INFOTAINMENT

A. Deskripsi Masalah.

Beberapa televisi menayangkan secara rutin jenis acara infotainment, seperti acara Go Show, Kiss, Kabar-kabari, dan sebagainya. Demikian pula beberapa radio menyiarkan acara yang serupa. Acara-acara tersebut seringkali mengungkap dan membeberkan berbagai macam kejelekan seseorang bahkan terkadang gosip atau fitnah yang mustinya tidak boleh disebarkan.

Acara tersebut telah menarik (interest) banyak pemirsa, apalagi menyangkut kehidupan para selebriti. Jika acara tersebut dalam pandangan hukum Islam tidak boleh ditayangkan karena termasuk ghibah dan bahkan terkadang upaya menyebar fitnah, bagaimana hukum memproduksi bisnis seperti itu dan bagaimana pula hukum bagi para pemirsanya yang menonton suatu acara televisi atau mendengarkan di radio yang seringkali mengungkap serta membeberkan perilaku artis ?

B. Pembahasan.

Infotainment merupakan usaha pemberitaan atas perilaku atau kisah hidup seorang selebriti Indonesia. Dan uniknya adalah, para pencari berita tersebut masih diperdebatkan keberadaannya, apakah termasuk wartawan dan terikat dengan undang-undang pers atau bukan. Akan tetapi paling tidak dapat difahami bahwa produk bisnis mereka sangat laku dipasaran rumah tangga, terkhusus dunia ibu-ibu.

Jika dilihat dari sudut fiqh, maka hukum asal bisnis infotainment adalah mubah, sebagaimana kaidah fiqh tentang mu’amalah menjelaskan :

الاصل فى الأشياء الإباحة حتى يدل دليل على تحريمها [1]

Artinya : “dasar pada setiap sesuatu pekerjaan adalah boleh, sampai ada dalil yang yang mengaharamkannya“.

Berdasarkan kaidah di atas, maka perlulah dicari apakah ada unsur-unsur yang kemudian dapat mengharamkan infotainment. Adapun isi berita infotainment yang selama ini disiarkan adalah :

1.      Kebahagian artis, seperti pernikahan, melahirkan anak, ulang tahun, naik haji atau umroh, punya rumah baru, sukses karir, dll.

2.      ‘Aib artis, seperti perkelahian, mabuk-mabukan, narkoba sehingga masuk penjara, video porno, perceraian, punya anak sebelum menikah, dll.

3.      Gaya hidup, seperti bentuk rambut, pakaian, operasi plastik, pacaran, mobil, rumah, dll

4.      Politik artis, pencalonan anggota dewan dan kepala daerah, anggota partai, dll.

Inilah porsi terbanyak di dalam berita infotainment. Adapun jika diklasifikasi pada pembagian berita di dalam Islam, yakni bayan (klarifikasi berita), ghibah (membicarakan keburukan orang lain), dan fitnah (memberitakan seseorang dengan berita bohong), maka persentasi positifnya hanyalah 40 % dan 60 % nya adalah negatif, karena ghibah dan fitnah lebih menonjol di dalam berita infotainment.

Mengenai ghibah dan fitnah ini, Allah swt berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَ لاَ تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ {الحجرات : 12}

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS. al-Hujurat : 12]

Imam al-Qurtubi memberikan penjelasan tentang firman Allah di atas, “sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati” yakni, Allah memberikan perumpamaan mengenai kejelekan ghibah dengan memakan daging orang mati karena orang mati tidak mungkin mengetahui kalau dagingnya sedang dimakan, seperti saat ia hidup tidak mengetahui bahwa dirinya sedang digunjingkan.[2] Bahkan di dalam ayat yang lain Allah memberikan penegas atas dosa tersebut, seperti pepatah “lisanmu, harimaumu” :

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا { الأحزاب : ٥٨}

Artinya : “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” [QS. al-Ahzab : 58]

