QIYAS

BAB  I

PENDAHULUAN

A. Pengertian Dan Sejarah Qiyas.

Secara bahasa qiyas berarti mengkur, menyamakan, dan menghimpun atau ukuran, skala, bandingan, analogi.

Adapun pengertian qiyas secara istilah, banyak sekali definisi yang dapat dijumpai.

Adapun mayoritas ulama syafi’iyah mendefinisikan qiyas dengan:

حمل معلوم على معلوم فى اثبات حكم لهما او نفيه عنهما بأمر جامع بينهما من اثبات حكم أو صفة لهما أو نفيهما عنهما[1]

membawa hukum yang (belum) diketahui kepada (hukum) yang diketahui dalam rangka menetapkan hukum bagi keduanya, atau meniadakan hukum bagi keduanya, disebabkan sesuatu yang menyatukan keduanya, baik hukummaupun sifat”.

Saifuddin al-amidi, mendefinisikan qiyas dengan:

انه عبارة عن الإستواء بين الفرع والأصل فى العلة المستبطة من حكم الأصل[2]

Mempersamakan Illat yang ada pada furu’ dengan illat yang ada pada ashal yang diistinbatkan dari hukum asal”.

الحاق امر غير منصوص على حكمه الشرعي بأمر منصوص على حكمه لإشتراكهما فى علة الحكم

Menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nas dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nas, disebabkan kesatuan illat hukum antara keduanya”.

الحاق امر لأمر اخر فى الحكم لإتحاد هما فى العلة فيتحدان فى الحكم

menghubungkan sesuatu pekerjaan kepada yang lain tentang hukumnya, karena kedua pekerjaan itu bersatu pada sebab, yang menyebabkan bersatu pada hukum”.

Sebuah prinsip untuk menerapkan hukum yang terkandung dalam al-Qur’an atau ketetapan dalam sunnah pada permasalahan yang tidak jelas ketetapannya di dalam sumber hukum islam tersebut. Imam Syafi’i adalah salah satu diantara tokoh pembangun dan pengguna prinsip qiyas ini. Sebagai metode ijtihad, qiyas didefinisikan oleh para ulama dengan redaksi yang berbeda-beda, namun memiliki maksud yang sama.

B. Dasar Hukum Qiyas.

  1. Dasar Al-Qur’an :

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ{٧٨}قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا

أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ{٧٩}

“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”(78) Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”(79)

QS. Al-Hasyr : 2.

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا

وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ

الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَاأُولِي الْأَبْصَارِ{٢}

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan” (2).

QS. Ali Imran : 13.

قَدْ كَانَ لَكُمْ ءَايَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ

رَأْيَ الْعَيْنِ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ{١٣}

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati”(13).

QS. Yusuf : 111.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ

وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ{١١١}

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”(111).

QS. An-Nahl : 66.

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا

مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ{٦٦}

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”(66).

QS. An-Nisa’ : 59.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ

فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا{٥٩}

“Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”(59).

Dasar Sunah :

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ  عُمَرَ  عَنْ شُعْبَةَ  عَنْ أَبِي عَوْنٍ عَنِ  الْحَارِثِ  بْنِ عَمْرِو  ابْنِ  أَخِي   الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ

عَنْ أُنَاسٍ  مِنْ  أَهْلِ حِمْصَ  مِنْ أَصْحَابِ  مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ  أَنَّ  رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا

أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ كَيْفَ تَقْضِي إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ قَالَ  أَقْضِي  بِكِتَابِ  اللَّهِ

قَالَ  فَإِنْ  لَمْ  تَجِدْ فِي كِتَابِ  اللَّهِ  قَالَ  فَبِسُنَّةِ  رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ

تَجِدْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو

فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ وَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ

لِمَا يُرْضِي رَسُولُ اللَّهِ.

