FEMINISME DALAM ISLAM

A. Pendahuluan.

Sulit menyatakan secara pasti apakah feminisme di kalangan muslim ada kaitannya dengan kesadaran baru dunia Timur yang dikenal dengan “oksidentalisme” dan kesadaran “post-kolonialis”. Pembahasan tentang ketidak adilan gender yang dialami perempuan muncul pada akhir abad ke-20, yaitu pada gelombang II gerakan feminisme di Barat (Eropa dan Amerika), dan fenomena post-kolonialis menampakkan beberapa kegiatan dunia Timur khususnya sekitar abad ke-19 dan abad ke-20an. Di dunia Islam termasuk Indonesia, penulis-penulis feminisme perempuan juga muncul. Dan sejak belahan ke-dua abad ke-20, perempuan dari strata menengah ke atas mulai menulis seputar feminisme dan peran gender serta hubungannya dengan keluarga dan masyarakat. Setelah masyarakat “feminisme” menikmati sajian dari penulis perempuan, kemudian masyarakat pembaca juga dapat menikmati dan memahami sajian tentang feminisme oleh beberapa penulis feminisme laki-laki. Dengan demikian di dunia Timur yang muslim terdapat beberapa sajian yang bervarian dari beberapa penulis muslim baik kalangan perempuan maupun laki-laki.

Kesadaran berbicara dan menyajikan feminisme dari kalangan muslim muncul dengan memuat kesadaran gender serta berupaya memperjuangkan penghapusan ketidak adilan gender yang menimpa kaum perempuan. Dapatlah dikatakan bahwa dari lingkungan dunia Islam, biasanya mereka, baik para perempuan maupun juga laki-laki, mempersoalkan ajaran Islam. Beberapa penulisnya, ada yang berpandangan bahwa al-Qur’an tidak melihat inferioritas perempuan dibandingkan dengan laki-laki, laki-laki dan perempuan setara dalam pandangan Tuhan, dan mufassir-lah yang menafsirkan ayat-ayat tidak sebagaimana yang seharusnya.

Secara studi agama-agama, pada fenomena sosial keagamaan yang menampilkan kajian feminisme terdapat kesadaran untuk melakukan re-interpretasi terhadap teks-teks yang memuat persoalan yang dapat menjelaskan realitas feminisme dan perlu dilakukan bukan hanya oleh perempuan akan tetapi juga oleh laki-laki. Di antara kalangan laki-laki yang melakukan pemahaman dan re-interpretasi teks-teks yang memuat persoalan dimaksud adalah Murtada Mutahhari, Qassim Amin, Muhammad Abduh, dll, yang dipandang sebagai tokoh-tokoh Islam yang cukup berhasil, bukan hanya dalam melakukan pemahaman dan re-interpretasi akan tetapi juga dalam menjelaskan seputar persoalan feminisme.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapatlah dirumuskan masalahnya, yakni ; bagaimanakah pengaruh feminisme dalam kehidupan Islam ?

B. Pembahasan.

1.      Latar Belakang Feminisme.

Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Feminisme sebagai filsafat dan gerakan dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan kelahiran era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood.

Kata feminisme dikreasikan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Pergerakan center Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, the Subjection of Women (1869). Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme gelombang pertama. Pada awalnya gerakan ini memang diperlukan pada masa itu, dimana ada masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum kaum perempuan (feminin) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) khususnya dalam masyarakat yang patriarki sifatnya. Dalam bidang-bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan lebih-lebih politik hak-hak kaum ini biasanya memang lebih inferior ketimbang apa yang dapat dinikmati oleh laki-laki, apalagi masyarakat tradisional yang berorientasi agraris cenderung menempatkan kaum laki-laki didepan, di luar rumah dan kaum perempuan di rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya era Liberalisme di Eropa dan terjadinya Revolusi Perancis di abad ke-XVIII yang gemanya kemudian melanda Amerika Serikat dan ke seluruh dunia.

