TA’ARUF DAN NAZHAR DALAM PERSPEKTIF YURIDIS, PSIKOLOGIS DAN SOSIOLOGIS

Oleh :

AHMAD RAJAFI SAHRAN, M.Hi

A.    Pendahuluan.

Islam adalah agama yang dapat membawa seseorang kepada jalan pencurahan rahmat Allah, salah satunya adalah di sunnahkannya perkawinan dalam Islam. Mengenai pentingnya perkawinan tersebut, Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda :

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ عَمَلِهِ فِى السِّرِّ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ آكُلُ اللَّحْمَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ. فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ. فَقَالَ « مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّى أُصَلِّى وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى » {رواه مسلم}[1]

 Artinya : “Dari Anas ra, bahwa beberapa orang sahabat Nabi saw. bertanya secara diam-diam kepada istri-istri Nabi saw. tentang amal ibadah beliau. Lalu di antara mereka ada yang mengatakan: Aku tidak akan menikah dengan wanita. Yang lain berkata: Aku tidak akan memakan daging. Dan yang lain lagi mengatakan: Aku tidak akan tidur dengan alas. Mendengar itu, Nabi saw. memuji Allah dan bersabda: Apa yang diinginkan orang-orang yang berkata begini, begini! Padahal aku sendiri shalat dan tidur, berpuasa dan berbuka serta menikahi wanita! Barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” [HR. Muslim]

Hadits ini menunjukkan bahwa perkawinan merupakan sunah Nabi Muhammad saw.[2] Adapun perkawinan diisyaratkan agar manusia mempunyai keturunan dan keluarga yang sah menuju kehidupan bahagia di dunia dan akhirat, di bawah naungan cinta kasih dan ridha Allah swt. Oleh karena begitu pentingnya masalah perkawinan ini, maka Islam secara nyata melarang seseorang untuk hidup melajang sampai akhir hayatnya, apalagi berapologi bahwa hidupnya hanya untuk Allah semata dan ia telah memutuskan diri dengan urusan keduniawian.

Adapun bagian dari pernikahan yang juga penting untuk dikaji dari berbagai disiplin ilmu, seperti pendekatan normatif-yuridis, psikologis dan sosiologis adalah adanya praktek perkenalan (ta’aruf) dan melihat pasangan (nazhar) sebelum diberlangsungkannya perkawinan. Ketiga pendekatan ini menjadi penting dalam tulisan ini agar didapatkan keterangan yang lebih logis dan responsif dengan jiwa siapapun yang akan membacanya.

B.     Pembahasan.

Perspektif Yuridis.

Jikalau dilihat dari berbagai kitab-kitab fiqh dari berbagai madzhab, termasuk kitab fiqh kontemporer seperti yang ditulis oleh Wahbah Zuhaili, apalagi Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang kemudian menjadi fiqh buatan Indonesia,[3] tidak ditemukan sedikitpun sub-judul yang membahas tentang perkenalan sebelum pernikahan (ta’aruf). Adapun yang banyak dibahas di dalam kitab-kitab tersebut dari perilaku pra-nikah adalah masalah kithbah atau peminangan. Akan tetapi, bukan berarti permasalahan ta’aruf ternegasi dari kajian mereka, namun lebih banyak dibahas di dalam sub judul khitbah.

Dasar normatif yang paling terkenal dalam masalah ta’aruf adalah firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ{الحجرات : 13}

 Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Kata lita’arafu ( لتعارفوا ) yang menjadi dasar pentingnya perkenalan di dalam pra-nikah ini, terambil dari kata ’arafa ( عرف ) yang berarti mengenal. Patron kata yang digunakan ayat ini mengandung makna timbal balik, dengan demikian ia berarti saling mengenal.[4] Semakin kuat pengenalan satu pihak kepada selainnya, semakin terbuka peluang untuk saling memberi manfaat, karena itu ayat di atas menekankan perlunya saling mengenal. Menurut Qurasih Shihab[5], perkenalan itu dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman pihak lain, guna meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt, yang dampaknya tercermin pada kedamaian dan kesejahteraan hidup duniawi dan kebahagiaan ukhrawi.

