NALAR ISLAM INDONESIA (Menjaga Tradisi dan Merespon Modernisasi)

Oleh :

Ahmad Rajafi Sahran, M.Hi

 Abstract

Islam di Indonesia telah berjalan cukup unik, yakni dari awal masuknya Islam dengan begitu mudah dan cepat untuk direspon dan diikuti oleh publik hingga pertarungan pemikiran setelahnya dalam menempatkan Islam di dalam ruang publik. Begitu banyak sumbangan pemikiran yang diharapkan mampu merespon kebutuhan umat dari berbagai pemikir Islam, bahkan juga oleh anak-anak muda muslim. Dan dalam tulisan ini, penulis juga melakukan penelaahan yang mendalam dalam melakukan pencarian jati diri Islam yang dapat dirasakan responsif dan membumi di tanah Indonesia ini. Kajian dilakukan dengan membedah kaidah keagamaan yakni, “al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah”, dan menghasilkan pola berpikir ke-Islaman yang harus di dasarkan pada telaah substansial, kontekstual, rasional, dan membumi sehingga melahirkan pemikiran Islam di Indonesia yang responsif.

 Key Words : Islam Indonesia, Responsif

 A.     Pendahuluan.

Islam sebagai sebuah agama di dunia ini telah mengalami perjalanan yang begitu panjang, baik dari mulai pemikiran hingga aplikasinya. Begitu juga di Indonesia (dulu sebagai wilayah yang luas, ia disebut sebagai nusantara), dari mulai kedatangannya, Islam telah menjadi model cantik yang dengan begitu mudah diterima oleh hampir seluruh belahan wilayah nusantara. Tidak ada sedikitpun agresi militer muslim yang masuk dan menguasai nusantara. Bahkan, yang paling banyak mengislamkan adalah orang-orang non-arab (‘ajami) yang datang dari India ataupun orang-orang Arab sendiri yang tentunya korban dari agresi kekuasaan pasca perang Ali bin Abi Thalib dan anak-anaknya yakni Hasan dan Husein dengan Mu’awiyiah sehingga dzurriyat atau keturunannya banyak yang lari ke Hadhralmaut Yaman dan bahkan ada yang sampai ke tanah Nusantara.

Dampak terbesar dari Islamisasi yang di bawa oleh mereka adalah terbentuknya pemikiran dan praktek ibadah yang hanya satu model yakni berfiqh Syafi’iyah dan dalam hal teologi bercorak sunni, bahkan sufisme menjadi daya tarik paling kuat dalam Islamasasi tersebut karena mengedepankan dakwah keramahan (akhlak al-karimah) dan juga mististisme. Namun dalam perjalanannya yang begitu panjang, akibat perjalanan dan pencarian ilmu yang langsung ke heartland Islam yakni Mekah dan Madinah,  barulah muncul pemikiran-pemikiran lain seperti pemikiran purifikasi yang sangat agresif terjadi di Padang (baca ; perang padri), bahkan faham Ahmadiyah-pun juga muncul dari sana.

Akan tetapi jikalau kita mau jujur, dilihat dari berjalannya pemikiran Islam di Indonesia secara global, sesungguhnya Indonesia termasuk yang terbelakang dan tertinggal, hal ini dapat dilihat dari sejarah di mana ketika al-Ghazali yang begitu banyak melahirkan beragam tulisan yang sangat original dan fenomenal, dari mulai ilmu ushul fiqh yakni al-mustashfa, filsafat dengan Tahafut al-Falasifah, Ihya’ Ulum al-Din, dan lain sebagainya. Namun di tanah Nusantara, yakni di zaman kekuasaan Kerajaan Dhaha atau Kediri dengan rajanya Jayabaya masih meresapi pemikiran yang mencakup masalah-masalah yang jauh dari logika yakni mistis, imaginatif, yakni segala hal yang bersifat ke-ghaib-an.

Perbedaan yang sangat dramatis, namun dapat menjadi modal dasar dalam mengenal Islam Indonesia, bahkan menjadi bagian penting dalam perjalanan perkembangan pemikiran Islam dikemudian harinya. Mengapa demikian ? karena meskipun Indonesia terbelakang dalam perkembangan keilmuan Islam, namun tidak bisa dipungkiri (lihat paragraf pertama) bahwa proses Islamisasi di Indonesia adalah yang tercepat. Dalam hal ini, (menurut hemat penulis) faktor kebudayaanlah yang menciptakan sejarah demikian, di mana para penyebar Islam lebih banyak “menembak” kerajaan untuk dijadikan sebagai bagian keluarga melalui proses perkawinan, dan rakyatnya terkenal sangat tunduk, patuh dan hormat (sendiko dawuh) kepada raja beserta keluarganya. Walhasil, terbentuklah perselingkuhan yang sangat nyata antara kekuasaan dan Islam di tanah nusantara ini, dan dampak yang paling sulit untuk dirubah sampai saat ini adalah, pertarungan pemikiran yang monolistik dengan hal-hal yang dianggap baru. Sejarah membuktikan, dihukumnya Syek Siti Jenar melalui hasil rapat walisongo adalah ketidak terimaannya mereka dengan yang berbeda dengan mereka. Dan sedihnya, embrio ini terus dihidupkan hingga saat ini, sehingga begitu banyak (baik personal maupun kolektif) yang sangat mudah menyalahkan, mem-bid’ah-kan bahkan mengkafirkan siapa saja yang berbeda dengannya.

Namun di sisi lain, Indonesia juga patut bersyukur bahwa penjajahan telah menciptakan kemandirian dan keterbukaan pemikiran bagi sebahagian orang. Dan kreasi terbesar bangsa ini dalam menciptakan sumberdaya muslim yang modern (saat itu) adalah dengan didirikannya Perguruan Tinggi Islam oleh Wahid Hasyim (anak seorang Pendiri NU yang juga sebagai Menteri Agama). Walhasil, dalam perkebangannya muncullah pemikiran-pemikran yang mencoba mencari model nalar Islam yang diharapkan responsif dengan bangsa Indonesia, seperti Hasbi dengan Fiqh Indonesianya, Hazairin dengan Waris Bilateralnya, dan lain sebaginya, termasuk pemikiran Gusdur (KH. Abdurrahman Wahid) tentang Pribumisasi Islam.