Suasana demikian diperparah dengan adanya fundamentalisme agama yang cenderung melakukan operasi terhadap kaum perempuan. Di lingkungan agama Kristen pun ada praktek-praktek dan khutbah-khutbah yang menunjang situasi demikian, ini terlihat dalam fakta bahwa banyak gereja menolak adanya pendeta perempuan bahkan tua-tua jema’at pun hanya dapat dijabat oleh pria. Banyak khutbah-khutbah menempatkan perempuan sebagai makhluk yang harus tunduk kepada suami.

2.      Konsep dan Organisasi.

Di Eropa paham ini terus berkembang untuk mengangkat derajat kaum perempuan tetapi gaungnya kurang memadai, baru setelah terjadi revolusi sosial dan politik di Amerika, perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan mulai mencuat. Di tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul Vindication of the Right of Woman yang isinya dapat dikata meletakkan dasar prinsip-prinsip feminisme dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-1840 sejalan terhadap pemberantasan praktek perbudakan, hak-hak kaum prempuan mulai diperhatikan, jam kerja dan gaji kaum ini mulai diperbaiki dan mereka diberi kesempatan ikut dalam pendidikan dan diberi hak pilih, sesuatu yang selama ini hanya dinikmati oleh kaum laki-laki.[1]

Secara umum pada gelombang pertama dan kedua hal-hal berikut ini yang menjadi momentum perjuangannya gender inequality, hak-hak perempuan, hak reproduksi, hak berpolitik, peran gender, identitas gender dan seksualitas. Gerakan feminisme adalah gerakan pembebasan perempuan dari: rasisme, stereotyping, seksisme, penindasan perempuan, dan phalogosentrisme.[2]

Ide-ide feminisme menjadi isu global semenjak PBB mencanangkan Dasawarsa I untuk perempuan pada tahun 1975 sampai dengan1985. Sejak itu, isu-isu keperempuanan mewabah dalam berbagai bentuk forum baik di tingkat internasional, nasional, regional, maupun lokal. PBB di bawah kendali Amerika Serikat jelas sangat berkepentingan dan berperan besar dalam penularan isu-isu tersebut, baik dalam forum yang khusus membahas perempuan, seperti forum di Mexico tahun 1975, Kopenhagen tahun 1980, Nairobi tahun 1985, dan di Beijing tahun 1995– maupun forum tingkat dunia lainnya, seperti Konferensi Hak Asasi Manusia (HAM), KTT Perkembangan Sosial, serta KTT Bumi dan Konferensi Kependudukan.[3]

Hingar bingarnya isu-isu feminisme tersebut melahirkan beraneka respon dari berbagai pihak di dunia Islam, di antaranya ialah semakin banyaknya para propogandis feminisme baik secara individual maupun kelompok, dari lembaga pemerintah maupun LSM-LSM. Feminisme yang aslinya merupakan derivat ide sekularisme atau sosialisme itu, akhirnya menginfiltrasi ke dalam dunia Islam. Maka tersohorlah kemudian nama-nama feminis muslim semisal Fatima Mernissi (Maroko), Taslima Nasreen (Bangladesh), Riffat Hassan (Pakistan), Ashgar Ali Engineer (India), Amina Wadud Muhsin (Malaysia), serta Didin Syafrudin, Wardah Hafizah, dan Myra Diarsi (Indonesia). Secara kelompok, di Indonesia khususnya dapat disebut beberapa gerakan perempuan penganjur feminisme, seperti Yayasan Kalyanamitra, Forum Indonesia untuk Perempuan dan Islam (FIPI), Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK), Yayasan Solidaritas Perempuan dan sebagainya.