Sebagai penjelas kedua ayat di atas, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya :

عَنْ أَبِي هُرَ يْرَ ةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَ تَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَ أَ يْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ {رواه مسلم}[3]

Artinya : “Dari Abu Hurairah, sesunguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “apakah kalian mengetahui apa ghibah itu?” Para shababat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau mengatakan, “Ghibah itu adalah bercerita tentang saudara kalian apa-apa yang tidak ia sukai.” Rasul bersabda, “Bagaimana menurut kalian kalau yang direcitakan itu benar-benar nyata apa adanya? Maka inilah yang disebut ghibah, dan apabila apa yang kalian ceritakan tidak nyata, maka berarti kalian telah membuat kedustaan (fitnah) kepadanya.” [HR. Muslim]

Dalam menjelaskan hadits ini, Imam al-Nawawi memberikan klasifikasi ghibah yang dibolehkan di dalam Islam, dan jika di dalam infotainment ada unsur-unsur ini maka infotainment menjadi mubah hukumnya, jika tidak maka ia menjadi haram. Kalsifikasi atau unsur-unsur tersebut adalah :

اعْلَمْ أنَّ الغِيبَةَ تُبَاحُ لِغَرَضٍ صَحيحٍ شَرْعِيٍّ لا يُمْكِنُ الوُصُولُ إِلَيْهِ إِلاَّ بِهَا ، وَهُوَ سِتَّةُ أسْبَابٍ : اعْلَمْ أنَّ الغِيبَةَ تُبَاحُ لِغَرَضٍ صَحيحٍ شَرْعِيٍّ لا يُمْكِنُ الوُصُولُ إِلَيْهِ إِلاَّ بِهَا ، وَهُوَ سِتَّةُ أسْبَابٍ : الأَوَّلُ : التَّظَلُّمُ ، فَيَجُوزُ لِلمَظْلُومِ أنْ يَتَظَلَّمَ إِلَى السُّلْطَانِ والقَاضِي وغَيرِهِما مِمَّنْ لَهُ وِلاَيَةٌ ، أَوْ قُدْرَةٌ عَلَى إنْصَافِهِ مِنْ ظَالِمِهِ ، فيقول : ظَلَمَنِي فُلاَنٌ بكذا. الثَّاني : الاسْتِعانَةُ عَلَى تَغْيِيرِ المُنْكَرِ ، وَرَدِّ العَاصِي إِلَى الصَّوابِ ، فيقولُ لِمَنْ يَرْجُو قُدْرَتهُ عَلَى إزالَةِ المُنْكَرِ : فُلانٌ يَعْمَلُ كَذا ، فازْجُرْهُ عَنْهُ ونحو ذَلِكَ ويكونُ مَقْصُودُهُ التَّوَصُّلُ إِلَى إزالَةِ المُنْكَرِ ، فَإنْ لَمْ يَقْصِدْ ذَلِكَ كَانَ حَرَاماً. الثَّالِثُ : الاسْتِفْتَاءُ ، فيقُولُ لِلمُفْتِي : ظَلَمَنِي أَبي أَوْ أخي ، أَوْ زوجي ، أَوْ فُلانٌ بكَذَا فَهَلْ لَهُ ذَلِكَ ؟ وَمَا طَريقي في الخلاصِ مِنْهُ ، وتَحْصيلِ حَقِّي ، وَدَفْعِ الظُّلْمِ ؟ وَنَحْو ذَلِكَ ، فهذا جَائِزٌ لِلْحَاجَةِ ، ولكِنَّ الأحْوطَ والأفضَلَ أنْ يقول : مَا تقولُ في رَجُلٍ أَوْ شَخْصٍ ، أَوْ زَوْجٍ ، كَانَ مِنْ أمْرِهِ كذا ؟ فَإنَّهُ يَحْصُلُ بِهِ الغَرَضُ مِنْ غَيرِ تَعْيينٍ ، وَمَعَ ذَلِكَ ، فالتَّعْيينُ جَائِزٌ كَمَا سَنَذْكُرُهُ في حَدِيثِ هِنْدٍ إنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى. الرَّابعُ : تَحْذِيرُ المُسْلِمينَ مِنَ الشَّرِّ وَنَصِيحَتُهُمْ ، وذَلِكَ مِنْ وُجُوهٍ : مِنْهَا جَرْحُ المَجْرُوحينَ مِنَ الرُّواةِ والشُّهُودِ وذلكَ جَائِزٌ بإجْمَاعِ المُسْلِمينَ ، بَلْ وَاجِبٌ للْحَاجَةِ . ومنها : المُشَاوَرَةُ في مُصاهَرَةِ إنْسانٍ أو مُشاركتِهِ ، أَوْ إيداعِهِ ، أَوْ مُعامَلَتِهِ ، أَوْ غيرِ ذَلِكَ ، أَوْ مُجَاوَرَتِهِ ، ويجبُ عَلَى المُشَاوَرِ أنْ لا يُخْفِيَ حَالَهُ ، بَلْ يَذْكُرُ المَسَاوِئَ الَّتي فِيهِ بِنِيَّةِ النَّصيحَةِ. ومنها : إِذَا رأى مُتَفَقِّهاً يَتَرَدَّدُ إِلَى مُبْتَدِعٍ ، أَوْ فَاسِقٍ يَأَخُذُ عَنْهُ العِلْمَ، وخَافَ أنْ يَتَضَرَّرَ المُتَفَقِّهُ بِذَلِكَ ، فَعَلَيْهِ نَصِيحَتُهُ بِبَيانِ حَالِهِ ، بِشَرْطِ أنْ يَقْصِدَ النَّصِيحَةَ ، وَهَذا مِمَّا يُغلَطُ فِيهِ. وَقَدْ يَحمِلُ المُتَكَلِّمَ بِذلِكَ الحَسَدُ ، وَيُلَبِّسُ الشَّيطانُ عَلَيْهِ ذَلِكَ ، ويُخَيْلُ إِلَيْهِ أنَّهُ نَصِيحَةٌ فَليُتَفَطَّنْ لِذلِكَ. وَمِنها : أنْ يكونَ لَهُ وِلايَةٌ لا يقومُ بِهَا عَلَى وَجْهِها : إمَّا بِأنْ لا يكونَ صَالِحاً لَهَا ، وإما بِأنْ يكونَ فَاسِقاً ، أَوْ مُغَفَّلاً ، وَنَحوَ ذَلِكَ فَيَجِبُ ذِكْرُ ذَلِكَ لِمَنْ لَهُ عَلَيْهِ ولايةٌ عامَّةٌ لِيُزيلَهُ ، وَيُوَلِّيَ مَنْ يُصْلحُ ، أَوْ يَعْلَمَ ذَلِكَ مِنْهُ لِيُعَامِلَهُ بِمُقْتَضَى حالِهِ ، وَلاَ يَغْتَرَّ بِهِ ، وأنْ يَسْعَى في أنْ يَحُثَّهُ عَلَى الاسْتِقَامَةِ أَوْ يَسْتَبْدِلَ بِهِ. الخامِسُ : أنْ يَكُونَ مُجَاهِراً بِفِسْقِهِ أَوْ بِدْعَتِهِ كالمُجَاهِرِ بِشُرْبِ الخَمْرِ ، ومُصَادَرَةِ النَّاسِ ، وأَخْذِ المَكْسِ، وجِبَايَةِ الأمْوَالِ ظُلْماً ، وَتَوَلِّي الأمُورِ الباطِلَةِ ، فَيَجُوزُ ذِكْرُهُ بِمَا يُجَاهِرُ بِهِ ، وَيَحْرُمُ ذِكْرُهُ بِغَيْرِهِ مِنَ العُيُوبِ ، إِلاَّ أنْ يكونَ لِجَوازِهِ سَبَبٌ آخَرُ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ. السَّادِسُ : التعرِيفُ ، فإذا كَانَ الإنْسانُ مَعْرُوفاً بِلَقَبٍ ، كالأعْمَشِ ، والأعرَجِ ، والأَصَمِّ ، والأعْمى ، والأحْوَلِ ، وغَيْرِهِمْ جاز تَعْرِيفُهُمْ بذلِكَ ، وَيَحْرُمُ إطْلاقُهُ عَلَى جِهَةِ التَّنْقِيصِ ، ولو أمكَنَ تَعْريفُهُ بِغَيرِ ذَلِكَ كَانَ أوْلَى ، فهذه ستَّةُ أسبابٍ ذَكَرَهَا العُلَمَاءُ وأكثَرُها مُجْمَعٌ عَلَيْهِ ، وَدَلائِلُهَا مِنَ الأحادِيثِ الصَّحيحَةِ مشهورَةٌ .[4]

