dan al-sunnah adalah alatnya. Oleh karena itu, Imam al-Syafi’i (sebagai pejuang sunnah) menetapkan bahwa maksud adanya sunnah terhadap qur’an adalah sebagai ;

Bayan Tafshil : menjelaskan ayat-ayat yang mujmal, yang sangat ringkas petunjuknya. Contohnya adalah mentafshil ayat tentang perintah shalat.

Bayan Takhshish : menentukan sesuatu dari keumuman ayat. Contohnya adalah, kebolehan berpoligami dalam al-Qur’an di takhshish dengan sebuah hadits yang tidak membolehkan memadu seorang perempuan/istri dengan bibinya (baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu)

Bayan Ta’yin : menentukan mana yang dimaksud dari dua atau tiga perkara yang mungkin dimaksudkan. Contohnya kata Quru` (dalam ‘iddah perempuan yang dicerai) bisa berarti haid bisa berarti suci. Dalam hadist disebut bahwa kata quru` adalah haid.

قال أبو عاصم : فذكرته لمظاهر بن أسلم فقلت حدثني كما حدثت ابن جريح فحدثني مظاهر عن القاسم عن عائشة رضي الله عنها عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : طلاق الأمة تطليقتان و قرؤها حيضتان {رواه الحاكم}[7]

 Artinya : “Thalaq seroang budak wanita adalah dua kali thalak, dan masa ‘iddahnya adalah dua kali haidh.” [HR. al-Hakim]

Bayan Tasyri’ : menetapkan sesuatu hukum yang tidak didapati di dalam al-Qur’an. Contohnya adalah masalah haramnya nikah radha’ah seperti sebab nasab,

وحدثناه أبو كريب حدثنا أبو اسامة ح وحدثني أبو معمر إسماعيل بن إبراهيم الهذلي حدثنا علي بن هاشم بن البريد جميعا عن هشام بن عروة عن عبدالله بن أبي بكر عن عمرة عن عائشة قالت قال لي رسول الله صلى الله عليه و سلم : يحرم من الرضاعة ما يحرم من الولادة {رواه مسلم}[8]

 Artinya : “Haramnya nikah karena sebab persusuan seperti haramnya nikah karena sebab nasab keturunan.” [HR. Muslim]

Bayan Nasakh : menentukan mana yang menjadi nasikh dan mana yang akan di mansukh dari ayat-ayat al-Qur’an yang terlihat saling bertentangan (ta’arudh). Contohnya adalah, shalat menghadap kiblat ke Bait al-Maqdis diganti dengan hadist yang menghadapkan shalat ke Ka’bah di Masjid al-Haram di Mekkah.

Berbeda dengan penjelasan di atas adalah kelompok ahl al-ra’yi, di mana bagi mereka, titah al-Qur’an yang khash madlul-nya tidak memerlukan lagi penjelasan dari al-sunnah. Maka, al-sunnah yang datang kemudian untuk menjelaskan titah tersebut harus ditolak, karena dianggap menambah-nambah saja, terkecuali jika kualitas kekauatannya sama dengan ayat tersebut. Oleh karenanya bagi ahl al-ra’yi, kedudukan al-sunnah di hadapan al-qur’an adalah sebagai ;

Bayan Taqrir : untuk menguatkan firman Allah. Contohnya adalah firman Allah tentang puasa,

… فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ … {البقرة : 185}

Artinya : “Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…

Ayat di atas dikuatkan oleh sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari melalui jalur Abu Hurairah,

حدثنا آدم حدثنا شعبة حدثنا محمد بن زياد قال سمعت أبا هريرة رضي الله عنه يقول : قال النبي صلى الله عليه و سلم : صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين {رواه البخارى}[9]

 Artinya : “Berpuasalah kamu setelah melihat bulan, dan berlebaranlan kamu setelah melihatnya pula, apabila tidak nampak nama sempurnakan bilangan sya’ban menjadi tiga puluh hari.” [HR. al-Bukhari]

Bayan Tafsir : menerangkan kalam Allah yang tersembunyi pengertiannya. Contohnya adalah firman Allah swt tentang perintah shalat, maka untuk mempraktekkannya hanya di dapatkan di dalam sunnah,

أخبرنا يحيى بن حسان ثنا وهيب بن خالد ثنا أيوب عن أبي قلابة عن مالك بن الحويرث قال : أتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم في نفر من قومي ونحن شببة فأقمنا عنده عشرين ليلة وكان رسول الله صلى الله عليه و سلم رفيقا فلما رأى شوقنا إلى أهلينا قال ارجعوا إلى أهليكم فكونوا فيهم فمروهم وعلموهم وصلوا كما رأيتموني أصلي فإذا حضرت الصلاة فليؤذن لكم أحدكم ثم ليؤمكم أكبركم {رواه الدارمي}