“Dari Anas ahli Himso dari keluarga Mu’adz, bahwa ketika Rasulullah saw akan mengutus Mu’adz ke Yaman, kemudian (Rasulullah saw) berkata : bagaimana kamu memutuskan suatu perkara apabila dihadapkan kepadamu suatu permasalahan?, (Mu’adz) berkata : aku memutuskan sesuai dengan apa yang ada didalam Al-Qur’an, (Rasulullah saw) berkata : bila tidak ada di dalam Al-Qur’an?, (Mu’adz) berkata : maka dengan sunnah Rasulullah saw, (Rasulullah saw) berkata : bila tidak ada di dalam sunnah Rasulullah saw dan tidak juga dalam Al-Qur’an?, (Mu’adz) berkata : maka aku berijtihad dengan akalku, (Rasulullah saw) berkata : segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq utusan yang di utus oleh Rasulullah saw”. (HR. Abu Daud).[3]

  1. Atsar Shahabi :

Surat Umar ibnu Khattab kepada Abu Musa Al-Asy’ari sewaktu diutus menjadi Qadhi di Yaman. Umar berkata :

اقض بكتاب الله فإن لم تجد فبسنة رسول الله فإن لم تجد فاجتهد رأيك

Putuskanlah hukum berdasarkan kitab Allah. Bila kamu tidak menemukannya, maka putuskan berdasarkan sunah Rasul. Jika tidak kamu peroleh di dalam sunah, berijtihadlah dengan menggunakan ra’yu”.

Pesan Umar ini dilanjutkan dengan :

اعرف الأمثال والأشباه و قس الأمور عند ذلك

Ketahuilah kesamaan dan keserupaan ; qiyaskanlah segala urusan waktu itu”.[4]

C. Pembagian Qiyas.

Para ulama ushul fiqih menyatakan bahwa qiyas dapat di bagi dari beberapa segi, antara lain sebagai berikut:

1.      Dilihat dari kekuatan illat yang terdapat dalam furu’, dibandingkan dengan yang terdapat pada ashl. Dari segi ini qiyas dibagi menjadi tiga macam, yaitu; qiyas al-aulawi, qiyas al-musawi, qiyas al-adna.

2.      Dari segi kejelasan illat yang terdapat pada hukum, qiyas dibagi kepada dua macam, yaitu; qiyas al-jaly, dan qiyas al-khafy.

3.      Dilihat dari keserasian illat dengan hukum, qiyas dibagi atas dua bentuk yaitu; qiyas al-mu’atstsir dan qiyas al-mula’id.

4.      Dilihat dari segi kejelasan atau tidaknya illat apada qiyas tersebut, qiyas dapat di bagi pada tiga bentuk, yaitu; qiyas al-ma’na, qiyas al-‘illat, dan qiyas al-dalalah.

5.      Dilihat dari segi metode (masalik) dalam menemukan illat, qiyas dapat di bagi; qiyas al-ikhalah, qiyas asy-syabah, qiyas as-sabr, dan qiyas ath-athard.[5]

D. Rukun Qiyas.

واذا عرف معنى القياس فهو يشتمل على اربعة اركان : الاصل والفرع وحكم الاصل والوصف الجامع [6]

1.      Al ashlu yang berarti pokok, yaitu suatu peristiwa yang telah ditetapkan berdasarkan nas.

2.      Al far’u yang berarti cabang; yaitu suatu peristiwa yang belum ditetapkan hukumnya , karena tidak ada nas yang dapat dijadikan dasar.

3.      Hukmul ashli yakni hukum dari asal yang telah ditetapkan berdasarkan nas dan hukum itu pula yang akan ditetapkan pada far’u seandainya ada persamaan illatnya.

4.      Al wasful jami’ yang sering disebut juga dengan illat, yaitu suatu sifat yang ada ashal dan sifat itu yang dicari pada far’u. seandainya sifat ada pula pada far’u, maka persamaan sifat itu menjadi dasar untuk menetapkan hukum far’u sama dengan hukum asal.