Patut disyukuri, bahwa embrio di atas telah “merangsang” para penggiat ke-Islaman dan anak-anak muda Islam untuk lebih mengembangkan atau mencari model tersendiri dalam pengembangan pemikiran Islam Indonesia yang responsif. Dan pada tulisan ini, penulis juga mencoba untuk menarasikan Islam Indonesia yang dalam anggapan penulis juga responsif, namun tetap dalam keterbatasan sebagai seorang makhluk Allah, dan mengharap terus dalam bimbingannya ketika menulis materi ini.

B.     Konsep yang Diharapkan Responsif.

Begitu banyak tulisan-tulisan dari para penggiat Islam bahkan juga menjadi daya tarik tersendiri dalam kajian anak-anak muda muslim di Indonesia. Bahkan, hampir dari seluruh ormas Islam, melakukan pencarian pemikiran, konsep atau juga mencoba untuk menjadikannya sebagai sebuah alternatif baru tentang narasi Islam Indonesia yang responsif. Sebut saja Ulil dkk dengan JIL (Jaringan Islam Liberal) -nya, Fuad Fanani dengan JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) -nya yang menetengahkan pola berpikir yang lebih kritis dan liberal. Namun, menurut hemat penulis, pemikiran liberal Islam di Indonesia masih sangat elitis, “melangit” yang belum tersentuh oleh kepentingan mendasar umat, atau meminjam istilah Gusdur yang sering disebut dengan “membumi”. Seolah-olah, kajian yang dibangun di dalamnya, hanya menjadi konsumsi kaum terpelajar dan belum dapat diterima oleh umat, sehingga yang terjadi, begitu banyak benturan dan bahkan menimbulkan kesenjangan yang nyata antara kaum elit dengan kaum santri.

Kejadian ini pada dasarnya, hampir sama dengan apa yang terjadi dahulu antara NU dan Muhammadiyah pada sejarah awalnya. Akan tetapi rupanya sejarah tersebut seolah tidak pernah dijadikan pelajaran. Pembelaan sejarah yang sering muncul adalah, perbedaan terjadi yakni dari segi pemikiran dan gerakan, di mana Muhammadiyah lebih mengedapankan nilai-nilai purifikasi dengan kembali kepada teks yakni al-Qur’an dan al-Sunnah, sedangkan NU dengan pemikiran Islam yang sangat menekankan pentingnya tersambungnya rantai ilmu keagamaan, atau dalam istilah yang paling populer adalah bermadzhab. Akan tetapi pada dasarnya, kesenjangan ini terjadi hanya karena faktor ego, di mana Muhammadiyah merasa sebagai kelompok elit sedangkan NU dinggap sebagai kelompok puritan.

Sejarah lama yang terulang kembali saat ini hendaknya segara disadari agar kita dapat menghasilkan pemikiran yang betul-betul menjadi kebutuhan umat dan bukan hanya kepentingan kaum elit. Hegomoni kaum elit terhadap akar rumput (grass root) harus segera dihilangkan dan ketidak percayaan akar rumput terhadap kaum elit juga harus dinegasikan, agar tercipta kesinambungan pemikiran yang lebih jujur dan ramah. Karena jikalau kesenjangan ini terus terjadi, maka bisa dipastikan Islam Indonesia akan menjadi Islam yang tidak pernah dapat dewasa, bijak dan ramah.

Oleh karenanya dalam tulisan ini, ada kata-kata kunci seungguhnya yang dapat dijadikan “patokan” dalam menciptakan Islam Indonesia yang responsif. Kata kunci tersbut terangkum di dalam kaidah yang juga sangat trend di Indonesia yakni “al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah”, (tetap menjaga nilai-nilai tradisi namun juga tidak boleh alergi dengan modernisasi). Melalui kaidah inilah kemudian (menurut hemat penulis) dapat diraih empat pilar narasi Islam yang diharapkan responsif, yakni :

Pilar Berpikir Substansial.

Substansial berasal dari kata substansi yang artinya adalah “bagian yang penting atau isi[1], sedangkan substansial sendiri merupakan kata sifat yang memiliki arti bersifat inti atau sesungguhnya[2]. Adapun maksud dari sub judul ini adalah, menelaah secara mendalam pola berpikir agama (Islam) yang berasal dari sumber-sumber tekstual dan skriptual menuju intinya yang diharapkan dekat dengan maksud Tuhan. Adapun kajian ini merupakan pembedahan yang sangat alot dalam kajian ushul fiqh yakni dalam materi istinbath al-ahkam.

Dalam teori ushul fiqh, metode istinbath dibagi menjadi dua arah berpikir yakni lafzhi atau lughawi dan maknawi atau majazi. Dua teori ini dalam perkembangannya hanya berkutat kajiannya pada tataran nash atau teks yang tertera di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah dengan pendekatan ilmu kebahasaan, seperti amar dan nahyu, manthuq dan mafhum, dll.[3] Namun gairah yang kuat untuk meraih maksud Tuhan dari teks-teks tersebut, baru terkonsepkan yakni pada masa Imam al-Ghazali di dalam kitab al-Mustashfa dan mendapatkan pengembangan lebih lanjut yang dilakukan oleh asy-Syathibi dalam kitabnya al-Muwafaqat.