 Artinya : “Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, tinggallah di sana, perintahkan mereka, ajari mereka tentang shalat, dan shalatlah kalian sebagaimana shalatku yang kalian perhaitkan, jika engkau akan melaksanakan shalat maka kumandangkan adzan lalu yang tua menjadi imamnya.” [HR. al-Darimi]

Bayan Tabdil atau Bayan Nasakh : mengganti suatu hukum atau menasakhkannya dengan syarat mutawatir atau masyhur. Oleh karenanya, keumuman dalil yang disepakati untuk menerimanya lebih utama untuk diamalkan daripada  khash yang diperselisihkan menerimanya.

Dalil utama bagi kelompok ahl al-ra’yi adalah perintah Abu Bakar untuk menolak semua yang di sandarkan kepada Nabi Muhammad saw namun bertentangan dengan al-Qur’an. Umar bin Khathab juga pernah menolak hadits dari Fatimah binti Qais yang menerangkan bahwa istri yang telah ditalak penghabisan maka tidak berhak baginya nafkah. Penolah Umar berdasarkan zhahir kalam Allah di dalam al-qur’an surat al-thalak, di mana wanita-wanita yang ditalak harus mendapatkan nafkah dan tempat tinggal selama masa ‘iddah. Begitu juga Aisyah yang menolak hadits bahwa orang yang meninggal akan disiksa karena tangisan keluarganya. Hal tersebut menurut Aisyah bertentangan dengan firman Allah QS. al-An’am ayat 164, لَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى  (seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain).[10]

Adapun dari segi tasawuf, sunnah menjadi unik dikaji karena pada dasarnya, tasawuf sebagai ilmu telah lahir 6 tahun lebih dahulu (yakni pada tahun 150 H) dari hadits sebagai sebuah ilmu (yakni pada tahun 156 H).[11] Embrionya adalah pada kajiannya yang lebih mengutamakan pembinaan hati untuk mendapatkan tempat yang paling utama yakni bersama Allah swt. Oleh karenanya bagi para sufi, dzikrullah dengan berbagai tingkatan dan cara merupakan sarana untuk dapat terus menundukkan nafsu atau jiwa terendah menuju nafsu tertinggi.

Gambar 1

Pembagian Nafsu

 Presentation1

Karena kajian tasawuf lebih banyak pada tataran pembinaan hati, maka hadits-hadits yang digunakan tidak sekedar marfu’an tapi juga mauquf dan maqthu’. Bahkan karena kajiannya lebih dahulu lahir dari kajiian ilmu hadits maka penerapan hadits tidak dilihat dari penelitian sanad hadits, tapi sanadnya adalah guru-guru mereka, karena rantai guru dalam tataran ilmu tasawuf tidak akan berlaku dusta. Bahkan mimpi seorang guru yang langsung bertemu dengan Rasulullah saw juga disebut sebagai hadits. Dasar uatamanya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari :

حدثنا موسى قال حدثنا أبو عوانة عن أبي حصين عن أبي صالح عن أبي هريرة : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: تسموا باسمي ولا تكنوا بكنيتي ومن رآني في المنام فقد رآني حقا فإن الشيطان لا يتمثل في صورتي ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار {رواه البخاري}

Artinya : “Berilah nama seperti namaku tapi tidak dengan kunyahku, bagi yang melihatku di dalam mimpi maka sungguh benar pengelihatannya, karena sesungguhnya syaithan tidak mampu menyerupaiku, barang siapa yang berdusta atas namaku maka pilihlah tempat duduk sendiri di neraka.” [HR. al-Bukhari]

Salah satu contoh hadits yang kemudian menjadi rujukan pembinaan jiwa untuk menjadi baik adalah sikap meninggalkan perbutan makruh pada hukum taklif, seperti mencium istri dikala puasa, sebagaimana teguranan Rasulullah saw kepada Umar bin Khathab melalui mimpi.

عن عمر بن حمزة أخبرني سالم بن عبد الله عن أبيه قال قال عمر: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام، فرأيته لا ينظرني، فقلت: يارسول الله، ما شأني؟ فقال: ألست الذى تقبل وأنت صائم؟! قلت: فوالذي بعثك بالحق لا أقبل بعدها وأنا صائم.[12]

 Artinya : “Umar berkata ; Aku melihat Rasulullah saw di dalam mimpi, di mana aku melihat beliau sedangkan beliau tidak memandangku. Maka aku berkata ; Ya Rasulullah, kenapa aku? Beliau bersabda, Bukankah kamu yang mencium istrimu pada saat kamu berpuasa? Maka aku berkata, Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan mencium istriku lagi setelah ini saat aku berpuasa.