Akan tetapi yang perlu menjadi catatan di dalam ber-ta’aruf adalah, dilarangnya ber-khalwat atau berduan saja tanpa ada rasa malu sedikitpun dengan orang lain bahkan Allah swt karena mendahulukan nafsu syahwat semata. Dalam hal ini, Rasulullah saw pernah bersabda :

عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ {رواه الترمذى}[6]

 Artinya : “Dari Nabi saw bersabda ; janglah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita, kerena yang ketiganya adalah syaithan.

Lalu apa perbedaan antara pacaran dengan ta’aruf ? Dalam hal ini, penulis berkesimpulan melalui hadits di atas bahwa tidak perlu meributkan makna sebuah istilah (la masagha fi al-isthilah) mana yang lebih islami, apakah pacaran atau ta’aruf ? akan tetapi substansi yang tercermin dari perbuatan pasangan yang berbeda jenis itulah yang menjadi pijakan. Meskipun dengan menggunakan bahasa arab yang akan dianggap mendekati islam, akan tetapi prakteknya adalah berdua-duaan dan menonjolkan syahwat maka hukumnya juga haram. Jikalau makna ta’aruf di atas betul-betul diresapi, maka secara jelas terungkap bahwa maksud dan tujuan adanya ta’aruf adalah untuk menyamakan visi dan misi berkeluarga ke depan dan bukan untuk mengumbar nafsu syahwathiyyah.

Adapun nazhar adalah melihat pasangan yang akan dinikahinya, baik laki-laki ataupun perempuan. Namun dalam bahasa agama dan sejarah awal Islam, yang menjadi objek nazhar hanyalah perempuan bukan laki-laki. Dalam hal ini, bagi seseorang yang ingin menikah, diperbolehkan untuk melihat calon pasangannya agar dapat diketahui secara utuh keadaannya. Oleh karenanya, Rasulullah saw menjelaskan :

حَدَّثَنَا عَاصِمٌ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْمُزَنِيِّ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ خَطَبْتُ امْرَأَةً عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَ نَظَرْتَ إِلَيْهَا قُلْتُ لاَ قَالَ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا{رواه النسائي}[7]

 Artinya : “Disampaikan kepada kami oleh ‘Ashim dari Bakr bin Abdullah al-Muzani dari al-Mughirah bin Syu’bah berkata; Aku meminang seorang wanita pada masa Rasulullah saw, maka Nabi-pun bersabda; apakah engkau telah melihatnya? Aku menjawab; belum. Rasul kemudian bersabda; lihatlah dia (calonmu) lebih dahulu agar nantinya kamu bisa hidup bersama lebih langgeng.” [HR. al-Nasa’i]

Dalam riwayat yang lain Nabi memerintahkan kepada shahabatnya dengan ucapan :

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ أَبِى حَازِمٍ عَنْ أَبِى هُرَ يْرَةَ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا. قَالَ لاَ. قَالَ فَاذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّ فِي أَعْيُنِ اْلأَنْصَارِ شَيْئًا {رواه مسلم}[8]

 Artinya : “Disampaikan kepada kami oleh Ibnu Abi Umar, disampaikan kepada kami oleh Sofyan dari Yazid bin Kaisan dari Abi Hazim dari Abi Hurairah berkata; kami bersama Nabi saw, lalu datang seorang pria memberitahu bahwa ia akan menikahi seorang wanita dari kalangan Anshar, maka Rasulullah saw bersabda; apakah engkau telah melihatnya? Ia berkata; belum. Rasul bersabda; pergi dan lihatlah kepadanya, sesungguhnya pada mata perempuan Anshar itu ada sesuatu.” [HR. Muslim]

Berdasarkan hadits-hadits di atas, tidak ada batasan bagi seseorang untuk melihat pasangannya, apakah sebahagian saja atu keseluruhannya. Oleh karenanya, sebahagian ulama ada yang berpendapat bahwa yang boleh dilihat dari pasangannya tersebut adalah muka dan telapak tangan semata. Namun ada juga yang berpendapat secara ekstrim seperti madzhab Zhahiri[9] yang memperbolehkan melihat seluruh tubuh wanitanya sesuai dengan kemutlakan bunyi hadits, meskipun melalui jalan wasilah oleh salah satu utusan keluarga. Diperbolehkannya melihat sebahagian tubuh wanita ini di dasarkan pada hadits nabi Muhammad saw :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ حُصَيْنٍ عَنْ وَاقِدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ – يَعْنِى ابْنَ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ – عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمُ الْمَرْأَةَ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ {رواه أبوا داود }[10]