Perkembangan berpikir yang transformatif dan membangun diharapkan tidak hanya terjadi pada masa itu saja. Akan tetapi lebih dapat dimaksimalkan sehingga terasa responsif dengan bangsa ini. Seperti penelaahan lebih dalam tentang maksud Tuhan tersebut melalui kajian non-skriptualistik. Maksudnya adalah, dalam hal pewahyuan dari Allah untuk sampai kepada Nabi Muhammad saw terdapat berbagai jalan, yakni mulai dari kalam Allah, kemudian termaktubnya kalam Allah di laul al-mahfuzh, lalu disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Akan tetapi menjadi rahasia besar yang belum terjawab oleh kita bahkan dengan ilmu pengetahuan dan riwayat yang ada, mengenai bagaimana Allah “menanam” wahyunya di laul al-mahfuzh ? Bagaimana Jibril memperoleh wahyu tersebut dan bagaimana pula bentuk wahyu yang disampaikan olehnya kepada Nabi Muhammad saw ? Dan lebih jauh lagi, apakah dalam perjalanan tersebut bentuk wahyu dalam satu “ikatan” dengan menggunakan bahasa Arab, atau bagaimana ? karena tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat riwayat yang sampai kepada kita melalu jalur Imam al-Bukhari dari istri Nabi Muhammad saw yakni Aisyah ra, mengenai rasa nabi Muhammad saw ketika menerima wahyu tersebut.

حدثنا عبد الله بن يوسف قال أخبرنا مالك عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها أن الحارث بن هشام رضي الله عنه سأل رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال يا رسول الله كيف يأتيك الوحي ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( أحيانا يأتيني مثل صلصلة الجرس وهو أشده علي فيفصم عني وقد وعيت عنه ما قال وأحيانا يتمثل لي الملك رجلا فيكلمني فأعي ما يقول ) قالت عائشة رضي الله عنها ولقد رأيته ينزل عليه الوحي في اليوم الشديد البرد فيفصم عنه وإن جبينه ليتفصد عرقا[4]

Artinya : “Disampaikan kepada kami oleh Abdullah bin Yusuf berkata, diberitakan kepada kami oleh Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya dari Aisyah Ummul Mukminin ra., bahwa al-Harits bin Hisyam ra., bertanya kepada Rasulullah saw dan berkata; Wahai Rasulullah seperti apakah turunnya wahyu kepadamu ? Rasulullah saw menjawab ; terkadang seperti bunyi lonceng, itulah yang paling berat terasa bagiku. Setelah bunyi itu berhenti aku baru mengerti apa yang telah disampaikan kedapaku, kadang kala mailakat menjelma seperti laki-laki menyampaikan kepadaku dan aku mengerti apa yang disampaikan. Aisyah ra., berkata; aku pernah melihat Nabi ketika turunnya wahyu kepadanya pada suatu hari yang sangat dingin, maka terlihatlah (setelahnya) wajahnya penuh dengan peluh.

Hadits di atas menjadi bukti yang tidak terbantahkan tentang bagaimana nabi memperoleh wahyu, namun belum menjawab segala pertanyaan di atas. Mungkin masih menjadi tabu rasanya jika seorang muslim mengkaji hal-hal yang menyangkut ketuhanan dan kepribadian-Nya. Namun pada dasarnya Allah sebagai sang Khalik adalah Tuhan yang Maha Kuasa, segala sifat kebaikan adalah miliki-Nya. Dan seluruh kehendak ada pada diri-Nya, dan tentunya juga dengan kalam-Nya yang tersampaikan kepada kekasih-Nya Rasulullah Muhammad saw melalui Malaikat Jibril as. Kita memang pada dasarnya tidak dapat mengkaji Tuhan karena kapsitas makhluk yang sangat lemah dibandingkan dengan sang Khalik, namun kita juga diperintahkan untuk mengkaji khalquhu (yang kemudian diterjemahkan sebagai ciptaannya), termasuk kehendak Tuhan terhadap hamba-Nya.[5]

Dalam hal ini, begitu banyak term “cipta” di dalam bahasa Arab, ada khalaqa, ja’ala, shana’a, kawwana, bada’a, ansya`a,[6] akan tetapi ketika ketika menggunakan kata khalaqa di dalam al-Qur’an, maka ditemukanlah bahwa kata tersebut selalu “menggandeng” bentuk-bentuk ciptaannya, seperti samawat (langit), ardh (bumi), dll. Adapun ja’ala mencakup rangkaian kata yang lebih luas, dan kata-kata yang lainnya merupakan pemaknaan yang sama dengan ja’ala. Akan tetapi yang menjadi penting rasanya untuk ditelaah secara mendalam adalah kata khalaqa itu sendiri yang sesungguhnya menyangkut kepribadian-Nya karena terdapat salah satu nama Allah di dalam asma` al-husna yakni al-Khaliq yang artinya pencipta, sedangkan kata yang lain tidak digunakan untuk menjadi salah satu nama-Nya.

Jika dikaitkan dengan asal-muasal setiap makhluk maka tidak dapat dipungkiri bahwa semuanya berasal dari-Nya, oleh karenanya, ketika membahas semua yang keluar dari-Nya termasuk kalam-Nya, maka dengan demikian ia layak juga untuk dikaji secara mendalam. Mengenai hal ini, penulis berkeyakinan bahwa teks yang kita baca memiliki keterbatasan ruang dan waktu, namun perjalanan panjangnya hingga menjadi teks tidaklah terkung-kung dengan ruang dan waktu karena ia adalah sesuatu yang suci, sehingga dibutuhkan pembacaan yang mendalam dari apa yang diwahyukan oleh pembaca yang juga telah “mensucikan” dirinya sehingga melahirkan jawaban yang dekat dengan kehendak Allah.

Bacaan yang mendalam terhadap kalam yang suci dengan mungganakan anugrah akal yang juga suci tentunya tidak akan mengedepankan hawa nafsu yang dapat melunturkan kesuciannya. Karena nafsu lebih dekat dengan kesalahan sedangkan kesucian lebih dekat dengan ke-ridha-an. Oleh karenanya, inti suatu teks tidak sekedar apa yang tertuang begitu saja dari pikiran manusia (imaginasi), namun membutuh analisis yang mendalam antara nash (teori) dan al-waqi’ah (fakta), karena masalah adalah kesenjangan antara teori dan fakta, dengan demikian penelitian atas dasar “masalah” tersebut maka dengan sendirinya jawaban akan hadir dengan lebih objektif.

