SISTEM KEWARISAN PATRIALINEAL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Oleh :

Ahmad Rajafi Sahran, M.Hi

 A.    Pendahuluan.

Sebelum Islam datang di tanah Arab, masyarakat Arab terbiasa untuk melakukan kekejian termasuk dalam hal pembagian harta pasca wafatnya orang tua. Sejarah menyebutkan, bahwa istri-istri bapak bahkan ibu sendiri juga termasuk bagian harta yang harus di bagikan kepada anak-anak laki-laki yang ditinggalkan. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, anak-anak wanita tidak mendapatkan bagian sedikitpun dalam harta peninggalan si-mait.[1] Perilaku seperti ini kemudian dikenal dengan sebutan masa jahiliyah. Hal ini telah diceritakan oleh Allah swt di dalam al-Qur’an :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آَتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا {النساء : 19}

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[279]. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Baru setelah Islam datang dan mendapatkan tempat yang luas di tanah Mekah dan Madinah, aturan-aturan tentang hukum kekerabatan dibuat dan diterapkan sesuai dengan petunjuk Ilahi melalui firman-firman yang tertulis (al-Qur’an) dan yang tidak tidak tertulis (al-Sunnah). Salah satu bagian penting yang juga dibahas di dalam hukum kekerabatan adalah masalah kewarisan.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Islam sebagai agama terakhir dan menyempurnakan ajaran-ajaran agama samawi sebelumnya tidak luput untuk memberikan konsep kekerabatan ini. Sehingga pada akhirnya difahami bahwa bentuk kekerabatan dalam hukum Islam sangat menentukan azas yang berlaku dalam hukum kewarisan. Dalam al-Qur’an maupun Sunnah jika dikaji lebih lanjut memang kenyataannya tidak menjelaskan secara jelas tentang struktur kekerabatan tertentu menurut hukum Islam. Namun demikian dalam realitasnya dihadapkan berbagai macam bentuk susunan kekerabatan, meliputi: patrilineal, matrilineal, dan bilateral[2], yang masing-masing memiliki implikasi terhadap hukum waris Islam. Oleh karenanya, melalui makalah singkat ini akan di bahas secara singkat pula tentang sistem kewarisan patrilineal melalui pendekatan atau perspektif al-Qur’an sehingga menjadi bagian kecil demi kebuituhan pembaharuan hukum kewarisan di tanah Indonesia ini.

B.     Pembasahasan.

Pengertian Waris dan Sifat Hukumnya.

Ilmu waris di dalam ilmu ke-Islaman dikenal dengan istilah al-faraidh, yang memiliki makna ;

 علم يعرف به كيفية قسمة التركة على مستحقيها   [3]

Artinya : “ilmu yang menjelaskan tentang tata cara pembagian harta peninggalan orang yang meninggal bagi mereka yang berhak.

Adapun dalam terminologi al-Qur’an kata al-waris baik yang berbentuk tunggal (mufrad) maupun yang berbentuk plural (jama’) dapat difahami sebagai peralihan sesuatu kepada sesuatu yang lain atau segala sesuatu yang tinggal setelah ada yang pergi.[4] Melalui kedua pemaknaan di atas, maka dapat difahami bahwa waris atau faraidh merupakan ilmu yang sangat penting untuk mengatur pembagian harta peninggalan orang yang meninggal kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya setelah harta tersebut dikeluarkan terlebih dahulu untuk kebutuhan pengurusan janazah, pembayaran hutang dan penunaian wasiat.

Orang-orang yang berhak mendapatkan harta waris diklasifikasi dari segi kekerabatan atau keturunan. Dan ilmu yang menjelaskan tentang kekerabatan tersebut membaginya pada tiga kelompok, yakni patrilineal yang mengikuti sifat bapak, matrilineal yang mengikuti sifat ibu, dan bilateral atau parental yang mengikuti sifat keduanya.[5] Dan pada tulisan ini, fokus pembahasan waris berada pada kajian kekerabatan patrilineal.

Bicara tentang patrilineal berarti bicara masalah hubungan kekerabatan yang beasal dari jalur hubungan darah. Hubungan darah adalah pertalian darah antara orang yang satu dan orang lain karena berasal dari leluhur yang sama (keturunan leluhur).[6] Hubungan darah itu ada dua garis, yaitu hubungan darah menurut garis lurus ke atas disebut “leluhur”, hubungan darah menurut garis ke bawah disebut “keturunan” dan hungan darah menurut garis ke samping disebut “sepupu”.

