PERJALANAN KEIMANAN DI TONDANO

Hari minggu, 07 Oktober 2012 menjadi perjalanan panjang bagi saya beserta tiga orang mahasiswa STAIN Manado (Suardi, Ilham dan Khidir) dalam meraih ilmu Allah di tanah Tondano Sulawesi Utara. Tidak mudah rasanya untuk mendapatkan kebesaran dan ridha Allah kecuali dengan ilmu yang kita gunakan dalam menelaah ciptaan-Nya, ciptaan yang mungkin sama dengan tempat lain namun dengan bacaan yang berbeda tentunya memiliki makna yang berbeda. Bacaan yang dihadirkan oleh Allah melalui sejarah panjang Islam di Tondano beserta keindahan alam raya sebagai ciptaan-Nya dan sosial-budaya komunitinya. Dan insya Allah tulisan singkat ini akan sedikit menggambarkan kebesaran Allah tersebut sebagai sarana kontemplasi positif menuju insan kamil (manusia yang sempurna).

1. Islam di Tondano :
Pusat Islam di Tondano terletak di kampung Jaton (Jawa Tondano) yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan kota Tondano. Jika dilihat dari segi nama wilayah, maka sangat jelaslah bahwa masyarakatnya adalah orang-orang jawa, namun ketika mendengar komunikasi antar mereka maka bahasa jawa bukanlah bahasa komunikasi di sana, maka pantas ketika saya tanyakan kepada mereka kenapa bukan bahas jawa yang mereka gunakan, maka jawaban mereka adalah “kami orang jaton bukan jawa”, apa maksudnya?
Untuk menjawab hal di atas, maka hanya dengan pendekatan sejarah-lah yang dapat digunakan. Dalam hal ini, kampung jaton merupakan tempat yang dulunya dibangun oleh orang-orang jawa yang diasingkan oleh penjajah Belanda, mereka merupakan pengikut Diponegoro yang dipimpin oleh Kyai Mojo dengan 63 orang pengikutnya yang semuanya adalah laki-laki pada tahun ± 1829. Mereka kemudian melakukan kawin-mawin dengan orang-orang Minahasa kecuali Kyai Mojo sendiri, oleh karenanya maka keturunan mereka kemudian tidak lagi menggunakan bahasa jawa tapi menggunakan bahasa yang merupakan percampuran antara bahasa jawa dan minahasa. Bukti keberadaan sejarah ini berada di atas bukit yang letaknya sekitar ± 200m dari pusat kampung jaton, berupa perkuburan Kyai Mojo dkk. dan juga masjid yang begitu megah yang dibangun oleh mereka.

di Makam Kyai Mojo dkk Jaton

Bentuk makam di sana sungguh unik, karena tidak menggunakan nama, akan tetapi untuk memberikan perbedaan apakah mereka laki-laki atau bukan yakni dengan tanda patok nisan. Jika laki-laki maka ujung patok nisan berbentuk lancip sedangkan wanita dengan patok datar namun tengahnya dibuat tanda.
Baru setelah perkembangan zaman dan para keturunannya yang ada di jawa mulai berdatangan, maka barulah nisan-nisan mereka diberi nama. Selain dari itu, bentuk nisan merekapun mengikuti pola minahasa meskipun ada unsur Islamnya, di mana tidak ada lubang di tengah nisan yang biasanya untuk disiram dan ditaburi bunga. Nisan seluruhnya disemen tanpa ada celah tanah kubur sedikitpun.
Namun yang sangat menjadi miris terjadi terhadap para pejuang Islam itu adalah, belum adanya penghormatan negara terhadap mereka, hanya KH. Ahmad Rifa’i lah yang menjadi pahlawan nasional, sedangkan Kyai Mojo belum. Ketika hal ini ditanyakan kepada salah satu juru kunci makam tersebut, ia mengatakan bahwa tidak ada yang mengajukan Kyai Mojo ke negara sebagai pahlawan, adapun yang menjadi pahlawan di sana, karena keluarganya yang mengajukan permohonan tersebut. Semoga disuatu saat ada perubahan status terhadap mereka, khususnya Kyai Mojo.
Adapun tentang Masjid, ia dibangun dengan empat sokoguru yang sangat kuat, dengan arsitektur gabungan antara budaya jawa dan manihasa. Pola minahasa terlihat di dalam masjid, yang letaknya tepat di atas mihrab. Di luar masjid, dua buah kentongan besar dan masih asli tergantung gagah berdampingan dengan beduk dan terus digunakan hingga saat ini. Ketika kita shalat di dalamnya, rasa dingin, sejuk dan damai terasa begitu nikmat hingga enggan rasanya untuk segera keluar dari masjid tersebut.

