BUKU KUMPULAN KHUTBAH JUM’AT DAN HARI RAYA : REFLEKSI ISLAM INDONESIA

Umat Islam Indonesia pasca reformasi telah mendapat kebebasan berekspresi dengan begitu lebar. Bahkan, karena begitu luasnya peluang untuk berekpresi, sampai-sampai bangsa ini mulai kewalahan karena siapapun kini dapat berbicara termasuk dalam hal agama, tanpa diketahui asal usul dunia akademik keislamannya. Batas-batas kewajaran dan toleransi kini telah “dikangkangi” karena semangat yang menggebu-gebu untuk menyampaikan ajaran agama karena adanya hadits Nabi Muhammad saw yang memerintahkan untuk menyampaikan ajaran agama walaupun hanya satu ayat, tanpa di dasari oleh kedalaman beragama.

Semangat seperti ini ternyata juga masuk ke dalam mimbar-mimbar jum’at dan kemudian menyamakan antara ceramah bebas dengan khutbah sehingga menegasi unsur-unsur penting di dalam khutbah, yakni syarat dan rukun khutbah. Seringkali saat ini, umat dihadirkan di dalam masjidnya para pengkhutbah seperti di atas, yang secara domisili bukan termasuk muqimin. Mereka menyampaikan agama melalui perspektif mereka tanpa mengetahui dan mencari tahu al-‘adah yang berkembang di tempat itu. Hasilnya, begitu banyak jama’ah jum’at yang akhirnya kecewa dengan peribadatan jum’at pada hari itu. Di sisi yang lain, karena tentunya di dalam peribadatan jum’at berkumpul antara orang-orang yang ‘alim dan awam, maka menjadi sebuah problem besar bagi mereka yang mengetahui adanya kekurangan rukun di dalam penyampaian khutbah tersebut, sehingga harus memaksa mereka untuk menyempurnakan peribadatan jum’at mereka, dengan kembali melaksanakan shalat zhuhur. Prinsip seperti ini merupakan ajaran yang berkembang secara luas di bumi nusantara melalui jalur pikir madzhab Imam asy-Syafi’i rahimahullah ta’ala.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa karena dampak dari reformasi, informasi dari luar Indonesia termasuk faham-faham agama selain yang berkembang secara major, kini masuk dan merasuk secara masal tanpa dapat dibendung. Termasuk di dalamnya faham wahabi dari Arab Sauidi, Syi’ah dari Iran, dan Liberal dari Eropa. Akan tetapi perlu diingat kembali, bahwa kita adalah umat Islam yang lahir dan besar di bumi Indonesia, sebuah wilayah di Asia Tenggara yang mengalami Islamisasi tanpa adanya paksaan dan kekerasan. Islam menyebar ke hampir seluruh bagian di wilayah Indonesia oleh tangan-tangan para penyebar Islam – termasuk Walisongo – dengan penuh ke’arifan, kebijaksanaan dan tingkat toleransi yang begitu tinggi. Mereka mengetahui bahwa semangat ajaran Hindu-Budha begitu kuat dipraktekkan di dalam sendi-sendi kehidupan mereka. Dan untuk menarik hati mereka, maka para penyebar Islam di tanah Nusantara saat itu juga menggunakan hati untuk melakukan pendekatan. Akhirnya, terjadilah asimilasi budaya antara Hindu-Islam dan kemudian menjadi model para pendakwah selanjutnya (yakni murid-murid Walisongo) untuk tetap menjaga nilai-nilai toleransi tersebut.

Melalui penjelasan di atas, maka buku Kumpulan Khutbah yang hadir di akhir Tahun 2013 ini menjadi kado istimewa bagi para pendakwah dan khatib yang ingin terus berdakwah dengan pemikiran yang progresif namun tetap menjaga nilai-nilai tradisi lama yang baik. Dengan bahasa yang lugas dan dengan ungkapan-ungkapan di dalam buku ini dengan memberikan gambaran dan solusi terhadap probelem sosial keagamaan di Indonesia, akan menjadi sangat menarik ketika disampaikan kepada jama’ah jum’at dan dua hari raya yang tentunya haus dengan ajaran Islam yang berwawasan ke-Indonesiaan. Terlebih lagi, buku ini diawali dengan penyampaian fiqh khutbah secara singkat tentang panduan menjadi khatib, maka akan menjadi sangat berhati-hati bagi para khatib dikemudian hari dalam menyampaikan khutbahnya, dengan tidak meninggalkan syarat dan rukun di dalam khutbah tersebut.

Buku Khutbah edit copycropped-beli-buku.jpg

KHUTBAH ‘IDUL ADHA 2013 : BERKURBAN BERHALA KESOMBONGAN DI ERA MODERN

Oleh :

Ahmad Rajafi Sahran, M.Hi

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر {× 7} الله أكبر كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لا إ له إلا اللهُ وَحْدَ هْ صَدَقَ وَعْدَ هْ وَ نَصَرَ عَبْدَ هْ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَ هْ ، لا إ له إلا اللهُ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ ، لا إ له إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.

اْلحَمْدُ للهِ الَّذِي مَنْ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ الْجَسِيْمِ، اِذْ مَنَّ عَلَيْنَا بِمُحَمَّدٍ اَفْضَلِ الْخَلْقِ اَجْمَعِيْنَ، فَهَدَانَا اِلَى دِيْنِ الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْكَرِيْمِ الْحَلِيْمِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ الَّذِي خَصَّى بِالْخُلُقِ الْعَظِيْمِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَلَّذِيْنَ فَازُوْا بِالْحَظِّ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا {أما بعد}

فَيَا أ يُّهَاالنَّاسُ اتَّقُواللهَ وَافْعَلُوا مَأْمُوْرَاتِهِ وَاتْرُكُوْا مَنْهِيَّاتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {الأعراف : 204} وقال أيضا: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ، فَصَلِّ لِرَ بِّكَ وَانْحَرْ ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَ بْتَرُ {التكاثر : 3-1}

الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد

Hadirin Jama’ah Shalat Idul Adha yang Dirahmati Oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak terasa perjalanan waktu hingga saat ini, masih mencatat kita sebagai bagian kelompok manusia, yang dapat ikut meramaikan ibadah sunnah ‘idul adha. Bersamaan dengan hal itu pula, satu persatu orang-orang terdekat kita, tidak terasa telah pergi terlebih dahulu meninggalkan kita menghadap Allah Jalla wa ‘Ala. Untuk itu, marilah kita berdoa agar kita yang masih hidup pada kesempatan ini, dapat terus berusaha untuk menjadi hamba yang lebih baik, dan meraih akhirat yang penuh dengan kenikmatan, bukan murka-Nya Allah ta’ala, amin ya Rabbal ‘alamin.

 Hadirin yang Berbahagia.

Fenomena kesombongan sesama makhluk di dunia ini kini semakin menjadi-jadi. Bahkan tanpa disadari, kesombongan baik yang tersirat maupun tersurat pada diri seorang manusia telah sampai pada pembajakan hak-hak Tuhan yakni Allah swt di dunia. Dengan demikian, maka pantas jika kemudian, kesombongan telah menjadi berhala baru di era modern ini.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata kesombongan berasal dari kata sombong yang berarti menghargai diri sendiri secara berlebihan, congkak, dan pongah. Sedangkan di dalam bahasa Arab, kata sombong biasanya merupakan terjemahan dari kata al-kibr yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi istilah takabur.

Al-Qur’an yang merupakan firman Allah subhanhau wa ta’ala telah menyampaikan tentang permasalahan kesombongan sebanyak 58 ayat dengan redaksi yang berbeda-beda. Salah satunya adalah :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا ِلآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ {البقرة : 34}

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur, maka ia kemudian termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. al-Baqarah : 34)

 Pada ayat di atas, Allah swt menggunkan kata istakbara yang berasal dari kata kabara ( كبر ) dengan huruf asalnya adalah kaf ( ك ), ba’ ( ب ), dan ra’ ( ر ), yang kemudian juga menjadi bagian nama-nama Allah swt yang terangkum di dalam 99 asma’ al-husna yakni al-Mutakabbir ( المتكبر ) Sang Maha Pemilik Kebesaran, al-Kabir ( الكبير ) Sang Maha Besar.

Pembajakan seorang hamba terhadap hak Allah di atas inilah yang kemudian memunculkan berbagai sifat keangkuhan dan kebesaran yang tercela terhadap Allah swt beserta tanda-tanda kebesaran-Nya, terhadap Nabi dan Rasul-Nya, dan terhadap makhluk-makhluk-Nya. Adapun kesombongan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala merupakan puncak dari segala keangkuhan, seperti ulah Namrud la’natullah ‘alaih, seorang penguasa pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آَتاهُ اللهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ {البقرة : 258}

Artinya : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (QS. al-Baqarah : 258)

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Hadirin Rahimakumullah.

Berdasarkan fenomena faktual di atas yang kemudian dikuatkan dengan firman-firman Allah swt, maka pantas rasanya jika hal tersebut kita kaitkan dengan adanya perintah berkurban di dalam Islam. Dan tentunya melalui khutbah ini, kerangka berpikir filosofis akan menjadi modal dasar dalam melakukan analisis. Maksudnya adalah, bahwa saat ini kita sebagai umat Islam, sedang terjebak pada ritual keagamaan, senang dengan sifat untuk menonjolkan aksesoris keagamaan akan tetapi sangat miskin makna dan pemahaman. Kita sangat senang untuk menyalahkan praktek ibadah orang lain yang berbeda, tapi minim koreksi diri (al-muhasabah). Dari sinilah kemudian hadir sifat-sifat kesombongan yang tidak pernah diketahui sedikitpun bagi yang melakukan. Untuk itulah, memaknai perintah qurban yang lebih humanis, dirasa lebih resposif dengan kondisi saat ini.

