SAP MK_USHUL FIQH 1

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 1

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami definisi fiqh dan ushul fiqh, serta dapat memaparkan perbedaan antara fiqh dan ushul fiqh.

B. Materi Pokok.

1.      Definisi Ushul

2.      Definisi Fiqh

3.      Definisi Ushul Fiqh

4.      Perbedaan Antara Fiqh dan Ushul Fiqh

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit)

Ø  Dosen menampilkan beberapa gambar masalah yang berkenaan dengan fiqh dan ushul fiqh

Ø  Mahasiswa mengungkapkan pendapatnya yang berkenaan dengan gambar

Ø  Dosen mengarahkan jawaban ke kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen memaparkan definisi dari ushul, fiqh dan ushul fiqh dengan berbagai contohnya (20 menit)

Ø  Mahasiswa  mendiskusikan definisi dari ushul, fiqh dan ushul fiqh dan membahas perbedaan di antara fiqh dan ushul fiqh. (30 menit)

Ø  Setiap mahasiswa mempresentasikan hasil kerjanya masing-masing dan mengungkapakan hal materi yang tidak dipahami oleh mahasiswa lain. (10 menit)

Ø  Dosen menanggapi dan menengahi permasalahan yang muncul (10 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, diskusi, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

  1. Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.
  2. Multi Media.
  3. Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan pertama, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam berdiskusi

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

3.      CD al-Qur’an versi 6

4.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

5.      CD Library of al-Fiqh

6.      Nazar Bakri, Fiqh dan Ushul Fiqh, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996

7.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

8.      Syamsul Bahri, Metodologi Hukum Islam, Teras, Yogyakarta, 2008

9.      Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 2

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dan dapat memaparkan dengan tepat sejarah muncul dan pertumbuhan ushul fiqh.

B. Materi Pokok.

1.      Periode Nabi Muhammad saw

2.      Periode Sahabat

3.      Periode Tabi’in

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit)

Dosen memaparkan terlebih dahulu perjalanan ushul fiqh dari masa ke masa secara singkat

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen memaparkan sejarah munculnya ushul fiqh serta menjelaskan pertumbuhan ushul fiqh dari masa Nabi Muhammad saw, sahabat dan masa tabi’in. (20 menit)

Ø  Mahasiswa  mendiskusikan sejarah muncul dan pertumbuhan ushul fiqh dan dikaitkan dengan pertumbuhannya di Indonesia. (30 menit)

Ø  Setiap mahasiswa saling mengungkapakan materi yang tidak dipahami oleh dirinya masing-masing. (10 menit)

Ø  Dosen menanggapi dan menengahi permasalahan yang muncul (10 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, diskusi, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan kedua, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam berdiskusi

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

3.      CD al-Qur’an versi 6

4.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

5.      CD Library of al-Fiqh

6.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

7.      Syamsul Bahri, Metodologi Hukum Islam, Teras, Yogyakarta, 2008

8.      Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 3

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dan dapat memaparkan dengan tepat sejarah perkembangan ushul fiqh sebagai disiplin ilmu.

B. Materi Pokok.

1.      Perbedaan Pendapat Tentang Penulis Pertama Ushul Fiqh Sebagai Disiplin Ilmu

2.      Imam al-Syafi’i Penulis Pertama Ushul Fiqh Sebagai Disiplin Ilmu

3.      Displin Ilmu yang Dituangkan al-Syafi’i di Dalam Kitabnya al-Risalah

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit)

Dosen memaparkan terlebih dahulu perjalanan ushul fiqh pasca masa tabi’in

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen memaparkan dari aspek sejarah tentang perbedaan pendapat para ulama ushul tentang penulis pertama ushul fiqh sebagai bagian dari disiplin ilmu. (20 menit)

Ø  Dosen memaparkan pendapat yang rajih bahwa Imam al-Syafi’i adalah penulis pertama ushul fiqh sebagai disiplin ilmu. (20 menit)

Ø  Dosen memaparkan tentang displin ilmu yang dituangkan oleh Imam al-Syafi’i di dalam kitabnya al-Risalah. (20 menit)

Ø  Dosen memberikan waktu agar mahasiswa bertanya dan dosen kemudian menanggapi permasalahan yang muncul (10 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini dan memerintahkan mahasiswa untuk meresum pembahasan minggu depan dan mencari produk hukum apa yang orisinil dari Rasulullah saw.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, diskusi, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan ketiga, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam bertanya

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Al-Risâlah, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Beirut, 2004

3.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

4.      CD al-Qur’an versi 6

5.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

6.      CD Library of al-Fiqh

7.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

8.      Syamsul Bahri, Metodologi Hukum Islam, Teras, Yogyakarta, 2008

9.      Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 4

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan dengan rinci ruang lingkup kajian di dalam ushul fiqh.

B. Materi Pokok.

1.      Deskripsi Masalah Tentang Ruang Lingkup Kajian Ushul Fiqh

2.      Deskripsi Tentang Dalil-Dalil Fiqhiyyah

3.      Penjelasan Singkat Tentang Metode Istinbath

4.      Penjelasan Singkat Tentang Hukum, Hakim, Mahkum Bih dan Mahkum ‘Alaih

5.      Penjelasan Singkat Tentang Ijtihad dan Syarat Mujtahid

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit)

Dosen memaparkan tentang adanya perbedaan pendapat ulama ushul di dalam menetapkan ruang lingkup kajian ushul fiqh.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen memaparkan secara singkat tentang deskripsi masalah tentang ruang lingkup kajian ushul fiqh serta penjelasan singkat tentang dalil-dalil fiqhiyyah, metode istinbath, hukum, hakim, mahkum bih dan mahkum ‘alaih, serta tentang ijtihad dan syarat mujtahid. (50 menit)

Ø  Dosen memberikan waktu agar mahasiswa bertanya dan dosen kemudian menanggapi permasalahan yang muncul (20 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan keempat, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam bertanya

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abu Hamid al-Ghazali, al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul, Dar al-Fikr, Beirut, t.th

3.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

4.      CD al-Qur’an versi 6

5.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

6.      CD Library of al-Fiqh

7.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

8.      Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

9.      Syamsul Bahri, Metodologi Hukum Islam, Teras, Yogyakarta, 2008

10.  Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 5

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dengan jelas definisi, pembagian al-hukm di dalam kajian ushul fiqh serta dapat menyebutkannya.