Ide-ide feminisme yang dilontarkan kelompok-kelompok tersebut nampaknya cukup berpotensi menitikkan air liur kaum muslimah yang lapar perjuangan, yakni mereka yang mempunyai semangat dan idealisme yang tinggi untuk menguah kenyataan yang ada menjadi lebih baik. Itu karena di samping didukung teknik penyuguhan yang ilmiah‌, ide-ide feminisme itu dikemas dengan retorika-retorika dan jargon-jargon emosional yang dapat menyentuh lubuk-lubuk perasaan mereka, seperti jargon perjuangan hak-hak wanita‌, penindasan wanita, subordinasi wanita dan lain-lain. Selain itu, realitas masyarakat yang berbicara terkadang memang menampilkan sosok kaum wanita yang memilukan, terpuruk di bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kesejahteraan, politik, sosial dan lain-lain.[4] Walhasil, tak diingkari gerakan-gerakan perempuan itu berpotensi menyedot simpati para muslimah.

Ketika ide-ide feminisme ini tersebar dan diadopsi oleh sebagian kaum muslimin, merekapun lalu membuat analisis sendiri mengenai sebab-sebab terjadinya ketidak adilan gender. Menurut Asghar Ali Engineer, terjadinya ketidak adilan gender adalah akibat asumsi-asumsi teologis bahwa perempuan memang diciptakan lebih rendah derajatnya daripada laki-laki, misalnya asumsi bahwa perempuan memang tidak cocok memegang kekuasaan, perempuan tidak memiliki kemampuan yang dimiliki laki-laki, perempuan dibatasi kegiatannya di rumah dan di dapur. Asumi-asumi ini menurut Asghar adalah hasil penafsiran laki-laki terhadap al-Qur’an untuk mengekalkan dominasi laki-laki atas perempuan.[5]

Para feminisme muslim telah mengajukan konsep kesetaraan sebagai jawaban terhadap problem ketidaksertaan gender. Konsep kesetaraan antara lelaki dan perempuan dalam al-Qur’an menurut mereka mengisyaratkan 2 (dua) hal :

a.      Dalam pengertiannya yang umum, harus ada penerimaan martabat kedua jenis kelamin dalam ukuran yang setara.

b.      Orang harus mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak-hak yang setara dalam bidang sosial, ekonomi dan politik, seperti kesetaraan hak untuk mengadakan akad nikah atau memutuskannya, kesetaraan hak untuk memiliki atau mengatur harta miliknya tanpa campur tangan pihak lain, kesetaraan hak untuk memilih atau menjalani cara hidup, dan kesetaraan hak dalam tanggung jawab dan kebebasan.[6]

Secara ringkas, substansi ide feminis muslim ini menurut Taqiyyuddin An-Nabhani ialah menjadikan kesetaraan (al musaawah/equality) sebagai batu loncatan atau jalan untuk meraih hak-hak perempuan.[7] Dengan kata lain, feminisme itu ide dasarnya adalah kesetaraan kedudukan laki-laki dan perempuan. Sementara ide cabang yang di atas dasar itu, ialah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan.

3.      Pengaruh Feminisme Dalam Kehidupan Islam Bagi Kelompok Fundamentalis Islam.

Ide dasar dari feminisme adalah kesetaraan kedudukan laki-laki dan perempuan. Dan ide cabangnya ialah, kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan konsep kesetaraan hak itulah, para feminis muslim membatalkan dan mengganti banyak ide dan hukum Islam yang mereka anggap tidak sesuai dengan konsep kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Namun mereka tidak menyebutnya sebagai penggantian pembatalan hukum Islam, melainkan penafsiran ulang atau bahkan pelurusan dan koreksi‌. Jadi seolah-olah hukum-hukum Islam itu keliru, atau ditafsirkan secara keliru, sehingga perlu diluruskan oleh para feminis muslim.

