KEJUJURAN vs KEBOHONGAN

“KEJUJURAN”, satu kata yang sangat mudah terlontar dari lisan namun sangat sulit untuk diimplementasikan. Kata jujur adalah ungkapan nyata yang dapat diperlihatkan oleh siappun, akan tetapi mengapa begitu sulit untuk ditanam dan dibesarkan di dalam kehidupan sehari-hari, bahkan karena begitu sulitnya untuk jujur akhirnya kebohongan menjadi visi dalam kehidupan seseorang, lebih parahnya lagi, label muslim diikutkan dalam perilaku buruk tersebut. Jika ini sudah terjadi, maka bersiap-siaplah kita semua untuk tertular dengan penyakit tersebut.
Menanggapi fenomena ini, alangkah baiknya jika kita kembali menelaah (muhasabah) pribadi kita masing-masing apakah virus kebohongan sudah terinfeksi ke dalam diri kita atau belum. Untuk itu paling tidak sebagai bahan pengingat kita agar dapat menjadi salah satu alternatif terapi hidup adalah dengan kembali mengingat-ingat ajaran agama mengenai pentingnya kejujuran dan bahayanya kebohongan.
Sebagai bahan awal adalah profil Rasulullah saw yang seblum beliau diangkat menjadi rasul sudah memiliki satu gelar sosial yakni “al-amin” yakni orang yang dapat dipercaya. Jika gelar akademik begitu mudah didapat baik formal ataupun informal akan tetapi gelar sosial hanya didapat dari pengakuan seluruh kelompok sosial, dan Muhammad saw berhasil mendapatkannya. Adapun fungsi profil nabi di atas adalah sebagai cambukan nyata bagi kita yang mengaku sebagi umatnya tapi tidak beriman kepadanya, karena iman kepada rasul adalah dengan mengejuantahkan seluruh risalah akhir kenabian di muka bumi ini dalam seluruh sendi-sendi kehidupan, yakni Islam.
Bahan kedua adalah ungkapan firman Allah di dalam al-Qur’an “dan mereka yang tidak beriman adalah para pembohong”, na’udzubillah. Sungguh tegas Allah melabelkan kata tidak beriman kepada mereka yang suka berbohong, bahkan Rasulullah Muhammad saw dengan sangat gamblang mengkategorikan orang yang suka berbohonh dengan gelar munafik. Gelar yang paling buruk di muka bumi ini, bahkan untuk menutupi gelar itu dengan lari ke dunia lain di muka bumi ini, tetap saja gelar tersebut akan melekat. Oleh karenanya, sebagai seorang yang mengimani Allah dan rasul-Nya, maka sikap kebohongan hendaknya dapat dikalahkan dengan kejujuran.
Adapun cara untuk mengutarakan kejujuran ada dua kategori, (1) Mengungkapkan kejujuran dengan tegas, keras dan lugas. Sikap seperti ini hanya dapat dilakukan dalam hal pembuktian hukum, di mana ungkapan tidak boleh bermakna ganda sehingga menghilangkan esensi dari keadilan. (2) Mengungkapkan dengan cara yang bijak dan dengan gaya bahasa majazi. Hal ini berlaku seperti dalam kasus kekeluargaan. Contohnya, ada seorang istri menghidangkan masakan untuk suaminya, tiba-tiba ketika dimakan rasanya sangat asin sekali, dalam hal ini seorang suami tidak boleh langsung mengatakan dengan ungkapan yang terbuka, akan tetapi hendaknya dengan ungkapan yang lebih menyejukkan, seperti “bunda, kenapa ini air laut sudah sampai kesini?”, subhanallah.
Inilah seklumit bahan pikiran saya dalam melakukan kontemplasi diri agar dapat menyempurnakan diri ini menjadi insan kamil (manusia yang sempurna), khususnya di hadapan Allah swt.

Manado, 21 Oktober 2012
Minggu, Jam. 17.10 WITA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s