Artinya : “Disampaikan kepada kami oleh Musadad, disampaikan kepada kami oleh Abd al-Wahid bin Ziyad, disampaikan kepada kami oleh Muhammad bin Ishaq dari Daud bin Hushain dari Waqid bin Abd al-Rahman (yakni Ibnu Sa’ad bin Mu’adz) dari Jabir bin Badillah berkata; Rasulullah saw bersabda; jika seseorang meminang seorang wanita maka hendaknya ia melihat dari bagia wanita tersebut yang dapat menggugah hatinya untuk menikahinya, maka lakukanlah.” [HR. Abu Daud]

Hadits di atas menunjukkan “sebahagian” saja dari tubuh si wanita untuk bisa dilihat, yang dalam pandangan ulama’ seperti al-Qaradhawi adalah wajah dan telapak tangan atau mana saja yang dikehendaki akan tetapi yang dapat melepaskannya dari sifat-sifat syahwatiyyah.[11] Berdasarkan norma-norma yuridis di atas, maka jelaslah bahwa Allah swt melalui risalah Nabi Muhammad saw menginginkan kemaslahatan dan kebaikan sebelum terjadinya perkawinan. Jangan sampai terjadi seperti “membeli kucing dalam karung”, dari luar terlihat bagus namun tidak berkualitas secara fisik.

Jika dikaitkan dengan perintah Rasul untuk memilih pasangan yang paling utama adalah agama, maka terlihat seolah-olah prinsip di atas menjadi terbantahkan. Padahal, norma-norma yuridis di atas menjadi penguat dari printah Rasul tersebut, di mana sifat keinginan manusia sesuai doa yang di ajarkan Allah, adalah di dunia mendapatkan kebaikan, di akhirat juga mendapatkan kebaikan dan selamat dari azab neraka. Artinya, kebutuhan fisik tidak boleh tereliminir begitu saja karena apologi bahasa-bahasa agama. Dengan demikian, maka dapat difahami bahwa maksud dan tujuan adanya nazhar adalah untuk memberikan kejelasan fisik calon pasangannya agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari setelah terjadinya pernikahan.

Perspektif Psikologis.

Istilah psikologi berasal dari perkataan psychologie yang kemudian dibakukan artinya secara keilmuan yakni ilmu tentang gejala-gejala jiwa atau studi tentang tingkah laku yang dihayati secara serempak dan bersama-sama. Adapun gejala-gejalanya adalah kognisi (pengenalan), emosi (perasaan), konasi (kehendak), dan kombinsi (campuran).[12] Sedangkan kajian tentang ta’aruf dan nazhar jika dilihat dari segi psikologi maka ia merupakan gejala kombinasi dalam melakukan kognisi melalui emosi dan konasi terhadap lawan jenis.

Pada dasarnya manusia tertarik pada lawan jenisnya karena perasaan ingin bersama, berkenalan atau saling menukar informasi, dan lain sebaginya. Kondisi ini biasanya muncul ketika manusia melihat dan memandang lawan jenisnya yang berbeda dengannya; misalnya, keadaan fisik yang ayu, molek, cantik atau gagah, ganteng dan tampan.  Hasil pandangan mata itu, kemudian menjadi hayalan manusia dengan kesimpulan pikiran; “bila”, “andaikata”, “seandainya” aku bersama dia, kan dapat curhat, berinteraksi dan berkomunikasi, sepertinya cukup menyenangkan hidup ini.

Konteks inilah lambat laun yang dilandasi niat baik untuk “memiliki” secara fisik seseorang dalam kehidupan akan berubah kepada keadaan yang bersifat psikologis, yaitu suka dalam bentuk suasana hati yang mendalam, cinta dan kasih sayang hingga berkomitmen untuk membentuk keluarga. Ketertarikan manusia terhadap manusia lain (laki-laki atau perempuan) dalam realitas adalah hal yang lumrah karena manusia adalah makhluk yang berkeinginan (homo volens), begitu pandangan kaum psikoanalisis.