Jika kita kita lihat bersama definisi qurban dari segi bahasa, menurut Ahmad Warson Munawwir alm, di dalam al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, qurban berasal dari kata qaruba-yaqrabu-qurban, yang artinya dekat dan mendekati. Sedangkan dalam tradisi Arab menurut Ahmad bin Umar al-Syathiry al-‘Uluwy al-Husaini al-Tarimy di dalam Kitab al-Yaqut al-Nafis fi Madzhab ibnu Idris, hal ini dikenal dengan istilah al-udhhiyyah, yang berarti :

مَا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ تَقَرُّ بًا إِلىَ اللهِ تَعَالىَ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ إِلىَ آخِرِ أَ يَّامِ التَّشْرِ يْقِ

Artinya : “Apa yang disembelih dari binatang ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. pada hari nahr (10 dzulhijjah) sampai pada akhir hari tasyriq (13 dzulhijjah).

 Artinya, jika dilihat dari segi definisi qurban dan udhhiyyah, maka maksud dan tujuan dari ibadah tersebut adalah, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Apalagi jika kita ingat kembali sejarah hadirnya perintah qurban ini, di mana sifat-sifat ketawadhu’an, ketundukan, keikhlasan, tertanam dan tumbuh dengan hebat di dalam diri seorang anak manusia bernama Ism’ail ‘alaihissalam, keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Perintah Allah swt kepada Nabi Ibrahim alaihissalam untuk menyembelih anaknya Isma’il ‘alaihissalam yang jika dipikirkan, sangatlah tidak masuk akal, akantetapi tetap ia sampaikan perintah Allah tersebut kepada anaknya, dan dijawab dengan lantang oleh Isma’il ‘alaihissalam, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an al-Karim :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ {الصفات : 102}

Artinya : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. ash-Shaffaat : 102)

 Karena sikap dan sifat yang begitu mulia yang ditinjukkan oleh Nabi muda tersebut, maka kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengubah qurban tersebut menjadi sebuah sebuah qibas yang besar, Allah swt berfirman :

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ {الصفات : 107}

Artinya : “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Hadirin Jama’ah Shalat ‘Idul Adha Rahimakumullah.

Sikap Isma’il ‘alaihissalam di atas, menjadi cermin yang nyata, bagi siapapun yang ingin menjadi hamba yang lebih baik. Sebuah sikap yang mungkin sangat sulit untuk dipraktekkan saat ini, di mana semua kehendak sifat-sifat manusianya takluk di bawah kehendak Allah swt. Semua yang diucapkannya adalah karena Allah ta’ala. Semua yang ia kerjakan adalah kerena Allah semata. Dan seluruh sifatnya, masuk kepada sifat-sifat baik Allah swt.

Inilah ajaran tauhid yang telah diajarakan oleh kisah Nabi Allah Isma’il ‘alaihissalam dan diteruskan oleh baginda Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hasil yang diraih olehnya, sesuai dengan doa yang diajarkan oleh Allah di dalam al-Qur’an :

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ {البقرة : 201}

Artinya : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah : 201)

 Inilah pemaknaan qurban yang sesungguhnya, yang harus dihadirkan saat ini. Qurban yang betul-betul menyembelih semua sifat kesombongan yang ada pada diri setiap manusia. Qurban yang bukan saja sekedar menjalankan sebuah ritus, namun keinginan untuk menonjolkan diri baik dari segi harta, jabatan dan ilmu begitu tinggi. Kita harus dapat merasakan susah dan getirnya kehidupan orang-orang miskin disekitar kita, karena sesungguhnya rasa dari sebuah kemiskinan seperti teriakan hewan qurban yang sedang disembelih. Maka pantaskah jika kita sebagai seorang manusia, makhluk ciptaan Sang Khaliq Allah subhanahu wa ta’ala, berjalan di bumi-Nya dengan sikap sombong dan angkuh ? na’udzubillahi min dzalik.

Fenomena sikap sombong di Indonesia saat ini begitu tinggi. Jabatan yang sifanya sementara begitu ditonjol-tonjolkan sehingga tidak lagi merasa takut untuk melakukan korupsi. Kekayaan yang sifatnya tak kekal begitu ditunjukkan sehingga menindas yang lemah. Di antara kita saat ini masih ada rasa risih untuk kumpul dan bersama-sama dengan orang-orang miskin. Orang-orang miskin merasa malu untuk dapat bertemu dengan siapun yang tingkat sosialnya tinggi, meskipun masih ada hubungan keluarga dengannya. Urusan kantor jika bukan dengan orang-orang yang terpandang, apalagi jika tidak beruang, maka wujudnya sama seperti tidak adanya (wujuduhu ka ‘adamihi). Mereka seringkali kemudian, tidak dianggap sebagai manusia.

Jika ini yang terjadi, maka masih pantaskah kita berkeyakinan untuk menjadi penghuni surga-Nya Allah subhanahu wa ta’ala ? atau sesungguhnya kita inilah kayu bakarnya neraka jahannam, yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ? Untuk itu hadirin, menyembelih qurban berupa sifat kesombongan dan angkuh sebagai berhala kehidupannya, sama wajibnya dengan perintah untuk berkurban dengan menyembelih hewan qurban. Pemahaman seperti ini, sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an :

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ {لقمان : 18}

Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

 Begitu juga dengan nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ : إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ {رواه مسلم}

Artinya : “Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan. Seorang laki-laki bertanya; Sesungguhnya seseorang menyukai baju dan sandal yang bagus (apakah ini termasuk kesombongan)? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Pada akhirnya kami mengajak kepada kita semua sebagai umat Islam, untuk bersama-sama mulai hari ini, agar dapat mengurbankan berhala kesombongan kita yang mengalir didarah kita masing-masing. Jangan sampai kita hidup di era modern ini, akan tetapi nuansanya penuh dengan kebodohan seperti masa-masa jahiliyyah. Kita alirkan dan habiskan darah keangkuhan kita seperti kita mengalirkan darah hewan qurban. Sehingga nilai ketakwaan betul-betul masuk dan merasuk ke dalam diri kita masing-masing. Allah swt berfirman :

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ {الحج : 37}

Artinya : “Daging-daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Hajj : 37)

 Hadirin Rahimakumullah.

Untuk menutup khutbah ‘Idul Adha ini, marilah kita bersama-sama menengadahkan tangan berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan penuh harapan dan keikhlasan :

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَ ْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِ يْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ

Ya Allah, sesungguhnya kami adalah hamba-hamba-Mu yang begitu penuh dengan dosa dan khilaf, tak pantas rasanya kami menjadi penghuni surga-Mu, akan tetapi kami tak akan pernah mampu jika engkau masukkan ke dalam neraka-Mu. Untuk itu ya Rabb, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengaihi kami diwaktu kecil.

Ya Allah ya Rabbana, berilah kami kekuatan dan kemampuan agar kami senantiasa dapat berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Mu kapanpun dan di mana pun kami berada. Tumbuhkanlah kecintaan, keikhlasan dan ketulusan di dalam hati kami untuk saling memaafkan, mencintai dan melindungi.

Ya Allah, dihari yang mulia ini turunkanlah kepada kami cahaya yang menyinari hati kami dan yang memberi kekuatan dalam menjalani hari-hari ini dan dalam menempuh hari-hari yang akan datang. Berilah petunjuk dan kemampuan kepada para pemimpin kami agar dapat membawa bangsa ini keluar dari segala kesulitan menuju ke dalam suasana kedamaian dan kemakmuran di bawah ampunan dan keridhaan-Mu.

اللهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا وَاجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللهُمَّ أَعِزَ اْلإِسْلاَ مَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاخْذُلِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِيْنِ

KHUTBAH IDUL FITRI 1434 H : BULAN RAMADHAN MENGAJARKAN MENJADI MUSLIM YANG RAMAH DI TENGAH PERBEDAAN

Oleh :

AHMAD RAJAFI SAHRAN, M.Hi[1]

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر {× 7} الله أكبر كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لا إ له إلا اللهُ وَحْدَ هْ صَدَقَ وَعْدَ هْ وَ نَصَرَ عَبْدَ هْ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَ هْ ، لا إ له إلا اللهُ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ ، لا إ له إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الَّذِي أَنْزَلَ كِتَابَهُ الْمُبِينَ عَلَى رَسُولِهِ الصَّادِقِ اْلأَمِينِ فَشَرَحَ بِهِ صُدُورَ عِبَادِهِ الْمُتَّقِينَ وَنَوَّرَ بِهِ بَصَائِرَ أَوْلِيَائِهِ الْعَارِفِينَ فَاسْتَنْبَطُوا مِنْهُ اْلأَحْكَامَ وَمَيَّزُوا بِهِ الْحَلاَلَ مِنْ الْحَرَامِ وَ بَيَّنُوا الشَّرَائِعَ لِلْعَالَمِينَ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِ يْكَ لَهُ وَ لاَ ظَهِيْرَ لَهُ وَ لاَ مُعِيْنَ شَهَادَةً مُوجِبَةً لِلْفَوْزِ بِأَعْلَى دَرَجَاتِ الْيَقِينِ وَدَافِعَةً لِشُبَهِ الْمُبْطِلِينَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ اْلأَوَّلِينَ وَاْلآخِرِ يْنَ وَخَاتَمُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ الْمَبْعُوثُ لِكَافَّةِ الْخَلاَئِقِ أَجْمَعِينَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِيْنَ وَأَصْحَابِهِ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّينِ {أما بعد}

فَيَا عِبَادَ اللهِ ! اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ, وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ, قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : وَلِتُكْمِلُوْا العِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلىَ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

 الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد.

 Hadirin Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

 Tidak terasa, satu bulan penuh pendidikan jasmani dan ruhani dengan cara berpuasa disiang hari, qiyam al-lail di malam hari, dan sedekah serta zakat dipenghujung bulan ramadhan, yang diajarkan oleh Allah swt melalui wasilah Nabi Muhammad saw telah kita lalu bersama. Harapan yang besar kita munajatkan kepada Allah ta’ala, agar dapat menerima seluruh amaliah tersebut dan meraih kemenangan setelahnya dengan predikat al-muttaqin. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

 Hadirin yang dirahmati Allah swt.

 Bulan Ramadhan memang telah kita lalui, akan tetapi kegundahan dan kegelisahan mengenai intoleransi sikap beragama masih kita rasakan. Untuk itu, di hari yang fitri ini, khatib ingin mengajak kepada kita semua untuk melakukan kontemplasi yang mendalam dengan uraian khutbah ‘Ied mengenai ; “Bulan Ramadhan Mengajarkan Menjadi Muslim yang Ramah di Tengah Perbedaan”.

