MENIKMATI PERBEDAAN

Ada sebuah ungkapan yang saya dapatkan di tanah Sulawesi Utara di mana Islam merupakan salah satu agama minoritas di sana, yakni “belumlah seseorang dapat menjadi muslim sejati sebelum ia merasakan sebagai minoritas”. Ungkapan yang awalnya tidak dapat saya terima karena keseharian saya di dalam komunitas muslim mayoritas plus suasana kesantrian yang kental, baik di dalam keluarga maupun wilayah pendidikan. Bagi saya (sebelum ke manado) Islam seperti menguasai keadaan di mana suara kaset mengaji bisa kita dengar tiap waktu dari pengeras suara yang ada di masjid-masjid, namun ketika saya kemanado, saya disambut oleh betebarannya gereja-gereja plus irama-irama peribadatan dari kaset-kaset mereka yang terdengar kemana-mana karena penggunaan pengeras suara juga.
Namun di manado inilah saya dapatkan indahnya sebagai seorang muslim. Akibat status sebagai minoritas, penghuni-penghuni masjid menjadi tinggi, rasa kebersamaan menjadi pilihan, dan toleransi menjadi acuan. Disanalah saya dapatkan kebersamaan plus belajar sabar di bawah tekanan. Jika hal tersebut terjadi di tanah-tanah mayoritas maka ia disebut sebagai kegiatan penindasan terhadap yang lemah dsb. Pertanyaannya, untuk apakah fungsi penguasaan agama atas agama orang lain jika jalannya adalah kenistaan? Apakah akan langgeng seseorang dalam beragama jika diraih dari jalan yang salah? Saya kira ada yang salah pada psikologis seseorang yang ingin melakukan hal demikian.
Hal mendasar yang sesungguhnya dapat kita pelajari ketika kita menjadi mayoritas komuniti, di mana rasa ingin saling menguasai sangat tinggi, ungkapan-ungkapan menyalahkan bahkan mengkafirkan begitu banyak terjadi, bahkan penindasan dan intimidasi yang kuat terhadap yang lemah juga sering tejadi. Oleh karenanya kita harus belajar menjadi minoritas agar kita dapat merasakan pelecehan, penindasan, intimidasi dll agar Islam kita semakin kuat. Bukankah sejarah awal Islam terbangun dari seorang Muhammad beserta komunitas kecilnya, yakni istrinya Khadijah, Abu Bakar dan Ali ra. Intimidasi begitu dahsyat diterima oleh mereka hingga harus melakukan hijrah demi mendapatkan keamanan sementara, akan tetapi hasilnya, Islam tumbuh sampai ke seluruh penjuru dunia.
Sesungguhnya inilah yang harus kita lakukan, yakni belajar merasakan menjadi minoritas, baik minoritas dari segi agama, keyakinan, praktik ibadah, pemikiran dll. Penindasan terhadap firqah syi’ah di Sampang adalah bukti tidak belajarnya mereka menjadi minoritas, begitu juga terhadap kelompok-kelomppk liannya. Selama kita tidak pernah belajar menjadi minoritas maka tidak akan pernah ada rasa aman di muka bumi ini. Kita boleh beda agama, beda keyakinan, beda praktik ibadah, tapi jangan dijadikan sebagai alasan penindasan, karena kita semua adalah manusia yang memiliki hak hidup dimuka bumi ini. Perlu diingat firman Allah “jikalau engkau (hai Muhammad) bersikap kasar dan berhati keras, maka pastilah mereka akan meninggalkanmu”.

Wallahua’lam.

Pangkalpinang, 05 September 2012

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s