TEORI “NASAKH” ABDULLAH AHMAD AN-NA’IM

an-na'imAbdullah Ahmed an-Na’im (selanjutnya disebut Na’im) dikenal di dunia internasional sebagai pakar Islam dan aktivis HAM, dalam perspektif budaya.[1] Na’im lahir di Sudan, tanggal 19 November 1946. Pendidikan dasar sampai sarjana ia tempuh di negeri kelahirannya sendiri, Sudan. Sedangkan studi magister dan program doktor dilaluinya di luar negeri. Hukum, termasuk di dalamnya hukum Islam adalah bidang yang begitu diminati Na’im sejak ia muda.

Menurut Na’im, dalam dunia modern saat ini, upaya reformasi syari’ah Islam untuk menjaga eksistensinya harus dilakukan di luar framework Syari’at Historis. Hal ini karena struktur Syari’ah Historis yang ada telah membatasi wewenang ijtihad, sehingga menyebabkan ijtihad tidak dapat berfungsi secara maksimal. Padahal di satu sisi, peran ijtihad cukup penting sebagai alternatif bagi pembaharuan dan pengembangan hukum Islam, juga pemecahan berbagai persoalan hukum Islam aktual. “Pembatasan wewenang ijtihad” yang Na’im maksud adalah, tidak bisanya ijtihad dilakukan pada hukum yang sudah disentuh al-Qur’an secara definitif. Wilayah kerja ijtihad terbatas hanya pada persoalan yang tidak ada atau tidak diatur secara tegas (qath’i) di dalam al-Qur’an dan Sunnah, serta belum ada ijma’ ulama mengenai masalah tersebut. Masalah-masalah yang sudah diatur oleh nash secara qath’i tidak boleh diubah dengan ijihad, bahkan tidak termasuk lapangan ijtihad, atau tidak menjadi kewenangannya. Demikian juga masalah yang sudah memiliki ketetapan hukum berdasarkan ijma. Dimana ijma juga  memiliki nilai qath’i sebagaimana kedua sumber Syari’ah tersebut. Akibatnya, dalam framework Syari’at Historis itu, hukum-hukum yang mendesak untuk direformasi saat ini yang masuk kategori ini, seperti hukum qishas, status wanita, hudud, status non muslim, hukum waris dan seterusnya[2] tidak dapat direformasi[3].

Na’im juga mengatakan, dengan pendekatan baru itu, teknik naskh adalah satu model solusi untuk merumuskan Syari’ah Modern,[4] tanpa harus melukai perasaan umat Islam. Alasannya, dengan teknik tersebut memungkinkan untuk memilih ayat-ayat al-Qur’an yang diperlukan dan membatasi teks-teks al-Qur’an dan Sunnah tertentu untuk tujuan-tujuan penetapan hukum oleh teks-teks al-Qur’an dan Sunnah lain.[5] Lebih lanjut Na’im mengatakan bahwa, dengan teknik ini, ia tidak sedang melakukan tanggung jawab para ulama dan fuqaha’ klasik untuk mengembalikan orang-orang beriman ke jalan yang benar (syari’ah), tapi ia berusaha mengembangkan hukum dan teologi Islam ke arah yang baru. Kebekuan mentalitas umat Islam kepada sikap yang tidak dapat berubah terhadap hukum, politik dan agama, akan berusaha ia (Na’im) transformasikan dari sudut pandang Islam, sepenuhnya bersifat internal Islam.[6]

Proses naskh yang digagas Na’im ini bersifat tentatif, sesuai dengan kebutuhan. Ayat yang dibutuhkan pada masa tertentu, ayat itulah yang diberlakukan (muhkam), sedangkan ayat yang tidak diperlukan (tidak relevan dengan perkembangan kontemporer) dihapuskan atau ditangguhkan (mansukh) penggunaannya. Karena itu, naskh menurut Na’im bisa berupa penangguhan ayat yang datang belakangan oleh ayat yang turun lebih dahulu atau sebaliknya, bila memang kondisi-kondisi aktual menghendakinya. Karena itu tepat dikatakan bahwa, masing-masing ayat mengandung validitas dan aplikabilitasnya sendiri, ungkapnya. Kaum muslimin bebas memilih ayat mana yang sesuai dengan kebutuhan mereka, kata Na’im.[7] Sehingga, ayat yang sudah dinyatakan mansukh apabila diperlukan dapat digunakan lagi dikesempatan lain. Lebih lanjut Na’im juga menyatakan, membiarkan naskh menjadi permanen berarti tidak ada gunanya pewahyuan teks-teks tersebut.[8] Selain itu, jika membiarkan naskh menjadi permanen juga berarti membiarkan umat Islam menolak bagian dari agama mereka yang terbaik. Sementara naskh secara esensial hanyalah proses logis yang diperlukan untuk menerapkan nash yang tepat dan menunda penerapan nash yang lain, sampai saatnya diperlukan lagi.[9] Di sini, Na’im mengelaborasi pemikirannya dengan pemahaman gurunya, Mahmoud Mohamed Taha. Bagi Taha, naskh adalah suatu proses evolusi Syari’ah, yakni perpindahan dari satu teks ke teks lain yang relevan dan kontekstual. Dari satu teks yang pantas untuk mengatur kehidupan abad ketujuh dan telah diterapkan, kepada teks yang pada waktu itu terlalu maju, dan karena itu dibatalkan.

Pendapat Na’im ini jelas sangat bertentangan dengan apa yang sudah dibangun oleh ulama Islam Klasik. Na’im menggunakan teknik naskh hanya untuk memilih ayat-ayat Al-Qur’an yang diperlukan dan membatasi teks-teks Al-Qur’an dan Sunnah tertentu untuk tujuan-tujuan penetapan hukum oleh teks-teks al-Qur’an dan Sunnah lain. Ayat-ayat al-Qur’an yang diperlukan yang Na’im maksud di sini adalah yang sesuai dengan kondisi negara-bangsa yang saat ini ada, dimana konstitusionalisme, HAM, dan kewarganegaraan menjadi dasarnya.[10] Alasan lain yang ia sampaikan, pertama, begitu luasnya ilmu Allah swt, sehingga yang terjadi sesuai dengan keimanan umat Islam, di mana al-Qur’an merupakan wahyu terakhir dan Nabi Muhammad saw juga merupakan Nabi terakhir. Konsekuensinya, al-Qur’an harus berisi dan Nabi harus mendakwahkannya semua yang dikehendaki Allah untuk diajarkan, baik berupa ajaran untuk diterapkan segera maupun ajaran-ajaran yang diterapkan untuk situasi yang tepat di masa depan yang jauh. Kedua, demi martabat dan kebebasan yang dilimpahkan Allah kepada seluruh umat manusia. Di mana dalam hal ini, Allah swt menghendaki umat manusia belajar melalui pengalaman praktis mereka sendiri dengan tidak bisa diterapkannya pesan Mekkah yang lebih awal, yang kemudian ditunda dan digantikan oleh pesan Madinah yang lebih praktis. Dengan cara itu, masyarakat akan memiliki keyakinan yang lebih kuat dan lebih otentik tentang kemungkinan dipraktikkannya pesan yang didakwahkan dan akhirnya diterapkan selama masa Madinah.