B. Materi Pokok.

1.      Definisi al-Hukmu

2.      Pembagian al-Hukmu Beserta Penjelasannya

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit)

Dosen memaparkan terlebih dahulu tentang perbedaan antara hukum dalam bahasa Indonesia dengan al-hukm dalam bahasa Arab.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen memaparkan materi kajian tentang definisi al-hukmdari berbagai pendekatan. (20 menit)

Ø  Dosen menjelaskan pembagian al-hukm beserta pengertiannya di dalam kajian ushul fiqh. (30 menit)

Ø  Dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk saling bertukar pendapat tentang masalah yang terkait dengan materi inti dan dosen kemudian menanggapi permasalahan yang muncul (20 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, diskusi, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan kelima, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

Keaktifan di dalam berdiskusi

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Al-Risâlah, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Beirut, 2004

3.      Abu Hamid al-Ghazali, al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul, Dar al-Fikr, Beirut, t.th

4.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

5.      CD al-Qur’an versi 6

6.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

7.      CD Library of al-Fiqh

8.      Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-Arabi, Beirut, t.th

9.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

10.  Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

11.  Syamsul Bahri, Metodologi Hukum Islam, Teras, Yogyakarta, 2008

12.  Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 6

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dengan jelas definisi dari hukum taklif di dalam kajian ushul fiqh serta dapat menyebutkan pembagiannya.

B. Materi Pokok.

1.      Definisi Hukum Taklif

2.      Pembagian Hukum Taklif

3.      Definisi dan Penjelasan Tentang Wajib, Sunnah, Makruh, Ibahah, Haram

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit).

Dosen mengulas terlebih dahulu materi pertemuan yang lalu untuk masuk pada materi kajian hukum taklif.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen memaparkan definisi hukum taklif dan menjelaskan tentang adanya pembagian di dalam hukum taklif. (20 menit)

Ø  Dosen menjelaskan tentang pengertian kajian tentang wajib, sunnah, makruh, ibahah dan haram. (20 menit)

Ø  Dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk saling bertukar pendapat tentang masalah yang terkait dengan materi inti dan dosen kemudian menanggapi permasalahan yang muncul (30 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, diskusi, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan keenam, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam berdiskusi

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Al-Risâlah, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Beirut, 2004

3.      Abu Hamid al-Ghazali, al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul, Dar al-Fikr, Beirut, t.th

4.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

5.      CD al-Qur’an versi 6

6.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

7.      CD Library of al-Fiqh

8.      Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-Arabi, Beirut, t.th

9.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

10.  Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

11.  Syamsul Bahri, Metodologi Hukum Islam, Teras, Yogyakarta, 2008

12.  Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 7

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dengan jelas definisi dari hukum wadh’i di dalam kajian ushul fiqh serta dapat menyebutkan pembagiannya.

B. Materi Pokok.

1.      Definisi Hukum Wadh’i

2.      Pembagian Hukum Wadh’i

3.      Definisi dan Penjelasan Tentang Sabab dan Pembagiannya, Syarat, Mani’, Sah dan Bathal, Rukhshah dan Azimah

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit).

Dosen mengulas terlebih dahulu materi pertemuan yang lalu untuk masuk pada materi kajian hukum wadh’i.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen memaparkan definisi hukum wadh’i dan menjelaskan tentang adanya pembagian di dalam hukum wadh’i. (20 menit)

Ø  Dosen menjelaskan tentang pengertian sabab dan pembagiannya, syarat, mani’, sah dan bathal, rukhshah dan azimah. (20 menit)

Ø  Dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk saling bertukar pendapat tentang masalah yang terkait dengan materi inti dan dosen kemudian menanggapi permasalahan yang muncul (30 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, diskusi, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan ketujuh, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam bertanya

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Al-Risâlah, Dar al-Kitab al-‘Arabi, Beirut, 2004

3.      Abu Hamid al-Ghazali, al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul, Dar al-Fikr, Beirut, t.th

4.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

5.      CD al-Qur’an versi 6

6.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

7.      CD Library of al-Fiqh

8.      Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-Arabi, Beirut, t.th

9.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

10.  Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

11.  Syamsul Bahri, Metodologi Hukum Islam, Teras, Yogyakarta, 2008

12.  Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 8

UJIAN TENGAH SEMESTER

Soal :

1.      Sebutkan pengertian dari ushul, fiqh, dan ushul fiqh, serta jelaskan perbedaan antara fiqh dan ushul fiqh? (skor : 20)

2.      Paparkan secara jelas sejarah perkembangan ushul fiqh sebagai bagian dari disiplin ilmu, dan paparkan secara tepat displin ilmu yang telah dituangkan al-Syafi’i di dalam kitabnya al-Risalah? (Skor : 50)

3.      Sebutkan ruang lingkup kajian ushul fiqh dari berbagai pendekatan? (skor : 10)

4.      Jelaskan pengertian dari al-hukm, hukum taklif dan wadh’i serta sebutkan pembagiannya ? (skor : 20)

Kriteria Penilaian :

Soal 1 : bila hanya menyebutkan pengertian ushul, fiqh, dan ushul fiqh, skor 10

bila lengkap, skor 20

Soal 2 : bila hanya memaparkan sejarah perkembangan ushul fiqh, skor 20

bila lengkap, skor 50

Soal 4 : bila hanya menyebutkan definisi, skor 10

bila lengkap, skor 20

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 9

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dengan jelas definisi dari al-hakim, mahkum bih/fih, dan mahkum ‘alaih serta dapat menjelaskannya dengan tepat.

B. Materi Pokok.

1.      Definisi dan Penjelasan Tentang al-Hakim

2.      Definisi dan Penjelasan Tentang Mahkum Bih/Fih

3.      Definisi dan Penjelasan Tentang Mahkum ‘Alaih

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit).

Dosen mengulas terlebih dahulu materi pertemuan yang lalu untuk masuk pada materi kajian tentang al-hakim, mahkum bih/fih, dan mahkum ‘alaih.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen memaparkan definisi dan menjelaskan secara rinci tentang al-hakim, mahkum bih/fih, dan mahkum ‘alaih. (40 menit)

Ø  Dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk saling bertukar pendapat tentang masalah yang terkait dengan materi inti dan dosen kemudian menanggapi permasalahan yang muncul (30 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan kesembilan, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam bertanya

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, Beirut, Dar al-Fiqh, t.th

3.      Abu Hamid al-Ghazali, al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul, Dar al-Fikr, Beirut, t.th

4.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

5.      CD al-Qur’an versi 6

6.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

7.      CD Library of al-Fiqh

8.      Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-Arabi, Beirut, t.th

9.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

10.  Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

11.  Syamsul Bahri, Metodologi Hukum Islam, Teras, Yogyakarta, 2008

12.  Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 10

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dengan jelas al-Qur’an sebagai sumber dan dalil dalam perumusan hukum Islam.