Berawal dari ungkapan-ungkapan yang mapan di tengah masyarakat, bahkan juga oleh tokoh-tokoh lokal dan nasional, mengenai pentingnya untuk mempelajari dan memahami Islam secara “utuh”. Entah apa sesungguhnya yang dimaksud dengan “utuh”, karena pastilah setiap orang yang telah mempelajari Islam kepada para guru, ustadz, kiai, habib dll, pastilah akan menyatakan bahwa dirinya telah mendapatkan pengetahuan Islam secara utuh dari sumber yang dibenarkan oleh agama yakni para pewaris Islam pasca kenabian, di mana hadits nabi Muhammad saw menjelaskan اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ (ulama’ adalah pewaris dari para nabi)[2], dan warisan dari nabi Muhammad saw adalah kitabullah (al-Qur’an) dan al-sunnah (tradisi Nabi).

Akan tetapi yang terjadi saat ini, banyak muncul kekerasan dari tangan-tangan mereka yang telah belajar dari sumber-sumber di atas, seperti kekerasan yang dilakukan oleh oknum-oknum di dalam ormas-ormas Islam yang berhaluan fundamentalis-ekstrimis, teror bom yang dilakukan oleh Amrozi dkk yang notabene merupakan lulusan dari dunia pendidikan berbasis agama. Maka muncul pertanyaan kemudian, apakah mereka tidak mendapatkan pengetahuan Islam secara utuh dan benar? Inilah pertanyaan yang sangat penting untuk kita telaah demi mendapatkan jawaban, dari problem sosial Islam di negara kita Indonesia saat ini.

Jika kita merujuk pada sumber pengetahuan Islam maka tidak ada kata lain yang muncul selain al-Qur’an dan al-Sunnah-lah sumbernya, namun bagaimankah cara untuk memahami pasca wafatnya nabi Muhammad saw? itu yang menjadi jalan khilafiyah (perbedaan pendapat) dan bahkan memunculkan pertumpahan darah. Sejarah kelam telah menunjukkan adanya peperangan akibat khilafiyah dimasa shahabat, seperti yang dilakukan oleh Aisyah ra yang notabene istri nabi dengan Ali ra yang merupakan menantu nabi dalam perang jamal, dan tidak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut merupakan kecelakaan dalam sejarah Islam.

Adapun jalan dalam memahami dua sumber Islam, yang kemudian memunculkan khilafiyah adalah “al-ijtihad”, dan ini dilegalkan oleh nabi sebagaimana dialog beliau bersama Mu’adz sebelum mengutusnya menjadi hakim di Yaman. Akan tetapi yang sering kita lupakan dari dialog tersebut adalah, proses ijtihad yang tidak hanya menggunakan kemampuan intelektual yang tajam tapi juga kemampuan untuk mengendalikan diri secara bijak melalui ketakwaan. Argumentasi ini dapat dilihat dari ungkapan Mu’adz yang mengembalikan semua urusan hanya kepada bantuan Allah ta’ala, yakni al-Qur’an, al-sunah dan pemikirannya yang hadir dari hidayah Allah.[3] Artinya, dalam mengambil kebijakan Islam saja, kita dituntut untuk normal secara intelektual dan juga normal secara spiritual, bukan karena adanya tuntutan ataupun tekanan, karena jika hal tersebut terjadi maka bisikan syetan lebih dekat daripada tuntunan Allah. Rasulullah saw bersabda :

يَقُوْلُ اللهُ : إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّـيَاطِيْنُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَاأَحْلَلْتُ لَهُمْ {رواه مسلم}

 Artinya : “Allah berfirman: Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) seluruhnya. Maka datanglah setan-setan kepada mereka, lalu menyimpangkan mereka dari agamanya dan mengharamkan bagi mereka apa yang telah Aku halalkan untuk mereka.” [HR. Muslim][4]

  الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد.

 Hadirin Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

 Mengenai permasalah di atas, historis Islam di Indonesia telah memaparkan tentang bagaimana bijaksananya para ulama’ terdahulu dalam memutuskan berbagai permasalahan agama, di mana jika mereka tidak mendapatkannya dari kitab-kitab yang mu’tabar, dan seluruh jalan penetapan hukum (thuruq istimbathil ahkam) sudah dilakukan, maka ia akan menunda jawaban itu dengan melaksanakan shalat sunnah demi mendapatkan jawaban yang diharapkan dapat dekat dengan ridha dan kehendak Allah. Namun yang terjadi saat ini, begitu banyak orang-orang yang sangat mempermudah dalam menjawab permasalahan-permasalahan agama. Begitu banyak para pendakwah baru yang dengan entengnya merampok hak-hak Allah. Akhirnya, muncullah jawaban-jawaban yang simplistis dan sangat mudah untuk menyalahkan orang lain, bahkan mengkafirkannya.

Inilah sesungguhnya kunci permasalahan kita saat ini, yakni runtuhnya kebijaksanaan di dalam beragama. Sejarah khilafiyah tidak bisa kita hindari tapi kecelakaan sejarah perang sahabat jangan kita ikuti dan ulangi. Hal ini dapat kita lakukan jika mau menajamkan spiritual kita sehingga dapat menjadi bijaksana. Kita harus memulai untuk menerima perbedaan baik secara fiqhi (furu’iyah atau cabang agama) ataupun i’tiqadhi (ushul atau dasar agama yang diperdebatkan di dalam ilmu kalam).

Ibadah seperti shalat, puasa, dll hendaknya kita pelajari langsung kepada mereka yang ahlinya, sehingga tidak mudah menyalahkan prilaku atau praktek ibadah orang lain yang berbeda dengannya. Berkhutbah tidak lagi untuk mencaci tapi untuk memberikan kesejukan bagi para pendengarnya. Kalaupun ada khilafiyah yang akan dibahas hendaknya dituntaskan secara ilmiah dan bijaksana.

الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد.

Hadirin Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

 Inilah inti pokok dari pembelajaran satu bulan penuh di bulan Ramadhan ini, di mana problem sosial umat Islam saat ini bukan pada masalah “dalam” dan “utuh”-nya seseorang dalam mempelajari Islam, tapi hendaknya khatamkanlah pelajaran kita itu dengan penajaman spritual, seperti pengkhataman kita terhadap al-Qur’an disetiap bulan Ramadhan, sehingga dapat menjadi lebih bijak dalam menerima perbedaan yang muncul di tanah Indonesia yang sangat plural dan berasaskan Pancasila ini. Imam al-Ghazali rahimahullah pernah berkata ;

وَلاَ شَكَّ أنَّ الْوَعْظَ مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَأَهْلِ اْلقُلُوْبِ ، أَشَدُّ تَأْثِـيْراً مِنْ غَيْرِهِمْ ، فَإِنَّ الْكَلاَمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْقَلْبِ وَقَعَ فيِ الْقَلْبِ ، وَإِذَا خَرَجَ مِنَ الِّلسَانِ حَدَّهُ اْلآذَان

 Artinya : “tidak dapat diragukan lagi bahwa keteladanan dari orang-orang yang ikhlash dan bijak, lebih mudah diresapi oleh orang lain, maka sesungguhnya ungkapan itu jika lahir dari hati maka akan tertanam di dalam hati, dan jika keluar hanya dari lisannya maka akan mudah terlupakan.[5]

 Hadirin Kaum Muslim yang Berbahagia.

 Lalu bagaimanakah cara untuk meraih kesempurnaan tersebut? Sesungguhnya bulan Ramadhan yang hanya satu bulan diantara sebelas bulan lainnya, telah mengajarkan tentang pentingnya untuk merasakan menjadi minoritas di sekeliling mayoritas. Ini yang jarang sekali dirasakan oleh kita sebagai umat mayoritas saat ini, yakni belajar untuk merasakan bagaimana menjadi bagian dari minoritas. Pada dasarnya, merasa sebagai mayoritas merupakan kesombongan era baru, berhal-berhala zaman ini. Dan sifat sombong manusia hanya akan mendekatkan diri ini kepada kesesatan atau dalam bahasa lain, mudah terprovokasi oleh kehendak kezhaliman.

Bagi yang pernah tinggal dikantong-kantong muslim minoritas, pasti akan merasakan kebersamaan dan pasti sangat belajar bagaimana harus beragama di bawah tekanan, baik tekanan sosial maupun spiritual. Dari segi spiritual, akan sangat sulit untuk menemukan tempat-tempat ibadah dan majelis ilmu atau zikir, dan sedangkan dari segi tekanan sosial, akan mudah ditemukan praktek-praktek sosial yang sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam, seperti bebasnya penjualan konsumsi yang diharamkan agama, pertemuan sosial dengan hidangan haram, dan lain sebagainya.

Secara historis, pembelajaran seperti ini juga dirasakan oleh Rasulullah Muhammad saw, bagaimana beliau menjadi asing, aneh, bahkan menjadi virus di dalam keluarganya. Ia tinggal di wilayah yang bukan saja membencinya, namun juga menciptakan aksi teror dan bahkan penindasan kepadanya. Akan tetapi, Allah telah memberikan pelajaran berharga kepadanya yakni membangun Islam dari pondasi kesederhanaan dan tekanan sebagai minoritas. Walhasil, dengan pelajaran dan ujian tersebut, Mekah dan Madinah pada akhirnya menjadi wilayah muslim seutuhnya dan bahkan menjadi model peradaban dunia.

Sesungguhnya inilah yang harus kita lakukan saat ini, yakni belajar merasakan menjadi minoritas, baik minoritas dari segi agama, keyakinan, praktik ibadah, pemikiran dll. Penindasan terhadap yang berbeda dengan kita seperti firqah syi’ah di Sampang, Ahmadiyah di Bogor adalah bukti tidak belajarnya kita menjadi minoritas. Kita boleh beda agama, beda keyakinan, beda praktik ibadah, tapi jangan dijadikan sebagai alasan penindasan, karena kita semua adalah manusia yang memiliki hak hidup yang sama di muka bumi ini. Perlu diingat firman Allah swt :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَ نْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ…{آل عمران : 159}

 Artinya : “maka karena disebabkan rahmat dari Allah lah maka engkau (hai Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka, dan jikalau engkau bersikap kasar dan berhati keras, maka pastilah mereka akan meninggalkanmu, untuk itu maafkanlah mereka…” [QS. Ali Imran : 159]

الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد.