Sementara itu, rumusan naskh yang dilahirkan ulama Islam mensyaratkan bahwa naskh baru bisa dilakukan manakala memenuhi aturan/syarat yang telah ditentukan. Imam Muhammad Abu Zahrah contohnya, dalam me-nasakh suatu nash mengajukan empat syarat[11] ; Pertama, hukum yang di-mansukh tidak diikuti oleh ungkapan yang menunjukkan atas keabadian hukum yang terkadung di dalamnya. Contoh, persaksian orang yang dikenakan sanksi karena menuduh orang lain berbuat zina, tidak akan diterima sebelum ia bertaubat. Sebabnya, nash yang menetapkan hukum ini diikuti oleh ungkapan yang menunjukkan atas berlakunya hukum tersebut selama-lamanya.

والذين يرمون المحصنت ثم لم يأتوا بأربعة شهدآء فاجلدوهم ثمنين جلدة ولا تقبلوا لهم شهادةابدا (النور: 4)

Kata abadan (selamanya) dalam ayat di atas menunjukkan bahwa hukum ini lestari dan tidak berubah.

Kedua, hukum yang mansukh itu tidak tergolong masalah-masalah yang telah disepakati oleh para cerdik pandai atas kebaikan atau keburukannya. Misalnya, perkara beriman kepada Allah swt, berbuat baik kepada kedua orang tua, jujur, adil, bohong, dan lain sebagainya.[12] Hal ini juga ditegaskan oleh Abdul Wahhab Khallaf, menurutnya, nash yang mengandung masalah-masalah kewajiban beriman kepada Allah swt, Rasul, kitab-Nya dan hari akhir, serta dasar-dasar akidah dan ibadah yang lain, tergolong dalam nash-nash yang mencakup hukum “dasar” agama Islam yang tidak dapat berubah sebab perubahan kondisi manusia dan tidak berubah menjadi baik atau jelek sebab perbedaan tolak ukur.[13] Ketiga, nash yang mengganti (nasikh) turunnya harus lebih akhir dari nash yang diganti (mansukh). Sebab, naskh berfungsi menggantikan berlakunya hukum yang terkandung dalam nash yang diganti (mansukh). Selain itu, kedua nash tersebut harus sama tingkat kekuatannya. Keempat, naskh dilakukan hanya apabila kedua nash (nasikh dan mansukh) benar-benar sudah tidak dapat dikompromikan.

Al-Zarqani juga menegaskan, naskh baru dapat dilakukan apabila terdapat dua ayat hukum yang saling bertolak belakang dan tidak dapat dikompromikan. Beliau kemudian menambahkan, bahwa, nasakh baru bisa dilakukan manakala sudah diketahui secara meyakinkan tentang perurutan turunnya ayat-ayat tersebut, sehingga yang lebih dahulu ditetapkan sebagai mansukh, dan yang kemudian sebagai nasikh.[14] Demikian juga Abd al-Rahman Ibn Ali Ibn Muhammad Ibn Jauziy mengajukan empat syarat boleh dilakukanya naskh, yaitu ; Pertama, hukum syara’ yang sudah berlaku dengan dalil syara’. Maksudnya, hukum yang di-naskh tersebut haruslah hukum syara’,[15] bukan hukum akal atau buatan manusia. Kedua, dalil syara’ yang baru. Dalil untuk menghukum syara’ itu harus dalil syara’ juga. Ketiga, objek hukum yang sama. Maksudnya, afrad yang dicakup oleh hukum berdasarkan dalil syar’i yang pertama sama dengan afrad  yang dicakup dalil syar’i yang terakhir datang. Dan jika objeknya berbeda sama sakali, maka tidak terjadi nasakh. Keempat, hukum yang baru.[16] Pendapat mereka juga diperkuat oleh al-Qattan, menurutnya, al-nasikh wa al-manuskh dapat diketahui melalui; Pertama, terdapat keterangan yang tegas dari Nabi saw atau sahabat. Contoh, Hadits Nabi yang menjelaskan tentang nikah mut’ah, “Dari Rabi’ ibn Sabrah bahwa ayahnya meyampaikan kepadanya …(Rasullullah saw) berkata; wahai sekalian manusia, saya dahulu mengizinkan kamu istimta’ dengan wanita (nikah mut’ah), dan sekarang Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat. Siapa di antara kamu yang masih memiliki wanita mut’ah, lepaskanlah dan jangan minta lagi sedikitpun dari apa yang kamu berikan kepada mereka (HR. Muslim).”[17] Kedua, terdapat kesepakatan umat antara ayat nasikh dan ayat yang di-mansukh. Jika tidak ada nash yang menjelaskan secara langsung tentang pembatalan atau perubahan hukum, tetapi dapat dipahami langsung dari dalil-dalil tersebut, maka harus ada ijmak ulama yang menetapkan hal tersebut. Ketiga, ada dua ayat yang bertentangan, dan diketahui mana yang pertama dan mana yang kedua.

Dari sini dapat diketahui bahwa, para ulama Islam sangat berhat-hati dalam melakukan naskh. Dari sisi kandungan ayat, mereka mengatakan bahwa, ada hukum-hukum yang terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah yang tidak dapat di-nasakh, karena ia menyangkut masalah-masalah pokok (dasar) dalam Islam, seperti nash yang mengandung masalah-masalah kewajiban beriman kepada Allah swt, Rasul, kitab-Nya dan hari akhir, serta dasar-dasar akidah dan ibadah yang lain. Semua ayat yang mengandung hukum demikian sama sekali tidak dapat berubah walaupun terjadi perubahan kondisi manusia.  Hal ini sama sekali tidak Na’im perhatikan. Ia malah menjadikan kondisi sosial-historis sebagai acuan perubahan (naskh). Di mana ia telah mensakralkan prinsip HAM, yang notabenenya hanyalah produk pikiran manusia yang dipengaruhi oleh setting sosial-politik dan kerangka filosofis-religius sekuler para pencetusnya. Untuk tujuan ini, dengan bersusah payah ia menegaskan, bahwa Islam sebenarnya sangat mendukung HAM.[18] Tentu kita menyadari, pandangan Na’im ini berakibat sangat fatal. Di mana jika diikuti, pelaksanaan ayat-ayat al-Qur’an menjadi tidak menentu, tergantung kondisi sosial-historis yang berkembang.

[1] Muhyar Fanani, “Abdullah Ahmed Na’im: Paradigma Baru Hukum Publik Islam”, dalam A. Khudori Soleh (ed.)., Pemikiran Islam Kontemporer, (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2003), h. 3

[2] Ibid., h. 49-50

[3] Inilah delematis yang dihadapi para pembaharu hukum Islam dalam bangunan framework lama yang Na’im lihat. Di satu sisi mereka disuruh berijtihad, tapi di sisi lain mereka cenderung dihalangi oleh bangunan Ushul Fikih klasik, “la ijtihad fi mawrin an-nash”.

[4] Lihat Abdullah Ahmed An-Na’im, Toward an Islamic Reformation: Civil Liberties, Human Right, and International Law, (New York: Syracuse University Press, 1990)

[5] Ibid.