Sebagai contoh ayat yang sering dibaca namun hilang substansinya karena di anggap sebagai ayat-ayat pengusir syetan, penolak balak, dll. yakni surat al-nass. Ayat tersebut jika ditelaah, sungguh mendalam bicara masalah bagaimana kita harus dapat memanusiakan manusia. Mari kita kaji satu persatu ayat di dalamnya :

  1. [قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ  ] yang diterjemahkan “Katakanlah: Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia”. Ayat ini ketika menyebutkan nama Tuhan sebagai fokus permohonan yang disandingkan dengan kata manusia (al-nass) dengan menggunakan kata ( رَبٌّ ) rabbun yang kata dasarnya adalah rabba-yurabbi-rabban yang artinya “memiliki, memimpin, dan memelihara[7]. Melalui kata dasar inilah maka sesunguguhnya ayat ini mengajarkan tentang tidak ada yang lebih kuasa, perkasa dan menguasai selain Allah semata. Artinya, sebagai seorang hamba setiap orang punya hak yang sama baik di dunia dan terhadap Tuhannya. Sifat manusia yang selalu ingin menguasai merupakan “perampokan” terhadap sifat Tuhan, oleh karenanya, kesetaraan sebagai hamba dibangun demi nilai-nilai kebaikan, ketenangan, kedamaian, dll. Prinsip “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah” pada dasarnya adalah makna yang sama namun dengan gaya bahasa yang berbeda.
  2. [ مَلِكِ النَّاسِ ] yang diterjemahkan menjadi “Raja manusia”. Ayat ini menjadi rujukan bahwa kekuasan manusia itu tidaklah bersifat mutlak, akantetapi ia hanyalah sebuah titipan dari-Nya yang harus dibangun atas landasan nilai-nilai keadilan. Oleh karenanya, Allah mengingatkan agar ketika seseorang berkuasa, jangan sampai nafsu kekuasaan menguasai sehingga hak-hak orang miskin untuk juga mendapat kesejahtraan, orang-orang yang tertindas untuk mendapatkan kesamaan di hadapan hukum, ternegasi hingga rakyat pada akhirnya menuntut hak-hak mereka. Kasus tahun 1997 di Indonesia pada dasarnya bukti lupanya para pemimpin akan keadaan rakyatnya.
  3. [ إِلَهِ النَّاسِ ] diterjemahkan menjadi “sesembahan manusia” adalah rangkuman dari ayat 1 dan 2 dalam menerapkan rumusan keduanya, di mana nilai-nilai kesetaraan dan keadilan tidak akan mudah dibangun jika nilai-nilai spiritualitas masih menjadi konsumi personal. Mengapa Allah “menggandeng” kata Ilah (Tuhan) dengan al-nass (manusia) ? adalah untuk menunjukkan kepada manusia bahwa spritualitas itu bukan saja untuk konsumsi individual akan tetapi bermakna dan bermanfaat bagi sekitarnya. Inilah yang sering dikenal dengan kesalehan sosial. Allah mengajarkan kepada kita untuk mencintai manusia jika ingin mendapatkan cinta-Nya. Hal ini sejalan dengan hadits qudsi yang sangat terkenal ;

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ [8]

Artinya ; “orang-orang yang memiliki kasih sayang akan mendapatkan kasih sayang Allah, sayangilah makhluk di bumi maka penghuni langit akan menyayangimu.” [HR. al-Turmudzi]

  1. [ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ] diterjemahkan menjadi “dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi”. Dalam hal ini, sifat-sifat menyayangi dan menyakiti itu seperti dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan, karena ia adalah sifat manusiawi. Akan tetapi Allah mengajarkan bahwa meskipun kita telah menjadi baik, shaleh, bertakwa, dll. tapi tolong jangan biarkan kita menjadi picik karena merasa kitalah satu-satunya yang akan menjadi penghuni surga atau mendapatkan kebahagiaan dari Tuhan, tapi ingatkanlah sekeliling kita agar mampu mengendalikan diri dan terus beruasaha untuk dapat mengendalikan diri sehingga mengahadirkan kebaikan, keamanan, ketenangan bagi sesama. Sifat-sifat selalu merasa benar sendiri, merasa paling suci adalah bisikan syetan yang paling nyata namun jarang dilawan. Oleh karenanya, melihat kenyataan disekeliling kita berupa keserakahan, penindasan dan ketidak adilan manusia terhadap makhluk lainnya adalah pelajaran besar dalam menaggulangi diri dari bencana seperti ayat di atas.
  2. [ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ] diterjemahkan menjadi “yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia”. Mengapa Allah “menembak” hati manusia dalam ayat ini ? ini bukti agar sebagai manusia yang beragama hendaknya selalu melakukan kontemplasi sehingga menjadi manusia yang beradab. Kecenderungan seseorang untuk berbuat tidak baik (al-ma’shiyah) memang tinggi, namun hati yang telah mendapatkan pendidikan berupa penelaahan terhadap kalam Allah dan ciptaan-Nya akan lebih mudah untuk menjadi bijak dan bahkan ramah dalam menjalan kehidupannya.
  3. [ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ] yang diterjemahkan dengan “dari (golongan) jin dan manusia” merupakan kalimat terakhir dalam surat al-nass yang memberikan pelajaran bahwa pengaruh terbesar untuk menjadi baik atau buruk kita adalah faktor eksternal bukan internal. Terkadang nurani kita ingin melakukan kebaikan namun suasan tidak mendukung bahkan karena begitu mendominasinya prilaku diluar batas kemanusiaan di sekitar kita maka pada akhirnya kita-pun ikut-ikut untuk melakukannya. Inilah yang sering terjadi ketika menangkap basah para pelaku kejahatan, maka dengan begitu mudah lalu kita memberikan pukulan dan penganiyaan, bahkan sampai melakukan pembakaran dan pembunuhan. Padahal sebagai makhluk yang sama, kita juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan untuk melakukan pertobatan, dsb.