 Hadirin Jama’ah Shalat ‘Ied Yang Dirahmati Allah.

 Pada akhirnya, marilah kita banyak belajar dari puasa kita di bulan ini, yang tentunya penuh dengan rahmat (kasih sayang) dan maghfirah (ampunan) dari Allah swt. Segala dosa yang dihapus adalah dosa yang berhubungan dengan Allah swt. Sedangkan dosa kepada sesama manusia hanya dapat terhapus melalui jalan saling memafkan. Untuk itu, mari kita tampil di hari ini dengan sebaik-baiknya untuk saling memaafkan. Maka sebarkan rasa damai dan kasih sayang, hapuslah luka lama, tinggalkan dendam permusuhan dan kita hapus rasa kebencian. Idul fitri hanya pantas dirayakan oleh orang-orang yang telah berpuasa Ramadhan dan orang-orang yang ikhlas untuk saling memaafkan, dan mau berlapang dada menerima kembali kehadiran orang-orang yang dulu sangat dibencinya. Sebaliknya, bersedihlah orang-orang yang gagal memenuhi undangan Ramadhan, orang-orang yang tidak mau meminta maaf atau enggan memberi maaf pada orang lain.

            Allah swt selalu memanggil hamba-hamba-Nya yang beriman agar mau membuka diri dan toleran seperti firman-Nya dalam surat An-nur ayat 22:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ{النور : 22}

 Artinya : “Dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An-Nuur : 22]

 Kaum Muslimin dan Muslimat yang Mulia.

 Sebagai bahan penutup pada khutbah Idul Fitri tahun ini, marilah kita bersama-sama menengadahkan tangan, berdo’a kepada Allah swt dengan penuh harapan, ketawadhu`an dan keikhlasan :

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَ ْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِ يْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ

 Ya Allah, berilah petunjuk, rahmat dan karunia kepada kami dalam menempuh kehidupan ini. Berilah kami kekuatan dan kemampuan agar kami senantiasa dapat berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Mu kapanpun dan dimanapun kami berada. Tumbuhkanlah kecintaan, keikhlasan dan ketulusan di dalam hati kami untuk saling memaafkan, mencintai dan melindungi.

Ya Allah, dihari yang mulia ini turunkanlah kepada kami cahaya yang menyinari hati kami, berilah kami kekuatan dalam menjalani dan menempuh yang akan datang.

Ya Rabb, berilah petunjuk dan kemampuan kepada para pemimpin kami agar dapat membawa bangsa ini keluar dari segala kesulitan menuju suasana yang aman, damai dan makmur di bawah ampunan dan keridhaan-Mu.

 اللهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَاالَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشنَا وَاجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ

اللهُمَّ أَعِزَ اْلإِسْلاَ مَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاخْذُلِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِ يْنِ

اَللّهُمَّ رَ بَّنَا آتِنَا فىِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفىِ اْلأخِرَةِ حَسَنَة ً وَ ِقنَاعَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّنَارَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمٌ عَلىَ الْمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.

{و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته}


[1] Leturer at STAIN Manado and Muslim Scholar at Doctoral Program of Islamic Law IAIN Raden Intan Lampung.

[2] Sulaiman bin al-Asy’ats Abu Daud al-Sajistani, Sunan Abi Daud, (Beirut : Dar al-Fikr, t.th.), Juz. 2, h. 341

[3] Lihat Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal, Musnad Ahmad bin Hambal, (Beirut : Alim al-Kutub, 1998), Juz. 5, h. 236

[4] Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj, al-Jami’ al-Shahih al-Musamma Shahih Muslim, (Beirut : Dar al-Afaq al-Jadidah, t.th.), Juz. 8, h. 158

[5] Ibnu Ujaibah, al-Bahr al-Madid, (t.t. : t.p., t.th.), Juz. 6, h. 311

KHUTBAH JUM’AT : MEMBANGUN HARMONI MUSLIM DAN NON MUSLIM

Oleh :

Ahmad Rajafi Sahran, M.Hi

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا {اَمَّا بَعْدُ}

 فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى ياَاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّ يْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Jama’ah Sidang Jum’at yang Dirahmati Allah swt.

Segala puji bagi Allah yang terus membimbing kita dengan kalam-Nya. Shalawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw. Selanjutnya sebagai seorang khatib selalu berwasiat baik kepada diri khatib sendiri, maupun kepada seluruh jama’ah jum’at aga senantiasa bertakwa kepada Allah swt, karena golongan muttaqin adalah para penghuni surga. Semoga Allah menganugerahkan kebaikan dunia dan akhirat kepada kita semua, amin.

Hadirin Rahimakumullah.

Pada hari minggu, tanggal 1 Juni 2008, menjadi saksi sejarah, sekaligus menambah koleksi tragedi berdarah yang terjadi di tanah air Indonesia. Di mana Forum Pembela Islam atau yang kita kenal dengan FPI bentrok fisik dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Bentrok fisik antara FPI dengan AKKBB menjadi bukti rendahnya kesadaran akan toleransi dan perdamaian di Indonesia, dan perilaku ini hingga kini semakin memprihatinkan. Hal ini hadirin, berpotensi memunculkan spekulasi bahwa kekerasan di Indonesia atas nama agama, sangat sulit untuk dibendung.

Media lokal maupun internasional tak luput menyorot peristiwa yang kontradiktif ini. Bahkan, media-media internasional tak segan menyebut peristiwa ini, sebagai imbas dari pemahaman Islam yang fundamentalis-konservatif di Indonesia. Tak ayal, ada pula yang mencap Islam sebagai agama yang suka dengan aksi kekerasan, intoleran maupun kebencian. Padahal hadirin, jikalau kita kaitkan kejadian tersebut dengan sejarah penyebaran dan da’wah Islam, tidak pernah setetes darah pun jatuh dalam kejadian yang disebabkan karena pebedaan agama pada saat Nabi Muhammad saw dalam menyebarkan rahmat Islam di seluruh dunia. Bahkan telah kita ketahui bersama hubungan Nabi terhadap kaum Yahudi dan Nashrani telah menciptakan ketentraman dan kedamaian dalam membangun hubungan yang harmoni atas sikap lemah lembut Nabi Muhammad saw.

Sikap bersosial yang dilakukan oleh baginda Nabi Muhammad saw berlandaskan pada kalam Allah swt di dalam al-Qur’an surat al-Mumtahanah ayat 8 :

لا يَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ {الممتحنة : 8}

Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” [QS. al-Mumtahanah: 8]

Hadirin Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Firman Allah swt yang baru saja kita simak bersama, menampik kesan keliru tentang memusuhi non-muslim dari semua golongan, melainkan ayat tersebut menggariskan prinsip dasar hubungan antara kaum muslim dan non-muslim dengan cara membangun sikap toleran, demikian penjelasan Muhammad Quraish Shihab seorang muffasir terkemuka di bumi Indonesia.

Adapun ayat tersebut turun berkenaan dengan cerita Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahuanhuma yang ibunya berkunjung dan memberikan hadiah padanya. Tetapi ia menolak untuk menerimanya dengan alasan ibunya Qutailah masih dalam keyakinan yang musyrikah. Namun dengan sikap yang berbeda, Nabi Muhammad saw memerintahkannya untuk menyambut ibunya dan menerima hadiahnya. Kisah tersebut menginspirasi kita bahwa menjalin hubungan yang harmoni antar sesama maupun agama adalah hal yang dianjurkan dalam Islam dalam menciptakan kedamaian dan kesejahteraan di dunia berdasarkan prinsip keadilan dan tenggang rasa.

Sayyid Quthb, pengarang kitab Fi Zilal al-Qur’an menjelaskan, sesungguhnya Islam adalah agama perdamaian, akidah kasih sayang, undang-undang yang bertujuan menaungi seluruh kawasan di bawah panjinya yang teduh dan indah bagi umatnya, bermaksud membumikan sistemnya dan berkeinginan mengumpulkan umat manusia di bawah panji Islam dalam keadaan saling bersaudara, serta membangun sikap saling kenal-mengenal dan mencintai satu sama lainnya. Dengan begitu, sebenarnya tidak ada aral melintang untuk menuju ke sana, kecuali kejahatan para musuh-musuh Islam dan pengikut-pengikutnya.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya fakta sejarah yang menunjukkan bahwa wilayah Islam yang terbentang kekuasaannya di belahan timur hingga barat, yang pada saat itu pula masyarakat Islam hidup berdampingan dengan non-muslim tetap aman dan damai sentosa. Tidak seorang muslim pun yang melanggar hak atau kehormatan mereka, juga tak seorang muslim pun yang bersikap tamak dan merampas harta mereka. Oleh karenanya, hal ini perlulah kita tanam dan aplikasikan dalam diri dan kehidupan setiap insan dalam menjunjung tinggi harkat dan martabat Islam maupun bangsa Indonesia yang budiman.

Sidang Jum’at Rahimakumullah.

Menghadapi perkembangan masyarakat yang terjadi semakin cepat disertai perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih dan bertingkat, maka semakin menambah pula mudahnya kontak yang tidak terbatas antar wilayah di dunia. Pada wacana kerukunan hidup antar umat beragama, muncul suatu istilah yang lahir pada zaman Orde Baru dengan tujuan terciptanya keamanan antar umat dan Negara, yang kemudian dikenal dengan istilah “Tri Kerukunan”. Istilah tersebut menjelaskan dan mengatur tentang sikap: “Kerukunan Interen umat Beragama, Kerukunan Umat Antar Beragama dan Kerukunan Antar Umat Beragama dengan Pemerintah”. Surat keputusan bersama tersebut merupakan usaha pemerintah dan bangsa Indonesia dalam menciptakan kerukanan demi terwujudnya hubungan harmoni antar agama.