[6] Lihat An-Na’im, “Sekali Lagi, Reformasi Islam”, dalam Tore Lindholm dan Kari Vogt (eds.), Dekonstruksi Syari’ah (II), Kritik Konsep, Penjelahan Lain, alih bahasa oleh Farid Wajidi, (Yogyakarta: LKiS, 1993), h. 111

[7] Adang Jumhur Salikin, Reformasi Syari’ah dan HAM dalam Islam: Bacaan Kritis terhadap Pemikiran An-Na’im, (Yogyakarta: Gema Media, 2004), h. 136-137

[8] Lihat An-Na’im, Toward an Islamic Reformation: Civil Liberties, Human Right, and International Law, (New York: Syracuse University Press, 1990)

[9] Ibid., Jauh sebelum Na’im, gurunya, Taha telah menyatakannya. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab, pemikiran Na’im, sebagaimana yang ia akui sendiri adalah hasil apresiasi atas pemikiran Mahmoud Mohamed Taha, terutama teori naskh Taha yang dijadikan dasar reformasi Syari’ah yang ia gagas. Lihat Mahmud Muhammad Taha, Arus Balik Syari’ah, alih bahasa oleh Khairan Nahdiyyin, (Yogyakarta: LKiS, 2003), h. viii

[10] Lihat An-Na’im, Islam dan Negara Sekuler: Menegosiasikan Masa Depan Syari’ah, alih bahasa oleh Sri Murniati, (Bandung: Mizan, 2007), h. 146-147

[11] Lihat Imam Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, aloh bahasa oleh Saifullah Maksum dkk., (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), h. 293-294.

[12] Berdasarkan hasil penelitian, para ulama telah sepakat bahwa masalah-masalah yang telah diterima oleh setiap generasi dalam setiap masa sebagai sesuatu yang baik yang harus diterima atau sesuatu yang buruk yang harus dihindari, tidak dapat diganti (nasakh). Lihat Imam Muhammad Abu Zahrah, Ibid., h. 294

[13] Ini adalah satu dari tiga kriteria yang ditetapkan oleh Abdul Wahhab Khallaf bahwa suatu nash tidak dapat di-nasakh, dua lainnya adalah pertama, nash yang mengandung hukum yang bentuk klaimatnya menunjukkan kekuatan hukum itu, karena penguatan itu menunjukkan tidak adanya nasakh. Contohnya: sabda rasul saw, al jihadu madin ila yaumi al-qiyamah (jihad itu berlangsung sampai hari kiamat). Di sini, keberadaan jihad yang berlangsung sampai hari kiamat menunjukkan bahwa jihad itu tetap ada selama dunia ini ada. Kedua, nash yang menceritakan kejadian-kejadian yang telah lalu (masa sebelum nabi saw), seperti firman-Nya: fa amma tsamudu fa uhliku bi at-thoghiyati. Wa amma ‘adun fa uhliku birihin shorshorin ‘atiyatin (adapun kaum tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angina yang sangat dingin lagi amat kencang) (qs. Al-haaqqah: 5-6). Menghapus nash yang berbentuk berita ini mendustakan yang membawa berita. Sedangkan dusta bagi allah adalah mustahil. Baca Adbul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fikih: Kaidah Hukum Islam, aloh bahasa oleh Faiz el Muttaqien, (Jakarta: Pustaka Amani, 2003), h. 332-334

[14] Lihat Abdul ‘Azim Al-Zarqani, Manahil al-’Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Mesir: Al-Halabiy, 1980), Jil. II, h. 209

[15] Hukum Syara’ adalah hukum yang tertuang dalam al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan tindakan mukallaf, baik berupa perintah (wajib, mubah), larangan (haram, makruh), ataupun anjuran.

[16] Lihat Abd al-Rahman Ibn Ali Ibn Muhammad Ibn Jauziy, Nawasikh al-Qur’an, (Bairut: Dar Kutub al-Ilmi, 1405), h. 24

[17] Hadith ini menjelaskan pembatalan (nasakh) nikah mu’ah yang sebelumnya diperbolehkan, tapi setelah hadith ini disampaikan oleh nabi saw, hukumnya berubah menjadi haram. Lihat Imam Muslim ibn Hajjaz al-Kusairy al-Naisabury, Sahih Muslim, (Bairut: Dar al-Ihya’ Turas al-Araby, t.th.), Juz. IV, h. 132

[18] Lihat An-Na’im, Islam dan Negara Sekuler: Menegosiasikan Masa Depan Syari’ah, alih bahasa oleh Sri Murniati, (Bandung: Mizan, 2007)

BUKU NALAR FIQH MUHAMMAD QURAISH SHIHAB

Buku 5 ; Nalar Fiqh Muhammad Quraish Shihab

Bismillahirrahmanirrahim.

Washallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbih.

Memohon ridha Allah swt, telah hadir di akhir tahun 2014 ini buku yang yang telah dipresentasikan hasilnya di dalam International Conference on Qur’anic Studies “10 Tahun PSQ dan 70 Tahun Muhammad Qurasih Shihab” pada 16 Februari 2014 di Jakarta. Semoga buku ini dapat bermanfaat sebagai penambah khazanah keilmuan Islam di Indonesia dan bermanfaat pula bagi umat secara keseluruhan.

 

Judul : Nalar Fiqh Muhammad Quraish Shihab

Penulis : Ahmad Rajafi

Penerbit : Istana Publishing, Yogyakarta

Cetatakan : Pertama, 2014

Kata Pengantar : Dr. Rukmina Gonibala, M.Si (Rektor IAIN Manado)

 

Bagi yang berminat silahkan hubungi CV. Istana Agency.

No HP : 085729022165/ 085228049400

Website : www.istanaagency.com

Pin BBM : 7DEF672D.

 

Pengantar.

Muhmmad Quraish Shihab merupakan ulama’ sekaligus mufassir al-Qur’an di Indonesia yang begitu terkenal karena karya-karyanya yang begitu banyak dan populer yang dipublikasikan bahkan sering kali menjadi the best saler di toko-toko buku. Karya yang berjilid-jilid kajiannya dan sangat monumental darinya adalah “Tafsir al-Mishbah”. Akan tetapi belakangan, ia seringkali membahas permasalahan-permasalahan fiqh dengan cara interaksi langsung dengan kaum muslimin dari segala lapisan, baik melalui media elektronik maupun cetak yang kemudian dikumpulkan, diedit dan dicetak menjadi sebuah buku.

Salah satu kajiannya yang menurut hemat penulis masuk keranah usul al-fiqh ia tuangkan di dalam bukunya “Menabur Pesan Ilahi”, sedangkan hasil fatwa-fatwanya (fiqh) ia tuangkan seperti di dalam bukunya “Panduan Puasa”, dan “M. Qurasih Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui”. Termasuk di dalam tafsirnya pula yang terdapat bagian-bagian tentang kajian fiqh yang menarik untuk ditelaah secara mendalam. Dan pada perkembangannya muncullah tulisan-tulisan dan forum-forum diskusi yang membahas tentang pemikiran beliau, termasuk juga denga buku ini yang mengkaji pemikiran beliau dari sisi hukum Islam.

Di dalam buku ini, penulis menggunakan berbagai pendekatan sebagai alat untuk memetakan pemikiran beliau di bidang hukum Islam. Dan terakhir, harapan penulis adalah, kiranya karya ini dapat menjadi salah satu bagian penting dalam menambah referensi keagamaan dari segi pemikiran tokoh, serta menjadi kontribusi ilmiah dalam pengembangan hukum Islam Indonesia ke depan.

KHUTBAH ‘IDUL ADHA 1435 H : REKONSTRUKSI PARADIGMA KURBAN DARI RITUS SERIMONIAL MENUJU PEMBANGUNAN MANUSIA SEUTUHNYA

Oleh :

AHMAD RAJAFI SAHRAN, MHI

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر {× 7} الله أكبر كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لا إ له إلا اللهُ وَحْدَ هْ صَدَقَ وَعْدَ هْ وَ نَصَرَ عَبْدَ هْ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَ هْ ، لا إ له إلا اللهُ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ ، لا إ له إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.

