KEJAHATAN KEMANUSIAAN DI PALESTINA;Moment Pan-Islam Jilid 2

“Kejahatan kemanusiaan terus berlangsung di daerah Gaza Palestina berupa agresi militer Israel yang tidak terkontrol dengan jumlah korban melebihi 1300 jiwa di pihak Palestina. Krisis di Gaza saat ini sesungguhnya dapat dijadikan sebagai moment Pan-Islam jilid 2.”

Banyak orang yang mengatakan bahwa konflik antara Palestina dan Israel bukanlah konflik agama, akan tetapi ia merupakan konflik perebutan daerah kekuasaan semata. Pada dasarnya, Konflik Israel-Palestina ini bukanlah sebuah konflik dua sisi yang sederhana, seolah-olah seluruh bangsa Israel memiliki satu pandangan yang sama, sementara seluruh bangsa Palestina memiliki pandangan yang sebaliknya. Di kedua komunitas tersebut, terdapat orang-orang dan kelompok-kelompok yang menganjurkan penyingkiran teritorial total dari komunitas yang lainnya, sebagian menganjurkan solusi dua negara, dan sebagian lagi menganjurkan solusi dua bangsa dengan satu negara sekular yang mencakup wilayah Israel masa kini, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yarusalem Timur.

Konflik di atas semakin rumit ketika terdapat negara-negara lain yang menjadi penyokong konflik antara keduanya. Negara adikuasa di dunia yakni Amerika Serikat (USA) merupakan pendukung kuat Israel, sedangkan Iran, Hisbullah Libanon dan sebahagian negara-negara di Timur Tengah menjadi pendukung Palestina. Adapun sisanya, cenderung menarik diri (resignasi) dari konflik dua negara tersebut.

Sungguh ironi sebenarnya, di mana USA sebagai pencetus demokrasi dan HAM akantetapi ia pula menjadi virus (yang sangat meresahkan) di dalam tubuh demokrasi dan penegakan HAM itu sendiri. Virus tersebut terdeteksi secara jelas dan tidak dapat dimusnahkan ketika PBB sebagai organisasi persatuan bangsa-bangsa dunia, tidak mampu berbuat apa-apa tentang konflik di atas, karena USA terus mendukung agresi militer Israel tanpa batas.

Secara tidak disadari, konflik di atas sesungguhnya dapat memunculkan gerakan-gerakan Islam garis keras yang lebih besar lagi di dunia ini, juga termasuk di Indonesia. Dan jika ini terjadi, maka tentunya setiap negara harus terus mempersiapkan diri dari segala ancaman teror yang akan muncul di masyarakat. Untuk itu, dalam megantisipasi segala kemungkinan negatif di atas, maka diperlukan persatuan umat Islam sedunia (Pan-Islam) jilid dua.

Sejarah Munculnya Pemikiran Tentang Pan-Islam

Pemikiran tentang Pan-Islam pertamakali muncul dari seorang pambaharu Islam yang bernama Jamaluddin al-Afghani. Pemikiran pembaharuannya berdasar atas keyakinan bahwa Islam adalah agama yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan semua keadaan. Adapun sebab-sebab kemunduran umat Islam yang bersifat politis ialah perpecahan yang terdapat di kalangan umat Islam, pemerintahan absolut, mempercayakan pimpinan umat kepada orang-orang yang tak dapat dipercayai, mengabaikan masalah pertahanan militer, menyerahkan administrasi negara kepada orang-orang tidak kompeten dan intervensi asing. Lemahnya rasa persaudaraan Islam juga merupakan sebab bagi kemunduran umat Islam. Tali persaudaraan Islam telah ter­putus, bukan di kalangan awam saja, tetapi juga di kalangan ‘alim-ulama. Ulama Turki tidak kenal lagi pada ulama Hijaz, demikian pula ulama India tidak mempunyai hubungan dengan ulama Afghanistan. Tali persaudaraan antara raja-raja Islam juga sudah terputus. (Harun Nasution, 2003)

Jalan untuk memperbaiki keadaan umat Islam, menurut al-Afghani ialah, melenyapkan pengertian-pengertian salah yang dianut umat pada umumnya, dan kembali kepada ajaran-ajaran dasar Islam yang sebenarnya. Hati mesti disucikan, budi pekerti luhur dihidupkan kembali, dan demikian pula dengan kesediaan ber­korban untuk kepentingan umat. Dengan berpedoman pada ajaran-ajaran dasar, umat Islam akan dapat bergerak maju men­capai kemajuan. Corak pemerintahan otokrasi harus diubah dengan corak pemerintahan demokrasi. Kepala negara harus mengadakan syura dengan pemimpin-pemimpin masyarakat yang banyak mempunyai pengalaman. Pengetahuan manusia secara individual terbatas sekali, oleh sebab itu, Islam dalam pendapat al-Afghani menghendaki pemerintahan republik yang di dalamnya terdapat kebebasan mengeluarkan pendapat dan kewajiban kepala negara tunduk kepada undang-undang dasar. Di atas segala-galanya persatuan umat Islam mesti di­wujudkan kembali. Dengan bersatu dan mengadakan kerja sama yang eratlah maka umat Islam akan dapat kembali memperoleh ke­majuan. Persatuan dan kerja sama merupakan sendi yang amat penting dalam Islam. Itulah yang disebut dengan Pan-Islam, yakni persatuan seluruh umat Islam (Harun Nasution, 2003).