B. Materi Pokok.

1.      Pengertian Sumber dan Dalil

2.      Al-Qur’an Sebagai Sumber dan Dalil

a.       Pengertian al-Qur’an

b.      Otentisitas al-Qur’an

c.       Fungsi dan Tujuan Turunnya al-Qur’an

d.      Mukjizat al-Qur’an

e.       Ibarat al-Qur’an Dalam Menetapkan Hukum

f.        Penjelasan al-Qur’an Terhadap Hukum

g.      Hukum yang Terkandung di Dalam al-Qur’an

h.      Al-Qur’an Sebagai Sumber Fiqh

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit).

Ø  Dosen menampilkan gambar al-Qur’an

Ø  Mahasiswa mengungkapkan pendapatnya yang berkenaan dengan gambar

Ø  Dosen mengarahkan jawaban ke kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa dan meminta mahasiswa menyiapkan bahan untuk diskusi.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen memaparkan definisi sumber dan dalil serta pengertian dari al-Qur’an al-Karim. (10 menit)

Ø  Mahasiswa  mencari bahan diskusi tentang otentisitas al-Qur’an, fungsi dan tujuan turunnya al-Qur’an, mukjizat al-Qur’an, ibarat al-Qur’an dalam menetapkan hukum, penjelasan al-Qur’an terhadap hukum, hukum yang terkandung di dalam al-Qur’an, al-Qur’an sebagai sumber fiqh. (20 menit)

Ø  Dosen membagi kertas kepada setiap mahasiswa dan meminta mereka untuk menulis dan mempresentasikan satu pertanyaan mengehai hal-hal  yang tidak dipahami berkenaan dengan materi. (20 menit)

Ø  Mahasiswa yang lain menanggapi presentasi mahasiswa dan membantu menjelaskan hal materi yang dipertanyakan kelompok presentasi, serta dosen menanggapi dan menengahi permasalahan yang  muncul (20 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, diskusi, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan kesepuluh, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam berdiskusi

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, Beirut, Dar al-Fiqh, t.th

3.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

4.      CD al-Qur’an versi 6

5.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

6.      Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-Arabi, Beirut, t.th

7.      Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

8.      Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 11

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dengan jelas al-Sunnah sebagai sumber dan dalil dalam perumusan hukum Islam.

B. Materi Pokok.

1.      Pengertian al-Sunnah

2.      Macam-Macam al-Sunnah

3.      Periwayatan al-Sunnah

4.      Fungsi al-Sunnah

5.      Kedudukan al-Sunnah Sebagai Sumber Hukum

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit).

Ø  Dosen menampilkan beberapa kitab hadits

Ø  Mahasiswa mengungkapkan pendapatnya yang berkenaan dengan apa yang dibawa oleh Dosen

Ø  Dosen mengarahkan jawaban ke kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa dan meminta mahasiswa membuat 3 kelompok.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen memaparkan definisi, dan macam-macam al-sunnah. (10 menit)

Ø  Setiap kelompok mencari bahan diskusi tentang periwayatan al-Sunnah, fungsi al-Sunnah, kedudukan al-Sunnah sebagai sumber hukum. (20 menit)

Ø  Dosen membagi kertas kepada setiap kelompok dan meminta mereka untuk menulis dan mempresentasikan satu pertanyaan mengehai hal-hal  yang tidak dipahami berkenaan dengan materi. (20 menit)

Ø  Kelompok lain menanggapi kelompok yang melakukan presentasi dan dapat pula membantu menjelaskan hal materi yang dipertanyakan kelompok presentasi, serta dosen menanggapi dan menengahi permasalahan yang  muncul (20 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, diskusi, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan kesebelas, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam berdiskusi

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, Beirut, Dar al-Fiqh, t.th

3.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

4.      CD Hadits al-Bayan

5.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

6.      CD Library of al-Fiqh

7.      Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-Arabi, Beirut, t.th

8.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

9.      Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

10.  Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 12

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dengan jelas al-Ijma’ sebagai sumber dan dalil dalam perumusan hukum Islam.

B. Materi Pokok.

1.      Pengertian al-Ijma’

2.      Kemungkinan Terjadinya Ijma’

3.      Kedudukan Ijma’ Sebagai Dalil Hukum

4.      Pendapat Para Ulama Tentang Persyaratan dan Pembatasan Ijma’

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit).

Dosen memaparkan pengertian dari ijma’.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen menjelaskan kemungkinan terjadinya ijma’, kedudukan ijma’ sebagai dalil hukum, dan pendapat para ulama tentang persyaratan dan pembatasan ijm’a. (40 menit)

Ø  Dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk saling bertukar pendapat tentang masalah yang terkait dengan materi inti dan dosen kemudian menanggapi permasalahan yang muncul (30 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan kedua belas, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam bertanya dan menanggapi masalah

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, Beirut, Dar al-Fiqh, t.th

3.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

4.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

5.      CD Library of al-Fiqh

6.      Ibnu Qayyim al-Jauziyah, I’lam al-Muqi’in ‘an Qabbi al-‘Alamin, Dar al-Fikr, Beirut, 2005

7.      Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-Arabi, Beirut, t.th

8.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

9.      Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

10.  Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 13

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dengan jelas al-Qiyas sebagai sumber dan dalil dalam perumusan hukum Islam.

B. Materi Pokok.

1.      Pengertian al-Qiyas

2.      Qiyas Sebagai Dalil Hukum Syara’

3.      Syarat-syarat Qiyas

4.      Pembagian Qiyas

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit).

Dosen memaparkan pengertian dari al-Qiyas.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen menjelaskan tentang qiyas sebagai dalil hukum syara’, syarat-syarat dan pembagian qiyas. (30 menit)

Ø  Dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk saling bertukar pendapat tentang masalah yang terkait dengan materi inti. (20)

Ø  Dosen menanggapi permasalahan yang muncul (20 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan ketiga belas, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam bertanya dan menanggapi masalah

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, Beirut, Dar al-Fiqh, t.th

3.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

4.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

5.      CD Library of al-Fiqh

6.      Ibnu Qayyim al-Jauziyah, I’lam al-Muqi’in ‘an Qabbi al-‘Alamin, Dar al-Fikr, Beirut, 2005

7.      Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-Arabi, Beirut, t.th

8.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

9.      Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

10.  Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 14

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dengan jelas tatacara yang harus dilakukan jika terjadi benturan antara dalil hukum.

B. Materi Pokok.

1.      Penyelesaian Dalil-dalil yang Berbenturan

2.      Naskh

3.      Tarjih

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit).