اْلحَمْدُ للهِ الَّذِي مَنَّ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ الْجَسِيْمِ، اِذْ مَنَّ عَلَيْنَا بِمُحَمَّدٍ اَفْضَلِ الْخَلْقِ اَجْمَعِيْنَ، فَهَدَانَا اِلَى دِيْنِ الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْكَرِيْمُ الْحَلِيْمُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ الَّذِي خَصَّى بِالْخُلُقِ الْعَظِيْمِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَلَّذِيْنَ فَازُوْا بِالْحَظِّ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا. أما بعد

فَيَا أ يُّهَاالنَّاسُ اتَّقُواللهَ وَافْعَلُوا مَأْمُوْرَاتِهِ وَاتْرُكُوْا مَنْهِيَّاتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {الأعراف : 204} وقال أيضا: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ، فَصَلِّ لِرَ بِّكَ وَانْحَرْ ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَ بْتَرُ . التكاثر : 3-1

الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد

 

Hadirin Jama’ah Shalat ‘Idul Adha yang Dirahmati Oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak terasa perjalanan waktu hingga saat ini, masih mencatat kita sebagai bagian kelompok manusia, yang dapat ikut meramaikan ibadah sunnah ‘idul adha. Bersamaan dengan hal itu pula, satu persatu orang-orang terdekat kita, tidak terasa telah pergi mendahului kita menghadap sang Khalik Allah Jalla wa ‘Ala. Untuk itu pada kesempatan ini, marilah kita bersama-sama berdoa agar kita yang masih diberi kesempatan menghirup udara dunia ini, mampu untuk dapat terus berusaha menjadi hamba yang lebih baik, dan meraih akhirat yang penuh dengan kenikmatan, bukan murka-Nya Allah ta’ala, amin ya Rabbal ‘alamin.

 Hadirin yang Berbahagia.

Berkurban adalah salah satu ibadah sunah yang mendekati wajib, sehingga sangat ditekankan pengimplementasiannya di dalam Islam. Rasulullah Muhammad saw bersbda sebagimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya Juz. 18 hlm. 27 :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا . رواه احمد

Artinya : “Bagi siapa yang memiliki kesempatan (baik waktu dan finansial) untuk berkurban namun tidak melaksanakan, maka janganlah mendekati tempat shalat kami.” [HR. Ahmad]

Kalimat “janganlah mendekati tempat shalat kami” di dalam matan hadits tersebut, dijelaskan oleh para ulama sebagai sebuah penekanan bahwa ketika seseorang memiliki kemampuan namun tidak mau berkurban maka sesungguhnya ia telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam lubang ketamakan dan keserakahan, sehingga Rasulullah saw dan umat Islam seluruhnya tidak berhak untuk dekat bersama-sama dengannya.

Secara historis, ibadah kurban merupakan produk adopsi yang mendapatkan revisi dari perbuatan Nabi Allah Ibrahim as bersama anaknya Isma’il as. Perintah kurban yang didapatkan oleh Nabi Ibrahim as melalui mimpi yang berulang-ulang, ternyata menjadikan anaknya Isma’il as sebagai objek dari ibadah kurban tersebut. Meskipun demikian, ketika perintah Allah tersebut disampaikan oleh Ibrahim as kepada anaknya, Isma’il as dengan tegas menyatakan penerimaannya atas perintah tersebut secara totalitas.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِ نِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَ نِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ . الصافات : 102

Artinya : “Maka tatkala anak itu telah mampu untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Kisah Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimassalam yang diabadikan oleh Allah swt di dalam al-Qur’an tersebut, kini menjadi pegangan umat Islam seluruh dunia dalam mengaktualisasikan perintah agama. Namun dalam tataran sosial kemanusiaan, ibadah kurban kini hanya menjadi ritus atau ritual serimonial semata sehingga menafikan maksud substantif dari kegiatan ibadah tersebut. Oleh karenanya, pada kesempatan ibadah adhha ini, kami akan menyampaikan sebuah renungan, nasihat agama dengan judul “Rekonstruksi Paradigma Kurban Dari Ritus Serimonial Menuju Pembangunan Manusia Seutuhnya”.

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Hadirin Rahimakumullah.

Terma kurban secara etimologi, menurut Ahmad Warson Munawwir alm, di dalam al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, berasal dari kata qaruba-yaqrabu-qurbanan, yang artinya dekat dan mendekati. Sedangkan dalam tradisi Arab menurut Ahmad bin Umar al-Syathiry al-‘Uluwy al-Husaini al-Tarimy di dalam Kitab al-Yaqut al-Nafis fi Madzhab ibn Idris, hal ini dikenal dengan istilah al-udhhiyyah, yang berarti :

مَا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ تَقَرُّ بًا إِلىَ اللهِ تَعَالىَ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ إِلىَ آخِرِ أَ يَّامِ التَّشْرِيْقِ

Artinya : “Apa yang disembelih dari binatang ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. pada hari nahr (10 dzulhijjah) sampai pada akhir hari tasyriq (13 dzulhijjah).

 

Secara definitif, kurban yang bermakna dekat, bermaksud untuk untuk memberi petunjuk bahwa apa yang dilakukan oleh umat manusia tidak lain adalah hanya untuk selalu dekat dengan nilai-nilai kebaikan. Dan jika ditinjau melalui pendekatan sosial, segala bentuk kebaikan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain baik personal maupun kolektif, maka akan menghasilkan kebaikan pula yang diterimanya baik dalam waktu dekat ataupun panjang. Hal ini selaras dengan kisah Isma’il yang akan dikurbankan oleh ayahnya, di mana ketika ia mendekatkan dirinya kepada nilai-nilai kebaikan berupa kepasrahan yang dalam kepada kehendak Allah, maka dalam waktu yang cepat Allah segera mengganti objek kurban dari manusia mejadi binatang ternak. Allah swt berfirman :

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ . الصفات : 107

Artinya : “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Inilah salah satu substansi dari perintah kurban, di mana dalam membentuk manusia yang seutuhnya, hendaknya didasarkan atas nilai-nilai kebaikan, bukannya atas kehendak syahwatiyyah yang berasal dari syetan la’natullah ‘alaih. Penanaman nilai-nilai kebaikan di atas, hendaknya disalurkan dan disebarkan kepada seluruh sanak saudara, sebagai bentuk pengabdian kita atas nama kebaikan. Karena fenomena sosial kini telah berubah, umat Islam kini tidak lagi susah untuk ikut berkurban, mereka berbondong mengikuti arisan atau tabungan kurban setiap tahunnya demi memenuhi kuota pengkurban di masjid atau dikampung halaman mereka.

