MEMBANGUN ISLAM INDONESIA YANG BIJAK

Tulisan ini pada awalnya merupakan kegundahan dan kegelisahan penulis terhadap ungkapan-ungkapan di dalam masyarakat, bahkan tokoh-tokoh nasional mengenai pentingnya untuk mempelajari dan memahami Islam secara utuh. Entah apa sesungguhnya yang dimaksud dengan “utuh”, karena pastilah setiap orang yang telah mempelajari Islam kepada para guru, ustadz, kiai, habib dll pastilah akan mengatakan dirinya telah mendapatkan pengetahuan Islam secara utuh dari sumber yang dibenarkan oleh agama yakni para pewaris Islam pasca kenabian, di mana hadits nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa para ulama’ adalah pewaris dari para nabi, dan warisan dari nabi Muhammad saw adalah kitabullah (al-Qur’an) dan al-Sunnah (tradisi Nabi).

Akan tetapi yang terjadi, banyak muncul kekerasan dari tangan-tangan mereka yang telah belajar dari sumber-sumber di atas, seperti kekerasan yang dilakukan oleh FPI, teror bom yang dilakukan oleh Amrozi dkk yang notabene lulusan pesantren, maka yang menjadi pertanyaan adalah, apakah mereka tidak mendapatkan pengetahuan Islam secara utuh dan benar? Inilah pertanyaan yang sangat penting untuk kita telaah demi mendapatkan jawaban problem sosial Islam di negara kita Indonesia.

Jika kita merujuk pada sumber pengetahuan Islam maka tidak ada kata lain yang muncul selain al-Qur’an dan al-Sunnah lah sumbernya, namun bagaimankah cara untuk memahaminya pasca wafatnya nabi Muhammad saw? itu yang menjadi jalan khilafiyah (perbedaan pendapat) dan bahkan memunculkan pertumpahan darah. Sejarah telah menunjukkan adanya peperangan akibat khilafiyah dimasa shahabat, seperti yang dilakukan oleh Aisyah yang notabene istri nabi dengan Ali yang merupakan menantu nabi, dan tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini merupakan kecelakaan sejarah Islam.

Adapun jalan dalam memahami dua sumber Islam yang kemudian memunculkan khilafiyah tersebut adalah “al-ijtihad”, dan ini dilegalkan oleh nabi sebagaimana dialog beliau bersama Mu’adz sebelum mengutusnya menjadi hakim di Yaman. Akan tetapi yang sering kita lupakan dari dialog tersebut adalah, proses ijtihad yang tidak hanya menggunakan kemampuan intelektual yang tajam tapi juga kemampuan untuk mengendalikan diri secara bijak melalui ketakwaan. Argumentasi ini dapat dilihat dari ungkapan Mu’adz “aku berijtihad dengan tidak berlebihan”. Artinya, dalam mengambil kebijakan Islam saja, kita dituntut untuk normal secara intelektual dan juga normal secara spiritual, bukan karena adanya tuntutan ataupun tekanan, karena jika hal tersebut terjadi maka bisikan syetan lebih dekat daripada tuntunan Allah.

Bijak Dalam Beragama

Dalam hal ini, saya teringat cerita ketika nyantrti dulu, tentang bagaimana bijaksananya para ulama’ terdauhulu, seperti Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asyari dalam memutuskan sebuah permasalahan Islam, di mana jika ia tidak mendapatkannya dari kitab-kitab dan seluruh jalan penetapan hukum (thuruq istimbathil ahkam) sudah dilakukan, maka ia akan menunda jawaban itu dengan melaksanakan shalat sunnah demi mendapatkan jawaban yang diharapkan dapat dekat dengan ridha dan kehendak Allah. Namun yang terjadi saat ini, begitu banyak orang-orang yang sangat mempermudah dalam menjawab permasahan-permasalahan agama. Akhirnya, muncullah jawaban-jawaban yang sangat mudah untuk menyalahkan orang lain, bahkan mengkafirkan.