Dosen memaparkan tentang penyelesaian dalil-dalil yang berbenturan.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen menjelaskan tentang penggunaan nasakh dan tarjih dalam menyelesaikan permasalahan dalil-dalil yang berbenturan. (30 menit)

Ø  Dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk saling bertukar pendapat tentang masalah yang terkait dengan materi inti. (20)

Ø  Dosen menanggapi permasalahan yang muncul (20 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan keempat belas, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam bertanya dan menanggapi masalah

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, Beirut, Dar al-Fiqh, t.th

3.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

4.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

5.      CD Library of al-Fiqh

6.      Ibnu Qayyim al-Jauziyah, I’lam al-Muqi’in ‘an Qabbi al-‘Alamin, Dar al-Fikr, Beirut, 2005

7.      Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-Arabi, Beirut, t.th

8.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

9.      Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

10.  Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 15

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dengan jelas dan dapat menjelaskan dengan baik metode-metode istinbath dengan pendekatan tekstual/lafzhi dan pendekatan substansial/maknawi.

B. Materi Pokok.

1.      Metode-metode Istinbath

2.      Pendekatan Tekstual/Lafzhi

3.      Pendekatan Substansial/Maknawi

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit).

Dosen memaparkan tentang berbagai metode dalam istinbath.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen menjelaskan tentang metode istinbath dengan pendekatan maknawi dan lafzhi. (30 menit)

Ø  Dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk saling bertukar pendapat tentang masalah yang terkait dengan materi inti. (20)

Ø  Dosen menanggapi permasalahan yang muncul (20 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan kelima belas, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam bertanya dan menanggapi masalah

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, Beirut, Dar al-Fiqh, t.th

3.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

4.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

5.      CD Library of al-Fiqh

6.      Ibnu Qayyim al-Jauziyah, I’lam al-Muqi’in ‘an Qabbi al-‘Alamin, Dar al-Fikr, Beirut, 2005

7.      Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-Arabi, Beirut, t.th

8.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

9.      Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

10.  Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 16

A. Kompetensi Dasar.

Mahasiswa mampu memahami dengan jelas dan dapat menjelaskan dengan baik ijtihad, mujtahid dan sifatnya.

B. Materi Pokok.

1.      Definisi Ijtihad dan Mujjtahid

2.      Sifat Mujtahid

C. Kegiatan Perkuliahan

1.      Pendahuluan (10 menit).

Dosen mengulas terlebih dahulu materi pertemuan yang lalu untuk masuk pada materi kajian tentang ijtihad, mujtahid dan sifatnya.

2.      Kegiatan inti (70 menit)

Ø  Dosen menjelaskan tentang definisi ijtihad, mujtahid dan sifat dari mujtahid. (30 menit)

Ø  Dosen memberikan waktu kepada mahasiswa untuk saling bertukar pendapat tentang masalah yang terkait dengan materi inti. (20)

Ø  Dosen menanggapi permasalahan yang muncul (20 menit)

3.      Penutup    (10 menit)

Ø  Dosen menyimpulkan hasil perkuliahan hari ini.

D. Metode Perkuliahan.

Every one is a teacher here, tanya jawab, ceramah

E. Media / Alat Pembelajaran.

1.      Alat Tulis, seperti white board, spidol, dan penghapus.

2.      Multi Media.

3.      Dan lain-lain.

F. Evaluasi.

Pada pertemuan keenam belas, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses.

1.      Keseriusan mahasiswa dalam menyimak materi

2.      Keaktifan di dalam bertanya dan menanggapi masalah

LEMBAR PENILAIAN PROSES

No Nama Mahasiswa NIM Bertanya Menjawab Pendapat
1
2
3

G. Sumber.

1.      Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], Ensiklopedia Hukum Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001

2.      Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, Beirut, Dar al-Fiqh, t.th

3.      Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

4.      CD al-Maktabah al-Syamilah versi 5505 Kitab

5.      CD Library of al-Fiqh

6.      Ibnu Qayyim al-Jauziyah, I’lam al-Muqi’in ‘an Qabbi al-‘Alamin, Dar al-Fikr, Beirut, 2005

7.      Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr al-Arabi, Beirut, t.th

8.      Rahmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, Pustaka Setia, Bandung, 1999

9.      Syaifuddin Abil Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Dar al-Fikr, Beirut, 1996

10.  Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Dar al-Fikr, Damaski, 2001

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Mata Kuliah                            : Ushul Fiqh 1

Kode                                       :

Elemen Kompetensi                : Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK)

Jenis Kompetensi                    : Utama

SKS                                         : 3 SKS

Waktu Pertemuan                    : 120 Menit

Pertemuan ke                           : 17

UJIAN AKHIR SEMESTER

Soal :

1.      Pada masa sahabat yang lebih dekat dengan tradisi kehidupan Rasulullah saw, pemecahan masalah hukum lebih banyak bersandar pada al-Qur’an dan tradisi yang dibawa oleh Rasul, dan mereka saling bertukar informasi tentang tradisi Rasul tersebut. Begitu juga dengan masa sesudahnya, yakni masa tabi’in. Praktik inilah yang kemudian berkembang menjadi uraian kajian di dalam materi ushul fiqh, hingga Imam asy-Syafi’i harus memformulasikannya sebagai sebuah disiplin ilmu yang ia tuangkan di dalam kitabnya al-Risalah. Seperti apakah displin ilmu yang dituangkan al-Syafi’i di dalam kitabnya al-Risalah tersebut ? (skor : 40)

2.      Sunnah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan oleh nabi Muhammad saw baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun pengakuan dan sifat nabi. Ia disampaikan dan disebarluaskan oleh yang melihat, mendengar dan mengalaminya dari nabi Muhammad saw secara berantai melalui pemberitaan/khabar, sehingga sampai kepada orang yang mengumpulkan, menuliskan, dan membukukannya yakni sekitar abad ke-3 H. Lalu apakah fungsi al-Sunnah di dalam hukum Islam ? Jelaskan beserta contohnya. (skor 40)

3.      Jelaskan dengan baik definisi dari ijtihad, mujtahid dan sifat di dalamnya ? (skor : 20)

Kriteria Penilaian :