Perubahan itu terjadi akibat dari pengaruh globalisasi dan keterbukaan informasi, di mana saat ini setiap praktik-praktik ibadah sosial, harus pula dinformasikan secara umum di hadapan jama’ah. Walhasil, terjadilah pertempuran batin antara kebaikan dan kemaksiatan dalam menyikapi informasi tersebut, apakah terbersit sikap bangga ataukah tidak. Karena jika itu terjadi, maka sesungguhnya ia telah berlaku riya’ (ingin dilihat) dan juga sum’ah (ingin mendapatkan pujian) yang merupakan bagian dari perilaku kesombongan. Rasulullah saw bersabda :

اِنَّ اَخْوَفَ مَا اَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْ كُ اْلاَصْغَرُ، قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ . رواه احمد

Artinya : “Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan dari beberapa hal yang aku khawatirkan adalah syirik kecil. Sahabat bertanya; Apa syirik kecil itu, ya Rasulallah ? Beliau menjawab; Riya’.” [HR. Ahmad]

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa dalam melakukan kebaikan, begitu banyak halangan dan rintangan baik yang berasal dari dalam (internal) ataupun dari luar (external). Oleh karenanya pada konsep ini, kita harus mulai untuk mau melakukan konstruksi ulang atas paradigma ibadah kurban yang kita lakukan, dengan cara penggemblengan secara keras dan continue (terus menerus) aspek bathiniyah kita melalui pengetahuan dan hikmah, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw, yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahihnya Juz. 1, halaman. 141 :

قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم : لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا. رواه البخاري

Artinya : “Boleh berlaku iri kepada dua golongan; (1) seseorang yang diberi kelebihan harta oleh Allah, lalu ia salurkan sesuai dengan haknya, (2) seseorang yang memiliki pengetahuan, lalu ia mengeluarkan kebijakan atas dasar ilmunya itu dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Hadirin Jama’ah Shalat ‘Idul Adha Rahimakumullah.

Fenomena sikap sombong di Indonesia saat ini telah merajalela. Jabatan yang sifanya sementara begitu ditonjol-tonjolkan sehingga tidak lagi merasa takut untuk melakukan korupsi. Kekayaan yang sifatnya tak kekal begitu ditunjukkan sehingga menindas yang lemah. Di antara kita saat ini masih ada rasa risih untuk kumpul dan bersama-sama dengan orang-orang miskin. Orang-orang miskin merasa malu untuk dapat bertemu dengan siapapun yang tingkat sosialnya tinggi, meskipun masih ada hubungan keluarga dengannya. Urusan kantor jika bukan dengan orang-orang yang terpandang, apalagi jika tidak beruang, maka wujudnya sama seperti tidak adanya (wujuduhu ka ‘adamihi). Mereka seringkali kemudian, tidak dianggap sebagai manusia.

Jika ini yang terjadi, maka masih pantaskah kita berkeyakinan untuk menjadi penghuni surga-Nya Allah subhanahu wa ta’ala ? atau sesungguhnya kita inilah kayu bakarnya neraka jahannam, yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ? Untuk itu hadirin, dalam membentuk manusia yang seutuhnya di muka bumi ini adalah dengan cara menyembelih sifat-sifat kesombongan dan angkuh sebagai bentuk berhala kehidupannya, dan hal ini sama wajibnya dengan perintah berkurban dengan cara menyembelih binatang ternak. Pemahaman seperti ini, sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an :

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ . لقمان : 18

Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Begitu juga dengan nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ : إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ . رواه مسلم

Artinya : “Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan. Seorang laki-laki bertanya; Sesungguhnya seseorang menyukai baju dan sandal yang bagus (apakah ini termasuk kesombongan)? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Pada akhirnya melalui khutbah ini, kami mengajak kepada kita semua sebagai umat Islam, untuk bersama-sama melakukan revolusi mental melalui rekonstruksi paradigma ibadah kurban, dari yang hanya sekedar rutinitas serimonial menuju pembangunan manusia yang seutuhnya, penuh dengan cinta, kemanan, ketenangan, dan kesejahteraan bersama. Jangan sampai kita hidup di era modern ini, akan tetapi nuansanya adalah jahiliyyah. Mari kita alirkan dan habiskan darah keangkuhan kita seperti kita mengalirkan darah hewan kurban kita. Sehingga nilai ketakwaan betul-betul masuk dan merasuk ke dalam diri kita masing-masing. Allah swt berfirman :

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ . الحج : 37

Artinya : “Daging-daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Hajj : 37)

 بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

 KHUTBAH KEDUA

 

 الله أكبر {× 7} الله أكبر كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لا إ له إلا اللهُ وَحْدَ هْ صَدَقَ وَعْدَ هْ وَ نَصَرَ عَبْدَ هْ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَ هْ ، لا إ له إلا اللهُ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ ، لا إ له إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.

اَلْحَمْدُ ِللهِ عَلىَ فَضْلِهِ الْمُتَرَادِف اْلمُتَوَالىِ ، أَّشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ نَرْقِى ِبهَا فِى دَرَجَةِ اْلمَعَالىِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ذَوِاْلأَوْصَافِ الَّتِى فَاقَ نَظْمَهَا عَقْدُ الَّلآ لِى ، اَللّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلهِ وَأَصْحَابِهِ مَدَّى اْلأَ يَّامِ وَاللَّيَالِى . أمابعد

فَيَا عِبَادَاللهِ إِتَّقُوْا اللهََ حق تقاته ولا تموتن إلا وأنـتم مسلمون ، فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ : إِنَّ اللهَ وَمَلاَ ئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأ َيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آل سَيِّدِنَا مُحَمَّد.

اللهُمَّ اغفر للمسلمين و المسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قر يب مجيب الدعوات ياقاضي الحاجات

Ya Allah, berilah petunjuk, rahmat dan karunia kepada kami dalam menempuh kehidupan ini. Berilah kami kekuatan dan kemampuan agar kami senantiasa dapat berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Mu kapanpun dan dimana pun kami berada. Tumbuhkanlah kecintaan, keikhlasan dan ketulusan didalam hati kami untuk saling memaafkan, mencintai dan melindungi.

Ya Allah, dihari yang mulia ini turunkanlah kepada kami cahaya yang menyinari hati kami dan yang memberi kekuatan dalam menjalani akhir tahun ini dan dalam menempuh tahun-tahun yang akan datang. Ya Rabbana, berilah petunjuk dan kemampuan kepada para pemimpin kami agar dapat membawa bangsa ini keluar dari krisis global ini menuju ke dalam suasana kedamaian dan kemakmuran di bawah ampunan dan keridhaan-Mu.

اللهُمَّ اصْلِحْ لَنَا د ِيْـنَـنَا الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا وَاجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اللهُمَّ أَعِزَ اْلإِسْلاَ مَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاخْذُلِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِيْنِ

اَللّهُمَّ رَ بَّنَا آتِنَا فىِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفىِ اْلأخِرَ ةِ حَسَنَة ً وَ ِقنَاعَذَابَ النَّارِ .سُبْحَانَ رَبِّنَارَبِّ الْعِزَّ ةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمٌ عَلىَ الْمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

 {و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته}

KECERDASAN ANAK BERSUMBER DARI IBU

Tingkat Kecerdasan Anak adalah Warisan dari Ibu? 

Pernahkah Anda mendengar anjuran “carilah istri yang cerdas supaya bisa mempunyai anak yang cerdas karena kecerdasan itu diturunkan dari seorang ibu”. Namun, Anda pasti bingung dan bertanya-tanya, yaitu bagaimana kecerdasan itu diturunkan dari ibu? apakah kecerdasan itu bisa ditingkatkan? dan apa saja yang mempengaruhi kecerdasan?Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, berikut uraian yang mungkin bisa menjadi referensi Anda.

Apakah Kecerdasan Diturunkan?