E. Bentuk Illat

Illat adalah sifat yang menjadi kaitan terciptanya suatu hukum. Ada beberapa bentuk sifat yang mungkin menjadi illat pada hukum bila telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Di antara bentuk sifat itu adalah:

  1. Sifat hakiki, yaitu yang dapat dicapai oleh akal dengan sendirinya, tanpa tergantung pada ‘urf (kebiasaan) atau lainnya.
  2. Sifat hissi, yaitu sifat atau sesuatu yang dapat dipahami dengan menggunakan alat indera.
  3. Sifat ‘urfi, yaitu sifat yang tidak dapat diukur, namun dapat dirasakan bersama.
  4. Sifat lughawi, yaitu sifat yang dapat diketahui dari penamaannya dalam artian bahasa.
  5. Sifat syar’i, yaitu sifat yang keadaannya sebagai hukum syar’i dijadikan sebagai alasan untuk menetapkan hukum.
  6. Sifat murakkab, yaitu bergabungnya beberapa sifat yang menjadi alasan adanya suatu hukum.[7]

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sumber Rujukan  Al-Qiyas, Fungsi, dan Kedudukan Hasilnya .

  1. Imam Syafi’I peletak pertama sumber rujukan al-Qiyas

Imam Syafi’i adalah mujtahid pertama yang membicarakan al-qiyas dengan patokan kaidahnya dan menjelaskan asas-asasnya. Sedangkan mujtahid sebelumnya sekalipun telah menggunakan al-qiyas dalam berijtihad, namun belum membuat rumusan patokan kaidah dan asas-asasnya, bahkan dalam praktek ijtihad secara umum belum mempunyai patokan yang jelas sehingga sulit di ketahui mana hasil ijtihad yang benar dan mana yang keliru. Di sinilah Imam Syafi’i tampil tampil kedepan memilih metode al-qiyas serta memberikan kerangka teoritis dan metodologisnya dalam bentuk kaidah rasional namun tetap praktis.[8]Untuk itu Imam Syafi’i pantas diakui dengan penuh penghargaan sebagai peletak pertama metodologi pemahaman hukum dalam Islam sebagai disiplin ilmu, sehingga dapat dipelajari dan diajarkan.

Sebagai dalil penggunaan al-qiyas, Imam Syafi’i mendasarkan pada firman Allah:

…فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ…{٥٩}

“…..kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Allah (al Qur’an) dan kepada Rasul (al-Sunnah)…”[9] (Q.S. An-Nisa : 59).

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa maksud “kembalikan kepada Allah dan Rasulnya” itu, ialah qiaskanlah kepada salah satu al-Qur’an atau as-Sunnah.[10] Menurut Syafi’i peristiwa apapun yang dihadapi kaum muslimin, pasti terdapat petunjuk tentang hukumnya dalam al-Qur’an, sebagaimana dikatakannya:

فليست تنز ل باحد من اهل دين الله نا ز لة الا وفى كتا ب الله الدليل على سبيل الهدى فيه.

”tidak ada satu peristiwa pun yang dihadapi penganut agama Allah (yang tidak terdapat ketentuan hukumnya) melainkan terdapat petunjuk tentang cara pemecahannya dalam kitabullah”.[11]

Ketegasannya ini, didasarkannya pada beberapa ayat al-Qur’an antara lain:

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَؤُلَاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ

الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ{٨٩}

“dan kami turunkan al-kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim.”[12]

  1. Fungsi al-qiyas

Fungsi al-qiyas dalam mengungkapkan hukum dari al-Qur’an atau as-Sunnah, dikemukakannya:

كل ما نزل بمسلم ففيه حكم لازم اوعلى سبيل الحق فيه دلالة موجودة وعليه اذا كان

بعينه حكم اتباعه: واذا لم يكن فيه بعينه طلب الدلا لة على سبيل الحق فيه با لا جتهاد

والاجتهادالقياس.

“semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan orang islam, pasti terdapat ketentuan hukumnya atau indikasi yang mengacu pada adanya ketentuan hukumnya. Jika ketentuan hukum itu disebutkan maka haruslah dicari indikasi mengacu pada ketentuan hukum tersebut dengan berijtihad. Ijtihad itu adalah al-qiyas.”[13]

Pernyataan tersebut, menegaskan bahwa fungsi al-qiyas itu sangat penting dalam mengungkapkan hukum dari dalilnya (al-qur’an atau as- sunnah) guna menjawab tantangan peristiwa yang dihadapi kaum muslimin yang tidak secara tegas disebutkan dalam al-Qur’an atau as-Sunnah. Di sini terlihat pula wawasan Imam Syafi’i yang berjangkauan jauh ke depan, bahwa kaum muslimin di dalam hidupnya senantiasa akan menghadapi berbagai peristiwa baru yang secara tegas yang secara hukumnya dalam al-qur’an atau as-sunnah. Oleh Karena setiap peristiwa tersebut tidak terlepas dari ketentuan hukum tetapi tidak dijelaskan al-qur’an atau as-sunnah, maka harus di cari dalam al-qur’an atau as-sunnah dengan menggunakan al-qiyas. Jadi al-qiyas dalam pandangan Imam Syafi’i berperan besar dalam penggalian hukum bagi peristiwa baru yang dihadapi kaum muslimin.

Baik dari pernyataannya tentang adanya ketentuan hukum bagi setiap peristiwa maupun pernyataannya tentang fungsi al-qiyas, terungkap ketegasannya, bahwa:

a.       Al-qur’an berisi petunjuk yang lengkap tentang hukum segala peristiwa yang dihadapi kaum muslimin, baik peristiwa tersebut sudah terjadi, sedang terjadi maupun yang belum dan yang akan terjadi.

Petunjuk al-qur’an tentang hukum itu ada yang tersurat (literal, eksplisit, lafdziyah, sharih) tetapi ada pula yang tersirat (implisit, ma’nawiyah, dengan illah) yang dapat digali (istinbat) dengan memperhatikan indikasi atau isyarat (tentang adanya hukum) yang menjadi landasan al qiyas. Oleh karena itu, hukum Allah itu dapat diketahui melalui dua jalur: jalur lafdziyah yaitu nash yang sharih dan jalur ma’nawiyah, yaitu al qiyas.

Kemungkinan al-qiyas sebagai pengembangan hukum, ialah karena dalam kenyataan objektif  dari nash-nash al-qur’an dan as-sunnah ada yang menegaskan illat hukumnya atau sekurangnya dapat dilacak motivasi hukumnya. Ayat-ayat yang seperti ini bisa disebut sebagai ayat-ayat yang ma’qulah al-ma’na. hal itu sesuai dengan kenyataan bahwa setiap ketetapan hukum itu mengandung tujuan yang kembali kepada kemaslahatan umat manusia.

b.      Al-qiyas merupakan metode ijtihad dan sarana penggalian (istinbat) hukum bagi peristiwa yang tidak disebut secara tegas (sharih) dalam nash. Al-qiyas berfungsi dan berperan sangat penting dalam mengungkapkan hukum peristiwa yang tidak disebutkan al-nash.

  1. Kedudukan hasil al-qiyas

Walaupun al-qiyas berfungsi dan sangat berperan dalam mengungkapkan hukum peristiwa yang tak disebutkan dalam nas, namun dalam pandangan Imam Syafi’i hasil (pengetahuan hukum) yang diungkapkan al-qiyas tidak sama peringkatnya dengan (pengetahuan) hukum yang diperoleh secara sorih dari al-qur’an atau as-sunnah maupun ijmak.

Alasan menempatkan kedudukan hasil al-qiyas lebih rendah dari pengetahuan hukum secara sorih dari al-qur’an atau as-sunnah ataupun ijmak, ialah karena pengetahuan hukum yang diperoleh dengan al-qiyas hanya benar secara lahir (menurut apa yang dicapai oleh kemampuan nalar mujtahid) yang tidak aman dari pengaruh subjektivitas. Untuk lebih jelasnya, penulis kemukakan kembali apa yang diungkapkannya: “pengetahuan hukum itu diperoleh dari berbagai segi; pertama pengetahuan yang benar lahir batin, kedua pengetahuan yang benar lahirnya saja. Pengetahuan yang benar lahir batin adalah apa yang ditegaskan hukumnya oleh Allah atau oleh sunnah Rasul-Nya yang di kutip oleh ulama dari orang banyak (mutawatir). Kedua sumber ini menyatakan tentang halal sesuatu yang dihalalkannya dan tentang keharaman sesuatu yang diharamkannya. Pengetahuan dalam bentuk ini, menurut pendapat kami, tidak memberi peluang kepada seseorang untuk  tidak mengetahuinya atau meragukan kebenarannya. Ketiga pengetahuan yang bersumber dari ijma’. Keempat pengetahuan hukum yang bersumber dari ijtihad dengan al-qiyas mencari kebenaran. Pengetahuan ini dinilai benar bagi pelaku al-qiyas bersangkutan dan tidak mesti dipandang benar oleh mujtahid lain. Sebab, hanya Allah yang mengetahui apa yang tersembunyi.”[14]