Gambar. 1

Garis Hubungan Darah

 

Daftar yang menggambarkan ketunggalan leluhur antara orang-orang yang mempunyai pertalian darah disebut “silsilah”. Dari silsilah dapat diketahui jauh dekatnya hubungan darah antara orang yang satu dan orang yang lain dari leluhur yang sama. Jauh dekatnya hubungan darah dapat dinyatakan dengan istilah atau sebutan dalam hubungan keluarga.

Patrilineal hubungan darah yang mengutamakan garis keturunan ayah, memberikan penjelasan bahwa kedudukan suami lebih utama dari kedudukan isteri. Dalam perkawinan ini, laki-laki lebih berperan sebagai wali nikah, perkawinan dengan sistem jujur, isteri selalu mengikuti tempat tinggal suami. Dalam kekuasaan orangtua, kekuasaan ayah (suami) lebih diutamakan daripada kekuasaan ibu (isteri) terhadap anak-anak dalam hubungan keluarga. Dalam kewarisan, bagian  pihak laki-laki selalu lebih besar daripada bagian perempuan. Dan dalam perwalian, pihak laki-laki lebih diutamakan daripada  pihak perempuan untuk diangkat sebagai wali anak-anak. Contoh masyarakat dalam kategori ini adalah Sumatera Selatan, Tapanuli dan Bugis.

Bahasa al-Qur’an Tentang Kewarisan.

Pada masa pra-Islam atau jahiliah, pembagian harta peninggalan ayah hanya diberikan kepada laki-laki dan menegasi kaum wanita, hanya untuk yang dewasa dan menafikan anak-anak, dll. Baru setelah Islam datang, disyari’atkanlah pembagian harta peninggalan mayit dengan pembagian memberika ruang untuk wanita dan bahkan untuk anak bayi yang baru lahir. Adapun ayat-ayat yang menjelaskan tentang pembagian harta waris adalah :

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا {النساء : 7}

Artinya : “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” [QS. an-Nisa’ : 7]

يُوصِيكُمُ اللهُ فِي أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ اْلأُنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لاَ تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا فَرِيضَةً مِنَ اللهِ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا{النساء : 11}

Artinya : “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua[273], maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. an-Nisa’ : 11]

وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ{النساء : 12}

Artinya : “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” [QS. an-Nisa’ : 12]

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآَتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا{النساء : 33}

Artinya : “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.” [QS. an-Nisa’ : 12]

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ {النساء : 176}

Artinya : “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. an-Nisa’ : 176]

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو اْلأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلاَّ أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا {الأحزاب : 6}

Artinya : “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).” [QS. al-Ahzab : 6]

Berdasarkan ayat-ayat di atas, al-Qur’an (yang merupakan kalam Allah swt) memberikan stressing yang sangat dominan terhadap kaum pria dan garis keturunan pria. Hal ini terlihat dari ayat yang pertama dengan mengawali kalm-Nya dengan kalimat li al-rijali nashibun (dan bagi laki-laki hak bagian). Pada ayat yang kedua, Allah memberika porsi yang lebih besar dari perempuan dengan kalimat yushikumullah di awladikum li al-dzakari mitslu hazhzhi al-untsayaini (Allah mensyari’atkan bagimu tentang pembagian pusaka untuk anak-anakmu, yakni bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan), dll.

Kewarisan Patrilineal Dalam Perspektif al-Qur’an.

Pada bagian ini, kajian lebih banyak menggunakan pendapat-pendapat fiqh klasik yang notabene kajiannya tertib riwayat. Seperti di dalam kita I’anah al-Tahlibin dari madzhab Syafi’i yang menyebutkan kelompok pembagian harta waris dari laki-laki ada sepuluh :

والوارثون من الرجال عشرة                              أسماؤهم معروفة مشتهره

الابن، وابن الابن، مهما نزلا                              والاب، والجد له، وإن علا

والاخ من أي الجهات كانا                                 قد أنزل الله به القرآنا

وابن الاخ المدلي إليه بالاب                                  فاسمع مقالا ليس بالمكذب

والعم، وابن العم من أبيه                                  فاشكر لذي الايجاز والتنبيه

والزوج، والمعتق ذو الولاء                                   فجملة الذكور هؤلاء[7]

Artinya : “Kaum pria yang mendapat bagian wairsan ada sepuluh, yakni (1) anak laki-laki, (2) cucu laki-laki dari anak laki-laki terus ke bawah, (3) ayah, (4) kakek dari ayah terus ke atas, (5) saudara laki-laki seayah dan seibu sebagaimana yang dijelaskan Allah di dalam al-Qur’an, (6) anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, perhatikan baik-baik ini bukan pendusta, (7) paman dari ayah, (8) anak paman dari ayah maka bersyukurlah atas ketentuan ini, (9) suami, (10) orang laki-laki yang memerdekakan hamba sahaya, itulah mereka.