Menjelang akhir 1997, seorang ilmuwan mengumumkan bahwa ia telah menemukan satu gen kecerdasan di kromosom 6. Orang kebanyakan memiliki urutan tertentu pada gen tsb, tapi anak-anak cerdas dengan IQ 160 yang diteliti olehnya memiliki urutan agak berbeda pada gen IGF2R tsb. Penemuan Robert Plomin ini segera mengundang kontroversi. Tak banyak perdebatan dalam sejarah sains yang berlangsung seseru perdebatan seputar kecerdasan. Parameter uji kecerdasan dengan IQ sendiri merupakan kontroversi. Di akhir 1990-an, banyak ilmuwan memperkenalkan kecerdasan yang lain: emotional, spiritual, adversity quotience, dll. Seorang pakar, Howard Gardner, bahkan telah mendefinisikan 9 jenis kecerdasan yang berbeda, di antaranya kecerdasan visual, kecerdasan verbal, kecerdasan musik, bahkan kecerdasan atletik.

Penelitian yang terakhir ini rasanya lebih adil. Mengatakan Mozart, Hemingway, atau Zidane lebih bodoh daripada Newton, kini akan terdengar cukup konyol.Penelitian lain dilakukan Thomas Bouchard. Dimulai th 1979, ia mengumpulkan pasangan-pasangan kembar terpisah dari seluruh dunia dan menguji kepribadian dan IQ mereka. Hasil yang diluar dugaan dari penelitian ini adalah korelasi antara anak-anak adopsi yang dibesarkan bersama ternyata nol. Artinya,tidak ada pengaruh asuhan keluarga terhadap IQ. Jika bukan asuhan keluarga, lalu apa yang menentukan IQ? Jawabnya adalah peran penting rahim seorang Ibu!

Menurut studi lain, pengaruh peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kandungan terhadap kecerdasan tiga kali lebih besar dibanding apapun yang diperbuat oleh orangtua sesudah bayi lahir.Kesimpulan yang dapat diambil dari studi tadi adalah, kali ini menurut Ridley, bahwa kira-kira separuh IQ kita dapatkan melalui pewarisan, dan kurang dari 20% berasal dari asuhan keluarga. Sisanya berasal dari kandungan, sekolah, dan teman sepergaulan. Sifat pewarisan IQ sewaktu anak-anak porsinya kurang lebih 45%, sedangkan pada masa akhir remaja naik menjadi 75%.

Sejalan dengan pertumbuhan, anak secara berangsur mengekspresikan kecerdasan bawaan dan meninggalkan pengaruh-pengaruh sebelumnya yang ditanamkan orang lain. Akhirnya, meskipun terbukti sahih bahwa kecerdasan diwariskan, sifat pewarisan bukan berarti tidak dapat berubah. Kecerdasan bawaan sangat berperan, sebagaimana pengaruh lingkungan asuhan tak dapat disepelekan. Ambillah orok dari sepasang suami-istri profesor mekanika kuantum dan doktor biologi molekuler, lalu besarkanlah ia di Nusa Tenggara Timur, tempat dimana anak-anak menderita marasmus. Tujuh belas tahun kemudian kita akan membuktikan kesimpulan Ridley.

Siapa yang Lebih Berperan dalam Mewariskan Kecerdasan pada Anak? Faktor genetik seorang Ibu seangat berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands Dr Ben Hamel “Pengaruh itu sedemikian besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu”. Karena itu, ibu yang cerdas berpotensi besar melahirkan anak yang cerdas pula. “Dengan demikian, lebih baik memiliki ibu yang cerdas daripada ayah yang cerdas,” ujar Hamel. Namun, kelainan genetika dari seorang ibu juga dapat diturunkan kepada anak-anaknya, termasuk di antaranya retardasi mental.

Dalam keadaan normal, setiap manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri atas 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom seks. Ada 23 kromosom berasal dari ibu yang disebut kromosom XX dan 23 pasang lagi berasal dari ayah yang disebut kromosom XY. Kromosom dari ayah dan ibu akan bergabung saat terjadinya fertilisasi, yaitu pertemuan antara sel sperma dan sel telur yang akan menghasilkan zigot.

Dalam keadaan normal, zigot akan melakukan pembelahan sel secara mitosis sehingga setiap sel dalam tubuh manusia akan membawa informasi genetik yang sama.Otak dikatakan berfungsi optimal jika memiliki kemampuan berfikir kreativ dan innovative pada saat yang tepat. Untuk mendapatkan sel otak yang bisa berfungsi maksimal, selain factor genetic, juga dipengaruhi oleh asupan gizi, dan ransangan luar.

Genetik diturunkan dari kedua orang tua, asupan gizi dan ransangan dari luar tergantung dari bagaimana kita memenuhi kebutuhan gizi anak, dan melayani anak, apakah permainan, interaksi orang tua dan anak. Permainan edukatif dan yang banyak mengundang kreativitas anak tentu akan lebih baik untuk perkembangan otak yang sempurna. Sehingga kecerdasan yang sebenarnya itu adalah akumulasi dari genetic, supply gizi dan ransangan. Dengan artian walaupun orang tua mempunyai genetic yang baik, tapi anak tidak diberi makanan yang baik dan tanpa diransang justeru kecerdasan itu nggak akan muncul sempurna.

Bagaimana Seorang Ibu Berperan Penting dalam Pewarisan Kecerdasan Anak? Bagaimana bisa seorang ibu menjadi penentu kecerdasan anak-anaknya? Mungkin pertanyaan ini akan terdengar kurang indah ditelinga kaum laki-laki karena pada dasarnya seorang anak terlahir dari pertemuan antara sperma (laki-laki) dan ovum (perempuan) melalui proses fertilisasi dimana setelah terjadi proses fertilisasi tersebut, kedua sel gamet itu akan melebur menjadi satu dan membentuk zygot kemudian membelah menjadi morula, blastula, gastrula, dan berdiferensiasi menjadi makhluk hidup kecil di dalam rahim yg disebut dengan fetus (janin).

Ovum merupakan sel gamet yang terdiri dari inti sel dan sitoplasma lengkap dengan organel-organel yang akan berperan dalam proses pembelahan dan perbanyakan sel. Sperma merupakan sel gamet yang terdiri atas kepala dengan inti sel dan ekor yang mengandung mitokondria sebagai pemberi energi bagi pergerakan sperma. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa 14 jam setelah proses fertilisasi maka ekor sperma yang mengandung mitokondria akan dilepas dan dibuang, inti sel ovum dan sperma akan melebur menjadi satu sehingga terbentuklah sel baru (zygot) 2n. Inti zigot merupakan gabungan antara inti sperma dan ovum sedangkan sitoplasma dan organel-organel sel berasal dari organel sel ovum. Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa prosentase peran ovum lebih besar daripada sperma dalam aktivitas pembelahan sel selanjutnya. Di sinilah awal peran Ibu dalam menentukan kecerdasan, yaitu melalui mitokondria.

Yang menarik, mitokondria ini hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh ayah. Sebab, mitokondria berasal dari sel telur bukan dari sel sperma (sebagaimana penjelasan sebelumnya). Dalam setiap sel manusia ada sebuah organela yang sangat strategis fungsinya. Organela ini dinamakan mitokondria. Organelnya berongga berbentuk bulat lonjong, selaputnya terdiri dari dua lapis membran, membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks), serta mengandung banyak enzim pernapasan. Tugas utama mitokondria adalah memproduksi kimia tubuh bernama ATP (adenosin tri phosphat). Energi hasil reaksi dari ATP inilah yang menjadi sumber energi bagi manusia. Mitokondria bersifat semiotonom karena 40 persen kebutuhan protein dan enzimnya dihasilkan sendiri oleh gennya. Mitokondria adalah salah-satu bagian sel yang punya DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel. Itulah sebabnya investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75 persen.