Inilah sebahagian kecil pembacaan ulang terhadap ayat Allah yang menurut hemat penulis lebih humanis dan berkeadilan. Pembacaan yang tidak ingin terikat oleh ortodoksi keagamaan yang muncul dari dogma, yang dogma itu sendiri tidak pernah diungkapkan oleh Allah sebagai Sang pemilik kalam. Dalam hal ini, ayat yang turun tidaklah pernah salah, namun dogma yang dibangun terhadap ayat-ayat Allah itulah yang seringkali menegasikan unsur-unsur lain yang sesungguhnya merupakan kajian di dalam ayat-ayat tersebut. Oleh karenanya, pembacaan ulang terhadap firman Allah menjadi sebuah keharusan untuk menghasilkan inti sesungguhnya dari firman tersebut.

ARAHAN BERPIKIR SUBSTANSIAL

 

Pilar Berpikir Kontekstual.

Kata kontekstual merupakan kata sifat (adj) yang memiliki arti berhubungan atau tergantung dalam konteks[9], sedangkan konteks itu sendiri dari segi linguistik adalah situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian[10]. Dalam hal ini, kajian tentang nilai-nilai konteks menjadi penting karena kenyataan pewahyuan yang turun secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, dan oleh para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 12 tahun masa kenabian dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madinah.[11] Dan yang kedua adalah kenyataan tentang pentingnya al-sunnah sebagai penjelas firman Allah.

Kenyataan Turunnya Wahyu Secara Bertahap.

Begitu banyak riwayat sejarah yang menjelaskan tentang turunnya wahyu, di mana firman pertama yang turun adalah 5 (lima) ayat dalam surat al-‘Alaq dan bukan keseluruhan ayat dari surat tersebut. Di dalam studi al-Qur’an  periwayatan tentang turunnya al-Qur’an dikenal dengan istilah asbab al-nuzul atau sebab-sebab diturunkannya wahyu. Namun yang menjadi kenyataan sejarah adalah, belum munculnya ghirah atau semangat para sahabat untuk menulis secara runtut sejarah dari semua wahyu yang turun. Bahkan saat ini yang terjadi, penelaahaan terhadap asbab al-nuzul semakin dipersempit dari segi penilaian periwayat (jarh wa al-ta’dil wa rijal al-hadits), bukannya mencari kenyataan sejarah dengan cara field research.

Kenapa penulis sangat menekankan aspek sejarah dari semua wahyu yang turun, karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa membaca teks tidak akan pernah mendapatkan intisarinya pasca sang penyampai wahyu yakni Rasulullah saw wafat, kecuali melalui jalan sejarah dengan cara mengkontekskan ketika turunnya wahyu dengan konteks saat ini. Meskipun sejarah waktu dan tempat pasti berbeda sangat jauh dengan saat ini, akan tetapi kenyataan di dalamnya (yakni sejarah wahyu) penting sebagai penyanding di era ini. Penjelasan ini baru dari satu aspek telaah, belum lagi dengan perbedaan penyampaian asbab al-nuzul dari setiap riwayatnya. Oleh karenanya, penelitian secara langsung untuk mencari sejarah secara keseluruhan dapat menyelamatkan para pengkaji hukum Islam dari kungkungan ta’arudh al-dalilain (pertentangan antar dalil), karena sejarah menghadirkan kondisi sang penyampai, kondisi sosial, dan kondisi lingkungan.

Selain pentingnya aspek sejarah setiap turunnya ayat, sesungguhnya yang juga sangat penting adalah sejarah penulisan al-Qur’an yang kemudian memiliki tanda huruf seperti titik satu, dua, tiga, baik di bawah maupun di atas huruf, kemudian tanda baca seperti fathah, dhammah, kasrah dan bentuk gandanya, lalu tanda sukun, tasydid serta tanda baca mad (tanda panjang) dan waqaf, memberikan warna bacaan tersendiri ketika dibaca oleh orang-orang muslim dikemudiannya, apalagi faktor ‘ajami (bukan orang Arab) lebih mendominan untuk mengkaji Islam dari sumber aslinya akibat penyebaran Islam yang begitu cepat dan meluas.

Pertanyaannya, apakah ketika terjadi penulisan tersebut dengan tanda bacanya juga telah sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, dan apakah perbedaan bacaan di antara para penerima transfer wahyu dari Nabi (sab’at ahruf / qira’at sab’ah) tetap berada di dalam koridornya atau sesungguhnya terjadi percapuran bacaan ? Dalam hal ini, penulis sangat terkejut dengan apa yang diungkapkan oleh al-Suyuthi tentang adanya salah tulis dalam pengkodifikasian awal al-Qur’an di masa Khalifah Utsman dengan satu bacaan dan menegasi bacaan lain.

Ayat pertama yang diprediksi salah dalam penulisannya adalah QS. Thaha ayat 63 (قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِ يدَانِ أَنْ يُخْرِجَاكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَى ) dan yang dianggap benar adalah ( إِنْ هَذَ يْنِ لَسَاحِرَانِ ), yang kedua adalah QS. an-Nisa` ayat 162 (لَكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُ نْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُ نْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلاَةَ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ أُولَئِكَ سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا ) dan yang dianggap benar adalah ( وَالْمُقِيمُوْنَ الصَّلاَةَ ), kemudian ayat yang ketiga atau yang terakhir adalah QS. al-Maidah ayat 69 (إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَ لاَ هُمْ يَحْزَنُونَ ) dan yang dianggap benar adalah ( وَالصَّابِئِينَ ). Adapun riwayat yang masyhur (terkenal) tentang pembahasan ayat ini adalah ;

عن هشام بن عروة عن أبيه قال : سألت عائشة رضي الله تعالى عنها عن لحن القرآن عن قوله تعالى : {إِنْ هاذان لساحران} وعن قوله تعالى {والمقيمين الصلاة والمؤتون الزكواة} النساء : 162. وعن قوله تعالى {والذين هَادُواْ والصابئون} المائدة : 69. فقالت : يا ابن أخي هذا عمل الكتاب أخطؤا في الكتاب ، وإسناده صحيح على شرط الشيخين كما قال الجلال السيوطي [12]

Artinya : “Dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya berkata; aku bertanya kepada ‘Aisyah ra tentang bacaan al-Qur’an dari firman Allah (in hadzani lasahirani), firman-Nya (wa al-muqimina al-shalata wa al-mu`tuna al-zakata), dan firman-Nya (wa alladzina hadu wa al-shabiuna). ‘Aisyah menjawab; wahai anak saudaraku, ini adalah perbuatan penulis al-Qur’an yang salah dalam penulisan. Sanadnya shahih melalui jalur Imam Bukhari dan Muslim sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Jalal al-Suyuthi.

