MENJAGA ISLAM DENGAN TURBA

Zaman memang telah berubah, prilaku manusia telah banyak melenceng dari arah, para ulama pun tidak luput dari hal di atas. Begitu banyak saat ini para da’i yang bertebaran di muka bumi ini, bahkan di Indonesia sudah susah membedakan mana da’i dan mana selebriti. Lebih dahsyatnya lagi, ummat saat ini sangat sulit untuk mendapatkan para pencerah agama yang betul-betul mumpuni keilmuannya. Entah karena semakin menyepinya orang-orang alim dari hingar bingar perkotaan atau karena pertimbangan finansial untuk mendatangkan mereka kesebuah majelis ilmu yang penuh berkah. Karena tidak bisa dipungkiri saat ini, begitu besar biaya yang harus dikeluarkan untuk mendatangkan da’i-da’i yang telah dibesarkan oleh media-media elektronik di Indonesia saat ini.
Sungguh miris rasanya melihat ketimpangan dakwah saat ini dengan apa yang telah dilkukan oleh para ulama’ dahulu. Bukan bermaksud untuk bernostalgia dengan apa yang telah terjadi dahulu dan lupa dengan daratan yang sedang kita pijak saat ini, tapi ini penting untuk menjadi bahan semangat perjuangan dakwah era ini. Dulu para ulama berdakwah untuk bersatu dengan kondisi pemikiran yang belum berkembang sehingga mudah untuk diajak menjadi baik, ditambah lagi keikhlasan dan keteladanan yang dibangun oleh mereka di dalam masyarakat. Namun saat ini, begitu banyak faham yang masuk ke Indonesia dari faham yang “lembek” sampai yang “keras”. Inilah problem dakwah saat ini, di mana kita harus dapat menanamkan nilai Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda namun tetap satu jua).
Mengenai hal tersebut, ada satu buah kata kunci yang dahulu sukses digunakan dalam berdakwah, yakni TURBA (Turun ke Bawah). Artinya, para ulama benar-benar turun ke daerah-daerah, bahkan ketempat yang terpencil dengan oleh-oleh berupa ilmu, teladan yang baik serta keikhlasan hati. Saya teringat cerita ayah ketika mereka masih nyantri dipondok pesantren modern NU di Talangpadang Lampung, di mana para santri saat itu beserta salah seorang kiai turun ke bawah untuk membina ummat. Bukannya akan mendapatkan uang atau bekal untuk pulang, akan tetapi seluruh tenaga, harta dan ilmu harus dikeluarkan sendiri atas nama agama, walhasil Islam besar di tanah itu.
Inilah kunci keberhasilan dakwah Islam di Indonesia, Islam yang begitu ramah dan dapat diterima oleh setiap orang. Oleh karenanya, fenomena kekerasan atas nama agama seperti kasus Amrozi dkk, penyerangan terhadap kelompok Syi’ah dan jema’at Ahmadiyah dll pada dasarnya dapat ditanggulangi jikalau para ulama kembali kekhithah dakwah Islam di Indonesia yakni TURBA. Jangan mudah untuk selalu menyalahkan aparat jikalau kita tidak pernah bergerak. Harus mulai di dalam diri ini untuk menumbuhkan kembali sense of responsibility sebagai pewaris para nabi dan sense of belonging atas warisan agama yang baik ini yakni Islam, dari nabi Muhammad saw. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang lalai dalam menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, karena menjadikan agama sebagai alat politik dan kekuasaan, bahkan sarana menghasilkan pundi-pundi rupiah dan kebutuhan perut semata.

Wallahua’lam.

Muaradua OKUS, 10 September 2012

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s