C.    Kesimpulan.

Berdasarkan pemaparan pembahasan di atas, maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan :

  1. Rasulullah Muhammad saw memiliki dua sisi kehidupan, yakni sebagai manusia biasa dan sebagai utusan allah untuk menyampikan wahyu. Oleh karenanya, dalam kadar Muhammad saw sebagimana manusia, kesalahan, kegagalan dan keluh-kesah pasti pernah muncul dalam berijtihad. Namun, setiap kesalahan akan diberikan petunjuk baik cepat ataupun lambat baik, berupa firman Allah ataupun hadits qudhsi. Implikasi terbesar dengan pendapat seperti ini adalah, fleksibilitas berpikir dalam berijtihad akan dengan sendirinya mempengaruhi perubahan hukum dari yang berjalan sebelumnya.
  2. Kedudukan al-sunnah disepakati sebagai penjelas kalam Allah, namun pola pikir penerapannya yang berbeda-beda sesuai konsentrasi berpikir para ulama. Bagi muhadditsin, mutlak penggunaan sunnah dengan kualitas shahih sebagai sumber ajar Islam. Bagi ahl al-ra’yi, yang perlu diteliti bukan sanadnya tapi matannya apakah bertentangan dengan al-Qur’an atau tidak, artinya penting untuk merasionalisasikan sunnah terhadap qur’an. Sedangkan bagi kelompok sufi, matan dan sanad itu tidak begitu penting, yang diutamakan adalah, apakah hadits tersebut disampaikan atau tidak oleh para mursyid yang membimbing suluk mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Daud, Sulaiman Abu al-‘Asyats., Sunan Abu Daud, Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Alamsyah, Disertasi ; Sunnah Sebagai Sumber hukum Islam Dalam Pemahaman Syahrur dan al-Qaradawi, Yogyakarta: PPs UIN Sunan Kalijaga, 2004

al-Bukhari, Muhammad bin Isma’il Abu Abdillah., al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987

al-Dahlawi, Syekh Ahmad ibn Abd al-Rahim., Hujjatullah al-Balighah, Kairo: Dar al-Turats, t.th.

al-Hakim, Imam., al-Mustadrak ‘ala al-Shahihaini, Beirut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1990

al-Syafi’i, Abi Abdillah Muhammad bin Idris., al-Risalah, Beirut : Dar al-Kitab al-‘Arabi, 2004

ash-Shiddieqy, Hasbi., Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 1980

Brown, Daniel W., Rethinking Tradition in Modern Islamic World, Cambridge : Cambridge University Press, 1996

Ibnu Hazm, al-Mahally, tt : tp, t.th.

Muslim, Imam., Shahih Muslim, Beirut : Dar Ihya al-Turats al-‘Arabiy, t.th.

Umarie, Barmawie., Systematik Tasawwuf, Salatiga: AB Sitti Sjamsijah, 1963


[1] Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, alRisalah, (Beirut : Dar al-Kitab al-      ‘Arabi, 2004), h. 18

[2] Syekh Ahmad ibn Abd al-Rahim al-Dahlawi, Hujjatullah al-Balighah, (Kairo: Dar al-  Turats, t.th.), Juz. 1, h. 128. Di dalam Disertasi Alamsyah, pemikirian al-Dahlawi ini                      diklasifikasikan sebagai tokoh sentral reformasi keagamaan berdasarkan Sunnah-Hadits di era      modern yakni di abad ke-18. Lihat Alamsyah, Disertasi ; Sunnah Sebagai Sumber hukum Islam   Dalam Pemahaman Syahrur dan al-Qaradawi, (Yogyakarta: PPs UIN Sunan Kalijaga, 2004), h.   77

[3] Sulaiman Abu al-‘Asyats Abu Daud, Sunan Abu Daud, )Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), Juz. 2, h. 327

[4] Alamsyah, op.cit., h. 89

[5] Daniel W Brown, Rethinking Tradition in Modern Islamic World, (Cambridge :             Cambridge University Press, 1996), h. 97

[6] Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang,       1980), h. 177

[7] Imam al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihaini, (Beirut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah,   1990), Juz. 2, h. 223

[8] Imam Muslim, Shahih Muslim, (Beirut : Dar Ihya al-Turats al-‘Arabiy, t.th.), Juz. 2, h.   1068

[9] Muhammad bin Isma’il Abu Abdillah al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), Juz. 2, h. 674

[10] Ibid., h. 188

[11] Barmawie Umarie, Systematik Tasawwuf, (Salatiga: AB Sitti Sjamsijah, 1963), h. 10

[12] Ibnu Hazm, al-Mahally, (tt : tp, t.th), Juz. 6, h. 208

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s