Artinya : “Ketahuilah bahwa ghibah itu diperbolehkan untuk tujuan yang dibenarkan oleh syariat dengan catatan tidak ada cara lain selain itu. Ada enam alasan ghibah diperbolehkan : [1] Pengaduan, (komplain). Diperbolehkan bagi orang yang teraniaya untuk mengadukan keluhannya kepada penguasa, qadhi atau lainnya yang mempunyai otoritas atau kekuasaan penuh dalam menangani hal ini. Lalu orang yang teraniaya berkata, “si fulan telah menzhalimiku dengan perlakuan begini,” misalnya. [2] Meminta bantuan untuk bisa merombak kemungkaran dan menyadarkan orang yang berbuat maksiat kepada jalan yang benar. Lalu seseorang berkata kepada orang yang diharapkan kemampuannya bisa melenyapkan kemungkaran, yakni “si fulan melakukan perbuatan begini”, misalnya. Maka cegahlah atau berupa tindakan apapun yang tujuannya untuk menghilangkan kemungkaran. Bila tujuan tersebut menyimpang, maka perbuatan ghibah menjadi haram hukumnya. [3] Meminta fatwa hukum sutau perkara. Seseorang berkata kepada mufti “aku telah dizhalimi oleh ayahku atau saudaraku atau suamiku atau fulan dengan perlakuan begini, misalnya. Maka apakah benar haknya seperti itu? Bagaimana tindakanku dalam menyelesaikan permasalahan ini dan mengambil hakku juga melawan kezahliman ? dan lain sebaginya.” Yang demikian itu diperbolehkan melakukan ghibah dengan landasan kebutuhan untuk mengungkapkan keluhan. Namun dalam mengungkapkan keluhan tersebut hendaknya berkata seperti, “bagaimana pendapatmu tentang seorang lelaki atau seseorang atau seorang suami yang mempunyai masalah seperti ini,” misalnya ? karena yang demikian, target keluhan tetap mengena sasaran tanpa menyebutkan identitas tertentu. Penyebutan identitas daalam hukumnya tetap diperbolehkan sebagaimana hadits yang akan kami sebutkan tentang Hindun, insya Allah. [4] Memperingati orang muslim dari keburukan dan memberikan nasihat kepada mereka, yaitu melalui beberapa cara, di antaranya ; [a] Melukai orang yang luka dari perawi dan saksi. Secara ijma’ kaum muslimin yang demikian adalah diperbolehkan bahkan hukumnya wajib dengan alasan kebutuhan yang mendesak. [b] Bermusyawarah tantang kekeluargaan melalui perkawinan seseorang, perkumpulan seseorang, penitipan seseorang, interaksinya, atau kehidupan bertetangganya dan lain sebagainya. Dalam hal ini bagi pihak yang bermusyawarah supaya mengungkap semua keberadaan “seseorang yang menjadi objek” dari semua aspek, yang tentunya dengan tujuan dan niatan nasihat. [c] Apabila seseorang melihat orang yang faham agama sering berjumpa dengan orang bid’ah atau fasiq yang ingin menyerap ilmunya, namun di