Keseimpulannya, berdasarkan uraian 3 pertanayaan di atas. Secara teori, kecerdasan anak mungkin sangat dipengaruhi oleh kecerdasan seorang ibu. Namun, fenotip (penampakan) yang kita lihat bukanlah melulu hasil dari faktor genetik melainkan hasil interaksi dengan lingkungan juga.

Sumber : http://alief.wordpress.com

MEMBANGUN KAMPANYE PILPRES YANG BERKEADABAN

Oleh :
Ahmad Rajafi Sahran

Di dalam Islam ada konsep “tabayun” untuk mendapatkan kebenaran dari suatu kabar negatif yg menerpa dirinya dan bukan diri org lain, ari orang yg memberi kabar tersebut hingga bertemu dg sumber aslinya. Adapun kabar negatif yg perlu dilakukan “tabayun” adalah kabar yg betul2 berdampak pada terganggunya tabilitas kehidupan, dan bukan kabar negatif biasa.

Adapun pada tataran makro, sikap tabayun dibutuhkan demi mendapatkan kemashlahatan secara umum. Hal ini seperti yg terjadi beberapa hari ini di Indonesia. Di mana pada masa kampanye pilpres 2014, dua calon presiden mendapatkan berbagai serangan pemberitaan negatif di berbagai media. Anehnya, muncul beberapa orang yg ikut2an terseret arus pemberitaan tersebut sehingga dengan mudah terprovokasi untuk ikut menyebarkan pemberitaan tersebut dengan komentar2 tambahan yang sangat tidak berakhlak. Meskipun kedua capres tersebut telah memberikan klarifikasi atas pemberitaan negatif pada diri mereka.

Berdasarkan problem sosial di atas, maka sesungguhnya sumber utamanya terdapat pada lemahnya kontrol sosial akibat kebebasan informasi global yg kemudian menegasi paradigma berdirinya bangsa ini. Paradigma tersebut terakumulasi pada bagan ideologi bangsa Indonesia yakni Pancasila. Jika dirujuk pada lima sila tersebut, maka maknanya yakni ;

(1) Ketuhanan yang Maha Esa. Maka kita sebagai bagian dari warga negara, sudah disepakati haruslah beragama, dan konsekwensinya dari masyarakat yang beragama adalah terciptanya masyarakat yang beradab, tidak mudah memfitnah, dan selalu menghadirkan kebaikan-kebaikan bagi sekitarnya. Oleh karenanya, siapa saja yang mengaku warga negara Indonesia namun mudah untuk menghadirkan kemafsadatan sosial, maka bisakah dia disebut sebagai masyarakat yang beragama?

(2) Kemanusiaan yang adil dan beradab. Prinsip dasar yang kedua ini adalah semangat untuk membumikan prinsip-prinsip agama yang telah tertuang pada sila pertama. Di mana seseorang sesungguhnya bisa disebut sebagai manusia jika jiwa hidupnya adalah keadilan dan keberadaban. Sikap adil dapat diukur ketika seseorang mampu menjadi problem solver di dalam masyarakat. Sedangkan sikap keberadaban dapat diukur dari tingkah laku yang ditunjukkan di dalam masyarakat. Dan pada masalah pilpres kali ini, akan sangat terlihat mana manusia-manusia yang adil dan beradab dalam menanggapi kampanye negatif di lapangan.

(3) Persatuan Indonesia. Pada aspek ini, manusia-manusia yang beragama dan terbangun di dalamnya sifat adil dan beradab, tentunya tidak akan menciptakan segala sesuatu yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan. Termasuk pada masalah pilpres kali ini, bukankah pemilihan presiden ditujukan untuk mendudukkan anak bangsa yang terbaik sebagai pemimpin bangsa ini, dan bukankah mereka juga telah diseleksi dengan ketat oleh Komisi Pemilihan Umum yang bekerja secara keras dan independen. Lalu mengapa kita menjadi lupa dan melakukan sesuatu yang tidak dirasa olehnya dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa ini.

(4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Artinya ada sikap kebersamaan baik dalam proses maupun menikmati hasilnya. Kita adalah rakyat yang sedang memilih calon pemimpin yang dapat mengayomi kita. Untuk itu, sikap penuh mencari kebaikan lewat hikmah dari Tuhan melalui jalan istikharah, dapat menghadirkan kebijaksanaan yang besar, dan pada saat musyawarah besar yakni masa pencoblosan, kita betul-betul dapat memilih dengan benar.

(5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah hulu dari semua keinginan besar dari pemilihan presiden nanti, yakni pemerataan di setiap lini kehidupan masyarakat.

Semoga semangat kebersamaan sebagai warga bangsa Indonesia mampu menutup sikap jumawa dan keras kepala dalam mendukung masing-masing calon presiden. Jangan mudah terprovokasi sehingga kemudharatan baik yang bersifat personal maupun global tidak akan muncul di bumi Indonesia ini. Cintailah masing-masing di antara kita karena sama-sama ciptaan Tuhan, sehingga Tuhan pun akan mencintai kita dan mendatangkan untuk kita kebaikan yang lebih besar lagi.

RAMADHAN DAN FATWA “GELAP” MENJELANG PILPRES

Oleh :

Ahmad Rajafi Sahran

Tidak terasa bulan Ramadhan 1435 H / 2014 M, dengan segala kewajiban dan pahala di dalamnya akan segera menghampiri umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Akan tetapi ada fenomena unik menjelang Ramadhan tahun ini di bumi Indonesia, di mana kesibukan rutinitas tahunan yang biasanya ramai memenuhi ruang-ruang media sosial dalam menunggu datangnya sang bulan suci melalui kegiatan hisab, rukyat dan sidang itsbat, sepertinya memudar akibat pengaruh politik menjelang pemilihan Presiden yang kebetulan berada di dalam bulan Ramadhan.

Ada yang menarik di masa-masa kampanye tersebut, di mana telah bermunculan fatwa-fatwa “gelap” yang tidak diketahui asal usulnya, baik konten maupun person pemberi fatwa, yang kemudian mendiskreditkan fisik, kemampuan personality, bahkan agama, demi mengangkat elektabilitas masing-masing calon pilihannya. Biasanya forum yang paling ramai digunakan adalah pada saat khutbah jum’at dan acara-acara keagamaan seperti ruwahan di hari-hari bulan Sya’ban sebelum bulan Ramadhan.

Semangat tersebut sepertinya akan terus berjalan dan bahkan akan lebih panas karena semakin meluasnya kesempatan mereka untuk melemahkan masing-masing calon pilihan mereka di dalam bulan Ramadhan. Bayangkan, dalam satu hari saja akan muncul berbagai forum-forum pengumpul masa yang efektif untuk digunakan sebagai alat politik kepentingan masing-masing kubu, seperti kultum sebelum shalat tarawih, setelah shalat subuh, menjelang buka bersama, pesantren kilat, nuzul qur’an, dll. Belum lagi spanduk dan selebaran-selabaran yang disebar ketempat-tempat ibadah yang bernuansa religis namun substansinya adalah kampanye politik. Jika hal tersebut terus berlangsung hingga Pilpres dilaksanakan, maka bisa dipastikan semangat Ramadhan yang menghadirkan pahala yang berlipat ganda bagi melakukannya, akan tereliminasi karena semangat politik sesaat yang dilakukan dengan maksud untuk saling menjatuhkan. Perlu diingatkan kembali bahwa puasa adalah milik orang-orang yang beriman demi mendapatkan kualitas takwa. Untuk itu, penyampaian fatwa-fatwa “gelap” di bulan suci tersebut hanya akan mempersulit obsesi mereka meraih takwa.

