PROVOKASI ATAS NAMA AGAMA

“Meneguhkan Islam bukan sekedar dengan menonjolkan simbol-simbolnya, sibuk dengan aksi-aksi provokatif untuk menyudutkan agama lain dengan tujuan penyebaran Islam dan untuk menunjukkan eksistensi Islam. Islam adalah agama yang menonjolkan akhlak mulia yang harus dibangun secara personal sehingga menumbuhkan kolektifitas muslim yang baik.”

 

Menembak Islam.

“Innocence of Muslims”, sebuah judul film yang diprotes oleh seluruh umat Islam sedunia, meskipun sebahagian besar belum atau tidak ingin sama sekali untuk tahu secara rinci isi film tersebut. Hampir rata-rata, informasi yang didapat dan dibangun di masyarakat merupakan bacaan atau berita dari media-media informasi “news” semata. Pada dasarnya, provokasi dari film ini tidak jauh berbeda dengan film “FITNA” yang heboh beberapa tahun yang lalu, dan menurut hemat saya, film “FITNA” lebih cerdas karena menyandingkan aksi teror dengan ayat-ayat al-Qur’an di dalamnya.

Aksi provokatif yang lebih dahsyat juga dilakukan oleh seorang pendeta di salah satu negara bagian di USA, yakni Terry Jones dengan membakar al-Qur’an di depan Gerejanya. Dan kini ia pun mendukung film tersebut dan bahkan membuat gugatan pada Nabi Muhammad saw. Inilah sebahagian kecil dari kegiatan provokatif di dunia terhadap eksistensi agama Islam, lalu bagaimanakah respon dan aksi positif yang harus dilakukan sebagai seorang muslim terhadap provokasi tersebut?

Mengenai pertanyaan ini, ada berbagai kegiatan aksi yang telah dilakukan di berbagai belahan dunia, seperti demonstrasi di depan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat, ungkapan kecaman dan protes dari berbagai ulama dan pimpinan negara-negara Timur Tengah, dan aksi yang paling agresif adalah dengan melakukan penyerangan ke kantor-kantor tersebut hingga menewaskan pejabatnya seperti yang dilakukan di Libiya, dan lain sebagainya.

 

Membangun Mindsite Positif

Islam saat ini seperti seseorang yang terkena beban obesitas, di mana secara lahiriah terlihat sehat dan gagah karena gemuk, namun sesungguhnya banyak menyimpan potensi penyakit di dalamnya. Penyakit yang sering kali ditakuti oleh non-muslim adalah aksi teror yang mengatasnamakan agama. Term Jihad bagi mereka adalah kegiatan terorisme di dunia saat ini. Oleh karenanya, karena begitu banyak serangan yang ditujukan kepada Islam akibat dianggap berpotensi menebar penyakit, maka secara normatif, aksi yang paling positif adalah dengan melakukan koreksi internal baik secara personal maupun kolektif. Koreksi internal dilakukan dari segi kegiatan / aktifitas keseharian yang kemudian dapat menciptakan sebuah kebudayan yang positif, dan juga dari pemikiran yang dapat menciptakan kedamaian dan ketentraman dalam bersosial.

Inilah sesungguhnya yang telah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad saw. Meskipun kita tidak pernah bertemu dengan Rasulullah saw, tapi buku-buku Islam yang mu’tabar yang ditulis oleh mereka yang rantai penyampaian ilmunya sampai kepada Rasulullah saw menunjukkan keagungan akhlak beliau. Di dalam al-Qur’an memang telah disebutkan bahwa “wa innaka la’la khuluqin ‘azhim”, yang terjemah bebasnya adalah, “sesungguhnya pada dirimu hai Muhammad terdapat keagungan akhlak”, namun penjelasan tentang akhlak beliau hanya didapatkan dari penjelasan para ulama yang notabene adalah pewaris keilmuan para nabi-nabi Allah dimuka bumi ini. Salah satu respon beliau terhadap hinaan, cacian, dan kekekaran fisik terhadapnya adalah dengan tidak membalas sama sekali, bahkan doalah yang sering dilakukan oleh Rasulullah saw terhadap mereka. Bahkan, ketika malaikat Jibril akan menimpakan sebuah gunung kepada kaum yang menyakiti Nabi Muhammad saw, beliau menolak dan mendoakan kebaikan dan hidayah bagi mereka.

Banyak lagi keagungan akhlak beliau terhadap penistaan dan penyiksaan non-muslim kepadanya. Perlu diingat, bahwa di dalam sejarah awal Islam, Nabi Muhammad saw baru melakukan perlawanan ketika hak-hak umat Islam dirampas secara paksa oleh mereka yang menentang Nabi, bukan atas hak-hak personalnya. Adapun “Fathul Mekah” (kemerdekan Mekah) merupakan kemerdekaan kaum muslimin dari penindasan kaum kafir Quraisy, kembalinya muslim Mekah kerumah-rumah mereka sendiri dan pengembalian hak-hak mereka yang sebelumnya dirampas. Adapun proses Islamisasi terjadi atas dasar keinginan bukan paksaan. Hal ini terlihat dari tetap ada dan eksisnya non-muslim pasca Fathul Mekah.

Berdasarkan seklumit narasi di atas, dapat ditarik benang merah bahwa yang dilakukan oleh Rasulullah saw bukanlah membangun Islam baik pra maupun pasca penindasan terhadapnya dengan kekerasan, dan kekasaran juga, akan tetapi yang dilakukannya adalah dengan membangun mindsite positif didiri setiap non-muslim dengan akhlak mulia. Ketika moral-etik yang dikedepankan maka pikiran, opini yang positif akan muncul dan dengan sendirinya maka siapapun akan dengan mudah untuk masuk ke dalam Islam. Sikap Rasul seperti itu pada dasarnya merupakan tuntunan Allah swt, di dalam al-Qur’an disebutkan “walau kunta fazhzhan ghaluzhal qalbi lan fadhu min haulik”, yang terjemah bebasnya adalah, (jikalau engkau hai Muhammad bersikap kasar dan berhati keras maka pastilah mereka akan berpaling darimu).

Islamisasi dengan bangunan mindsite akhlak mulia lebih mudah dan kuat tertanam di dalam diri seseorang. Hal ini jauh berbeda dengan islamisasi yang dibangun dari jalur perkawinan dan penindasan. Oleh karenanya, sebagai seorang muslim yang baik kita harus dapat memulai dari diri sendiri untuk membangun mindside positif tersebut, bukannya sibuk mengurusi agama orang lain, bahkan melakukan provokasi yang sama atas nama agama. Jikalau ini yang dilakukan, maka tidak ada lagi penghinaan, penistaan, cacian baik yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw ataupun kepada Islam.

Terkahir sebagai bahan hafalan kita adalah, sebuah ungkapan bahasa arab yang menjelaskan “al-Islam mahjubun bil muslimin”, (Islam tertutup keagungannya karena perilaku umat Islam itu sendiri). Dengan ungkapan ini, semoga menjadi penyemangat untuk kita agar jangan sampai menjadi bagian yang ikut menutupi keagungan Islam di mukan bumi ini. Pola dasar yang harus dilakukan adalah dengan terus melakukan pendalaman terhadap apa yang kita pelajari di dalam Islam. Jangan sampai hanya kulit saja yang dipelajari sehingga sangat mudah untuk disulut oleh api provokasi. Islam adalah rahmatan lil’alamin, agama yang memberikan keamanan dan ketenangan bagi siapapun dan apapun yang tinggal di muka bumi ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s