Dalam hal tersebut, Islam menjamin seluruh hak ahli zimah (orang yang mendapatkan perlindungan Islam) yang hidup di wilayah umat Islam termasuk di Indonesia serta menjamin keamanan dan ketentaraman hidup maupun hak-haknya. Sebagaimana Rasulullah saw. menegaskan melalui sabdanya:

مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوِ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ {رواه ابوا داود}

Artinya : “Barangsiapa menzalimi seorang yang berada di bawah tanggungan (perlindungan Pemerintah Islam), atau membebaninya di luar kemampuan, atau mengambil sesuatu tanpa keikhlasan, aku adalah penantangnya di hari Kiamat.” [HR. Abu Daud]

Hadirin, hak-hak ahli zimah yang paling utama di tengah masyarakat Islam adalah; (1) mendapatkan perlindungan jiwa, (2) mendapatkan perlindungan kehormatan dan harta, serta (3) mendapatkan kebebasan untuk memeluk agama dan melaksanakan segenap urusan-urusan perdata. Lalu bagaimanakah metode Islam membangun perdamaian demi terciptanya hubungan harmoni antara muslim dengan non muslim? Mengenai hal ini, Allah swt telah berfirman di dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 256 :

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ {البقرة : 256}

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk agama ; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. al-Baqarah : 256]

Hadirin Ma’syirol Muslimin Rahimakumullah.

Demikian penjelesan Allah demi menciptakan hubungan harmoni antara umat Islam dengan non Islam. Ayat tersebut turun dengan menceritakan kisah seorang wanita yang ditinggal mati anaknya, ia pun bernadzar apabila anaknya hidup akan menjadikannya Yahudi. Maka tatkala Bani Nadhir diusir dari daerahnya, kemudian mereka orang-orang Anshar berkata, “Kami tidak akan meninggalkan anak-anak kami”. Lalu turunlah firman Allah tersebut.

Ayat maupun kisah tersebut menjelaskan kepada kita bahwa untuk menjalin hubungan yang harmoni dalam metode Islam tidak menggunakan cara-cara kekerasan, kebencian maupun intoleran. Melainkan Islam membebaskan kepada non-muslim untuk melaksanakan urusan dan hak-haknya di dunia. Hal tersebut dimaksudkan agar ketentraman dan kedamaian di dunia khususnya di Indonesia tetap terjaga, persatuan dan kesatuan akan tercipta, rakyat pun akan hidup sejahtera.

Hadirin Sidang Jum’at yang Dirahmati Allah swt.

Pada akhirnya, untuk menjaga hubungan harmoni antar umat muslim maupun non muslim cara yang Islam suguhkan adalah sikap saling bertoleransi antar sesama, sikap saling menghargai terhadap hak-hak kebebasan beragama dan menghormati segenap urusan mereka dalam hubungan perdata. Maka, jikalau sikap tersebut dilaksanakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Indonesia tercinta Insyallah hubungan harmoni akan tercipta rakyat pun akan hidup bahagia dan damai sentosa, Amien ya rabbal alamin.

Sebagai bahan renungan, marilah kita simak bersama firman Allah swt yang menjelaskan tentang akhlak Nabi Muhammad saw di muka bumi ini dalam menebar rahmat Allah ta’ala :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ {آل عمران : 159}

Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

KHUTBAH JUM’AT : KORUPSI DAN KEADILAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Oleh :

AHMAD RAJAFI SAHRAN, M.Hi

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى نهَيَنَاعَنْ أَكْلِ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَ الرِّشْوَةِ اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ رِسَالَتَهُ  اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ  لاَشَرِ يْكَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَوَاةُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلىَ آلِهِ {أَ مَّا بَعْدُ}

فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَ ى اللهِ ، اِتَّقُوا اللهَ مَاسْتَطَعْتُمْ ، وَسَارِعُوْا إِلىَ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .

فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ فىِ الْقُرْآن ِالْكَرِ يْمِ : اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَكِنَّ النَّاسَ أَ نْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ{يونس : 44}

صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْم وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ الْكَرِ يْم وَ نَحْنُ عَلَى ذَالِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِ يْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 Hadirin Sidang Jum’at yang Dirahmati Oleh Allah swt.

Sebagai seorang khatib disetiap jum’at selalu berwasiat kepada diri khatib sendiri dan juga kepada seluruh jama’ah jum’at untuk terus meningkatkan kualitas taqwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala yakni dengan cara melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangannya tanpa harus memilih-milih perintah dan larangan yang selaras bagi diri kita saja dan menafikan perintah dan larangan lainnya.

Hadirin Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Belum lepas dalam ingatan kita kasus korupsi Bank Century dan Wisma Atlit yang belum juga menemukan titik terang, kini bangsa ini dihebohkan lagi dengan tergelincirnya beberapa orang dalam kasus sapi. Dulu bangsa ini begitu geram dengan kekuasaan Soeharto karena menjamurnya KKN, namun kali ini bangsa ini masih belum bisa untuk bangun dan memberangusnya dan bisa jadi turunnya kekuasaan yang satu menuju kekuasan selanjutnya dengan memunculkan berbagai keburukan akan terjadi juga pada masa ini. Menurut Eep Saefullah Fatah, seorang pengamat politik muda Indonesia, dalam bukunya Zaman Kesempatan mengatakan, ada tiga hal mendasar yang menyebabkan kehancuran orde baru, yaitu : Pertama, desakralisasi kekuasaan, yang melahirkan pemimpin yang pongah, berjiwa kadal bermental dajjal, berjiwa tupai bermental keledai, berjiwa raksasa bermental gorila, yang menerkam, menyiksa dan memangsa rakyat jelata. Kedua, degradasi kredibilitas, yang melahirkan jatuhnya martabat aparat di hadapan rakyat, tidak sedikit pejabat yang menjadi penjahat dan penjilat, fungsinya bukan sebagai pelindung rakyat, tapi sebagai penindas, pemeras dan pembunuh hak-hak rakyat. Ketiga, desentralisasi kekuasaan yang melahirkan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang membawa bangsa ini ke arah krisis berkepanjangan.

Akibat korupsi, kolusi, dan nepotisme tersebut hadirin, tidak sedikit rakyat Indonesia yang mati kelaparan, bayi-bayi kekurangan gizi, para pelajar putus sekolah, pengangguran merajalela, kemiskinan di mana-mana, bahkan hutang ke luar negeri membumbung tinggi tidak mampu dibayar lagi. Untuk itu hadirin, dibutuhkan semangat yang kuat di antara kita untuk saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran, termasuk pada kesempatan jum’at ini deng sedikit mengulas tentang korupsi dan keadilan dalam perspektif al-Qur’an, dengan rujukan surat al-Baqarah ayat 188 :

وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِ يْقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِاْلإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ {البقرة : 188}

Artinya : “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” [QS. al-Baqarah : 188]

Sebab turunnya ayat tersebut, menurut Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghwi di dalam Kitab Ma’alim al-Tanzil adalah, berkenaan dengan kasus Umru’ al-Qais bin Abis dan Abdan bin Asywa’ al-Hadrami yang saling memperebutkan sebidang tanah. Lalu Umru’ al-Qais ingin bersumpah sebagai dasar legalitas kepemilikannya, maka turunlah firman Allah kepadanya, ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل “dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil” sebagai bahan penolakan Allah terhadap sumpahnya.

Hadirin, ayat tersebut jika ditinjau dari segi Study al-Qur’an, merupakan kajian tafsir tematik dalam pembahasan korupsi. Sehingga muncullah berbagai definisi tentang korupsi melalui perspektif al-Qur’an. Salah satunya adalah, apa yang ungkapkan oleh Imam al-Baidhawi di dalam Kitab Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil yang memberikan definisi penguaaan terhadap harta orang lain dan dekat dengan pemaknaan korupsi saat ini, yakni ;

يأكل بعضكم مال بعض بالوجه الذي لم يبحه الله تعالى

Artinya : “oknum yang melegitimasi harta orang lain sebagai miliknya dengan jalan yang tidak diindahkan oleh Allah ta’ala.

Penjelasan al-Baidhawi tersebut, sejalan dengan definisi korupsi yang dibangun oleh pemerintah kita melalui UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, di mana perbuatan korupsi adalah (1) kerugian keuangan negara, (2) Suap-menyuap, (3) Penggelapan dalam jabatan, (4) Pemerasan, (5) Perbuatan curang, (6) Benturan kepentingan dalam pengadaan, dan (7) Gratifikasi.

Jama’ah Sidang Jum’at yang Dirahmati Allah Ta’ala.

Komisi Pemberantasan Korupsi yang begitu gencar memerangi korupsi ternyata masih belum menghasilkan kesuksesan yang besar, hal ini terbukti dari data yang dibangun oleh Transparency International, sebuah organisasi non-government yang banyak berusaha untuk mendorong pemberantasan korupsi, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling korup di dunia dengan nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tahun 2005 adalah 2,2 dan jatuh pada urutan ke-137 dari 159 negara yang disurvei. Sebagai penegasan bahwa Indonesia adalah salah satu negara terkorup di dunia adalah hasil survei yang dilakukan The Political and Economic Risk Consultancy pada tahun 2012 terhadap 900 ekspatriat di Asia sebagai responden, di mana Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara terkorup se-Asia. Na’udzubillahi min dzalik.

