“TERMEHEK-MEHEK” PELAJARAN UNTUK KEPOLISIAN

Pada tanggal 3 Mei 2008 merupakan awal mula disiarkannya acara reality show yang bertajuk “termehek-mehek” di trans tv dan dipandu oleh Mandala dan Panda, di setiap hari sabtu dan minggu pukul 18.15 wib. Acara ini menjadi top rank di 2008, di antara acara-acara reality show lainnya, karena selain membatu client¬-nya mencari kerabat atau kekasih yang sudah cukup lama menghilang. Acara ini juga terkadang menyuguhkan cerita sedih diakhir acaranya karena yang ditemukan sudah menginggal atau gila. Bagi banyak orang, acara “termehek-mehek” merupakan salah satu sarana pendidikan bagi keluarga tentang pentingya dan indahnya kasih sayang terhadap sesama, di dunia yang penuh dengan kekerasan, kekejian, iri-dengki, pembunuhan, dll yang begitu menjadi-jadi. Meskipun banyak orang yang menyangsikan, apakah acara tersebut benar adanya atau hanya permainan belaka. Acara reality show yang begitu cepat populer ini pada perkembangannya harus menyuguhkan cerita yang lebih hot, sehingga penonton menjadi terkaget-kaget dan akan terus bersemangat untuk menontonnya kembali diminggu yang akan datang. Semangat untuk menjadi lebih baik inilah yang kemudian membuat penulis terperangah karena kali ini, suguhannya menyangkut dunia hitam yang menurut penulis, belum tersentuh dengan baik oleh aparat kepolisian. Sebagai contoh adalah, ketika team “termehek-mehek” bersama client mencari ibu yang telah meninggalkan bayinya yang baru berumur seminggu. Pada saat itu mereka mendapatkan bahwa sang ibu ternyata merupakan artis blue film yang sangat terkenal, dan Mandala sebagai salah satu pemandu acara tersebut juga dengan mudah mendapatkan lokasi production house untuk film-film seperti itu dan masuk ke dalamnya. Contoh lainnya adalah, ketika Mandala dan Panda begitu mudah mendapatkan lokasi (ketika acara disebut dengan markas) penjualan wanita penghibur dan juga tempat berlangsungnya pemotretan untuk foto-foto naked. Jika disimpulkan, maka kasus pornografi terstruktur yang ditemukan oleh team termehek-mehek inilah yang begitu penting untuk diselidiki lebih mendalam. Oleh karena berdasarkan pemaparan contoh-contoh di atas, maka didapatkan pemahaman betapa mudahnya team termehek-mehek ini mendapatkan informasi komunikasi dan lokasi tentang kasus-kasus kriminalitas pornografi terstruktur di atas. Jika acara reality show termehek-mehek saja begitu mudah mendapatkannya, maka kenapa kasus ini begitu sulit untuk dijaring oleh aparat kepolisian di Indonesia? Dengan demikian, acara reality show di atas sesungguhnya telah menjadi cambuk pelajaran yang sangat berharga demi tegaknya institusi Polri yang lebih baik. Inilah yang mungkin harus diperhatikan bersama oleh kita semua khususnya para penegak hukum yang berada di bawah institusi Polri. Akan menjadi miris rasanya, ketika aparat kepolisian tidak dapat mengungkap kejahatan-kejahatan pornografi tersetruktur di atas. Tugas Kepolisian Dalam hal ini, bukan maksud penulis untuk mengajari aparat kepolisian tentang tugasnya sebagai anggota Polri. Akan tetapi hal ini perlu penulis tuangkan demi mengingatkan tugas penting mereka yang mungkin terlupakan sehingga acapkali dianggap lalai dan tidak profesional. Memang, untuk meningkatkan profesionalisme Polri kedepan harus ada dukungan dan kepercayaan dari semua pihak, khususnya dukungan masyarakat. Dan kepercayaan bisa diperoleh apabila setiap anggota Polri mampu memberikan yang terbaik sesuai dengan harapan masyarakat. Sesuai dengan isi Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI pasal 4 disebutkan; Fungsi Kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketetiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Pasal 4 menyebutkan; Kepolisian Negara Republik Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat, serta tertibnya ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Adapun mengenai tugas dan wewenangnya disebutkan di dalam pasal 13 dan 14. Pasal 13 berbunyi; Tugas Pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah (a) memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (b) menegakkan hukum dan (c) memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Kemudian dalam pasal 14 nomor (1) huruf (g) disebutkan bahwa Polri bertugas melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya, termasuk masalah pornografi tersetruktur. Harapan Besar Terhadap Polri Berdasarkan ungkapan undang-undang di atas, maka dapatlah dipahami bersama, betapa institusi Polri sangat berarti bagi terciptanya masyarakat yang aman dan tentram. Bahkan demi terwujudnya cita-cita di atas, di setiap pergantian kepemimpinan ditubuh Polri, setiap pemimpin yang baru selalu menunjukkan taringnya dengan penanggakapan para penjudi (masa Jend. Sutanto) dan penangkapan para preman pada saat ini (Jend. Bambang Hendarso). Bahkan yang lebih menghebohkan dan sangat membanggakan adalah, gudang-gudang pembuat barang-barang narkotika dapat terungkap dengan baik pada masa keduanya. Namun perlu diperhatikan disisi yang lain adalah, kejahatan yang dapat merusak moral itu lebih parah dari pada narkoba. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa “termehek-mehek” dalam hal ini, telah membuka lembaran dunia hitam pornografi dan penjualan manusia (trafficking) di Indonesia. Dampak negatif kejahatan yang dapat merusak moral di atas, lebih berbahaya dari pada ganja dan narkotika, walaupun korban yang jatuh akibat narkotika sangat kasat mata. Sebab, pornografi dan sadisme merusak jiwa, sedangkan ganja dan narkotika hanya merusak tubuh. Ganja dan narkotika adalah bahaya yang selalu diawasi, sedangkan pornografi dan sadisme beredar dengan bebas. Lebih dari pada itu, pengedar ganja dan narkotika di hukum jika mereka tertangkap, sedangkan produsen film (oknum pornografi) di sanjung dan dipuji jika ia meraih sukses. Terakhir, pornografi meracuni masyarakat sebelum mereka diracuni oleh narkotika dan mematikan mereka sebelum dimatikan oleh narkotika. Maka semua orang yang ikut andil dalam produksi mulia dari penulis naskah, sutradara, bintang film, badan pelaksana, pelaksana shooting, dan produser bertanggung jawab di hadapan Allah swt atas tindakan kriminal mereka terhadap masyarakat, khususnya siapa saja yang terkena pengaruh. Berdasarkan pemaparan di atas, merupakan harapan besar terhadap institusi Polri agar dapat menghabisi semua kegiatan bisnis pornografi yang terus beredar di Indonesia ini. Paling tidak, data yang paling mudah dapat didapat dari kerja team termehek-mehek ketika menonolong client-nya mencari kerabatnya. Jangan sampai kepolisian hanya melihat yang besar namun melupakan sesuatu yang dianggap kecil, padahal hal tersebut juga merupakan sesuatu yang besar. Jangan sampai juga gajah dipelupuk mata tidak terlihat, sedangkan semut diseberang lautuan terlihat. wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s