Upaya Pan-Islam Jilid 2

Pemikiran Pan-Islam yang dirumuskan oleh Jamaluddin al-Afghani sesungguhnya merupakan “gereget” politik yang tak terbantahkan atas kekalahan pasukan-pasukan Islam di Timur Tengah dari penjajahan bangsa Eropa. Padahal, sejarah membuktikan bahwa bangsa Arablah yang telah membuka gerbang hitam tanah Eropa, beserta pola pikirnya.

Peradaban baru di Eropa tersebut telah memunculkan istilah demokrasi dan HAM. Adapun istilah demokrasi beserta bentuknya mulai muncul sejak Revolusi Amerika tahun 1776, kemudian disusul oleh Revolusi Perancis tahun 1789 (Masykuri Abdillah, 1999). Kemudian, tiga negara di dunia yang dianggap sebagai peletak dasar paham adanya HAM (Hak Asasi Manusia) yakni Inggris, Amerika, dan Prancis (Hartono Mardjono, 1997).

Penjelasan di atas ini sengaja penulis tuangkan sebagai sarana awal untuk menunjukkan bahwa bangsa Eropalah yang pertama kali bergairah untuk menerapkan dua konsep di atas, meskipun di dalam Islam sesungguhnya telah menerapkan hal di atas namun dengan bahasa yang berbeda, yang secara makro berupa konsep syuro dan rahmatan lil’alamin (membawa rahmat bagi semseta alam).

Persatuan umat Islam di seluruh dunia (Pan-Islam) jilid 2 yang penulis maksudkan di sini bukanlah seperti konsep Pan-Islam awal yang dikumandangkan oleh Jamaluddin al-Afghani, akan tetapi ruh yang ada di dalamnya itulah (yakni ruh perjuangan bersama) yang perlu diaktualisasikan di dalam konteks dunia Internasional saat ini, khususnya terhadap penanggulangan krisis Palestina yang berkepanjangan. Hal ini perlu dilakukan sebagai bagian dari solidaritas sesama umat Islam karena organisasi Internasional (yakni PBB) selalu tidak pernah memiliki daya upaya ketika harus menyelesaikan masalah di atas. Oleh karenanya, agresi militer Israel ke Palestina kali ini, merupakan moment penting disosialisasikannya kembali Pan-Islam jilid 2.

Pan-Islam dapat menjadi solusi karena di dalam ajaran Islam menolong merupakan suatu kewajiban, dan menyediakan sarana untuk dapat menolong (dalam hal ini Pan-Islam) juga merupakan hal yang diwajibkan, sebagaimana kaidah fiqh menyebutkan “ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib” (tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengan sesuatu, maka adanya sesuatu itu menjadi wajib hukumnya). Pan-Islam jilid kedua ini merupakan sarana penolong yang seharusnya tidak hanya terbatas pada penggalangan dana, penyelesaian masalah melalui jalur diplomatik, serta pengiriman relawan kesehatan dan lain sebaginya, apalagi pengiriman relawan peranga Akan tetapi lebih besar dari pada itu, seperti memutus urat nadi mereka diseluruh negara-negara yang berada di bawah naungan organisasi Islam Internasional.

Perlu diingat, bahwa Israel adalah negara kecil namun ia menguasai ekonomi USA, maka pantas jika negara adikuasa tersebut terus mempertahankan Israel. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Amerika merupakan pengguna minyak terbesar di dunia dan minyak selalu digunakan sebagai penggerak lajur ekonomi mereka. Oleh karenanya dapat dipahami bahwa ekonomilah urat nadi mereka, dengan demikian maka segala cara dapat dilakukan oleh pemerintah USA untuk dapat menguasai minyak dunia yang ada diseluruh tanah Arab. Untuk itu, Pan-Islam yang paling efektif di era ini adalah dengan cara penguasaan kembali aset-aset bangsa yang selama ini telah dikuasi mereka, khususnya dibidang energi.

Pan-Islam seperti ini memang harus dimotori oleh salah satu negara yang kuat dan berani, seperti yang pernah ditunjukkan oleh negara-negara Arab produsen minyak yang memboikot suplai minyak ke negara-negara pendukung Israel pada tahun 1967 dan menimbulkan krisis ekonomi yang mengejutkan di Barat hingga mempengaruhi kondisi politik mereka pada tahun-tahun berikutnya. Semoga saja kali ini, Presiden Indonesia sebagai pemimpin negara yang mayoritas warga negaranya muslim, serta pemimpin negara yang paling banyak energi buminya dikuasai oleh asing, memiliki keberanian untuk menjadi motor penggerak Pan-Islam jilid 2. wallahu ‘alam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s