Apologi yang paling banyak dibangun ketika membahas ayat-ayat di atas adalah melalui jalur qira’at yang turun sebanyak tujuh ragam, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya   ( هَكَذَا أُنْزِلَتْ . إِنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مِنْهُ مَا تَيَسَّرَ )[13]begitulah diturunkannya ayat Allah. Sesungguhnya al-Qur`an diturunkan sebanyak tujuh huruf maka bacalah mana yang mudah menurutmu”. Jika apologi ini yang dibangun, maka semakin jelaslah bahwa memahami al-Qur’an tidak bisa hanya dari satu sudut pandang saja, maka dibutuhkan integrasi keilmuan dan pendekatan sehingga menghasilkan pemahaman dan jawaban yang substantif dan kontekstual.

Kenyataan Dibutuhkannya al-Sunnah Sebagai Penjelas.

Ketika membahas al-sunnah maka tentunya yang menjadi objek nyatanya adalah Rasulullah Muhammad saw yang terikat oleh ruang dan waktu. Hanya Allah lah yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, oleh karenanya realitas al-sunnah sebagai penjelas wahyu, juga terikat oleh ruang dan waktu. Pantas jika kemudian ketika Rasulullah saw berbuat yang tidak sesuai dengan pengajaran Allah, maka ia akan segera ditegur, bahkan terkadang bentuk teguran tersebut harus dari ungkapan manusia lain yang bukan seorang Rasul atau Nabi, seperti Abu Bakar, Umar dan sahabat lainnya[14]. Oleh karenanya, menjadi sangat aneh ketika banyak kaum muslimin yang kemudian hanya mengambil teks tanpa mengetahui konteksnya. Inilah yang kemudian bisa disebut sebagai penyembahan berhala era modern. Sebagai bahan pertimbangan adalah hadits yang dirawayatkan oleh Imam Muslim dan sering kali menjadi acuan kekerasan terhadap yang berbeda dengan mereka dan terhadap model-model kemaksiyatan yang berkembang, dan lebih dahsyatnya lagi adalah, rasa yang tinggi bahwa merekalah pemanggul perintah Tuhan di muka bumi untuk menegakkan hukum-hukum-Nya.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ {رواه مسلم}[15]

Artinya : “barangsiapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tanganmu, jika tidak bisa maka dengan lisanmu, jika tidak bisa maka dengan hatimu, dan itulah selemah-lemah iman.” [HR. Muslim]

Tinjauan tekstual terhadap hadits di atas akan menghasilkan program teror dan kekerasan (al-irhab) dan tentunya menegasikan prinsip-prinsip kenabian melalui akhlak mulia[16], bahkan sangat bertentangan dengan firman Allah swt yang menjelaskan ;

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ…{آل عمران : 159}

Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu…”[QS. Ali Imran : 159]

Yang lebih hebat lagi, praktek Rasulullah saw ketika melihat kemaksiyatan, tidak langsung dengan menggunakan “tangan” untuk menghukum, bahkan memberikan nasehat kepada para sahabatnya yang marah dan langsung ingin menghukum prilaku kemaksiyatan, seperti kasus adanya salah seorang Arab Badawi yang buang air kecil di masjid.[17] Jika melihat hadits yang yang pertama tadi, seharusnya nabi langsung mengambil hukuman terhadap seorang Arab Badawi tersebut, akan tetapi konteks saat itu adalah, seorang Arab Badawi yang notabene adalah “orang kampung” yang tentunya juga “kampungan” tidak mengetahui perkembangan dan sosial kehidupan orang kota (Madinah), oleh karenanya Nabi tidak menghukumnya akan tetapi menggunakan cara kedua yakni menggunakan lisan berupa nasihat atau pemberitahuan kepada oknum tersebut bahwa hal tersebut adalah perbuatan yang salah dan ilegal.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka sesungguhnya cara baca tentang hadits “man ra`a minkum munkaran” harus dibaca secara terbalik (down-up) bukan (top-down), mengapa demikian, karena konteks sejarah menunjukkan bahwa yang paling banyak dilakukan oleh nabi terhadap prilaku kekerasan, ketidak adilan, kezhaliman, yang pertama kali adalah dengan doa, lalu tabligh (penyampaian dengan lisan) baru kekuasaan. Seperti kasus pelemparan dan pengusiran kaum kafir terhadap Nabi Muhammad saw, yang kemudian beliau didatangi oleh Jibril as dan menanyakan apakah harus mereka dihukum kaum kafir tersebut dengan menghantamkan gunung kepada mereka, namun nabi malah mendoakan mereka agar mereka mendapatkan hidayah karena sesungguhnya tidak mengetahui.[18]

 

 Pilar Berpikir Rasional.

Kata rasional biasa digunakan untuk menunjukkan penggunaan akal secara maksimal dalam menjawab setiap permasalahan sehingga jawaban tersebut masuk akal atau logis. Lawan katanya adalah irasional yang artinya “tidak masuk akal” atau tidak logis. Fungsi akal menjadi sangat dominan dalam hal ini, yakni dalam mengkaji maksud-maksud Allah dalam menciptakan hukum di muka bumi ini. Hukum yang berasal dari kalam-Nya dan kemudian disampaikan oleh utusan-Nya yakni Rasulullah Muhammad saw, mengharuskan akal untuk dapat memahaminya. Hal ini sejalan dengan berbagai perintah Allah agar kita menelaah, berpikir, menganalisa dan lain sebagainya, seperti “la’allakum ta’qilun”, “la’allakum tatafakkarun”, dsb.