Di sisi lain, para ahli –utamanya psikolog sosial– menemukan adanya “sifat tertentu” dalam diri manusia yang menyebabkan manusia tertarik kepada orang lain. Sifat tersebut biasanya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: pertama, faktor situasi, misalnya; kondisi geografis, lingkungan, budaya, bahasa, agama, dsb. Kedua, faktor  kepribadian, seperti umur, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, harga diri, selera, dsb. Namun, dari sejumlah variabel yang berlainan tersebut dalam aplikasi interaksi sosial dan lain kasus di kehidupan ini dengan mudah dilanggar oleh individu sebagai akibat dari daya tarik fisik, kedekatan, kemiripan dan keuntungan yang didapatkan individu yang bersangkutan[13]. Dan untuk menghadirkan hubungan yang baik dalam hubungan tersebut maka dibutuhkan perkenalan yang secara mendalam antara keduanya. Dan di dalam perspektif Islam, dikenal istilah ta’aruf dan nazhar yeng perlu dilihat kemaslahatan jika dilihat dari perspektif psikologis.

Benokraitis[14] menjelaskan bahwa perkenalan sebagai proses di mana seorang bertemu dengan seorang lainnya dalam konteks sosial yang bertujuan untuk menjajaki kemungkinan sesuai atau tidaknya orang tersebut untuk dijadikan pasangan hidup. Perkenalan ditandai dengan adanya kedekatan emosional dan daya tarik seksual terhadap lawan jenis serta perasaan cocok yang dirasakan oleh kedua individu (laki-laki dan perempuan lajang). Konsep tersebut menunjukkan bahwa perkenalan  merupakan hubungan emosional yang mengikutsertakan pula ketertarikan secara seksual sebagai penjajakan sebelum menjadi pasangan hidup.

Oleh karenanya, sebagai manusia yang selalu ingin menjadi yang terbaik dan mendapatkan kebaikan, maka sepantasnyalah ia mencari dan mendapatkan pasangan yang baik. Baik dari segi ekonomi untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan baik dari segi fisik untuk mengahdirkan keluarga yang lebih sempurna. Jangan sampai, ketika terjadi perkawinan yang muncul kemudian hanya keburukan dan tekanan batin yang kuat sehingga memunculkan penyakit kejiwaan atau stres.

Bahkan menurut hasil penelitian psikologis pada tahun 2009, di dapatkan bahwa perkawinan yang di awali dengan salaing kenal dan mengetahui, memiliki skor persepsi terhadap kualitas pernikahan berupa kebahagiaan dan kepuasan serta stabilnya penyesuaian perkawinan yang lebih tinggi secara rata-rata yakni 70,3 %, jika dibanding kelompok subjek yang menikah tanpa saling kenal lebih dalam.[15] Dengan demikian, melalui pendekatan ilmu kejiwaan ditemukan bahwa ta’aruf dan nazhar merupakan sarana penting dalam menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah, karena pernikahan adalah mitsaqan ghaliza sehingga yang dibutuhkan dalam perkawinan adalah ketenangan hati.

Perspektif Sosiologis.

Secara harfiah ilmu sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antar teman, yang meliputi antara orang yang satu dengan orang yang lain, baik yang bersungguh-sungguh teman atau sahabat maupun lawan atau musuh, atau dalam bahasa lain, ilmu sosiologi merupakan sara untuk mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat. Dan dalam hal ini, yang perlu mendapatkan tempat yang lebih banyak untuk dikaji melalui pendekatan sosiologis adalah, tentang praktek ta’aruf dan nazhar sebelum melakukan perkawinan.

Adapun yang menjadi obkjek di sini adalah mereka yang akan melakukan perkenalan pra-nikah, dan dalam bahasa sosiologis mereke dikalsifikasikan sebagai makhlur moral, artinya mereka itu beretika dan bersusila.[16] Oleh karena mereka adalah makhluk yang beretika, maka dalam melakukan perkenalan seperti ta’aruf dan nazhar tidak boleh lepas dari nilai etik yang dibangun di dalam sosial. Adapun fungsi penting ta’aruf dan nazhar pada kajian ini adalah untuk melihat standar kafa`ah sebagai sarana kesetaraan.