Adapun dari kelompok perempuan ada tujuh :

والوارثات من النساء سبع                                    لم يعط أنثى غيرهن الشرع

بنت، وبنت ابن، وأم مشفقة                               وزوجة، وجدة، ومعتقة

والاخت من أي الجهات كانت                        فهذه عدتهن بانت[8]

Artinya : “Perempuan-perempuan yang mendapatkan harta waris ada tujuh, selain mereka tidak boleh menerima sesuai syari’at, (1) anak perempuan, (2) cucu perempuan dari anak laki-laki, (3) ibu kandung, (4) istri, (5) nenek dari ayah, (6) perempuan yang memerdekakan hamba sahaya, (7) saudara perempuan seibu dan seayah, itulah mereka.

Penyebutan penerima harta waris oleh al-Dimyathi ini di dasarkan oleh firman-firman Allah yang juga telah penulis tuangkan pada sub sebelumnya. Nerdasarkan pembagian ini saja, terlihat bagian untuk kelompok laki-laki lebih banyak dibandingkan kelompok perempuan. Akan tetapi jika dibaca secara seksama, maka terasa masih belum rinci klasifikasinya. Adapun rincian menurut hemat penulis, yakni (1) karena adanya sebab perkawinan, (2) karena adanya unsur kekerabatan, (3) karena status pembebasan budak. Berikut gambar-gambarnya :

Gambar. 2

Ahli Waris Karena Sebab Perkawinan

Gambar. 3

Ahli Waris Karena Jalur Kekerabatan

Gambar. 4

Ahli Waris Karena Memerdekakan Budak

Berdasarkan pembagian mustahiq waris di atas ditemukan bahwa hampir semua garis yang ditarik untuk dijadikan mustahiq adalah dari jalur ayah, atau dalam bahasa sistem kekerabatan dikenal dengan istilah patrilineal. Sebagai bukti adalah penunjukan ayah yang lurus ke atas sampai ke kakek dari garis laki-laki yang di dasarkan atas firman Allah swt, wa li abawaihi likulli wahidin minhuma al-sudus mimma taraka inkana lahu waladun. Penunjukan anak dan cucu ke bawah dari garis laki-laki, sebagaimana firman Allah swt, yushikumullah fi awladikum. Kemudian jalur ke samping yang menjadikan paman, saudara, semuanya juga dari garis ayah. Begitu juga dengan kalalah, yakni mereka yang mati hanya memiliki saudara laki-laki atau perempuan seibu, semuanya dapat harta waris harus karena tidak memiliki anak ke bawah dan tidak ada ayah ke atas. Bahkan Rasulullah Muhammad saw sebagai penjelas kalam Allah swt di dunia juga menerangkan :

حدثنا سليمان بن حرب حدثنا وهيب عن ابن طاوس عن أبيه عن ابن عباس رضي الله عنهما : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : ألحقوا الفرائض بأهلها فما بقي فلأولى رجل ذكر {رواه البخاري}[9]

Artinya : “Disampaikan kepada kami oleh Sulaiman bin harb, disampaikan kepada kami oleh Wahib dari ibnu Thawas dari ayahnya dari ibnu Abbas ra, dari Rasulullah saw bersabda; berikan bagian waris kepada keluarga yang berhak terhadapnya, adapun sisanya diberikan kepada laki-laki yang peling dekat dengan si mayyit.” [HR. al-Bukhari]

Bukti selanjutnya adalah masalah penghalang (hujub/hijab) dalam pembagian harta waris, di mana mereka yang terhijab secara hirman ada tujuh, yakni kakek, nenek, beberapa saudara perempuan sekandung, beberapa saudara perempuan seayah, anak-anak ibu, anak-anak perempuan dari anak laki-laki, dan seorang anak laki-laki dari anak laki-laki. Dalam hal ini, kakek terhijab oleh ayah, nenek oleh ibu, dua orang sudara sekandung oleh anak laki-laki, anak-laki-laki dari anak laki-laki oleh ayah. Saudara-saudara perempuan seoayah oleh anak laki-laki, saudara laki-laki seibu terhijab oleh ayah, kakek, anak dan cucu. Anak-anak perempuan dari anak laki-laki terhijab oleh anak laki-laki dan anak laki-laki dari anak laki-laki terhijab oleh anak laki-laki.[10] Pada bagian ini, dominasi kaum laki-laki dalam melakukan penghijaban atau penghalangan pembagian waris hampir terjadi di semua lini.