Jika dirujuk makna fatwa di dalam ilmu ushul fiqh, maka menurut Amir Syarifuddin (2001), unsur-unsur utamanya yakni : (1) Ia adalah usaha untuk memberikan penjelasan; (2) penjelasan yang diberikan itu adalah tentang hukum syara’ yang diperoleh melalui hasil ijtihad; (3) yang memberikan penjelasan itu adalah orang yang ahli dalam bidangnya; (4) penjelasan itu diberikan kepada orang yang bertanya yang belum mengetahui hukumnya.

Penjelasan di atas memberikan ketegasan bahwa yang terlontar dari fatwa adalah masalah-masalah hukum syari’at yang dapat menghadirkan kemashlahatan secara universal bukan personal. Proses ijtihad (research) menjadi faktor utama dalam melahirkan fatwa tersebut, untuk itu kuwalitas personality pembuat fatwa juga menjadi rujukan utama untuk menilai hasil fatwa yang dimunculkannya. Bahkan jika merujuk pada kitab-kitab klasik hukum Islam maka didapatkan persyaratan yang sangat ketat bagi seseorang yang dipintakan fatwanya, bukan “abal-abal” yang hanya dapat menunjukkan kemampuan retorika dan pesona fisik dengan berpakaian serta aksesoris keagamaan yang dianggap Islami. Biasanya, faktor inilah yang paling banyak menipu dan bahkan menyesatkan umat. Sebut saja istilah perang badar, Islam abangan, keluarga sakinah, dan yang baru-baru ini adalah istilah masuk surga dan neraka, demi menguatkan capres pilihannya dan melemahkan yang lainnya.

Pada dasarnya, apa yang terjadi di Indonesia saat ini tidaklah sesuai dengan wajah aslinya yang ramah, toleran dan penuh dengan semangat gotong royong, bukannya semangat pragmatisme, saling mencela, dan bahkan taklid buta. Akan tetapi inilah sifat dari kebudayaan (dalam ilmu antropologi budaya), di mana menurut Sjafri Sairin (1997), berubah adalah sifat utamanya. Kebudayaan selalu berubah dengan munculnya gagasan baru pada masyarakat pendukungnya. Secara garis besar, munculnya perubahan itu terjadi karena dipengaruhi oleh faktor-faktor internal yang muncul di dalam masyarakat pendukungnya, seperti munculnya inovasi ide-ide dan gagasan baru di dalam masyarakat.

Meskipun demikian (kembali ke masalah Ramadhan), umat Islam tidak boleh lengah, karena visi utama dari adanya bulan Ramadhan adalah memperbanyak pahala dan mengikis habis dosa, maka perubahan yang merupakan sifat utama dalam kebudayaan hendaknya tidak diarahkan kepada hal-hal yang negatif seperti fitnah dan ghibah. Alangkah baiknya jika stasiun-stasiun di dalam bulan tersebut, seperti sepertiga awalnya adalah rahmat, sepertiga kedua adalah ampunan Allah, dan sepertiga akhir adalah pembebasan dari api neraka betul-betul terlalui dengan sempurna.

Pada stasiun pertama misalnya, di mana rahmat Allah begitu melimpah ruah, maka sebagaimana makna dari rahmat itu sendiri yakni bentuk kasih, berkah dan segala kebaikan, maka tidak pantas jika fatwa-fatwa “gelap” dimunculkan di dalam bulan suci tersebut yang menegasi keberkahan dan kasih sayang sesama, termasuk Allah swt. Begitu juga dengan step selanjutnya yakni ampunan Allah, maka seharusnya di bulan tersebut sikap pemaaf, welas asih, menjadi pegangan setiap muslim. Apapun warna partainya, background kehidupannya, tidaklah menjadi pemicu untuk menuntup hati ini dalam memberikan maaf dan ampunan yang sebesar-besarnya, karena dua capres yang ada saat ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangnnya masing-masing. Dan step yang terakhir adalah selamat dari siksa api neraka. Dalam hal ini, neraka merupakan simbol dari segala bentuk kesusahan dan keburukan, untuk itu seorang muslim yang menghadirkan fatwa “gelap” yang kemudian di-share oleh orang lain dan terus menyebar hingga memunculkan keburukan persepsi terhadap masing-masing calon, maka mungkinkah visi selamat dari siksa api neraka akan tercapai ? di sinilah pentingnya menahan diri, sebagaimana makna puasa yakni al-imsak (menahan diri) dari segala hal yang dapat mempengaruhi rusaknya nilai ibadah.

Meskipun demikian, karena makna Ramadhan adalah salah satu nama Allah yang berarti panas, maka tidak bisa dipungkiri bahwa syetan-syetan berfisik manusia masih akan bermunculan untuk saling mengisi keburukan di bulan tersebut. Untuk itu, sikap saling mengingatkan adalah bagian dari kebaikan yang juga dapat mengumpulkan pahala yang banyak di bulan tersebut. Setiap orang bisa mengungkapkan apapun, akan tetapi Ramadhan hendaknya menjadi rem yang ampuh dalam menghalau fitnah dan ghibah terhadap masing-masing capres yang berbalut bahasa-bahasa agama. Ramadhan hendaknya menjadi sarana yang ampuh untuk mengajarkan kepada umat tentang pentingnya kebersamaan dan persatuan, karena dalam prinsip Islam, “persatuan dan kesatuan adalah rahmat sedangkan perpecahan dapat menghadirkan azab”. Wallahua’lam.

10 NASEHAT RASULULLAH MUHAMMAD SAW UNTUK PUTRINYA FATIMAH AZZAHRAH SEBELUM MENIKAH DENGAN ALI RA

1. Wahai Fatimah, sesungguhnya wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya. Dan dari setiap biji gandum itu akan melebur kejelekannya dan meningkatkan derajat wanita itu.

2. Wahai Fatimah, sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah akan menjadikan antara dirinya dengan neraka itu tujuh tabir pemisah.

3. Wahai Fatimah, tidaklah seseorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirkannya dan mencuci pakaiannya, maka Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang telanjang.

4. Wahai Fatimah, sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangganya maka Allah akan membantunya agar dapat minum di Telaga Kautsar pada hari kiamat nanti.

5. Wahai Fatimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan diatas adalah keridhaan suami terhadap istri, Andai kata suamimu tidak ridha kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.

6. Wahai Fatimah, pada saat seorang wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kejelekan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahiran, maka Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala pejuang di jalan Allah. Jika ia sudah melahirkan bayinya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan dari kandungan ibunya. Jika seorang wanita meninggal ketika melahirkan, maka ia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Dan, Allah memberi pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7. Wahai Fatimah, pada saat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya pada hari kiamat dengan pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan, Allah juga akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.

8. Wahai Fatimah, ketika seorang istri tersenyum di hadapan suaminya maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.

9. Wahai Fatimah, pada saat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru kepada wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang.

10. Wahai Fatimah, pada saat seorang wanita meminyaki kepala suaminya dan menyisirnya, meminyaki jenggotnya dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, maka Allah akan memberi minum yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah akan mempermudah sakaratul mautnya dan menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allah juga menetapkan baginya bebas dari siksa neraka dan dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.

Dikutip dari : La Tahzan for Women