Para mufassir atau mujtahid yang mengistinbath hukum-hukum yang dianggap mengekalkan ketidakadilan gender tersebut, oleh kaum feminis muslim dicap secara sepihak sebagai orang yang terkena bias gender dalam ijtihadnya, serta dinilai hanya bermaksud mengekalkan dominasi laki-laki atau penindasan wanita. Mereka, misalnya, menolak konsep penciptaan Hawa dari Nabi Adam ‘alaihis salam, konsep kepemimpinan rumah tangga bagi laki-laki, hukum kesaksian 1:2 (satu laki-laki dua perempuan), hukum kewarisan 2:1 (dua bagian laki-laki satu bagian perempuan), kewajiban berjilbab/batasan aurat perempuan, kebolehan poligami, dan sebagainya. Mereka menolak pula keharaman melakukan hubungan seksual dengan suami saat isteri haid, dan menolak keharaman wanita melakukan shalat saat haid. Mereka menolak hukum haramnya wanita menjadi penguasa. Sebaliknya, mereka malah membolehkan wanita menjadi imam shalat dalam jama’ah yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka bolehkan pula wanita memberikan khutbah Jumat dan mengumandangkan adzan.[8] Untuk menjustifikasi penafsiran mereka, digunakanlah metode historis sosiologis untuk memahami nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Metode ini mengasumsikan bahwa kondisi sosial masyarakat merupakan ibu kandung yang melahirkan berbagai peraturan. Tegasnya, kondisi masyarakat adalah sumber hukum. Lahirnya hukum pasti tidak terlepas dari kondisi suatu masyarakat dalam konteks ruang (tempat) dan waktu (fase sejarah) yang tertentu. Sehingga jika konteks sosial berubah, maka peraturan dan hukum turut pula berubah. Dalam hal ini, para feminis memandang telah terjadi perubahan konteks sosial yang melahirkan hukum-hukum Islam seperti di atas. Karenanya, hukum-hukum itu harus ditafsirkan ulang agar sesuai dan relevan dengan konteks masyarakat modern saat ini.

Melalu penjelasan inilah kemudian kelompok fundamentalis Islam mempropandakan agar memandang feminisme sebagai sebuah gerakan yang harus ditolak karena beberapa hal. Di antaranya adalah karena faktor berikut ini :

a.      Feminisme sebenarnya terlahir dalam konteks sosio-historis khas di negara-negara Barat, terutama pada abad XIX dan XX M ketika wanita tertindas oleh sistem masyarakat liberal-kapitalistik yang cenderung eksploitatif. Maka dari itu, mentransfer ide ini ke tengah umat Islam, yang memiliki sejarah dan nilai yang unik, jelas merupakan generalisasi sosiologis yang terlalu dipaksakan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Klaim bahwa wawasan sosiologis bersifat universal, mengandung kepongahan yang dapat mengakibatkan dilema serius bagi para sosiolog. Robert M. Marsh menandaskan : “Sosiologi telah dikembangkan di sebuah sudut kecil dunia, dan dengan demikian, amat terbatas sebagai suatu skema universal”.

a.      Feminisme bersifat sekularistik, yakni terlahir dari aqidah pemisahan agama dari kehidupan. Hal ini nampak jelas tatkala feminisme memberikan solusi-solusi terhadap problem yang ada, yang tak bersandar pada satu pun dalil syar’i. Jadi, para feminis telah memposisikan diri sebagai menjadi al-Syari’ (Sang Pembuat Hukum), bukan Allah Azza wa Jalla. Maka dari itu, tanpa keraguan lagi dapat ditegaskan, feminisme adalah paham kufur. Adapun para feminis muslim yang mencoba membenarkan ide-ide feminisme dengan dalil-dalil syarâ sesungguhnya tidak benar-benar menjadikan dalil syarâ sebagai tumpuan ide feminisme. Sebenarnya, yang mereka lakukan adalah mengambil asumsi-asumsi feminisme apa adanya, lalu mencari-cari ayat atau hadits untuk membenarkannya. Kalau ternyata ada ayat atau hadits yang tidak sesuai dengan konsep kesetaraan gender yang mereka anut secara fanatik, maka ayat atau hadits itu harus diubah maknanya sedemikian rupa agar tunduk kepada konsep kesetaraan gender. Ketika mereka mendapatkan ayat atau hadist yang tidak sesuai dengan konsep tersebut, seperti hukum waris 2:1 (dua bagian laki-laki setara dengan satu bagian perempuan), atau ketidakbolehan perempuan menjadi penguasa), mereka lalu menta`wilkan –tepatnya : memperkosa– ayat atau hadits tersebut agar sesuai dengan selera mereka. Ini artinya, sebenarnya ide feminismelah yang menjadi standar, bukan ayat atau hadits itu sendiri. Andai kata ayat atau hadits yang menjadi standar, niscaya mereka akan tunduk kepada makna yang terkandung dalam ayat atau hadits apa adanya, serta tidak akan melakukan berbagai re-interpretasi yang malah menghasilkan pendapat-pendapat rusak seperti yang telah disebutkan di atas.