Bukti yang paling tegas dari firman Allah atas berlakunya sistem kekerabatan patrilineal adalah, jumlah bagian untuk anak laki-laki lebih besar dari anak perempuan, dengan bunyi kalimat li al-dzakari mitslu hazhi al-untsayaini (dan untuk anak laki-laki bagiannya seperti dua orang anak perempuan) atau istilah lain yang dua banding satu (2 : 1). Meskipun menurut Muhammad Syahrur kalimat dua banding satu ini yang memberikan jumlah lebih kecil dari laki-laki adalah batasan minimal (had al-adna) dalam kewarisan[11], akan tetapi ini menjadi bukti tidak terbantahkan bahwa status bapak menjadi dominan dalam kewarisan Islam.

C.    Kesimpulan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat di dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ tentang pembagian harta waris lebih banyak memberikan formasi yang sangat dominan kepada garis kekerabtan laki-laki atau ptrilineal, seperti dalam kasus jalur penerima harta waris, para penghalang waris, dan jumlah yang lebih besar bagi anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.

DAFTAR PUSTAKA

al-Bukhari, Muhammad bin Isma’il Abu Abdillah., al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987

al-Dimyathi, al-Sayyid al-Bakri bin al-Sayyid Muhammad Syathan., Hasyiyah I’anah al-Thalibin, Indonesia: al-Haramin, 2001

al-Jarjani, Al-Syarif Ali bin Muhammad., Kitab al-Ta’rifat, Jakarta: Dar al-Hikmah, t.th.

Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al Quran dan Hadits, Jakarta: Tintamas,1990

Muhammad, Abdul Kadir., Hukum Perdata Indonesia, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993

Sahabuddin…[et.al]., Ensiklopedia al-Qur’an; Kajian Kosakata, Jakarta: Lentera Hati, 2007

Shihab, Muhammad Quraish., Membaca Sirah Nabi Muhammad saw Dalam Sorotan al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih, Jakarta: Lentera Hati, 2011

Suparman, Eman., Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat dan BW, Bandung: Refika Aditama, 2005

Syahrur, Muhammad., al-Kitab wa al-Qur’an Qira`ah Mu’ashirah, Beirut: Binayat al-Wahhad, 2000

Syarifuddin, Amir.,  Pembaharuan Pemikiran Dalam Hukum Islam, Padang: Angkasa Raya, 1993

Zuhaili, Wahbah., al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Penerjemah Abdul Hayyie al-Kattani dkk., Jakarta: Gema Insani, 2011


[1] Lihat Muhammad Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad saw Dalam Sorotan al-Qur’an dan Hadits-Hadits Shahih, (Jakarta: Lentera Hati, 2011), h. 114-115

[2] Patrilineal  merupakan bentuk kekerabatan yang menarik garis nasab hanya melalui jalur bapak atau laki-laki.  Matrilineal  merupakan bentuk kekerabatan yang menarik  garis nasab melalui jalur ibu atau perempuan semata. Sementara  bilateral  merupakan bentuk kekerabatan yang menentukan garis nasab melalui jalur bapak dan ibu. Lihat  Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al Quran dan Hadits, (Jakarta: Tintamas,1990), h.11. Lihat juga Amir Syarifuddin,  Pembaharuan Pemikiran Dalam Hukum Islam, (Padang: Angkasa Raya, 1993), h.144

[3] Al-Syarif Ali bin Muhammad al-Jarjani, Kitab al-Ta’rifat, (Jakarta: Dar al-Hikmah, t.th.), h. 166

[4] Sahabuddin…[et.al]., Ensiklopedia al-Qur’an; Kajian Kosakata, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Jilid. 3, h. 1069

[5] Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat dan BW, (Bandung: Refika Aditama, 2005), h. 5-6

[6] Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993), h. 64

[7] Al-Sayyid al-Bakri bin al-Sayyid Muhammad Syathan al-Dimyathi, Hasyiyah I’anah al-Thalibin, (Indonesia: al-Haramin, 2001), Jilid. 3, h. 224

[8] Ibid.

[9] Muhammad bin Isma’il Abu Abdillah al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), Juz. 6, h. 2478

[10] Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Penerjemah Abdul Hayyie al-Kattani dkk., (Jakarta: Gema Insani, 2011), Jilid. 10, h. 428

[11] Lihat Muhammad Syahrur, al-Kitab wa al-Qur’an Qira`ah Mu’ashirah, (Beirut: Binayat al-Wahhad, 2000), h. 602

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s