Pernyataan ini menegaskan bahwa:

a.       Praktek al-qiyas diletakkan oleh Imam Syafi’i dalam kategori pengetahuan hukum secara lahir, artinya yang hakikatnya hanya diketahui Allah. Oleh karena itu, memberi peluang yang besar untuk berbeda pendapat.

b.      Mengingat kedudukan pengetahuan hukum yang dihasilkan oleh al-qiyas berkekuatan zanni (diduga kuat kebenarannya), maka tidak harus menghasilkan kesepakatan pendapat.

c.       Karena al-qiyas bersifat zanni, maka ia dapat :

1)      Dibanding oleh pelaku al-qiyas lain sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan hasil. Dari sinilah pokok terjadinya perbedaan pendapat ulama yang cukup luas.

2)      Dikaji ulang oleh pelaku al-qiyas bersangkutan sehingga memungkinkan terjadinya perubahan pendapat (salah satu aspek pembaharuan hukum). Pada kenyataannya, Imam Syafi’i pernah mengubah pendapatnya ketika berada di Bagdad (mazhab qadim) dengan pendapatnya setelah berada di Mesir (mazhab jadid). Dengan demikian, al-qiyas berperan juga pembaharuan hukum (dalam arti perubahan).[15]

B. Bidang Operasi Al-Qiyas (Majal al-Qiyas)

1.      Bidang hukum yang boleh diqiyaskan

Imam syafi’I memandang bahwa “setiap peristiwa yang dihadapi kaum muslimin, pasti ada hukum yang mengaturnya atau setidak-tidaknya ada petunjuknya”, tidak dibedakan apakah peristiwa itu menyangkut ibadah, mu’amalah atau jinayah. Akan tetapi dengan pernyataannya “setiap hukum yang ditetapkan allah atau rasulnya didapati petunjuknya baik dalam ketetapan itu sendiri maupun dalam beberapa ketetapan lainnya bahwa ia ditetapkan karena sesuatu ma’na dari beberapa ma’na, jelas bahwa hukum allah atau rasulnya yang diqiyaskan itu, ialah hukum apa saja yang ma’qul al-ma’na”. kesimpulan ini sejalan dengan pernyataan al-ghazali:

كل حكم شرعي امكن تعليله فالقياس جارعليه.

“setiap hukum syara’ yang mungkin diketahui/dicari illahnya, maka al-qiyas berlaku terhadapnya”.[16]

Hukum yang ma’qul al-ma’na tidak termasuk hukum yang berkaitan dengan ibadah, karena pada umumnya ibadah tidak ma’qul al-ma’na. demikian juga hukum-hukum jinayah yang tergolong bersanksi hudud, kaffarah dan muqaddarah tidak dapat dipahami alas an ditetapkannya dan alasan bilangan-bilangannya, (ghairu ma’qul al-ma’na). oleh karena itu harus diikuti menurut bunyi perintah atau larangan (ittiba’), yang alasannya disebut ta’abbudi. Tetapi bila dalam aspekibadah itu terdapat hukum yang ma’qul al-ma’na, maka boleh juga diberlakukan al-qiyas terhadapnya.

Demikian juga, perkataannya tersebut tidak membedakan antara hukum taklifi (perintah pelaksanaan tegas atau anjuran) dan hukum wad’I (dibuat sebagai tanda efektif atau tidaknya hukum taklifi), seperti: sebab, syarat dan penghalang.