b.      Para feminis muslim, menggunakan metode historis-sosiologis khas kaum modernis untuk memahami nash-nash syara’. Metode ini sebenarnya berasal dari sistem hukum Barat yang memandang kondisi masyarakat sebagai sumber hukum. Fakta masyarakat dianggap sebagai dalil syar’i yang menjadi landasan penetapan hukum. Jelas di sini bahwa metode ushul fiqh mereka adalah ushul fiqh jurisprudensi hukum Barat, bukan ushul fiqh yang murni diambil dari para ushuliyun kaum muslimin. Tentu saja ini sangat keliru. Sumber hukum tiada lain adalah wahyu, yang termaktub dalam al-Qur’an dan al-Sunnah, bukan realitas masyarakat yang ada. Realitas sosial pada saat suatu ayat hukum turun, atau ketika suatu hukum disimpulkan dari ayat atau hadits oleh seorang mujtahid, adalah fakta yang kepadanya hukum diterapkan, bukan fakta yang darinya hukum dilahirkan. Jadi sebenarnya ada perbedaan tegas antara wahyu sebagai sumber hukum dengan realitas masyarakat sebagai objek penerapan hukum. Karena itu, hukum Islam tidak perlu ditafsir ulang, sebab selama manathul hukmi (fakta yang menjadi objek penerapan hukum) di masa sekarang sama dengan masa Nabi dan sahabat, hukum tertentu untuk satu masalah tertentu tidaklah akan berbeda. Jika ada manathul hukmi di zaman sekarang yang tidak terdapat pada masa sebelumnya, yang harus dilakukan adalah ijtihad untuk menggali hukum baru bagi masalah baru, bukan mengubah hukum yang ada agar sesuai dengan realitas baru. Jadi pembatalan dan penggantian hukum seperti yang dilakukan para feminis muslim itu hakikatnya bukanlah ijtihad, melainkan suatu kelancangan terhadap hukum Allah subhanahu wa ta’ala, sebab manathul hukmi yang ada sebenarnya tidak berubah.

c.       Para feminis muslim gagal memahami kehendak Syari’at Islam dalam masalah hak dan kewajiban bagi lelaki dan perempuan. Mereka menganggap bahwa kesetaraan lelaki dan perempuan, otomatis menyebabkan kesetaran hak-hak antara laki-laki dan perempuan. Ini keliru. Karena, cara berpikir demikian adalah cara befikir logika (mantiqi) yang tidak berlandaskan pada dalil syar’i mana pun.

a.      Selain itu, fakta Syari’at Islam menunjukkan bahwa kedua ide itu (yaitu kesetaraan kedudukan dengan kesetaraan hak) tidaklah ber-relasi sebab-akibat yang bersifat pasti (absolut) seperti dipahami feminis muslim, yakni kesetaraan kedudukan lelaki dan perempuan, pasti menghasilkan kesamaan hak dan kewajiban di antara keduanya.. Memang benar, Islam memandang bahwa laki-laki dan perempuan itu setara, dan bahwa Allah secara umum memberikan hak dan kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan. Karenanya, Islam memberikan beban hukum (taklif syar’i) yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam hal wajibnya sholat, puasa, zakat, haji, amar ma’ruf nahi munkar, dan sebagainya. Ini ketentuan secara umum. Namun, Islam menetapkan adanya takhshish (pengkhususan) dari hukum-hukum yang bersifat umum, jika memang terdapat dalil-dalil syar’i yang mengkhususkan suatu hukum untuk laki-laki saja atau untuk perempuan saja. Dan takhshish harus proporsional, yakni hanya boleh ada pada masalah yang telah dijelaskan oleh dalil syar’i.