Ungkapan Allah kepada manusia sebagai makhluk untuk berpikir merupakan peluang dari-Nya agar manusia dapat memaksimalkan diri menjadi insan kamil atau manusia yang sempurna. Sempurna karena dapat menelaah secara mendalam kalam-Nya yang bersifat qauli (al-Qur’an) dan kalam yang bersifat kauni (ciptaan-Nya). Dalam hal ini, ungkapan Allah yang bersifat qauli dapat difahami jika manusia memaksimalkan akalnya dalam menelaah, bukan hanya menjadi pembaca aktif namun pasif penelaahan. Mengapa demikian? Jawaban pertama adalah karena adanya kehendak muslim untuk melanggengkan agama, kapanpun dan di manapun ia berada, atau dalam bahasa agama disebut dengan shalihun likulli zaman wa makan (menjadi solusi kapanpun dan di manapun). Yang kedua, karena faktor transmisi firman yang tidak satu kali jadi, akan tetapi harus dalam beberapa tahap sesuai dengan kehendak-Nya. Melalui dua faktor inilah kemudian Allah memerintahkan manusia untuk memaksimalkan manusia untuk berpikir.

Adapun penelahaan kalam-Nya yang bersifat kauni tidak akan bisa dilakukan tanpa menggunakan penelitian yang mendalam, dan alat dasar penelitian adalah akal agar hasil penelitian dapat diterima (rasional) oleh siapapun yang membaca hasil penelitian tersebut. Geliat para peneliti Islam dalam melakukan penelitian alam raya ini telah dilakukan oleh Ibnu Sinna dalam bidang kedokteran, al-Bairuni dalam bidang matematika, al-Jahiz dalam bidang biologi, dan lain sebagainya. Dan pada perkembangannya, semangat meneliti alam raya mulai memudar dan yang paling banyak dikaji dan dilakukan penelitian adalah di bidang politik, sosial-budaya, dan praktek agama.

Kepentingan mendasar dilakukannya penelitian atas alam raya ini adalah karena kebutuhan integrasi keilmuan dalam menelaah maksud Allah. Dengan integrasi keilmuan dalam menelaah alam raya ini, maka penerimaan manusia terhadap Allah (iman) sebagai Tuhan akan lebih rasional, bukan di dasarkan pada garis-garis mistis yang mengakibatkan manusia terbelakang dalam menghadapi perkembangan zaman. Dulu tidak ada satupun yang dapat menerima tantangan Allah untuk menembus langit, akan tetapi “shulthan[19] kemudian digali dengan memaksimalkan akal dan pada pada akhirnya perjalan manusia sudah sampai di bulan dan planet-planet yang dekat dengan bumi, ilmu ini kemudian dikenal dengan istilah ilmu astronomi. Hasil yang paling baik untuk umat Islam adalah, lebih mudahnya kita untuk melakukan praktek ibadah seperti shalat, puasa, haji, dengan menerapkan ilmu astronomi tersebut, karena ibadah tersebut sangat terikat dengan awal mula dan akhir ibadah, inilah yang dimaskud dengan pentingnya integrasi keilmuan.

Dan Harus Membumi.

Adapun yang dimaksud dengan membumi di sini adalah, munculnya sense of belonging terhadap agama yang dianut dan sense of responsibility sebagai seorang muslim dalam memberikan nilai-nilai positif berupa solusi-solusi keagamaan yang menyentuh langsung dengan kebutuhan rill mereka dari persoalan-persoalan yang muncul. Jangan sampai masalah yang di bahas hanya akan menjadi konsumsi kaum elit sehingga tidak menyentuh akar rumput (grass root). Oleh karenanya, kata kunci yang dapat digunakan di sini adalah, pentingnya penelitian yang objektif dalam mengkaji permasalahan-permasalahan baru di Indonesia.

Sebagai contoh, kasus munculnya Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam misalnya, yang diarahkan menjadi Rencana Undang-Undang (RUU) Hukum Perkawinan Islam oleh Musdah Mulia dkk yang tergabung dalam Tim Pengarusutamaan Gender Departemen Agama dan mendapatkan mandat langsung dari negara, di mana isi pokoknya lebih banyak penentangan terhadap kebutuhan rill umat secara kaeseluruhan karena tidak mengedepankan penelitian yang mendalam sebelumnya seperti diperbolehkannya nikah beda agama, hak yang sama dalam kewarisan, dll., sehingga memunculkan polemik di masyarakat bahkan pengharaman dari para ulama’ karena dianggap liberal, akhirnya Menteri-pun (saat itu Maftuh Basyuni) harus membekukan bahkan membubarkan tim kerja tersebut. Berikut penjelasan Menteri Agama ;

Adalah satu hal yang tidak dapat dimengerti jika satu tim resmi dari Depag dengan sengaja telah menyiarkan atau melontarkan gagasan-gagasan yang bertentangan dengan tugas Depag, yaitu menjaga kerukunan dan ketentraman di kalangan masyarakat beragama. Berdasarkan pandangan yang seperti ini, apabila para anggota DPR yang terhormat secara langsung menanyakan hasil kerja tim tersebut, dengan tegas saya menjawab bahwa hasil kerja tim tersebut saya batalkan dan bukan sekedar dibekukan.[20]

Inilah salah satu kasus tentang belum membuminya kontribusi pemikiran para penggiat Islam di Indonesia. Untuk itu, paling tidak ada dua buah rumusan aksi demi terwujudnya teori ini, yakni ;

Menyempurnakan spiritualitas seorang hamba terhadap Khalik-nya. Firman Allah yang menyatakan وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ  “tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku[21], menunjukkan pentingnya keberlangsungan hubungan interaksi yang sangat intensif antara hamba dengan sang Khalik. Artinya, baik di dalam maupun di luar rutinitas ibadah yang sudah ter-maktub di dalam agama, kita juga harus terus menerus melakukan kontak komunikasi dengan Allah swt, sehingga terbangunlah pemikiran yang positif bagi diri sendiri dan tentunya memberikan efek positif pula bagi sekeliling kita.