Soal 1             : bila tidak sempurna, skor 20. Bila lengkap, skor 40

Soal 2             : bila hanya memaparkan setengahnya saja, skor 20

bila lengkap, skor 40

Soal 3             : bila hanya menyebutkan definisi, skor 10

bila lengkap, skor 20

Manado, ……………..20…

Dosen

AHMAD RAJAFI, MHI

NIP. 19840414 200901 1 012

***TIME LINE***

NO TANGGAL PERTEMUAN  

MATERI

PENANGGUNG JAWAB
1 Definisi dan Perbedaan fiqh dan ushul fiqh Mahasiswa dan Dosen
2 Sejarah muncul dan pertumbuhan ushul fiqh Mahasiswa dan Dosen
3 Sejarah perkembangan ushul fiqh sebagai disiplin ilmu Mahasiswa dan Dosen
4 Ruang lingkup kajian di dalam ushul fiqh Mahasiswa dan Dosen
5 Definisi dan pembagian tentang al-hukm Mahasiswa dan Dosen
6 Definisi dan pembagian hukum taklif Mahasiswa dan Dosen
7 Definisi dan pembagian hukum wadh’i Mahasiswa dan Dosen
8 U T S Mahasiswa dan Dosen
9 Penjelasan al-hakim, mahkum bih/fih, dan mahkum ‘alaih Mahasiswa dan Dosen
10 al-Qur’an sebagai sumber dan dalil perumusan hukum Islam Mahasiswa dan Dosen
11 al-Sunnah sebagai sumber dan dalil perumusan hukum Islam Mahasiswa dan Dosen
12 al-Ijma’ sebagai sumber dan dalil dalam perumusan hukum Islam Mahasiswa dan Dosen
13 al-Qiyas sebagai sumber dan dalil dalam perumusan hukum Islam Mahasiswa dan Dosen
14 Penyelesaian benturan antara dalil dengan nasakh dan tarjih Mahasiswa dan Dosen
15 Metode istinbath dengan pendekatan lafzhi dan maknawi Mahasiswa dan Dosen
16 Penjelasan tentang ijtihad, mujtahid dan sifatnya Mahasiswa dan Dosen
17 UAS

SEJARAH MUNCULNYA USHUL FIQH SEBAGAI DISIPLIN ILMU

A. Pendahuluan.

Sejak periode awal sejarah Islam, perilaku kehidupan kaum muslimin dalam keseluruhan aspeknya telah diatur oleh hukum Islam. Aturan-aturan ini, pada esensinya, bersifat religius.[1] Oleh karena itu, dalam pembinaan dan pengembangannya, selalu diupayakan berdasarkan kepada al-Qur’an, sebagai wahyu Ilahi yang terakhir, yang pengaplikasiannya untuk sebagian besar dicontohkan dan dioperasionalkan oleh sunnah Rasulullah saw.

Bagi umat Islam, syari’ah adalah “tugas umat manusia yang menyeluruh”, meliputi moral dan etika pembinaan umat, aspirasi spiritual, ibadah formal dan ritual yang rinci. Syari’ah mencakup semua hukum publik dan perseorangan, kesehatan bahkan kesopanan dan akhlak.[2] Mayoritas umat Islam meyakini bahwa keseluruhan syari’ah itu bersifat ilahiah. Dan pandangan yang menjadi keyakinan umat ini akan menjadi hambatan psikologis utama dalam upaya merekonstruksi syari’ah, apalagi jika ada yang menganggap bahwa bagian tertentu dari syari’ah sudah tidak memadai, akan dituduh sebagai bid’ah.[3]

Memang dari sekian aspek yang diatur oleh Islam, aspek hukum mempunyai kedudukan tersendiri, karena ia menyentuh langsung kenyataan yang dihadapi umat Islam. Kalau dilihat ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung dasar hukum, baik mengenai ibadah maupun sosial kemayarakatan, bila diikuti perbandingan yang diberikan oleh Abdul Wahab Khallaf, seperti yang dikutip oleh Harun Nasution hanyalah sekitar 5,8 persen dari seluruh ayat al-Qur’an yang berjumlah 6360 ayat.[4]

Rasulullah Saw, dalam memecahkan masalah yang muncul, terkadang meminta pendapat para sahabat melalui forum musyawarah. Sebagai contoh, beliau meminta pertimbangan kepada Abu Bakar dan Umar dalam menangani tawanan perang Badar.[5] Pada masa itu, segala masalah yang timbul di kalangan umat dapat diselesaikan di hadapan beliau yang memiliki otoritas keagamaan.[6] Yang jadi masalah barangkali setelah sepeninggal Rasul, yakni perihal siapa yang mengganti hak otoritatif tersebut. Pada satu sisi, sumber pemecahan masalah keagamaan telah terputus, sedang pada sisi lain, kejadian-kejadian yang timbul dalam masyarakat tentu berlangsung tanpa mengenal batas. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka dibutuhkan pranata ijtihad secara kontinu demi pemenuhan kebutuhan masyarakat Islam.[7]

Pada masa sahabat yang lebih dekat dengan tradisi kehidupan Rasulullah saw, pemecahan masalah hukum lebih banyak bersandar pada al-Qur’an dan tradisi yang dibawa oleh Rasul, dan mereka saling bertukar informasi tentang tradisi Rasul tersebut.[8] Apabila mereka tidak menemukannya dalam dua sumber tersebut, mereka dengan segala upaya dan kesungguh­an berijtihad mencari pemecahan masalah dengan selalu mengambil inspirasi dan menangkap pesan-pesan universal al-Qur’an dan sunnah. Dalam berijtihad seringkali mereka meng­hasilkan pemecahan yang berbeda.[9] Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Ibnu Khaldun, seorang sosiolog muslim yang terkenal mengatakan: “Tidaklah sahabat itu mampu berfatwa, dan tidak semua dari mereka itu dapat diambil dan dijadikan pedornan dalam agama.”[10] Lain halnya di kalangan Syi’ah yang berkeyakinan bahwa para imam mereka memiliki hak otoritatif sebagaimana juga yang dimiliki oleh Rasul dalam menginter­pretasikan wahyu Ilahi. Apapun yang diputuskan olehnya me­lalui interpretasi dan elaborasi adalah mengikat kaum muslimin.[11]

Dalam perkembangan selanjutnya, Islam yang sudah menyebar sedemikian luasnya, pluralitas masyarakat tidak dapat dihindarkan lagi, masalah yang timbul pun tidak kalah kom­pleksnya yang menuntut upaya ijtihad yang lebih komprehensip bagi segenap pengikutnya, khususnya para intelektual muslim yang memiliki tanggung jawab yang paling berkompeten dalam hal tersebut. Hal demikian dilakukan untuk lebih mengaktuali­sasikan misi Islam yang bersifat elastis[12] dan tidak ada unsur pemaksaan bagi manusia.

Dalam tulisan ini akan dipaparkan masalah awal penyu­sunan ilmu ushul fiqh (dan kemudian menjadi salah satu dari bagian displin ilmu) yang telah dipelopori Imam Syafi’i dalam menyusun ilmu tersebut secara sistematis, yang dengan kecerdasannya, ia mampu menangkap fenomena yang ada dari per­kembangan ilmu ushul fiqh dari periode sebelumnya dan diapli­kasikan dalam karyanya yang konkrit.