1.      Feminisme Dalam Konteks Islam Indonesia.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan manusia dalam dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan yang masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam segala bentuknya. Secara fisik, antara laki-laki dan wanita memang berbeda namun bukan berarti mereka tidak bisa bersaing dengan para laki-laki. Apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan zaman yang semakin canggih, termasuk di Indonesia, di mana yang dibutuhkan saat ini dalam setiap pekerjaan bukan lagi fisik seseorang tetapi keahliannya. Maka laki-laki dan wanita dapat saling bersing meraih keberhasilan.

Pandangan kesetaraan itu dapat dilihat dalam sejumlah ayat al-Qur’an, misalnya penyebutan asal  kejadian manusia yang berasal dari jenis yang sama sehingga mereka memiliki hak yang sama pula. Di dalam al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً …{النساء : ١}

Artinya : “ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak…

Dan dalam ayat yang lain, Allah juga menjelaskan bahwa manusia itu dibedakan dari sisi ketakwaannya (hasil dari sebuah pekerjaan) bukan fisiknya :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ {الحجرات : ١٣}

Artinya : “ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Perbedaan fungsi biologis antara laki-laki dan wanita tidak berarti membedakan satus dan kedudukan yang setara antara keduanya, dan dalam menetukan kualitas keagamaan, Islam tidak membedakan atas dasar jender laki-laki dan wanita,[1] akan tetapi menempatkan keutamaan manusia menurut asal amal shaleh dan kebaikan yang mereka lakukan.[2] Oleh karenanya, dalam konteks ke-Indonesiaan, para feminis Islam Indonesia dengan gencar mensosialisasikan pentingnya wanita Islam Indonesia untuk maju. Seperti memunculkan fiqh untuk menjaga kesehatan reproduksi, meningkatkan kualitas keilmuan sampai jenjang pendidikan yang paling tinggi, juga termasuk di dalam politik untuk dapat menjadi pemimpin[3], dan lain sebagainya. Akan tetapi semua itu masih dalam tataran normatif. Tidak seperti di Eropa dan Amerika yang berani untuk unjuk gigi melakukan pertentangan atas teks-teks klasik yang membelenggu hak-hak mereka. Seperti kasus Dr. Aminah Wadud yang menjadi imam shalat jum’at sekaligus khathib, yang berlangsung di gereja Anglikan Manhatan New York Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa norma ketimuran yang sangat menjaga kesopanan masih sangat tinggi di Indonesia dan juga dijaga oleh mereka. Dalam artian, bahwa semua boleh berbeda dalam tataran normatif dan siap untuk bertanggung jawab di hadapan hukum jika terbukti melakukan pelanggaran hukum, juga di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala atas apa yang mereka imani.

Dengan demikian, maka pada dasarnya muslim Indonesia dapat menerima munculnya gerakan feminisme di Indonesia, dalam hal kesetaraan jender. Namun, perlu difahmi bahwa standar fiqh Indonesia adalah memelihara yang lama yang masih baik, serta mengambil yang baru dan yang lebih baik ( المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلاح ). Adapun yang disebut dengan al-ashlah (yang lebih baik) adalah al-mashlahah, yakni memberikan pencerahan kepada seluruh umat Islam atas elastisitas dan fleksibelitasnya hukum Islam, berupa kemaslahatan masyarakat dan mencegah kerusakan di dunia dan akherat.

درؤ المفاسد وجلب المصالح

Artinya : “Menolak adanya kemafsadatan dan mendapatkan kemaslahatan.[4]

A. Kesimpulan.

Melalui penjelasan panjang di atas, maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan, bahwa ide dasar dari feminisme adalah kesetaraan kedudukan laki-laki dan perempuan. Dan ide cabangnya ialah, kesetaraan hak-hak-hak antara laki-laki dan perempuan.

