PENGERTIAN FIQH, SYARI’AH DAN HUKUM ISLAM

A. Pengertian Fiqh dan Syari’ah.

Islam sebagai agama samawi, memiliki kitab suci al-Qur’an. Sebagai sumber utama, al-Qur’an mengandung berbagai ajaran. Di kalangan ulama ada yang membagi kandungan al-Qur’an kepada tiga kelompok besar, yaitu aqidah, khuluqiyyah dan ‘amaliah. Aqidah berkaitan dengan dasar-dasar keimanan. Khuluqiyah ber­kaitan dengan etika atau akhlak. Dan amaliah berkaitan dengan aspek-aspek hukum yang muncul dari aqwal (ungkapan-ungkapan), dan af’al (perbuatan-perbuatan manusia). Kelompok terakhir (‘ama­liah) ini, dalam sistematika hukum Islam dibagi ke dalam dua besar. Pertama ; Ibadat, yang di dalamnya diatur pola hubungan manusia dengan Tuhan. Kedua ; mu’amalah, yang di dalamnya diatur pola hubungan antara sesama manusia.[1]

Hukum tentang ‘amaliah kemudian lebih dikenal dengan sebutan fiqh, yang bearti “paham yang mendalam”. Bila “paham” dapat digunakan untuk hal-hal yang bersifat lahiriyah, maka fiqh berarti paham yang menyampaikan ilmu zahir kepada ilmu bathin. Karena itulah at-Tirmizi menyebutkan “fiqh tentang sesuatu”, berarti mengetahui batinnya sampai kepada ke dalamannya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa fiqhun atau paham tidak sama dengan ‘ilmu walaupun wazan lafaznya sama. Meskipun belum menjadi ilmu, paham adalah pikiran yang baik dari segi kesiapannya menangkap apa yang yang dituntut. Ilmu bukanlah dalam bentuk zhanni seperti paham atau fiqh yang merupakan ilmu tentang hukum yang zhanni dalam dirinya.

Secara definitif, fiqh berarti “ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang tafsili”. Dalam definisi ini fiqh diibaratkan dengan ilmu karena fiqh itu semacam ilmu pengetahuan. Memang fiqh itu tidak sama dengan ilmu seperti disebutkan di atas, fiqh itu bersifat zhanni. Fiqh adalah apa yang dapat dicapai oleh mujtahid dengan zhannya, sedang ilmu tidak bersifat zhanni seperti fiqh. Namun karena zhan dalam fiqh ini kuat maka ia mendekati ilmu, karenanya dalam definisi ini ilmu digunakan juga untuk fiqh.

Dalam definisi di atas terdapat batasan atau fasal yang disamping menjelaskan hakikat dari fiqh itu sekaligus juga memisahkan arti kata fiqh itu dari yang bukan fiqh. Batasan itu adalah melalui penggunaan kata hukum, syar’iyyah, ‘amaliah dan penggunaan kata digali dan ditemukan serta kata tafsili.

Al-Amidi memeberikan definisi yang berbeda dengan yang di atas, yaitu “Ilmu tentang seperangkat hukum-hukum syara’ yang bersifat furu’iyah yang berhasil didapatkan melalui penalaran atau istidlal”.[2]

Dengan menganalisa kedua definisi di atas dapat ditemukan hakikat fiqh, yaitu ;

1. Fiqh itu adalah ilmu tentang hukum Allah;

2. Yang dibicarakan adalah hal-hal yang bersifat ‘amaliyah furu’iyah;

3. Fiqh itu digali dan ditemukan melalui penalaran dan istidlal seorang mujtahid atau faqih.

Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan bahwa fiqh itu adalah “dugaan kuat yang dicapai seorang mujtahid dalam usahanya menemukan hukum Allah”. Dari pengertian ini terlihat kaitan yang sangat erat antara fiqh dan syari’ah, dimana syari’ah diartikan sebagai “ketentuan yang ditetapkan Allah tentang tingkah laku manusia di dunia dan akhirat”. Adapun menurut al-Syathibi, syari’ah adalah :

إِنَّ مََعْنَى الشَّرِ يْعَةِ أَ نَّـهَاتَحَدُّ لِلْمُكَلَّفِيْنَ حُدُوْدًا فِى أَفْعَالِهِمْ وَ أَقْوَا لِهِمْ وَاعْتِقَادَتِهِمْ

Artinya : “arti syari’at adalah ketentuan-ketentuan yang membuat batasan-batasan bagi para mukallaf baik mengenai perbuatan, perkataan, dan i’tiqad mereka.[3]

Ketentuan Allah itu terbatas dalam firman dan penjelasannya melalui lisan Nabi Muhammad saw. Semua tindakan manusia di dunia dalam mencapai kehidupan yang baik itu harus tunduk kepada kehendak Allah dan Rasul-Nya. Untuk mengetahui keseluruhan apa yang dikehendaki Allah tentang tingkah manusia itu, harus ada pemahaman mendalam tentang syari’ah, sehingga secara ‘amaliah, syari’ah dapat diterapkan dalam kondisi dan situasi bagaimanapun juga. Hasil pemahaman itu dituangkan dalam bentuk ketentuan yang terinci. Ketentuan terinci tingkah laku mukallaf yang diramu dan diformulasikan sebagai hasil pemahaman terhadap syari’ah itu disebut fiqh.

B. Pengertian Hukum Islam.

Di Indonesia, kata syari’ah sering disebut pula dengan nama hukum Islam, yang bermakna, “ketetapan Allah dan Rasul-Nya, atau ketetapan perintah Allah dan Rasul-Nya baik untuk mengerjakan suatu pekerjaan atau meninggalkan larangan dan menerangkan kebolehan mengerjakan atau meninggalkan”.[4] Dalam pengertian Ushul Fiqh, Hukum Islam adalah ; “Seperangkat peraturan berdasarkan wahyu Allah dan Rasul-Nya tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini mengikat untuk semua yang beragama”[5].


[1] Abd al-Wahab Khalaf, ‘Ilm Ushul al-Fiqh, Dar al-Kuwaitiyyah, Kairo, 1968, hlm. 32

[2] Syaifuddin Abi al-Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, Al-Ihkam Fi Ushul al- Ahkam, Juz IV, Daar al-Fikr, Beirut, 1996, hlm. 227

[3] Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Ushul Fikih, Amzah, Jakarta, 2005, hlm. 307

[4] M. Abdul Mujeib dkk, Kamus Istilah Fiqh, PT Pirdaus, Jakarta, 1994, hlm 106

[5] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997, hlm. 5

2 thoughts on “PENGERTIAN FIQH, SYARI’AH DAN HUKUM ISLAM

  1. Assalamu’alaikum.
    Saya minta tlg, kalau ada E-book ushul Fiqh Abdul Wahab Khalaf Bahasa Indonesia Tlg Kirim ke email saya, kalau tidak ada yang PDF juga boleh. sukron
    Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s