B. Pembahasan.

1. Imam al-Syafi’i Penulis Pertama Ushul Fiqh Sebagai Disiplin Ilmu.

Nama lengkapnya adalah Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, ia adalah keturunan Quraisy dengan nasab Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi bin Saib bin ‘Abid bin Abdu Yazid ibnu Hisyam bin Muthalib bin Abdu Manaf, ia lahir di Gaza Palestina pada bulan Rajab tahun 150 H/767 M. (bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah) dan wafat pada malam jum’at 29 Rajab tahun 204 H/ 29 Januari 820 M. Ia lebih kurang menulis 100 karya ilmiah. Di antaranya; ar-Risalah, al-Umm, Ikhtilaf al-‘Iraqiyyin, Ikhtilaf Malik, Ibthal al-Istihsan, Ahkam al-Qur’an, al-Musnad, al-Radd ‘ala Muhammad bin al-Hasan, al-Qiyas, al-Imla’, al-Amali, al-Qasamat, al-Jizyah, Qital Ahl al-Baghyi, Siyar al-Awza’i, dan lain-lain.[13]

Dalam masalah fiqh, ia belajar pertama kali dengan Syeikh Muslim bin Khalid al-Zinji hingga mendapat kesaksian untuk memberikan fatwa,[14] walau Syafi’i ketika itu masih berumur lima belas tahun. Meskipun demikian, ia keberatan memberi fatwa, karena dirinya telah dikuasai obsesinya untuk menguasai seluruh faham fiqh yang berkembang pada zamannya. Sebagaimana Imam Malik di Madinah, Abu Hanifah di Kufah, al-Auza’i di Syam, al-Laits di Mesir.

Demi memenuhi apa yang menjadi obsesinya tersebut, ia bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya, dengan menghafal karya monumental dari Imam Malik, yaitu kitab al-Muwaththa’, sebelum ia mulai berguru kepada penyusunnya. Sehingga ketika ia belajar pada Imam Malik hanya dalam beberapa hari saja kitab al-Muwaththa’ selesai. Imam Malik sempat heran atas kecerdasan dan kefasihan Syafi’i dan selalu meminta untuk mengulang atau meneruskan bacaannya ketika belajar.[15]

Setelah di Madinah bersama Imam Malik, ia meneruskan perkelanaannya mencari ilmu ke Kufah selama dua tahun. Dan Kufah, ia telah mentransfer seluruh fiqh Abu Hanifah dan telah banyak mendapat kemajuan yang luar biasa. Hal itu terlihat dalam setiap majlis pembahasan keagamaan Syafi’i sangat menonjol dan mendominasi. Di samping itu memang ditunjang oleh penguasaannya dalam ilmu filsafat, logika, fisika, kedokteran, falak dan ilmu-ilmu empiris lainnya, yang sebelumnya telah dipelajari dari tokoh rasionalis di Irak dan para murid Abu Hanifah selama di Madinah.[16] Syafi’i tinggal di Madinah di bawah naungan Imam Malik hingga Imam Malik wafat pada tahun 179 H. Pada saat itu, umur beliau dua puluh sembilan tahun.

Sepeninggal gurunya, Syafi’i pergi ke Najran dengan tujuan bekerja, namun di sana ia justru mendapat kesempatan meleng­kapi obsesinya menguasai fiqhnya al-Laits, di mana dia berguru pada Yahya bin Hissan, salah seorang murid al-Laits. Dan dialah, Syafi’i mengambil seluruh pengetahuan fiqh al-Laits.[17] Dan di sana pula lah, ia banyak bergaul dengan ulama Syi’ah dan banyak bergesekan dengan penguasa Sunni bahkan dia sempat dituduh memberontak dan menjadi pengikut golongan Syi’ah karena perkataan beliau yang bemada condong kepada keturuanan Ali bin Abi Thalib. Karena itu, ia sempat diajukan ke meja hijau di masa Harun al-Rasyid karena perkataannya sebagai berikut: “Jika Rafidhi (Syi’ah) itu mencintai keluarga Muhammad saw maka saksikanlah bahwa sesungguhnya saya Rafidhi.” Kejadian itu pada tahun 184 H, ketika ia berusia tiga puluh empat tahun.[18]

2. Displin Ilmu yang Dituangkan al-Syafi’i di Dalam Kitabnya al-Risalah.

Pada diri Syafi’i terakumulasi pemikiran fiqh dari para fuqaha’ Mekah, Madinah, Irak dan Mesir. al-Razi, seperti yang dikutip Abu Zahrah, mengatakan bahwa hampir semua ulama terkemuka yang hidup di zamannya pemah menjadi gurunya, paling tidak, pemah mendiskusikan persoalan dengannya. Guru­gurunya yang betul-betul ahli fiqh sekitar sembilan belas orang, lima orang dari Mekah, enam orang dan Madinah, empat orang dari Yaman dan empat orang dari Irak.[19]

Ada keterangan bahwa Imam Syafi’i tidak saja mengagumi rasionalisme Abu Hanifah, tradisionalisme Malik, reformisme Auza’i dan al-Laits akan tetapi juga pemikiran-pemikiran fun­damentalisme Syi’ah dan Mu’tazilah. Dalam kajian sejarah Ibn Katsir disebutkan bahwa Syafi’i berkata secara apresiasif : “Barang siapa yang ingin memperdalam fiqh, ia harus jadi anak asuh Abu Hanifah, yang ingin memperdalam sejarah harus menjadi anak asuh Muhammad bin Ishaq, yang ingin memperdalam hadis harus menjadi anak asuh Imam Malik dan yang ingin memperdalam tafsir harus menjadi anak asuh Muqathil bin Sulaiman.”[20]

Ketika al-Syafi’i telah menjadi seorang Imam untuk merealisasi­kan ilmunya, beliau membentuk majelis sebagai sarana dalam mengajar dan berfatwa. Beliau membuka majelis di Masjid al-Haram, Mekah, beberapa jam setelah shalat subuh. Sisa waktu lainnya digunakan untuk berkonsentrasi khusus mencari metode dalam fiqh. Dari hasil renungannya tersusunlah kitab “al-Risalah” yang berisi tentang kaidah-kaidah global untuk mengambil hukum dan prinsip penggalian hukum dan beliau tetapkan sebagai “ilmu ushul fiqh”.[21]

Dalam menentukan metode yang dikemukakannya, beliau sangatlah hati-hati, sikap ini tampak ketika ditanya tentang landasan beliau terhadap ijma’. Untuk menemukan jawaban tersebut beliau sampai membaca al-Qur’an sebanyak 300 kali dan akhimya menemukan jawabannya pada surat an-Nisa’ ayat 15.[22]

Dalam membangun pemikiran ushul fiqhnya ke dalam suatu displin ilmu, Imam Syafi’i meng­ikuti fenomena perbedaan dengan cermat sehingga melahirkan suatu sintesa pemikiran fiqh, yaitu antara fiqh ahl hadits dan ahl ra’yi yang benar-benar orisinil. Memang benar, bahwa perkem­bangan Imam Syafi’i pada masa awal perumusan dua mazhab (Hanafi dan Malik) itu telah banyak mewamai pemikiran fiqh mazhab Syafi’i yang moderat dan cenderung pada sikap jalan tengah.[23]

Di tengah-tengah pergumulan intelektual yang terjadi pada saat itu, Syafi’i menulis buku “al-Hujjah” (Argumentasi) yang secara komprehensif memuat sikapnya terhadap berbagai persoalan yang berkembang. Pemikiran-pemikiran baru Syafi’i itu diantara­nya tertuang dalam bukunya “al-Umm”, yang disampaikannya secara lisan pada murid-muridnya di Mesir.