118

Menurut pandangan skularis Islam, feminisme merupakan gerakan yang sempurna dalam memajukan kesetaraan gender. Namun bagi gerakan fundamentalis Islam, feminisme merupakan sebuah gerakan yang harus ditolak karena beberapa hal, yakni karena feminisme sebenarnya terlahir dalam konteks sosio-historis khas di negara-negara Barat. Adapun dalam kontek fiqh Indonesia, feminisme penting untuk memajukan kesetaraan gender di dalam Islam yang masih terkurung dalam penjara fiqh literal, namun tetap dalam bingkai etik Islam yang menciptakan kemashlahat dan mencegah adanya kemudharatan, bukan malah sebaliknya, serta bertanggung jawab atas apa yang difahaminya kelak di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.


[1] Fuaduddin TM, Pengasuhan Anak Dalam Keluarga Islam, (Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan Jender, 1999), h. 11

[2] Abdul Karim Zaidan, Hak dan Kewajiban Warga Negara Menurut Syari’at Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 1982), h. 64

[3] Demi merespon pemikiran di atas, para pemikir Islam Indonesia seperti Said Agil al-Munawar, Quraish Shihab, Said Aqil Siradj, dkk., menulis permasalahan tentang Kepemimpinan Perempuan dalam Islam melalui pendekatan yang berbeda-beda dan di Editori oleh Shafiq Hasyim. Lihat Shafiq Hasyim [ed.], Kepemimpinan Perempuan dalam Islam, (Jakarta: JPPR, t.th.)

[4] Asjmuni Rahman, Qawa’idul Fiqhiyah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), cet. I, h. 29


[1] Wiebke Walther, Woman in Islam, (London: George Prior, 1981), h. 221

[2] Elizabeth Fox Genovese, Feminism withouth Illusions; A Critique of Individualism, (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1991), h. 137

[3] Farha Ciciek, Wacana Keperempuanan Mutakhir, Makalah dalam Simposium Nasional Rekonstruksi Fikih Perempuan dalam Peradaban Masyarakat Kontemporer, di Pusat Studi Islam Lembaga Penelitian Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 14 Desember 1995

[4] Leila Ahmed, Wanita dan Gender Dalam Islam; Akar-Akar Historis Perdebatan Modern, (Jakarta: PT. Lentera Basritama, 2000), h. 192

[5] Asghar Ali Engineer, Hak-Hak Perempuan dalam Islam, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1994), h. 55

[6] Ibid., h. 57

[7] Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam, (Beirut: Darul Ummah, 1990), h. 77-78

[8] Hal ini terjadi pada saat shalat jum’at berjama’ah yang dipimpin oleh Dr. Aminah Wadud (imam dan khathib) yang berlangsung di gereja Anglikan Manhatan New York Amerika Serikat yang menyisakan kontroversi. Husein Muhammad (pengasuh pondok pesantern daarut tauhid arjawinangun cirebon) bersama Ulil Absor Abdalla menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan gebrakan yang sangat revolusionis. Dalil yang sesungguhnya membolehkan hal ini juga berasal dari hadist Muhammad saw yang disampaikan oleh Ummi Waraqah yang lebih kuat keabsahan sanad apalagi matan-nya. Hadist itu berbunyi ;

عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ بِنْتِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَالأَوَّلُ أَتَمُّ قَالَ وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَزُورُهَا فِى بَيْتِهَا وَجَعَلَ لَهَا مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ لَهَا وَأَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا{رواه أبوا داود}

Artinya : “Nabi pernah berkunjung kekediaman Ummi Waraqah lalu menunjuk seseorang untuk adzan dan memerintahkan ummi waraqah untuk mengimami keluarganya.” Diantara kediaman Ummi Waraqah tersebut terdapat “syaikhun kabir wa gulamuha wa jariyataha” seorang laki-laki lanjut usia, seorang budak laki-laki dan perempuan. Lihat Abd Moqsith Ghazali..[ed.], Ijtihad Islam Liberal; Upaya Merumuskan Keberagaman yang Dinamis, (Jakarta: Jaringan Islam Liberal, 2005), h. 279-281

One thought on “FEMINISME DALAM ISLAM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s