Secara historis, teori kafa`ah dimunculkan oleh Imam Abu Hanifah pendiri madzhab hanafi. Dalam hal ini, konsep ini muncul karena kekosmopolitan dan kekomplekan masalah dan masyarakat yang hidup di Irak ketika itu. Kompleksitas muncul karena urbansisasi dan urbanisasi tersebut menhadirkan percampuran sejumlah etnik seperti ‘arabi (orang arab) dengan ‘ajami (non-arab) yang baru masuk Islam pada saat itu. Oleh karenanya, untuk menghindari salah pilkih dalam pernikahan maka dimunculkanlah teori kafa`ah ini di sana dengan lima unsur penting, yakni keturunan (al-nasab), agama (al-din), kemerdekaan (al-hurriyah), harta (al-mal), dan pekerjaan (al-shina’ah).[17] Dan ternyata teori ini terus niscaya di tanah Indonesia ini karena sebab hukum yang sama.

Di Indonesia, begitu banyak kejadian rusaknya perkawinan, karena memang di dasari atas ketidak samaan derajat baik dari segi sosial, keilmuan, ekonomi dan lai-lain. Sehingga di dalam rumah tangga terjadi ketimpangan hubungan dan mudah untuk terjadi perceraian. Oleh karenanya, dimensi sosiologis mengajarkan kepada kita untuk lebih cermat dalam memilih pasangan, yang perlu dlihat bukan sekedar fisik, akan tetapi status sosialnya apakah dapat diimbangi oleh diri yang akan menyandingnya.

Adapun yang menjadi standar sosial untuk mendapatkan ta’aruf dan nazhar yang baik sehingga menghasilkan nilai kesetaraan (sekufu) adalah ;

  1. Cara berpakaian : Sebelum menikah, melalui ta’aruf dan nazhar seseorang dapat melihat apakah ia akan menjadi pasangan yang baik atau kemudian hanya menjadi bencana pernikahan (matrealistis).
  2. Cara pergaulan : Cara pergaulan yang hedonis dan cenderung megapolis jika berimbang dengan badan sendiri maka bisa dipastikan bahwa perceraian akan menjadi solusi di kemudian hari.
  3. Cara mengisi waktu senggang : Melalui penelaahan terhadap perilaku cara mengisi waktu senggang dapat menjadi patokan dalam menilai apakah ia termasuk orang yang individual atau bersosial.
  4. Memilih tempat tinggal : Dalam hal ini, perlu dibedakan antara keinginan dan ambisi. Jika hanya sebuah keinginan, maka usaha bersama akan menghasilkan kebahagian bersama, akan tetapi jika ambisi yang dikeluarkannya, maka perkawinan pasti tidak bahagia.

C.    Kesimpulan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan, yakni :

  1. Secara normatif-yuridis Islam, ta’aruf dan nazhar memberikan kesempatan kepada seseorang untuk saling mengenal menuju ketaatan dan ketakwaan kepada Allah swt.
  2. Secara psikologis, ta’aruf dan nazhar merupakan gejala kombinasi dalam melakukan kognisi melalui emosi dan konasi terhadap lawan jenis. Untuk itu, pada perspektif ini, seorang calon pengantin dituntut untuk melihat kejiwaan masing-masing, karena visi sebuah perkawinan adalah sakinah, mawaddah dan rahmah, yang semuanya tidak terdetiksi secara fisik namun secara psikis.
  3. Melalui pendekatan sosiologis, ta’aruf dan nazhar merupakan solusi untuk menemukan pasangan yang sekufu dan tidak timpang.

 

DAFTAR PUSTAKA

al-Dimyathi, Al-Sayyid al-Bakri bin al-Sayyid Muhammad Syathan., Hasyiyah I’anah al-Thalibin, Indonesia: al-Haramin, 2001

al-Nasa`i, Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Syu’aib., Sunan al-Nasa`i bi Syarh al-Suyuthi wa Hasyiyah al-Sanadi, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1420 H

al-Nisaburi, Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Quysairi., Shahih Muslim, Beirut: Dar al-Jail, t.th

al-Qaradhawi, Yusuf., Halal dan Haram Dalam Islam, Alih Bahasa Mu’ammal Hamidy, Surabaya: Bina Ilmu, 2003

al-Sajistani, Sulaiman bin al-Asy’ats Abu Daud., Sunan Abi Daud, Beirut: Dar al-Fikr, t.th

al-Turmudzi, Muhammad bin Isa Abu Isa., al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Turmudzi, Beirut: Dar al-Ihya’ al-Turats al-Arabi, t.th

Benokraitis, Marriages and Families, Changes, Choice and Constraints, New Jersey: Prentice Hall Inc., 1996