Inilah sesungguhnya kunci permasalahan kita saat ini, yakni runtuhnya kebijaksanaan di dalam beragama. Sejarah khilafiyah tidak bisa kita hindari tapi kecelakaan sejarah perang sahabat jangan kita ikuti. Hal ini dapat kita lakukan jika mau menajamkan spiritual kita sehingga dapat menjadi bijaksana. Kita harus memulai untuk menerima perbedaan baik secara fiqhi (furu’iyah atau cabang agama) ataupun i’tiqadhi (ushul atau dasar agama yang diperdebatkan di dalam ilmu kalam). Ibadah seperti shalat, puasa, dll kita pelajari langsung kepada mereka yang ahli namun tidak mudah menyalahkan prilaku ibadah yang berbeda dengan mereka. Berkhutbah tidak lagi untuk mencaci tapi untuk memberikan kesejukan bagi para pendengarnya. Kalaupun ada khilafiyah yang akan dibahas hendaknya dituntaskan secara ilmiah dan bijaksana.

Inilah inti pokok tulisan ini, di mana problem sosial umat Islam saat ini bukan pada masalah dalam dan utuhnya seseorang dalam mempelajari Islam, tapi hendaknya khatamkanlah pelajaran kita itu dengan penajaman spritual sehingga dapat menjadi lebih bijak dalam menerima perbedaan yang muncul di tanah Indonesia yang sangat plural dan berasaskan Pancasila ini. Imam al-Ghazali pernah berkata, “jika ungkapan itu keluar dari lisan maka akan mudah orang lupakan, tapi jika ungkapan itu keluar dari hati, maka akan mudah tertanam di dalam hati”.

Belajar Menjadi Minoritas

Ini yang jarang sekali dirasakan oleh kita sebagai umat mayoritas yakni belajar untuk merasakan bagaimana menjadi bagian dari minoritas. Bagi penulis, merasa sebagai mayoritas merupakan kesombongan era baru, dan sifat sombong hanya mendekatkan diri ini kepada kesesatan atau dalam bahasa lain, mudah terprovokasi oleh kehendak kezhaliman.

Bagi yang pernah tinggal dikantong-kantong muslim minoritas, pasti akan merasakan kebersamaan sesama dan pasti sangat belajar bagaimana harus beragama di bawah tekanan, baik tekanan sosial maupun spiritual. Dari segi spiritual, akan sangat sulit untuk menemukan tempat-tempat ibadah dan majelis ilmu atau zikir, dan sedangkan dari segi tekanan sosial, akan mudah ditemukan praktek-praktek sosial yang sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam, seperti bebasnya penjualan konsumsi yang diharamkan agama, pertemuan sosial dengan hidangan haram.

Pada dasarnya pembelajaran seperti ini juga dirasakan oleh Rasulullah Muhammad saw, bagaimana beliau menjadi asing, aneh bahkan virus di dalam keluarganya. Ia tinggal di wilayah yang bukan saja membencinya namun juga menciptakan aksi teror dan bahkan penindasan kepadanya. Akan tetapi, Allah telah memberikan pelajaran berharga kepadanya yakni membangun Islam dari pondasi kesederhanaan dan tekanan sebagai minoritas. Walhasil dengan pelajaran dan ujian tersebut, Mekah dan Madinah pada akhirnya menjadi kompleks Muslim mayoritas dan bahkan menjadi model peradaban dunia.

Sesungguhnya inilah yang harus kita lakukan, yakni belajar merasakan menjadi minoritas, baik minoritas dari segi agama, keyakinan, praktik ibadah, pemikiran dll. Penindasan terhadap yang berbeda dengan kita seperti firqah syi’ah di Sampang adalah bukti tidak belajarnya kita menjadi minoritas, begitu juga terhadap kelompok-kelompok liannya. Kita boleh beda agama, beda keyakinan, beda praktik ibadah, tapi jangan dijadikan sebagai alasan penindasan, karena kita semua adalah manusia yang memiliki hak hidup di muka bumi ini. Perlu diingat firman Allah “jikalau engkau (hai Muhammad) bersikap kasar dan berhati keras, maka pastilah mereka akan meninggalkanmu”.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s