HORMAT UNTUK GUBERNUR LUPA ALLAH

15 Oktober menjadi sejarah besar bagi institusi kami karena Gubernur menyempatkan diri untuk datang menjadi speaker Kuliah Umum plus menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) politis perubahan STAIN menuju IAIN. Dalam hal ini, para tamu telah datang sesuai dengan undangan yakni jam 09.00 WITA sedangkan Gubernur baru sampai di STAIN pukul 11 lewat. Sungguh suasana yang maha dahsyat saat itu karena semua orang begitu hormat dalam menyambut beliau.

Sepanjang perjalanan acara tersebut, semua undangan begitu bahagia karena secara politis Gubernur betul-betul mendukung rencana perubahan status STAIN menuju IAIN, bahkan seblum beberapa menit beliau bicara, sudah begitu banyak janji beliau untuk membantu STAIN dari segi fisik, salah satunya adalah perlunya dibangun aula yang besar agar dapat menampung undangan jika ada kegiatan besar kampus.

Akan tetapi yang menjadi masalah yang sangat crucial adalah lupanya para undangan sebagai bagian dari ciptaan Allah untuk menunaikan kewajibannya. Hak Allah sudah diberikan begitu luas untuk kita, bahkan akal dan indera di tempatkan di dalam diri kita untuk menelaah dan menunaikan kewajiban kita, wama khalaqtu al-jinna wa al-insa illa liya’budun (tidaklah Ku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku).

Letak permasalahan berada pada pelaksanaan zuhur yang hampir terlupakan, bahkan dengan begitu mudahnya menyatakan untuk mencukupkan zuhur dalam jamak dan qashar. Hal di atas terjadi karena Gubernur beserta rombongan baru meninggalkan STAIN pukul 14.30 WITA sedangkan waktu asar masuk pukul 14.41 WITA. Undangan terlihat sepi sebelum azan asar dikumandangkan. Memang ada kebiasan di Manado yang unik, di mana azan yang tepat waktu hanya pada maghrib dan subuh ramadhan, selain dari itu semua mencukupkan pada jam yang ada, seperti magrib jam 6, isya’ jam 7, subuh 04.30, zuhur jam 12, dan asar jam 3. Akan tetapi, kelalaian ini tidak bisa dianulir begitu saja dengan alasan-alasan kalsik, yakni sibuk dan lain sebagainya. Padahal, masjid hanya berjarak sekitar 20 m, lalu haruskah hormat kita kepada Gubernur menegasi hak-hak Allah di dalam diri kita? wal ‘iyadzu billah.

Memang pertemuan di atas sangat penting bagi seorang pemimpin, namun begitu banyak yang hadir hanya menjadi pendengar dan peserta pasif, lalu tidak bisakah dilowongkan sedikit waktu untuk Allah, atau kita memang sudah tidak membutuhkan Allah dalam urusan dunia kita ? meskipun begitu hebat hubungan kita dengan manusia, akan tetapi jika kita melupakan Allah, maka dengan begitu mudah Allah menggagalkannya, oleh karenanya janglah mudah untuk mensimplifikasi hak-hak Allah kepada kita sebagai hamba-Nya. Firman Allah faidza ‘azamta fatawakkal ‘ala Allah (jikalau engkau telah ber’azam maka serahkan semuanya kepada Allah) menunjukkan tidak bisanya menegasi salah satu sisi “mata uang kehiduapan” yakni usaha dan doa.

Semoga tulisan singkat ini menggugah kita khususnya saya untuk terus dekat denga-Nya.

STAIN Manado, 16 Oktober 2012

Jam. 11.15 WITA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s