CD al-Maktabah al-Syamilah

Mahmud, Muhammad Dimyati., Psikologi Pendidikan; Suatu Pendekatan Terapan, Yogyakarta: BPFE, 1993

Munawwir, Ahmad Warson., al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir, 1984

Mya Wuryandari dkk., Perbedaan Persepsi Suami Istri Terhadap Kualitas Pernikahan Antara yang Menikah Dengan Pacaran dan Ta’aruf, Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, 2009. Lihat http://eprints.undip.ac.id

Shihab, Muhammad Quraish., Tafsir al-Mishbah; Pesan Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2002

Soelaeman, Muhammad Munandar., Ilmu Sosial Dasar; Teori dan Konsep Ilmu Sosial, Bandung: Eresco, 1995

Syarif, Adnan., Psikologi Qur’ani, Alih Bahasa Muhammad al-Mighwar, Bandung: Pustaka Hidayah, 2002

Zuhaili, Wahbah., al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus: Dar al-Fikr, 2007

——————, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, Aliha Bahasa Abdul Hayyie al-Kattani dkk., Jakarta: Gema Insani, 2011


[1] Hadits ini shahih yang sanadnya sampai kepada Rasulullah saw melalui riwayat Anas bin Malik ra. Lihat Imam Muslim, Shahih Muslim, Bab Istihbab al-Nikah Liman Taqat Nafsahu, No. 3469, Juz 4, h. 129, CD al-Maktabah al-Syamilah

[2] Sunah di sini artinya adalah, mempraktekkan ajaran Nabi Muhammad saw (sunah sebagai millah), bukan diartikan sebagai sesuatu apabila dikerjakan akan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak akan mendapat dosa (sunah di dalam hukum taklif).

[3] Lihat Al-Sayyid al-Bakri bin al-Sayyid Muhammad Syathan al-Dimyathi, Hasyiyah I’anah al-Thalibin, (Indonesia: al-Haramin, 2001), Jilid. 3., Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2007), Juz. 9., dan Kompilasi Hukum Islam

[4] Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir, 1984), h. 919

[5] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan Kesan dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vo. 13, h. 262

[6] Muhammad bin Isa Abu Isa al-Turmudzi, al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Turmudzi, (Beirut: Dar al-Ihya’ al-Turats al-Arabi, t.th.), Juz. 3, h. 474

[7] Abu Abd al-Rahman Ahmad bin Syu’aib al-Nasa`i, Sunan al-Nasa`i bi Syarh al-Suyuthi wa Hasyiyah al-Sanadi, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1420 H), Juz. 6, h. 378

[8] Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Quysairi al-Nisaburi, Shahih Muslim, (Beirut: Dar al-Jail, t.th.), Juz. 4, h. 142

[9] Wahbah Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, Aliha Bahasa Abdul Hayyie al-Kattani dkk., (Jakarta: Gema Insani, 2011), Juz. 9, h. 34

[10] Sulaiman bin al-Asy’ats Abu Daud al-Sajistani, Sunan Abi Daud, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.,), Juz. 1, h. 634

[11] Yusuf al-Qaradhawi, Halal dan Haram Dalam Islam, Alih Bahasa Mu’ammal Hamidy, (Surabaya: Bina Ilmu, 2003), h. 241

[12] Muhammad Dimyati Mahmud, Psikologi Pendidikan; Suatu Pendekatan Terapan, (Yogyakarta: BPFE, 1993), h. 2

[13] Lihat Adnan Syarif, Psikologi Qur’ani, Alih Bahasa Muhammad al-Mighwar, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), h. 136

[14] Benokraitis, Marriages and Families, Changes, Choice and Constraints, (New Jersey: Prentice Hall Inc., 1996), h. 134

[15] Mya Wuryandari dkk., Perbedaan Persepsi Suami Istri Terhadap Kualitas Pernikahan Antara yang Menikah Dengan Pacaran dan Ta’aruf, Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro, 2009. Lihat http://eprints.undip.ac.id, 29 November 2012

[16] Muhammad Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar; Teori dan Konsep Ilmu Sosial, (Bandung: Eresco, 1995), h. 107

[17] Kamaluddin Ibnu al-Hammam al-Hanafi, Syarah Fath al-Qadir ‘ala al-Hidayah, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), Juz. III, h. 286

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s