Melalui narasi di atas, maka timbul pertanyaan penting, bagaimanakah teori Islam dalam memberantas korupsi ? dan bagaimana sikap kita sebagai komponen bangsa agar keadilan tetap tegak dan korupsi dapat dikikis habis? Sebagai jawabannya marilah kita renungkan firman Allah dalam al-Qur’an surat an-Nisa` ayat 135 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ ِللهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَ يْنِ وَاْلأَقْرَ بِْينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلاَ تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا {النساء : 135}

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” [QS. an-Nisa` : 135]

Sebab turunnya ayat tersebut menurut Ibnu Katsir bersumber dari as-Shudi adalah berkenaan dengan pengaduan dua orang laki-laki kepada Rasulullah saw, dan yang satunya adalah orang kaya. Ternyata hadirin, Rasul lebih cendrung untuk memenangkan perkara si miskin karena pada mulanya beliau beranggapan, bahwa tidaklah mungkin orang yang miskin dapat menzhalimi orang yang kaya. Tatkala itu maka turunlah ayat tersebut yang memberikan petunjuk kepada Rasulullah saw agar menghukumi siapapun yang bersalah seadil-adilnya, yang diisyaratkan dalam kalimat :

كونوا قوامين بالقسط أي كونوا مجتهدين فى إقامة العدل

jadilah kau pejuang pejuang yang menegakkan keadilan” demikian penafsiran Imam Ali as-Shabuni dalam Shafwatut at Tafasir. Lalu apakah yang di maksud adil dalam Islam itu ? Imam Ali karamullahu wajhah mengatakan “ وضع شيء فى محله ” adil adalah menempatkan sesuatu secara proporsional dan profesional. Lebih tegas lagi Sayyid Qutub dalam bukunya ‘Adalah al-Ijtima’iyyah fi al-Islam mengatakan “ العدل هو إقامة الحق بغير ظلم ” adil adalah menegakkan kebenaran dengan tanpa mendzolimi orang lain”.

Dengan demikian hadirin, prinsip penegakan hukum terhadap para koruptor adalah dengan keadilan tanpa mengenal pandang bulu, status atau jabatan. Walaupun terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, si kaya atau si miskin, pejabat atau rakyat, hukum harus tetap berlaku dan harus tetap di tegakkan dan di junjung tinggi. Oleh karena itu mengingat pentingnya nilai-nilai keadilan dalam memberantas korupsi. Dr. Nurcolis Madjid dalam bukunya Cita-Cita Politik Islam mengatakan, pincangnya penegakkan keadilan menyebabkan pincangnya pemerataan ekonomi, dan menjadikan korupsi tumbuh subur di negara kita laksana cendawan di musim dingin, akibatnya kalau hal ini dibiarkan, lahirlah Fir’aun-Fir’aun yang baru, Qorun-Qorun abad dua satu, Tsa’labah-Tsa’labah masa kini, yang menjadikan hukum dan keadilan bukan lagi milik rakyat tapi untuk konglomerat, kesejahteraan bukan lagi buat rakyat tapi buat para penjilat, dampaknya reformasi yang kita cita citakan tapi destruksi yang kita rasakan, pembangunan nasional yang diidam-idamkan justru bencana nasional yang di timpakan, naudzubillahimindzalik.

Sidang Jum’at yang Dirahmati Allah.

Adapun melalui pendekatan politik hukum, cara untuk memberantas korupsi paling tidak ada dua langkah minimal yang harus dilakukan ; Pertama, menegakkan hukum seadil-adilnya tanpa pandang bulu, status dan jabatan. Kedua harus ada komitmen dari puncak pemimpin suatu negara. Jikalau sikap ini yang kita aplikasikan dalam kehidupan kita, maka insya Allah korupsi di negara kita sedikit demi sedikit akan terkikis habis, sehingga negar kita dapat hidup adil dalam kemakmuran, makmur dalam keadilan, jauh dari korupsi, dekat dengan rahmat Allah swt, amin ya Rabbal ‘alamin.

Sebagai bahan penutup, marilah kita simak bersama nasihat Allah swt :

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا{النساء : 58}

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

 بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH JUM’AT : PERNIKAHAN BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Oleh :

AHMAD RAJAFI SAHRAN, M.Hi

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى خَلَقَ اْلاِنْسَانَ زَوْجَيْنِ اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ سَيِّدِ اْلاَطْرَفَيْنِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ هُمْ سَعَدُوْا فِى الدَّارَيْنِ  اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ  لاَشَرِ يْكَ لَهُ وَهُوَا خَالِقُ اْلإِنْسَانِ ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِى قَدْ عَلَّمَنَا اْلإِ يْمَانَ وَاْلإِسْلاَمَ وَاْلاِحْسَانَ {أَ مَّا بَعْدُ}

فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَ ى اللهِ ، اِتَّقُوا اللهَ مَاسْتَطَعْتُمْ ، وَسَارِعُوْا إِلىَ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .

فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ فىِ الْقُرْآن ِالْكَرِ يْمِ : اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأ َيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَتِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِ بُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ{الحشر : 21}

صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْم وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ الْكَرِ يْم وَ نَحْنُ عَلَى ذَالِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِ يْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 Hadirin Sidang Jum’at yang Dirahmati Oleh Allah swt.

Sebagai seorang khatib disetiap jum’at selalu berwasiat kepada diri khatib sendiri dan juga kepada seluruh jama’ah jum’at untuk terus meningkatkan kualitas taqwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala yakni dengan cara melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangannya tanpa harus memilih-milih perintah dan larangan yang selaras bagi diri kita saja dan menafikan perintah dan larangan lainnya.

Hadirin Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Pada akhir abad ke-20, di tanah Eropa muncul pemikiran feminis oleh para aktifis perempuan yang diakibatkan karena adanya ketidakadilan gender. Islam yang juga menyebar ke tanah Eropa pada saat itu, ternyata tidak bisa terlepas dari geliat pemikiran tersebut yang dikaitkan dengan kesadaran baru atau yang dikenal dengan oksidentalisme dan kesadaran post-kolonialis. Feminisme, adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi berupa kesamaan hak dan keadilan dengan pria. Hal ini di Eropa dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet.

Namun hadirin, akibat westernisasi berpikir yang dilakukan oleh muslim feminis, yang kemudian menganggap warisan pemikiran Islam sesuatu yang mengekalkan ketidakadilan gender dan mengekalkan dominasi laki-laki atas wanita, maka mereka menolak konsep kepemimpinan rumah tangga bagi laki-laki, kewajiban berjilbab dan kebolehan poligami. Sebaliknya, mereka malah membolehkan wanita menjadi imam shalat dalam jama’ah yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, serta membolehkan wanita memberikan khutbah Jumat dan mengumandangkan adzan seperti yang dilakukan oleh Dr. Aminah Wadud beserta jama’ahnya di gereja Anglikan Manhatan New York Amerika Serikat.

Selain dari pada itu, pemikiran feminis Islam yang paling ditonjolkan saat ini, termasuk oleh para pemikir liberal Islam di Indonesia adalah kampanye diperbolehkannya nikah beda agama tanpa batas. Lalu bagaimanakah al-Qur’an memandang tentang masalah pernikahan beda agama tersebut? Allah swt telah berfirman di dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 221 :

وَلاَ تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وََلأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ {البقرة : 221}

 Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” [QS. al-Baqarah : 221]

Hadirin Rahimakumullah.

Ayat yang baru saja kita simak bersama, memunculkan dua buah tafsir yang berbeda yakni antara kaum feminis-modernis-liberalis seperti Rasyid Ridho, dan tafsir tradisionalis-moderat seperti yang narasikan oleh Muhammad Quraish Shihab seorang mufassir terkemuka di bumi Indonesia ini. Menurut Rasyid Ridho di dalam Tafsir al-Qur’an al-Hakim, bahwa kalimat ولا تنكحوا المشركات   dan ولا تنكحوا المشركين  diungkapkan dengan kalimat yang umum, namun memiliki pengertian yang khusus, di mana kata musyrik maksudnya adalah para penyembah berhala pada saat al-Qur’an diturunkan. Oleh karenanya, bagi mereka ayat tersebut tidak tegas melarang menikah dengan orang musyrik selain bangsa Arab, seperti Konghucu, Hindu, Budha, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan Prof. Dr. Muhammad Qurasih Shihab dan yang sejalan dengan pemikiranya, di dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa kata musyrik disematkan bagi siapa saja yang percaya bahwa ada Tuhan bersama Allah, atau siapa pun yang melakukan aktivitas yang bertujuan utama ganda, pertama kepada Allah dan kedua kepada selain Allah. Dengan demikian, semua yang mempersekutukan Allah melalui perspektif ini adalah musyrik, termasuk kaum Yahudi dan Nasrani ketika menjadikan utusan-utusan Allah sebagai anak-anak Tuhan, atau dalam bahasa Nasrani disebut dengan istilah trinitas. Oleh karenanya, bagi beliau pernikahan seperti ini dilarang dan diharamakan di dalam Islam.

Lebih detil lagi, bahwa ayat di atas termasuk ayat Madaniyah yang per­tama kali turun dan membawa pesan khusus kepada orang-orang Muslim agar tidak menikahi wanita musyrik atau sebalik­nya. Imam Muhammad al-Razi dalam al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib menyebut bahwa ayat tersebut sebagai ayat-ayat permulaan yang secara eksplisit menjelaskan hal-hal-yang dihalalkan (ma yuhallu) dan hal-hal yang dilarang (ma yuhramu). Dan, menikahi orang musyrik merupakan salah satu perintah Tuhan dalam kategori haram.

Hadirin, cara baca terhadap ayat di atas sehingga serta-merta menjabarkan bahwa pernikahan dengan non-muslim hukumnya haram adalah dengan metode literal dan runtut riwayat. Cara pandang seperti ini dikarenakan sebagian masyarakat muslim masih beranggapan bahwa yang termasuk dalam kategori musyrik adalah semua non-muslim, termasuk diantaranya keumuman Kristen dan Yahudi. Namun, pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah bagaimanakah penjelasan tentang ahlul kitab dalam hal ini ? mengenai hal tersebut, Allah swt telah berfirman di dalam surat al-Ma`idah ayat 5 :

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ {المائدة : 5}

 Artinya : “Dan dihalalkan mengawini wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” [QS. al-Ma`idah : 5]

Hadirin Rahimakumullah.

John Penrice di dalam A Dictionary and Glossary of The Koran; Silsilah al-Bayan fi Manaqib al-Qur’an menjelaskan bahwa secara literal kata ahl yang terdiri dari huruf alif, ha’, dan lam mengandung pengertian masyarakat atau komunitas. Dengan demikian, jika kata ahl digabungkan dengan al-kitab maka menurut Muhammad Galib di dalam Ahl al-Kitab; Makna dan Cakupannya, ia bermakna komunitas atau kelompok pemeluk agama yang memiliki kitab suci yang diwahyukan oleh Allah swt kepada nabi dan rasul-Nya.