Masjid Agung Kyai Mojo Jaton

2. Keindahan Ciptaan-Nya :
Begitu banyak keindahan ciptaan Allah di sana, sampai-sampai sulit rasanya untuk dapat menarasikannya di dalam tulisan ini. Bermula dari salah jalan kami menuju jaton yang tiba-tiba sudah sampai di wilayah pohon-pohon pinus. Subhanallah, mata yang tadinya begitu lelah berubah menjadi terbelalak karena takjub karena bentangan alam yang luas dan dihiasi oleh pohon-pohon pinus tersebut.
Selanjutnya adalah danau tondano yang begitu luas dan indah dengan dihiasi tempat-tempat wisata namun tetap menjaga kebersihannya. Tempat pemandian air panas di salah satu tepi danau juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjungnya. Perenungan terjadi di salah satu tepi danau untuk membayangkan kebesaran Allah swt dan koreksi diri terhadap betapa kecilnya diri ini di hadapan-Nya.
Tidak hanya itu, gunung-gunung yang berdiri tegak di wilayah itu ternyata menjadi pemandangan yang begitu nikmat bagi mereka yang datang kesana. Semoga keindahan ini tidak mudah hilang dan terus dijaga oleh masyarakat dan para pengunjungnya.

Danau Tondano

3. Cerita lain di sana :
Inilah akhir cerita dari perjalanan kami yakni mencari tempat makan. Pada awalnya kami mencari di pinggir-pinggir danau, dan kami dapatkan tulisan 100% HALAL di atas nama restoran, namun ketika kami telaah ternyata pengelolanya adalah non-muslim. Lalu kami lanjutkan perjalanan menelusuri boulevard tondano, walhasil “plang” 100% juga meramaikan rumah-rumah makan yang dikelola non-muslim. Akhirnya kami mencoba untuk mencari di sekitar unima (universitas manado) dan akhirnya kami menemukan rumah makan yang dikelola oleh satu keluarga muslim jawa. Baru di wilayah inilah kami tidak melihat adanya rumah makan padang yang biasanya ada di mana-mana.
Bagi kami, “plang” 100% halal belum mencukupi rasa percaya kami terhadap pengelolaan makanan halal oleh non-muslim, hal ini di dasarkan pada ihtiyath (rasa berhati-hati) kami dalam berkonsumsi. Oleh karenanya, lebih baik mencari tempat lain yang jaraknya jauh dibandingkan harus terus dalam banyak beban pikiran apakah betul halal atau tidak ketika sedang makan. Semoga disuatu hari, kita dapat lebih mudah untuk menemukan tempat-tempat makan yang dikelola secara halal dan baik insya Allah.

Inilah pelajaran besar yang telah Allah tunjukkan kepada kami, di mana kami harus lebih menguatkan iman dan islam kami sebagaimana para pejuang Islam yang terus menyebarkan Islam secara ramah meskipun dalam pengasingan, kemudian lebih menundukkan diri ini di hadapan Allah karena begitu kecilnya kita ini ketika berhadapan dengan keluasan kekuasaan dan ciptaan alam raya-Nya apalagi dengan diri-Nya, dan yang terakhir adalah penggunaan akal sebagai anugrah Allah, pada dasarnya apa dan di mana saja kita bisa makan, akan tetapi akal membimbing kita untuk mencari konsumsi yang sudah di tentukan-Nya yakni halal dan baik, maka meskipun sulit mencari dan rasa lapar sudah sangat terasa, akan tetapi usaha harus terus dilakukan hingga prasangka buruk bisa dihindarkan.

Manado, 09 Oktober 2012
Jam. 20:25 WITA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s