Dalam merinci kajian ushul fiqh-nya sehingga menjadi suatu disiplin ilmu, ada beberapa tahapan yang perlu dicatat di sini; yang pertama, di Mekah selama kurang lebih sembilan tahun, saat itu adalah masa kehidupan ilmiah yang paling kreatif dan energik, ia mulai merumuskan pemikirannya khususnya dalam bidang fiqh, secara sungguh-sungguh dan mendalam. Tahap pertama ini merupakan periode perumusan metode berpikir dan kaidah-kaidah dasar, terbukti belum banyak memasuki masalah-masalah far’iyyah (cabang). Dengan kata lain, karakteristik pemikirannya masih bersifat global dan kaidah-kaidah dasar sebagai pijakan dalam berijtihad.

Kedua, dimulai pada tahun 195 H di Baghdad, di sinilah ia mulai memperlihatkan sikapnya terhadap pendapat-pendapat fuqaha’ yang hidup di zamannya dan bahkan pendapat para sahabat dan tabi’in. Ia mempraktekkan kaidah-kaidah ushuliyah terhadap perbedaan pendapat yang berkembang. Pluralisme pemikiran yang ada di Irak adalah faktor utama yang menyebabkan kematangan pemikiran fiqh Syafi’i.

Ketiga, periode ini dimulai tahun 199 H setelah pindah ke Mesir, hingga wafatnya tahun 204 H. Pada masa-masa akhir inilah, ia menggunakan sebagian besar waktunya untuk menulis buku-bukunya, bahkan merevisi buku-buku yang pernah ditulis­nya seperti al-Risalah yang merupakan karya monumental pertama sepanjang sejarah dalam bidang ushul al-fiqh[24] sekaligus menjadi bukti kecerdasan Syafi’i dalam menganalisis fenomena yang berkembang dalam pergulatan masalah fiqhiyah. Ia mampu mengakumulasikan hampir semusa masalah hukum Islam dalam karya­nya tersebut, di mana secara garis besar ia menuangkan tahap­an metode pengambilan hukum, sebagai berikut, pertama melalui rujukan al-Qur’an sebagai pijakan dasar. Ia berargumentasi bahwa al-Qur’an telah memuat segala ketetentuan hukum dari segala persoalan yang muncul.[25] Kedua, al-sunnah, ia menempatkannya setara dengan al-Qur’an sebagai sumber hukum, karena pada hakekatnya antara keduanya memiliki hubungan yang integral. Pranata yang ketiga ijma’, dan yang keempat qiyas (analog).

Keempat landasan tersebut dijadikannya patokan dalam pengambilan suatu hukum. Sedangkan istihsan, istishhab, sadd al-dzari’ah dan metode lainnya dimasukkan ke dalam qiyas bi al-qawa’id (penalaran analogis terhadap prinsip umum yang terkan­dung dalam preseden itu sendiri).

C. Kesimpulan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapatlah di simpulkan bahwa sesungguhnya yang pertama kali merumuskan dan membukukan sehingga memunculkan salah satu disiplin ilmu baru yang bernama ushul fiqh adalah Imam al-Syafi’i rahimahullah ta’ala. Displin ilmu yang ia kemukakan merupakan usaha yang kuat untuk memoderasi antara pikir ahl al-ra’yi dan ahl al-hadits.


[1] Fazlur Rahman, Islam, (Chicago: University of Chicago Press, 1979), Edisi Kedua, h. 68

[2] Ibid., h. 101-109

[3] Abdullah Ahmad al-Na’im, Dekonstruksi Syari’ah, (Yogyakarta: LKiS, 1994), h. 25

[4] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Bulan Bintang, t.th.), h. 7

[5] Badran Abu al-’Ainaini Badran, Ushul al-Fiqh al-Islami, (Mesir: Muassasah Syabab al-Jami’ah al-Iskandariyah, t.th.), h. 5

[6] Ibid.

[7] Abdul Wahhab Khalaf, Mashadir al-Tasyri’ al-Islami, (Kuwait: Dar al-Qalam, 1976), h. 6

[8] Muhammad Yusuf Musa, Tarikh al-Fiqh al-Islami, (Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsah, 1958), h. 277

[9] Amir Nurudin, Ijtihad Umar ibn al-Khattab, (Jakarta: Rajawali Press, 1991), h. 71

[10] Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun, (t.t.: Dar al-Bayan, t.th.), h. 446

[11] Abdul Aziz A Sachenia, Kepemimpinan Dalam Islam Perspektif Syi’ah, (Bandung: Mizan, 1991), h. 23

[12] Muhammad Khudari Beik, Tarikh Tasyri’ al-Islami, (Beirut: Dar al-Fikr al-Islami, 1981), h. 17

[13] Muhammad Abu Zahrah, Imam Syafi’i : hayâtuhu wa ‘asruhu wa fikruhu ara’uhu wa fiqhuhu, diterjemahkan oleh Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman, Imam Syafi’i Biografi dan Pemikirannya dalam Masalah Akidah Politik & Fiqh, (Jakarta: Lentera, 2005), h. 27-28

[14] Husain Hamid Hasan, al-Madkhal li Dirasat al-Fiqh al-Islami, (Mesir: t.p., 1981), h. 193

[15] Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, (Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, t.th.), Jilid II, h. 131

[16] Abdurrahman al-Syarqawi, Lima Imam Madzhab Terkemuka, (Bandung: al-Bayan, 1994), h. 101

[17] Ibid., 106

[18] Abu Zahrah, Tarikh op.cit., h. 233

[19] Abu Zahrah, al-Syafi’i op.cit., h. 41

[20] Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, (Beirut: Dar al-Kutub, 1995), Jilid V, h. 263-264

[21] Abdurrahman al-Syarqawi, op.cit., h. 118

[22] Abdul Fatah, al-Ijma’, (Mesir: t.p., 1879), h. 74

[23] Mun’im A Sirry, Sejarah Fiqh Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), h. 106

[24] Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, (Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi, t.th.), h. 13