Oleh karena itu, permasalahan tentang bidang hukum apasaja yang diterapkan al-qiyas terhadapnya, menjadi pembicaraan luas dalam kajian ushul fiqih, yaitu:

a.       dalam hukum ibadah, disepakati bahwa tidak boleh diberlakukan al-qiyas, karena tidak ma’qul al-ma’na.

b.      dalam hukum-hukum sanksi (‘uqubah) atau sanksi hukum, dibedakan:

1)      sanksi hukum yang tidak ditentukan batasnya yang dikenal dengan sanksi ta’zir.

2)      sanksi ta’zir yang ditentukan batasannya, yang dikenal dengan sanksi hudud.

Terhadap sub bidang ta’zir, para ulama ushul sepakat tentang kebolehannya dijadikan maqis ‘alaih (unsure asl). Bila al-qur’an atau as-sunnah menyebutkan suatu kasus kejaghatan yang dipandangnya sebagai jarimah (delik pidana) dan terdapat kemungkinan ditentukan ‘uqubahnya (sanksi hukumannya), maka ia berarti bahwa:

a.       setiap perbuatan yang didalamnya terwujud pengertian kajahatan yaitu menyakiti atau merusak, dipandamng sebagai jarimah (delik pidana) seperti yang ditetapkan dalam al-qur’an dan as-sunnah;

b.      sanksi-sanksi hukum yang di dalamnya terwujud pengertian yang menjadi tujuan syari’ untuk menakutkan, maka setiap tindakan yang bisa membuat orang takut melakukan tindak pidana yang diancam sanksi itu boleh dijadikan sanksi hukum. Inilah jalan yang ditempuh ulama salaf (sahabat nabi saw).[17]

Mengenai sub bidang pidana yang sanksi hukumnya ditentukan batasnya, yaitu hudud, kaffarah, hukum rukhsah dan hukum-hukum muqaddarah (ditentukan ukuran), maka terjadi perbedaan pendapat ulama usul. Mayoritas ulama usul (sebagian terbesar syafi’iyah dan sebagian hanabilah)[18] membolehkan bila didapati syarat-syarat al-qiyas, sedang golongan hanafyah tidak membolehkan sebagaimana tidak dibolehkan melakukan al-qiyas terhadap masalah dasar akidah dan ibadah.

2.      Masalah mengqiyaskan hukum wad’i.[19]

a.       Mengqiyas sabab.

Pengertiannya adalah bahwa Syari’ menjadikan wasf sebagai sabab hukum (menjadi asl al-qiyas), lalu diqiyaskan kepadanya sesuatu wasf lain (yang terdapat kesamaan dengan wasf asl) dan ditetapkan wasf lain itu (far’un) sebagai sabab hukum pula (menjadi far’ul qiyas).

Imam Syafi’i nampaknya memberlakukan al-qiyas pada sabab. Dalam praktek dinyatakan dengan fatwanya bahwa pembunuhan sengaja secara bermusuhan dengan menggunakan benda berat dihukum seperti pembunuhan sengaja secara bermusuhan dengan menggunakan senjata tajam.[20] Imam Syafi’i juga memfatwakan bahwa pelaku homoseksual dihukum dengan hadd seperti pelaku zina, karena sama-sama memasukkan kemaluan ke dalam farj (lobang) yang diharamkan.[21]

b.      Mengqiyas syart.

Mengqiyaskan syart sama dengan mengqiyaskan sucinya tempat sebagai syarat sah shalat (far’un) dengan sucinya pakaian (asl).

c.       Mengqiyas mani’.

Hal ini seperti mengqiyaskan nifas sebagai penghalang untuk berhubungan dengan istri (far’un) kepada menstruasi (asl).

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Sulaiman., Dinamika Qiyas Dalam Pembaharuan Hukum Islam, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1996

Al-Amidi, Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad., Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Juz IV, Daar Al-Fikr, Beirut, 1996.

