DAUR ULANG AIR LIMBAH & AIR MUTANAJJIS

A. Deskripsi Masalah.

Pertumbuhan penduduk yang semakin banyak mengakibatkan berkurangnya laju air bersih dari sungai dan mulai berkurangnya jumlah mata air terkhusus di kota-kota besar. Jalan yang ditempuh selanjutnya adalah dengan melakukan pencarian mata air melalui bor-bor mata air pengganti sumur. Dengan semakin banyaknya rumah-rumah penduduk yang memiliki air bor, maka jalur air di dalam tanah sudah muali menipis dan sungai sudah muali tercemar, terkhusus bagi mereka yang tinggal di daerah perindustrian, maka air mereka tercemar dengan limbah-limbah pabrik.

Namun, di dunia modern ini ditemukan teknologi baru yang dapat melakukan daur ulang dari air yang tercemar bahkan mutanajis tersebut menjadi air yang bersih dan seteril dan secara klinis layak dikonsumsi. Adapun di dalam Islam telah dijelaskan tentang penggunaan air di dalam bersuci, di mana air yang mutanajjis tidak boleh digunakan sebagai alat bersuci (thaharah). Lalu bagaimana dengan air yang sudah dilakukan daur ulang dan dianggap bersih, apakah boleh digunakan sebagai alat bersuci ? Masalah inilah yang akan dibahas kemudian di dalam kajian kedua ini.

B. Pembahasan.

1.      Penjelasan Tentang Air Bersuci di Dalam Fiqh.

Allah subhanahu wa ta’ala berfiman di dalam al-Qur’an :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَ مَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِ يْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِ يْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ  {المائدة : 6}

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. al-Ma`idah : 6)

Ayat di atas menunjukkan dua metode bersuci di dalam Islam, yakni ber-wudhu` dengan menggunakan air dan tayammum dengan menggunakan debu yang baik. Adapun tentang air, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perincian dengan sempurna, namun dipaparkan secara terpisah-pisah, seperti :

عَنْ أَبِي هُرَ يْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللهِ صلى الله عليه وسلم فِي اَلْبَحْرِ : هُوَ اَلطُّهُورُ مَاؤُهُ اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ{أَخْرَجَهُ اْلأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَ يْمَةَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ ورواه مالك والشافعي و أحمد}

Artinya : “Dari Abi Hurairah ra. berkata ; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di laut bersabda ; ia (air laut) itu suci dan bangkainya halal (untuk dikonsumsi)” (HR. Malik, al-Syafi’i dan Ahmad)[1]

Melalui hadits-hadits tentang air untuk bersuci tersebut, kemudian para ulama membaginya menjadi tiga macam sesuai dengan banyak sedikitnya atau berdasarkan keadaannya, yakni :

a.      Air Mutlaq : air yang sesuai dengan sifat asalnya, seperti air yang turun dari langit atau keluar dari bumi, yakni ; air hujan, air laut, air sungai, air telaga, dan setiap air yang keluar dari bumi, salju atau air es yang mencair. Dan menurut ittifaq ulama, ia suci dan mensucikan.[2]

b.      Air Musyammas : air yang terkena panas matahari. Ia thahir muthahhir makruh (suci dan mensucikan namun makruh ketika digunakan), dengan syarat; bila air itu berada di negeri yang panas, bila air itu diletakkan dalam bejana dari logam selain emas dan perak, seperti besi, tembaga dan logam apapun lainnya yang dapat ditempa, dan bila air itu digunakan pada tubuh manusia, sekalipun sudah meninggal dunia, atau binatang yang bisa dijangkit penyakit kulit, seperti kuda.[3]

c.       Mutanajjis : air yang terkena najis.  Dalam hal ini, ia terbagi menjadi dua macam ;

1)      Air Sedikit : air yang kurang dari dua kullah. Air ini menjadi najis ketika kemasukan olehnya meskipun sedikit. Ukuran dua kullah adalah 192,857 kg, atau jika untuk ukuran bak, panjang, lebar dan dalamnya masing-masing 1 hasta.

2)      Air Banyak : air dua kullah atau lebih. Air ini tidak manjadi najis ketika tercampunr dengannya selama tidak merubah salah satu di antara sifatnya yang tiga, yakni warna, rasa atau baunya.[4]

2.      Hukum Bersuci Dengan Air Hasil Daur Ulang dari Air Limbah dan Mutanajjis.

Dalam hal ini, perlu di paparkan terlebih dahulu dua macam air yang dapat berubah menjadi najis dan yang tidak, yakni air yang mengalir dan air yang tergenang. Imam asy-Syafi’i menyebutkan[5] :

a.      Air Mengalir : Apabila di dalam air yang mengalir itu terdapat sesuatu yang diharamkan seperti bangkai, darah, atau sejenisnya dan berhenti pada suatu muara, maka air yang tergenang itu menjadi najis bila kadar air lebih sedikit dari jumlah bangkai. Akan tetapi bila airnya lebih banyak maka ia tidak dikategorikan najis, kecuali apablia rasa, warna dan bunya telah berubah karena najis, sebab air yang mengalir akan meng-hanyutkan semua kotoran.

b.      Air Tergenang :

1)      Air yang tidak najis apabila bercampur dengan sesuatu yang haram, kecuali apabila warna, bau dan rasanya telah berubah.