lain sisi ada kekhawatiran dampak negatif yang bakal menimpa orang yang faham agama ini akibat interaksinya. Maka bagi orang yang mengetahui hal tersebut berkewajiban memberikan nasihat tentang keadaannya dengan syarat hanya untuk memberikan nasihat saja akibat kekeliruan orang fakih ini. Dalam menjalankan misinya ini seorang penasihat terkadang disusupi oleh rasa hasud (iri hati) yang tidak menutup kemungkinan syetan malah menyelimutinya. Hal ini harus diingat adalah bahwa tindakan ini merupakan suatu nasihat saja. [d] Seseorang yang tidak menjalankan tanggungjawab kekuasaannya dengan amanah, baik faktor ketidak pantasan menduduki jabatan tersebut, atau karena pemangku jabatan seorang yang fasiq, lalai dan lain sebagainya. Maka bagi yang memangku kekuasaan umum sepantasnya menangani keadaan ini, atau mengganti orang yang lebih layak untuk memangku jabatan tadi. Dalam hal ini tidak boleh membohongi pihak pertama bahkan sepatutnya berusaha untuk menganjurkan pihak pertama berbuat istiqamah atau mengganti pemangku jabatan saja. [5] Seseorang yang masyhur kefasikan dan perbuatan bida’ahnya secara terang-terangan, seperti orang yang secara terang-terangan terkenal dengan peminum khamer, penyandera orang-orang, memungut pajak-pajak liar, merampas harta orang lain dengan zhalim dan menangani urusan-urusan kebathilan. Dalam hal ini diperbolehkan menyebutkan hal-hal tersebut bila memang secara terang-terangan ia melakukannya dan tidak diperkenankan menyibak kekurangan lainnya kecuali bila terkait dengan faktor-faktor di atas. [6] Identitas. Apabila seseorang terkenal dengan identitas tertentu, seperti bermata muram, pincag, tuli, buta, juling, dan lain sebagainya, maka diperbolehkan mengenakan identitas tersebut tanpa niatan untuk menghina. Tetapi menjadi lebih baik bila menggunakan identitas lainnya. Inilah enam faktor yang menjadi perbuatan ghibah diperbolehkan oleh kesepakatan para ulama dan hadits-hadits yang terkenal.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka bisnis infotainment dengan memunculkan dampak negatif di atas, itu diharamkan dalam agama. Initinya, di antara produk yang dilarang keras beredar ialah produk yang merusak akidah, etika, dan moral manusia, seperti produk yang berhubungan dengan pornografi, gibah dan sadisme, baik dalam opera, film, infotimen dan musik.[5] Juga apa saja yang berhubungan dengan dengan media informasi, baik media cetak ataupun media televisi. Pada umumnya, pengusaha dalam bidang ini hanya mengejar pendapatan, mengembangkan ekspor, dan meraih laba tanpa pernah memikirkan halâl dan harâm.[6]