Al-Ghazali, Abu Hamid., Al-Mustasyfa Min Ushulil Fiqh, Juz II, Al-Amiriyah, Kairo, 1322 H.

Al-San’ani, Muhammad bin Isma’il al-Kailani., Subulus Salam, jilid III, Musthafa al-Babi al-Halabi, Mesir, 1960

Asy-Syafi’i, Abi Abdillah Muhammad bin Idris., ArRisalah, Darul Kitab Al-‘Arobi, Beirut, 2004.

…………., Al-Umm, TP, Mesir, TT

Daud, Imam Abu., Sunan Abi Daud, Jilid III, Dahlan, Bandung, TT.

Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemahnya, Karya Toha Putra, Semarang, 1998.

J. Schacht, Origion of Muhammaden Jurisprudence, London, Oxford, 1956

Khalid As-Siba’i ‘Alami, Zuhair Syafiq Al-Kubbi., Tahqiq Ar-Risalah Lil Imam Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Darul Kitab Al-‘Arobi, Beirut, 2004

Syarifuddin, Amir., Ushul Fiqh Jilid 2, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001.

Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Ushul Fiqh, Amzah, 2005.

Zahrah, Muhammad Abu., Ushul Fiqh, diterjemahkan oleh Saefullah Ma’shum,      Slamet Basyir, Mujib Rahmat, Hamid Ahmad, Hamdan Rasyid, Ali Zawawi            dan Fuad Falahuddin, Ushul Fiqh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2005.

……………., Al-Syafi’i Hayatuhu wa ‘Asruhu Ara’uhu wa Fiqhuh, Mesir: Dar Al-Fikr. Al-‘Arabi, 1948


[1] Khalid As-Siba’i ‘Alami, Zuhair Syafiq Al-Kubbi., Tahqiq Ar-Risalah Lil Imam Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Darul Kitab Al-‘Arobi, Beirut, 2004, hlm. 313

[2] Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad Al-Amidi, Al-Ihkan fi Ushulil Ihkam, Jilid II, Darul Fikr, Beirut, 1996, hlm. 130

[3] Imam Abu Daud, Sunan Abi Daud, Jilid III, Dahlan, Bandung, hlm. 303

[4] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001, hlm. 157

[5] Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Ushul Fiqh, Amzah, 2005, hlm. 273

[6] Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad Al-Amidi, loc.Cit.

[7] Amir Syarifuddin, op.cit., hlm. 173

[8] Muhammad Abu Zahrah, Al-Syafi’i Hayatuhu wa ‘Asruhu Ara’uhu wa Fiqhuh, Mesir: Dar Al-Fikr. Al-‘Arabi, 1948, hal. 280

[9] Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, PT.Karya Toha Putra, Semarang, 1998

[10] Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, ArRisalah, Darul Kitab Al-‘Arobi, Beirut, 2004, hlm. 209

[11] Ibid, hal. 14-15.

[12] Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemahnya, Karya Toha Putra, Semarang, 1998

[13] J. Schacht, Origion of Muhammaden Jurisprudence, London, Oxford, 1956, hlm. 127

[14] Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, op.cit., hlm. 206

[15] Sulaiman Abdullah, Dinamika Qiyas Dalam Pembaharuan Hukum Islam, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1996, hlm. 102-103

[16] Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Mustasyfa Min Ushulil Fiqh, Juz II, Al-Amiriyah, Kairo,      1322 H, hlm. 332

[17] Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, diterjemahkan oleh Saefullah Ma’shum, Slamet Basyir, Mujib Rahmat, Hamid Ahmad, Hamdan Rasyid, Ali Zawawi dan Fuad Falahuddin, Ushul Fiqh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2005, hlm. 259.

[18] Al-amidi, op. cit., hlm. 91

[19] Sulaiman Abdullah, op.Cit., hlm. 170

[20] Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Al-Umm, jilid III, TP, Mesir, TT, hlm. 4

[21] Muhammad bin Isma’il al-Kailani al-San’ani, Subulus Salam, jilid III, Musthafa al-Babi al-Halabi, Mesir, 1960, hlm. 109

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s