[25] Imam al-Syafi’i, al-Risalah, (Beirut: t.p., t.th.), h. 20

PENGERTIAN FIQH, SYARI’AH DAN HUKUM ISLAM

A. Pengertian Fiqh dan Syari’ah.

Islam sebagai agama samawi, memiliki kitab suci al-Qur’an. Sebagai sumber utama, al-Qur’an mengandung berbagai ajaran. Di kalangan ulama ada yang membagi kandungan al-Qur’an kepada tiga kelompok besar, yaitu aqidah, khuluqiyyah dan ‘amaliah. Aqidah berkaitan dengan dasar-dasar keimanan. Khuluqiyah ber­kaitan dengan etika atau akhlak. Dan amaliah berkaitan dengan aspek-aspek hukum yang muncul dari aqwal (ungkapan-ungkapan), dan af’al (perbuatan-perbuatan manusia). Kelompok terakhir (‘ama­liah) ini, dalam sistematika hukum Islam dibagi ke dalam dua besar. Pertama ; Ibadat, yang di dalamnya diatur pola hubungan manusia dengan Tuhan. Kedua ; mu’amalah, yang di dalamnya diatur pola hubungan antara sesama manusia.[1]

Hukum tentang ‘amaliah kemudian lebih dikenal dengan sebutan fiqh, yang bearti “paham yang mendalam”. Bila “paham” dapat digunakan untuk hal-hal yang bersifat lahiriyah, maka fiqh berarti paham yang menyampaikan ilmu zahir kepada ilmu bathin. Karena itulah at-Tirmizi menyebutkan “fiqh tentang sesuatu”, berarti mengetahui batinnya sampai kepada ke dalamannya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa fiqhun atau paham tidak sama dengan ‘ilmu walaupun wazan lafaznya sama. Meskipun belum menjadi ilmu, paham adalah pikiran yang baik dari segi kesiapannya menangkap apa yang yang dituntut. Ilmu bukanlah dalam bentuk zhanni seperti paham atau fiqh yang merupakan ilmu tentang hukum yang zhanni dalam dirinya.

Secara definitif, fiqh berarti “ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang tafsili”. Dalam definisi ini fiqh diibaratkan dengan ilmu karena fiqh itu semacam ilmu pengetahuan. Memang fiqh itu tidak sama dengan ilmu seperti disebutkan di atas, fiqh itu bersifat zhanni. Fiqh adalah apa yang dapat dicapai oleh mujtahid dengan zhannya, sedang ilmu tidak bersifat zhanni seperti fiqh. Namun karena zhan dalam fiqh ini kuat maka ia mendekati ilmu, karenanya dalam definisi ini ilmu digunakan juga untuk fiqh.

Dalam definisi di atas terdapat batasan atau fasal yang disamping menjelaskan hakikat dari fiqh itu sekaligus juga memisahkan arti kata fiqh itu dari yang bukan fiqh. Batasan itu adalah melalui penggunaan kata hukum, syar’iyyah, ‘amaliah dan penggunaan kata digali dan ditemukan serta kata tafsili.

Al-Amidi memeberikan definisi yang berbeda dengan yang di atas, yaitu “Ilmu tentang seperangkat hukum-hukum syara’ yang bersifat furu’iyah yang berhasil didapatkan melalui penalaran atau istidlal”.[2]

Dengan menganalisa kedua definisi di atas dapat ditemukan hakikat fiqh, yaitu ;

1. Fiqh itu adalah ilmu tentang hukum Allah;

2. Yang dibicarakan adalah hal-hal yang bersifat ‘amaliyah furu’iyah;

3. Fiqh itu digali dan ditemukan melalui penalaran dan istidlal seorang mujtahid atau faqih.

Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan bahwa fiqh itu adalah “dugaan kuat yang dicapai seorang mujtahid dalam usahanya menemukan hukum Allah”. Dari pengertian ini terlihat kaitan yang sangat erat antara fiqh dan syari’ah, dimana syari’ah diartikan sebagai “ketentuan yang ditetapkan Allah tentang tingkah laku manusia di dunia dan akhirat”. Adapun menurut al-Syathibi, syari’ah adalah :

إِنَّ مََعْنَى الشَّرِ يْعَةِ أَ نَّـهَاتَحَدُّ لِلْمُكَلَّفِيْنَ حُدُوْدًا فِى أَفْعَالِهِمْ وَ أَقْوَا لِهِمْ وَاعْتِقَادَتِهِمْ

Artinya : “arti syari’at adalah ketentuan-ketentuan yang membuat batasan-batasan bagi para mukallaf baik mengenai perbuatan, perkataan, dan i’tiqad mereka.[3]

Ketentuan Allah itu terbatas dalam firman dan penjelasannya melalui lisan Nabi Muhammad saw. Semua tindakan manusia di dunia dalam mencapai kehidupan yang baik itu harus tunduk kepada kehendak Allah dan Rasul-Nya. Untuk mengetahui keseluruhan apa yang dikehendaki Allah tentang tingkah manusia itu, harus ada pemahaman mendalam tentang syari’ah, sehingga secara ‘amaliah, syari’ah dapat diterapkan dalam kondisi dan situasi bagaimanapun juga. Hasil pemahaman itu dituangkan dalam bentuk ketentuan yang terinci. Ketentuan terinci tingkah laku mukallaf yang diramu dan diformulasikan sebagai hasil pemahaman terhadap syari’ah itu disebut fiqh.

B. Pengertian Hukum Islam.

Di Indonesia, kata syari’ah sering disebut pula dengan nama hukum Islam, yang bermakna, “ketetapan Allah dan Rasul-Nya, atau ketetapan perintah Allah dan Rasul-Nya baik untuk mengerjakan suatu pekerjaan atau meninggalkan larangan dan menerangkan kebolehan mengerjakan atau meninggalkan”.[4] Dalam pengertian Ushul Fiqh, Hukum Islam adalah ; “Seperangkat peraturan berdasarkan wahyu Allah dan Rasul-Nya tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini mengikat untuk semua yang beragama”[5].


[1] Abd al-Wahab Khalaf, ‘Ilm Ushul al-Fiqh, Dar al-Kuwaitiyyah, Kairo, 1968, hlm. 32

[2] Syaifuddin Abi al-Hasan Ali bin Abi Ali bin Muhammad al-Amidi, Al-Ihkam Fi Ushul al- Ahkam, Juz IV, Daar al-Fikr, Beirut, 1996, hlm. 227

[3] Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Ushul Fikih, Amzah, Jakarta, 2005, hlm. 307

[4] M. Abdul Mujeib dkk, Kamus Istilah Fiqh, PT Pirdaus, Jakarta, 1994, hlm 106

[5] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997, hlm. 5