Hadirin, mengenai terma ahl al-kitab, al-Qur’an telah menyebutnya sebanyak 31 kali yang tersebar di tujuh surat-surat madaniyah (yakni al-Baqarah, Ali Imran, al-Nisa’, al-Maidah, al-Ahzab, al-Hadid, dan al-Hasyr) dan dua surat makiyyah (yakni al-Ankabut dan al-Bayinah). Penyebutan ahl al-kitab yang lebih banyak terdapat dalam surat-surat madaniyah ini secara historis-sosiologis disebabkan karena kontak umat Islam dengan ahl al-kitab lebih banyak terjadi pada saat Nabi Muhammad saw berada di Madinah. Oleh karenanya, bagi Quraish Shihab ayat di atas memang betul membolehkan pernikahan antar pria muslim dengan wanita ahl al-kitab, tetapi izin tersebut adalah sebagai jalan keluar kebutuhan mendesak ketika itu, di mana kaum muslimin sering berpergian jauh melaksanakan jihad tanpa mampu kembali ke keluarga mereka, sekaligus juga untuk tujuan dakwah. Akan tetapi setelah Khalifah Umar bin Khathab ra melarangnya maka hukum menikahi merekapun dilarang.

Pendapat tersebut di dasarkan pada riwayat Umar ibn Khaththab yang memerintahkan kepada para sahabat yang beristri ahli kitab untuk menceraikannya, lalu para sahabat mematuhinya kecuali Huzaifah. Maka Umar memerintahkan kedua kalinya kepada Huzaifah “ceraikanlah ia” lalu Huzaifah berkata kepada Umar “Maukah engkau menjadi saksi bahwa menikahi perempuan ahli kitab itu adalah haram?” Umar menjawab “ia akan menjadi fitnah, ceraikanlah”, kemudian Huzaifah mengulangi permintaan tersebut, namun jawab Umar “ia adalah fitnah”. Akhirnya Huzaifah berkata, “sungguhnya aku tahu ia adalah fitnah tetapi ia halal bagiku”. Dan setelah Huzaifah meninggalkan Umar, barulah ia mentalaq istrinya. Demikian penjelasan Ibnu Qudama` di dalam Kitab al-Mughni.

Hadirin Sidang Jum’at yang Berbahagia.

Adapun di Indonesia, pada tahun 2004 muncul Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam yang diarahkan menjadi Rencana Undang-Undang (RUU) Hukum Perkawinan Islam oleh Musdah Mulia dkk yang tergabung dalam Tim Pengarusutamaan Gender Departemen Agama dan mendapatkan mandat langsung dari negara, di mana isi pokoknya lebih banyak penentangan terhadap local wisdom seperti diperbolehkannya nikah beda agama dll., sehingga memunculkan polemik di masyarakat bahkan pengharaman dari para ulama’ karena dianggap liberal, dan akhirnya Menteri Agama pada saat itu Maftuh Basyuni harus membekukan bahkan membubarkan tim kerja tersebut.

Hadirin, pengharam nikah beda agama di Indonesia ini, di dasarkan pada pasal 40 huruf c Kompilasi Hukum Islam yang menetapkan bahwa perkawinan seorang pria Islam dilarang dengan wanita yang tidak beragama Islam. Adapun posisi pemerintah untuk menghilang­kan perbedaan dan menjaga kemaslahatan ini adalah merupakan hak yang melekat padanya sehingga mempunyai kewenangan, karena kaidah fiqh telah menjelaskan :

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

Artinya : “tindakan Imam terhadap rakyat ini harus berkaitan dengan kemaslahatan”.

Larangan pemerintah terhadap perkawinan beda agama ini, semata-mata untuk menjaga keutuhan kebahagiaan rumah tangga dan ‘aqidah keberagamannya. Dengan demikian, jika dilaksanakan maka visi dan misi sebuah perkawinan yakni terciptanya sakinah, mawaddah dan rahmah akan terwujud.

Pada akhirnya melalui akhir khutbah jum’at ini kami tegaskan bahwa pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian, pasangan yang beda agama mungkin dapat memperoleh sakinah dan mawaddah dalam rumah tanggganya, akan tetapi rahmat Allah puncak visi dan misi perkawinan akan sulit untuk diraih.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH JUM’AT ; AMANAH KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Oleh :

AHMAD RAJAFI SAHRAN, M.Hi

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَ ْلحَمْدُ ِللهِ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، اَلْعَزِ ْيزُ الْغَفَّارُ، مُكَوِّرُ الَّليْلِ عَلىَ النَّهَارِ، تَذْكِرَةً ِلأُوليِ الْقُلُوْبِ وَاْلأَبْصَارِ، وَتَبْصِرَةً لِذَوِي اْلأَلْبَابِ وَاْلاِعْتِبَارِ، اَلَّذِي أَيْقَظَ مِنْ خَلْقِهِ مَنْ اصْطَفَاهُ فَزَهَّدَهُمْ فيِ هَذِهِ الدَّارِ، وَشَغَّلَهُمْ بِمُرَاقَبَتِهِ وَإِدَامَةِ اْلأَفْكَارِ، وَمُلاَزَمَةِ اْلاِتْعَاظِ وَاْلاِدْكَارِ، وَوَفَّقَهُمْ لِلدَّأْبِ فيِ طَاعَتِهِ، وَالتَّأَهُّبِ لِدَّارِ الْقَرَارِ، وَاْلحَذْرُ مِمَّا يَسْخَطَهُ وَيُوْجِبُ دَارَ الْبَوَارِ، وَالْمُحَافَظَةُ عَلىَ ذَلِكَ مَعَ تَغَايُرِ اْلأَحْوَالِ وَاْلأَطْوَارِ ، اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ خَيْرِ اْلبَشَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِى عَلَّمَ اْلاِسْلاَمَ بِالسِّرِّ وَاْلإِظْهَارِ

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْبَرُّ الْكَرِ يْمُ، اَلرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، اْلهَادِي إِلىَ صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ، وَالدَّاعِي إِلىَ دِيْنٍ قَوِيْمٍ. صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلىَ سَائِرِ النَّبِيِّيْنَ وَ الصَّاِلحِيْنَ {أَ مَّا بَعْدُ}

فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَ ى اللهِ ، اِتَّقُوا اللهَ مَاسْتَطَعْتُمْ ، وَسَارِعُوْا إِلىَ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ اَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ فىِ الْقُرْآن ِالْكَرِ يْمِ : اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ {آل عمران : 159} صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْم وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ الْكَرِ يْم وَ نَحْنُ عَلَى ذَالِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِ يْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

HADIRIN SIDANG JUM’AT YANG DIRAHMATI OLEH ALLAH SWT

Sebagai seorang khatib disetiap jum’at selalu berwasiat kepada diri khatib sendiri dan juga kepada seluruh jama’ah jum’at untuk terus meningkatkan kualitas taqwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala yakni dengan cara melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangannya tanpa harus memilih-milih perintah dan larangan yang selaras bagi diri kita saja dan menafikan perintah dan larangan lainnya.

 

HADIRIN RAHIMAKUMULLAH

Ada beberapan terma tentang kepemimpinan dalam sajarah panjang Islam di dunia ini, seperti amir, imam, khalifah, rais dll. akan tetapi dalam perkembangannya, terma-terma di atas hanya menjadi sebuah nama tanpa diketahui makna dan substansi yang sesungguhnya. oleh karenanya pada kesempatan jum’at ini, khatib ingin sekali mengajak kepada kita semua untuk melakukan kontemplasi secara mendalam dalam mengarungi amanah kepemimpinan di muka bumi ini. Berawal dari sebuah hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab Shahih-nya :

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللهِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَالإِمَامُ رَاعٍ ، وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالرَّجُلُ فِى أَهْلِهِ رَاعٍ ، وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا ، وَالْخَادِمُ فِى مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ ، وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ » قَالَ « وَالرَّجُلُ فِى مَالِ أَبِيهِ رَاعٍ ، وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ »

 Artinya : “Disampaikan kepada kami oleh Abu al-Yaman, kami diberitahu oleh Syu’aib dari al-Zuhri berkata, disampaikan kepadaku oleh Slim bin Abdullah dari Abdullah bin Umar ra. bahwa ia telah mendengar Rasulullah saw bersabda; setiap kalian adalah pemimpin dan akan dipinta laporan pertanggungjawabannya, seorang imam adalah pemimpin dan ia akan dipinta laporan pertanggungjawabannya, seorang pria adalah pemimpin dan akan dipinta laporan pertanggungjawabannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dipinta laporan pertanggungjawabannya, seorang pembantu adalah pemimpin terhadap amanah atasannya dan ia akan dipinta laporan pertanggungjawabannya. Lanjutnya, dan seorang anak adalah pemimpin terhadap amanah orangtuanya dan ia akan dipinta laporan pertanggungjawabannya, maka kalian semua adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dipinta laporan pertanggungjawabannya.” [HR. al-Bukhari]

Hadirin, jika kita dalami isi hadits ini, sungguh begitu rinci Rasulullah Muhammad saw dalam mengklasifikasi arti dan tugas kepemimpinan dalam Islam. Dan ungkapan yang selalu diulang-ulang olehnya “dan akan dipinta laporan pertanggungjawabannya” merupakan bukti sangat ditekankannya untuk menunaikan amanah kepemimpinan dari setiap orang. Maka sungguh menjadi orang yang sangat merugi jika harus bertanggung jawab di hadapan Allah dengan bukti kezhaliman, bukti kedurhakaan, bukti ketakabburan, dan bukti kemunafikan, na’udzubillahi min dzalik. Lalu bagaimanakah cara membangun kepribadian yang berdiri di atas pondasi amanah tersebut ;

  1. Selalu Mengingat Allah swt.

Sebuah ungkapan yang begitu mudah terlontar dari lisan namun sulit dalam tataran implementasi. Namun bukan berarti kita harus pesimis dalam menerapkannya, karena siapapun yang terus bersusaha pasti akan mendapatkan hasil yang baik. Adapun kata mengingat Allah sering di disebut dengan istilah dzikrullah, dan jika dicari syarah atau penjelas dari kata tersebut maka di dapatkan bahwa alat untuk mengingat Allah itu adalah ; (1) lisan, dalam artian bahwa seluruh ungkapannya adalah kebaikan, tidak ada hinaan, fitnah, kebohongan, dusta dll. (2) akal, yakni seluruh pikirannya harus selalu berkeinginan untuk membangun nilai-nilai peradaban yang baik atau dalam bahasa keagaaman sering disebut dengan masyarkat yang tamaddun, bukannya malah untuk mencari keuntungan prabadi dan kelompok. (3) perbuatan, yakni semua kemampuannya dikeluarkan demi mencapai dan membangun visi yang sudah tertanam di dalam akal tadi, sehingga ketidak adilan, kezhaliman dan penindasan akan dengan sendirinya akan mudah dinegasi di dalam kehidupan kita.