Membangun hubungan (relationship) dengan sang Kahlik dibutuhkan nilai kesadaran yang tinggi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada satu-pun di muka bumi ini layak untuk disembah selaih Allah. Inilah bangunan yang dibangun secara personal yang tidak membutuhkan orang lain di dalamnya. Karena ketika bangunan personal ini telah berdiri tegak dan kokoh maka dengan begitu mudah untuk menjalankan aksi yang kedua, yakni ;

Memberikan hak yang sama sebagai sesama makhluk Tuhan, memanusiakan manusia tanpa harus melihat perbedaan meskipun dalam hal-hal yang sangat prinsip. Bagi seseorang yang telah lolos dalam aksi pertama, maka tidak akan begitu sulit untuk menemukan kesamaan di dalam perbedaan. Berpikir humanis secara universal betul-betul dapat menundukkan sifat-sifat ingin “menguasai” dan bahkan selalu sigap dalam merespon segala ketidak adilan dan penindasan manusia terhadap manusia lainnya bahkan dengan alam raya ini. Sebagai contoh, ketika dunia barat ketakutan dengan istilah jihad yang dianggap embrio dari segala tindak terorisme (al-irhab), maka sesungguhnya aksi yang menjadi kebutuhan rill umat adalah menerapkan jihad yang ramah, yang dapat menciptakan persaudaraan meskipun berbeda, dan ini telah dicontohkan oleh sejarah panjang Islam di Indonesia. Adapun jihad dengan mengangkat senjata adalah dalam koridor defensif bukan ofensif.

 C.      Kesimpulan.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa Islam di Indonesia telah mengalami perjalan panjang dari mulai masuknya hingga saat ini. Kontribusi nalar Islam yang dirasakan dapat responsif dengan ruh bangsa Indonesia terbangun dari kaidah al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Di satu sisi kita harus dapat beradaptasi dengan hal-hal baru, namun nilai-nilai tradisi Islam yang didirkan atas dasar riwayat keilmuan tidak bisa dilepaskan begitu saja. Oleh karenanya, pembacaan ulang terhadap teks-teks agama diharpkan mampu menselaraskan kehendak modernitas dengan tradisi keilmuan Islam.

 DAFTAR PUSTAKA

 Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta: Modern English Press, 1991

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1997

Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus: Dar al-Fikr, 2004

Imam al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, Beirut: Dar ibn al-Katsir, 1987

Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, t.th.

Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir, 1984

Muhammad bin Isa Abu Isa al-Turmudzi, al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Turmudzi, Beirut: Dar al-Ihya`al-Turats al-Arabi, t.th.

Wikipedia, http://id.wikipedia.org, Kamis 04 Oktober 2012

Mahmud al-Alwasi Abu al-Fadhal, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an wa al-Sab’u al-Matsani, Beirut: Dar Ihya` al-Turats al-‘Arabi, t.th.

Muhammad Husain Haikal, Umar bin Khattab, diterjemahkan oleh Ali Audah, Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2002

Imam Muslim, Shahih Muslim, Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, t.th.

Imam Malik bin Anas, al-Muwatha’, Mesir: Dar Ihya` al-Turats al-‘Arabi, t.th.

Abu Hamid al-Ghazali, Ihya`Ulum al-Din, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002

HMH al-Hamid al-Husaini, Riwayat Kehidupan Nabi Muhammad saw, Bandung: Pustaka Hidayah, 2005

Zaitun Subhan dkk., Membendung Liberalisme, Jakarta: Republika, 2004


[1] Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press, 1991), Edisi Pertama, h. 1468

[2] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), Cet. Ke-9, h. 967

[3] Lihat Wahbah Zuhail, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2004), Cet. Ke-4, h. 86

[4] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, (Beirut: Dar ibn al-Katsir, 1987), Juz. 1, h. 4

[5] Hal ini sejalan dengan hadits Nabi Muhammad saw yang marfu’ dari Abi Dzar yang berbunyi (تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في الله عز وجل ) “kajilah ciptaan-Nya tapi jangan kaji Sang Pencipta”.

[6] Lihat Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum), Cet. Ke-3, h. 855, 305, 678, dll.

[7] Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Pondok Pesantren Al-Munawwir, 1984), h. 462

[8] Muhammad bin Isa Abu Isa al-Turmudzi, al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Turmudzi, (Beirut: Dar al-Ihya`al-Turats al-Arabi, t.th.), Juz. IV, h. 323

[9] Peter Salim dan Yenny Salim, op.cit., h. 767

[10] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, op.cit., h. 522

[11] Wikipedia, http://id.wikipedia.org, Kamis 04 Oktober 2012

[12] Mahmud al-Alwasi Abu al-Fadhal, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an wa al-Sab’u al-Matsani, (Beirut: Dar Ihya` al-Turats al-‘Arabi, t.th.), Juz. 12, h. 202

[13] Imam al-Bukhari, op.cit., Juz. 9, h. 50

[14] Mengenai pembenaran Allah terhadap Umar lihat Muhammad Husain Haikal, Umar bin Khattab, diterjemahkan oleh Ali Audah, (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2002), Cet. III, h. 47-49

[15] Imam Muslim, Shahih Muslim, (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, t.th.), Juz. 1, h. 50

[16] Bunyi haditsnya adalah ( بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ حُسْنَ الْأَخْلَاقِ ) “aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”, hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik bin Anas, al-Muwatha’, (Mesir: Dar Ihya` al-Turats al-‘Arabi, t.th.), Juz. 2, h. 904

[17] Lihat Abu Hamid al-Ghazali, Ihya`Ulum al-Din, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002), Cet. II, Vol. III, h, 508

[18] Lihat HMH al-Hamid al-Husaini, Riwayat Kehidupan Nabi Muhammad saw, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2005), Cet. V, 383-384

[19] Lihat QS. Ar-Rahman (55) : 33

[20] Lihat Kata Sambutan Menteri Agama dalam Zaitun Subhan dkk., Membendung Liberalisme, (Jakarta: Republika, 2004), h. ix

[21] Lihat QS. al-Dzariyat : 56

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s