Dampak negatif produk seperti ini lebih berbahaya dari pada ganja dan narkotika, walaupun korban yang jatuh akibat narkotika sangat kasat mata. Sebab, pornografi dan gibah merusak jiwa, sedangkan ganja dan narkotika hanya merusak tubuh. Ganja dan narkotika adalah bahaya yang selalu diawasi, sedangkan pornografi dan gibah beredar dengan bebas. Lebih dari pada itu, pengedar ganja dan narkotika di hukum jika mereka tertangkap, sedangkan produsen film pornografi dan gibah di sanjung dan dipuji jika ia meraih sukses. Terakhir, pornografi dan gibah meracuni masyarakat sebelum mereka diracuni oleh narkotika dan mematikan mereka sebelum dimatikan oleh narkotika. Maka semua orang yang ikut andil dalam produksi mulia dari penulis naskah, tim kreatif, sutradara, aktornya, badan pelaksana, kamerawan, dan produser bertanggung jawab di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala di akhirat dan juga harus bertanggung jawab di dunia melalui jalur hukum, atas tindakan kriminal mereka terhadap masyarakat, khususnya siapa saja yang terkena pengaruh.

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ {النحل: 25}

Artinya : “(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.

C. Kesimpulan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulannya bahwa infotainment beserta bisnisnya, hukum asalnya adalah boleh dengan syarat unsur-unsur sebagaimana disebutkan di atas terpenuhi. Jika unsur di atas tidak terpenuhi, maka ia menjadi haram hukumnya dan berdosa jika menyaksikannya.


[1] Abdul Hamid Hakim, Mabadi Awaliyah, (Padang Panjang: Sa’adiyah Putra, t.th), h. 19

[2] Syamsuddin al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Juz 16, h. 335, CD. al-Maktabah al-Syamilah

[3] Imam Muslim, Shahih Muslim Bab Tahrim al-Ghibah, Juz 4, h. 2001, CD. al-Maktabah al-Syamilah

[4] Imam al-Nawawi, Riyadh al-Shalihin Bab Ma Yubahu min al-Ghibah, Juz 2, h. 182, CD. al-Maktabah al-Syamilah

[5] Acara infotimen dan acara pengiriman sms berhadiah di Indonesia mulai marak diketengahkan ke hadapan masyarakat Indonesia setelah reformasi bergulir di negara ini, dengan suguhan acara pokok infotimennya yakni masalah perceraian para artis. Namun permasalahan ini baru di bahas pada tahun 2006 oleh para ulama’ di Indonesia yang tergabung dalam satu organisasi masyarakat Islam yakni Nahdlatul Ulama (NU) dalam acara Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konfensi Besar Nahdlatul Ulama di Asrama Haji Sukolilo Surabaya pada tanggal 27-30 Juli 2006, dengan jawaban ; (1) Hukum kuis berhadiah yang dijawab dengan telpon atau sms dengan tarif pulsa melebihi tarif pulsa biasa adalah termasuk judi dan hukumnya haram karena terdapat unsur maisir yang dijadikan sarana mencari keuntungan bagi pemberi hadiah, (2) Pada dasarnya menayangkan atau menyiarkan, menonton atau mendengar acara yang mengungkap dan membeberkan kejelekan seseorang melalui acara apa pun adalah haram, kecuali di dasari tujuan yang dibenarkan secara syar’i, seperti memberantas kemungkaran, memberi peringatan, menyampaikan pengaduan/laporan, meminta bantuan, dan meminta fatwa hukum. Lihat Materi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konfensi Besar Nahdlatul Ulama di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya pada tanggal 27-30 Juli 2006, h. 26 dan 33

[6] Permasalahan yang juga berkembang sangat pesat saat ini di Indonesia adalah, tentang kegiatan bisnis melalui media cetak dan elektronik yang dapat merusak akidah umat Islam di Indoensia yakni tentang berlangganan sms ramalan jodoh, rezeki, dll, dengan tarif yang sangat pariatif, namum caranya sama, yakni dengan terus menerus menarik pulsa di HP sampai habis, salah sataunya adalah dengan cara ketik REG (spasi) RAMAL kirim ke 9366. Kegiatan bisnis seperti ini perlu ditanggapi secara cepat dan tepat baik oleh para ulama’ maupun pemerintah, hal ini karena perkembangan kepemilikian HP di Indonesia sangatlah cepat, bahkan anak yang baru duduk di kelas I SD saja sudah ada yang memilikinya. Oleh karenanya, jika hal ini terus dibiarkan berlarut-larut, maka akan dapat merusak akidah mereka.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s