Jika ini semua terbangun dengan baik, maka dengan sendirinya Allah yang akan menolong dan membatu serta menenangkan diri kita. Pantas jika kemudian Allah sangat menekankan pentingnya dzikrullah ini, sebagaimana firman-Nya “ala bidzikrillah thatma’innul qulub” (hanya dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenang), bukan sekedar hati sang pendzikir tapi juga semua yang berada disekelilingnya merasa nyaman dan aman.

Dalam ungkapan lain, Imam Ali bin Abi Thalib ketika menjelaskan penjelasan tentang iman, yang pertama kali ia sebutkan adalah “al-khauf bi al-Jalil” hendaknya takutlah kepada Allah. Takut yang dibangun bukan seperti takutnya kita dengan segala hal yang menyeramkan dan menakutkan, akan tetapi takut jika Allah akan meninggalkan, naudzubillah. Sesungguhnya hanya dengan bersama-Nya lah kebutuhan tertinggi kita, apalah fungsi kekayaan jika Allah meninggalkan kita, apalah fungsi kekuasaan jika hanya akan membuat-Mu ya Allah jauh dari kami, maka sesungguhnya hanya Engkaulah tujuan kami.

Ketika visi ini yang dibangun di dalam diri maka apakah masih akan ada politik kotor dalam kepemimpinan kita. Mungkinkah kehendak untuk korupsi masih akan hadir, apakah perasaan sombong dan takabur akan mudah kita telan di dalam diri kita ? Tentunya tidak, karena Sang Maha Suci yakni Allah pasti akan menjaga siapapun yang telah mensucikan kepribadiannya. Namun jika tidak, maka inilah sama seperti yang telah dijelaskan oleh Allah di dalam firmannya, ketika ada suatu kaum yang diberikan kelebihan segalanya, namun karena ia abaikan Allah dalam dirinya maka dengan begitu mudah pula Allah menghancurkan mereka. Lihat surat al-Nahl ayat 112.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Artinya : “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.

 

HADIRIN SIDANG JUM’AT YANG DIRAHAMATI ALLAH

Step selanjutnya adalah mengenai pengendalian diri dalam gairah cantik dan megahnya kursi kekuasaan, yakni ;

2.  Jangan Meminta-Minta Menjadi Pemimpin.

Mengenai hal ini, Rasulullah saw pernah menasehati Abu Dzar yang saat itu meminta salah satu jabatan sebagai seorang Qadhi atau Hakim, padahal ia juga adalah seseorang yang dekat dengan Rasulullah saw, Beliau bersabda; “Sesungguhnya engkau ini lemah, sementara jabatan adalah amanah, di hari kiamat dia akan mendatangkan penyesalan dan kerugian, kecuali bagi mereka yang menunaikannya dengan baik dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban atas dirinya” [HR Muslim].

Ungkapan Rasulullah saw di atas sejalan dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadanya melalui sejarah Nabi Allah Yusuf as. di dalam al-Qur’an, di mana ketika seorang Raja memintanya untuk menghadap dan diberikan jabatan tinggi di kerajaannya, namun ia (Nabi Yusuf as) tidak menerimanya, namun ia memberikan masukan kepada sang raja agar ia dapat duduk di pos yang memang menjadi keahliannya, dan bukan mencari tempat-tempat “basah” yang kemudian memberikan keuntungan pribadinya semata. Adapun kriteria kemampuan diri itu adalah, ikhlas, amanah, memiliki keunggulan dari kompetitor lainnya, dan jika wewenang itu digunakan oleh orang lain maka akan memunculkan bencana dan keterpurukan. Lihat Tafsir QS Yusuf ayat 55.

Ungkapan lain yang dapat kita gunakan sebagai bahan ajar kehidupan kita adalah hadits Rasulullah yang juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah ra. yakni ;

إِذَا وُسِدَ اْلأَمْرُ إِلىَ غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

Artinya : “jika suatu pekerjaan diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.

Hadirin, sesungguhnya kemampuan untuk memimpin itu adalah anugrah sekaligus laknah, anugrah jika dijalankan secara profesional namun menjadi laknah ketika hanya kebutuhan syahwat dan perut yang dikedepankan. Selanjutnya adalah,

3.  Kuat dan Penuh Dengan Cinta.

Istilah kuat di ambil dari al-Qur’an yang dikenal dengan “al-qawiy al-amin” kuat dan amanah. Imam al-Thabari di dalam kitabnya Tafsir al-Thabari menjelaskan bahwa kata “al-amin” maksudnya adalah kuat secara fisik dan juga kuat secara intelktual. Artinya, seorang pemimpin harus mampu bergerak cepat dalam memimpin demi kesejahteraan siapapun yang dipimpinnya, dan secara intelektual menunjukkan bahwa seorang pemimpin selain harus kerja keras tapi juga harus kerja cerdas.

Mengenai hal ini, saya teringat dengan ungkapan Khalifah kedua umat Islam yakni Umar bin Khattab ra., bahwa “keadaan kalian (rakyat) adalah bergantung dengan keadaanku, jika kalian semua baik maka sesungguhnya aku berusaha untuk itu, namun jika kalian rusak, maka aku yang paling bertanggung jawab tentang hal itu”. Sungguh pemikian seorang pemimpin sejati, adapun yang terjadi saat ini adalah, “jika semua baik itu dariku, tapi jika rusak maka itu kesalahan bawahanku”, al-‘Iyadzu billah.

Adapun tentang rasa cinta atau kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya digambarkan oleh Rasulullah beserta para khalifahnya melalui ciuman sayang kepada anak-anak. Dalam hal ini, dikisahkan bahwa pada suatu hari ada seseorang yang dipanggil oleh Umar untuk diangkat menjadi pemimpin di salah satu negeri Islam, ketika ia melihat Umar sedang menciumi dan bersenda gurau dengan anak-anaknya, lalu ia bertanya tentang prilaku Umar tersebut. Umar-pun menjawab dengan sebuah pertanyaan, “apakah engkau tidak pernah melakukan hal seperti ini ?” dan dijawab “tidak pernah”, maka pada saat itu juga ia mengatakan, “kalau begitu aku tidak jadi mengangkatmu jadi amir, karena rahmat Allah sangat jauh darimu”.

Ungkapan terahir Umar sangatlah menggugah, di mana Rahmat Allah jauh dari orang-orang yang tidak memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Artinya, sinergitas antara pemimpin dengan rakyat dapat dibangun jika sang pemimpin mampu menyayangi siapapun yang akan bekerja bersamanya. Karena meskipun sang pemimpin begitu hebat namun rakyatnya membenci maka tidak ada guna kehebatannya bagi rakyat.

4.  Jangan Mengambil Kesempatan Melalui Jalur Kedekatan Emosional.

Rasulullah saw telah bersabda; “barang siapa yang menempatkan seseorang karena hubungan kerabat, sedangkan masih ada orang yang lebih Allah ridhai, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin”. [HR. al-Hakim]. Umar bin Khatab juga pernah berkata; “Siapa yang menempatkan seseorang pada jabatan tertentu, karena rasa cinta atau karena hubungan kekerabatan, dia melakukannya hanya atas pertimbangan itu, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin”.

Sungguh tegas ungkapan para petinggi awal Islam ini dalam menegaskan tingginya amanah kepemimpinan. Amanah yang kecil hubungannya dengan manusia namun begitu besar di hadapan Allah. Oleh karenanya, jika yang menjadi petimbangan agung dalam menetapkan para pemimpin adalah karena faktor kedekatan emosi, maka begitu banyak yang akan tersakiti terkhusus bagi mereka yang memang lebih berhak untuk duduk di sana. Dalam hal ini, ada sebuah kaidah berpikir di dalam materi ushul fiqh yakni menelaah dari makna tersirat atau yang dikenal dengan istilah mafhum mukhalafah untuk menelaah prilaku negatif di atas.

Objek kajian dari materi ini adalah adanya dosa jariah bagi yang mengangkat siapapun karena faktor emosi dan bahkan orang yang bukan ahlinya sedangkan ada yang lebih berhak untuk duduk di sana. Dasar awalnya sebagai materi mafhum muwafaqah atau pemahaman yang tersurat adalah hadits tentang amal jariah, di mana amal tersebut akan terus mengalir bagi siapapun yang memberikan manfaat positif bagi semua orang atau sosial. Artinya, jika ada yang memberikan kemudharatan sosial secara tersetruktur, maka dosanya akan terus mengalir meskipun ia telah meninggal dunia, inilah pemahaman terbalik dari tersurat yakni pemahaman tersirat atau yang disebut dengan mafhum mukhalafah, wal’iadzu billah. Hal ini sejalan dengan ungkapan Rasulullah Muhammad saw ; “barang siapa dalam Islam melestariakan tradisi yang buruk, maka baginya dosa dan dosa orang-orang yang melaksankan, sesudahnya tanpa menguarangi dosa-dosa mereka sedikitpun” [HR. Muslim].

HADIRIN SIDANG JUM’AT RAHIMAKUMULLAH

Inilah sebahagian kecil kajian ke-Islaman tentang amanah kepemimpinan dalam Islam, semoga dalam perjalan waktu kita ini, Allah swt terus memberikan bimbingan-Nya kepada kita sehingga dapat terlepas dari murka-Nya, amin ya rabbal ‘alamin.

 بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَِّهُ هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