2)      Air yang najis apabila bercampur dengan sesuatu yang haram, walaupun yang haram itu tidak terdapat padanya.

Melalu teori-teori fiqh di atas, maka yang menjadi inti pembahasan tentang air manjadi najis adalah pada kadar air yang sampai pada dua kullah atau tidak, dan menyangkut rasa, bau dan warnanya. Adapun mengenai pembahasan dalam bab ini adalah, kasus yang belum pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. karena menyangkut teknologi modern. Namun intisari dari praktek ilmiah ini pada dasarnya sudah tertuang di dalam al-Qur’an berbabad-abad yang lalu :

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلاَلِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِاْلأَ بْصَارِ{النور : 34}

Artinya : “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.

Melalui ayat ini kemudian muncullah ilmu pengetahuan tentang daur ulang air kotor menjadi air bersih. Karena air laut yang asin saja dapat menjadi tawar setelah diolah diawan yang berlapis-lapis. Lalu bagaimana dengan air-air sungai di daerah perkotaan, seperti Jakarta yang airnya sudah berubah warna, bau dan banyak bangkai di dalamnya, kemudian diolah sedemikian rupa sehingga menjadi terlihat jernih, apakah boleh digunakan untuk bersuci atau tidak ?

Dalam hal ini, ihtiyath yang paling tepat adalah dengan melihat ‘illah perubahan air thahirun wa muthahirun (suci dan mensucikan) menjadi mutanajjis, yakni ketika air menjadi bau, berwarna, dan rasanya berubah melalui pendekatan mashlahat, sebagimana Allah telah men-contohkan proses perubahan air laut yang asin mentadi tawar, sebagaimana firman Allah di atas. Di mana proses daur ulang air limbah dan air mutanajjis menjadi steril dan bebas kuman, serta sifat najisnya yakni bau, warna dan rasanya sudah kembali kepada sifat asalnya, maka ia menjadi thahirun wa mutahirun. Hal ini juga sesuai dengan konsep perubahan hukum yang ada pada kaidah fiqh :

تغير الأحكام بتغير الأمكنة و الأزمنة والأحوال

Artinya : “perubahan hukum terjadi karena perubahan tempat, waktu dan keadaan.[6]

Jika ditelaah secara mendalam, hukum yang dapat berubah adalah hukum ijtihadiyah yang dibangun berdasarkan mashlahat. Ketika nilai mashlahat berubah, maka hukum (yang dibentuk berdasarkan nilai tersebut) pun berubah. Oleh karena itu, penjelasan yang benar terhadap kaidah di atas bagi penulis sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Shubhi Mahmashani, yakni :

الأحكام الإجتهادية المبنية على المصلحة

Artinya : “ Segala macam hukum yang berdasarkan jalan ijtihâd yang terbangun atas dasar kemaslahatan.”[7]

C. Kesimpulan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa air limbah dan mutanajjis yang bersekala besar sperti sungai-sungai di kota-kota besar, seperti Jakarta, setelah dilakukan daur ulang dengan mengembalikan sifat asalnya, bahkan menjadi bebas kuman, menjadi thahirun wa muthahirun (suci dan mensucikan).


[1] al-Imam al-Hafizh ibnu Hajar al-Asqalani, Bulugh al-Maram min Adillah al-Ahkam, (al-Qahirah: Maktabah al-Syuruq al-Dualiyah, 2004), h. 11

[2] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Madzhab, Penerjemah Masykur AB, dkk., (Jakarta: PT. Lentera Basritama, 2004), h. 4

[3] Anshory Umar Sitangggal, Fiqh Syafi’i Sistimatis; Bab Thaharah dan Shalat, (Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1992), h. 33

[4] Bunyi dalilnya adalah, قال ابن المنذر أجمعوا أن الماء القليل أو الكثير إذا وقعت فيه نجاسة فغيرت طعما أو لونا أو ريحافهو نجس (ibnu Mundzir berkata: para ulama telah sepakat bahwa air sedikit atau banyak jika terkena najis lalu berubah rasa, warna, atau baunya, maka ia terkena hukum najis). Imam al-Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Juz 1, h. 110, CD. al-Maktabah al-Syamilah

[5] Imam asy-Syafi’i, al-Umm, Juz 1, h. 23, CD. al-Maktabah al-Syamilah

[6] Muhammad Shidqi ibn Ahmad al-Barnu, al-Wajiz fi Idah al-Fiqh al-Kulliyyat, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1983), h. 182

[7] Shubhi Mahmashani, Falsafat al-Tasyri’ al-Islami, (Beirut: Dar al-Maliyyin, 1961), h. 198

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s