ETIKA BERKELUARGA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Oleh :

Ahmad Rajafi Sahran, M.Hi

A.    Pendahuluan.

Ada sebuah hadits yang derajatnya hasan dalam pandangan Abu Isa namun shahih menurut al-Bani yang menjelaskan tentang nasihat Rasulullah Muhammad saw kepada Uqbah mengenai tata cara meraih sukses dalam berumah tangga :

حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عَبْدِ اللهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ وَحَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ زَحْرٍ عَنْ عَلِىِّ بْنِ يَزِيدَ عَنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِى أُمَامَةَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ «أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ» {رواه الترمذى}[1]

 Artinya : “Disampaikan kepada kami oleh Shalih bin Abdullah, disampaikan kepada kami oleh Abdullah bin al-Mubarak, disampaikan kepada kami oleh Suwaid bin Nashr, diberitahukan kepada kami oleh ibnu al-Mubarak dari Yahya bin Ayyub dari Ubaidillah bin Zahr dari Ali bin Yazid dari al-Qasim dari Abi Umamah dari Uqbah bin Amir berkata; (Uqbah) aku berkata wahai Rasulullah apa yang disebut dengan sukses (dalam rumah tanggga) ? Rasul menjawab; jagalah lisanmu maka rumahmu akan terasa luas, dan menangislah ketika engkau berbuat salah.” [HR. al-Turmudzi]

Hadits di atas menjadi pijakan awal dalam kajian tentang etika berkeluarga dalam perspektif al-Qur’an, karena tidaklah mungkin ada ungkapan dari sang penyampai wahyu Allah kecuali semuanya bersumber dari Allah itu sendiri. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Aisyah ketika ditanya oleh Sa’ad bin Hisyam tentang bagaimana melihat akhlak (etika) Rasulullah, maka Aisyah menjawab bahwa “akhlaknya adalah al-Qur’an”[2].

Melalui penelaahan terhadap profil Rasulullah Muhammad saw, maka akan terlihat spesifikasi kalam Allah yang bersifat mujmal dan terasa relevan serta responsif di manapun dan kapanpun al-Qur’an itu dikaji. Adapun yang menjadi kajian penting dalam makalah ini adalah, menelaah tentang etika berkeluarga dari awal menciptakan keluarga, kemudian dalam perjalanan berkeluarga, yakni antara suami dan istri, orang tua dengan anak, dan yang terkahir etika penyelesaian permasalahan dalam keluarga.

Adapun alat ukur dalam kajian di atas, lebih banyak terfokus pada bacaan terhadap firman-firman Allah baik terangkai di dalam al-Qur’an, juga melalui kalam-Nya yang tidak tertulis yakni sunnah Rasulullah Muhammad saw. Bacaan terhadap kalam Tuhan tersebut penulis raih dari dua sumber, yakni sumber transmisi keilmuan Islam (riwayat) dan sumber telaah sosial (ijtihad).

B.     Pembahasan.

  1. Prinsip Etik Sebelum Berkeluarga.

Islam telah mengajarkan tentang pentingnya menjunjung tinggi moralitas di dalam hidup ini, sampai-sampai Allah swt menjelaskan bahwa orang yang berbuat baik, tentunya akan mendapatkan pasangan yang baik juga. Sebaliknya, jika seseorang suka berbuat keburukan, maka untuknya pasangan yang sesuai dengan perbuatannya. Oleh karenanya, tidak pantas rasanya ketika seseorang yang amoral berharap berpasangan dengan muslimah yang baik, begitu juga sebaliknya. Allah swt berfirman :

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ {النور : 26}

 Artinya : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” [QS. An-Nuur : 26]

Bahkan di dalam ayat yang lain, dengan tegas Allah swt mengharamkan para pelaku zina untuk menikah dengan siapapun kecuali teman berzinahnya. Allah swt berfirman :

الزَّانِي لاَ يَنْكِحُ إِلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنْكِحُهَا إِلاَّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ {النور : 3}

 Artinya : “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” [QS. An-Nuur : 3]

Dua ayat di atas menjadi dasar kongkrit dalam melakukan pembinaan personal secara baik untuk mendapatkan pasangan yang baik. Hal ini dipentingkan karena Islam sendiri menjelaskan bahwa keluarga itu dibangun di atas pondasi kebaikan, maka ketika kebohongan, kedurhakaan, sudah tercipta sebelum terjadinya perkawinan maka cita-cita baiti jannati (rumahku adalah surgaku) dan visi sakinah, mawaddah dan rahmah tidak akan pernah terbangun.

Muhammad Quraish Shihab pernah menjelaskan, bahwa kehidupan keluarga ibarat satu bangunan, demi terpeliharanya bangunan itu dari hantaman badai dan goncangan gempa, maka ia harus didirkan di atas fondasi yang kuat dengan bahan bangunan yang kokoh serta jalinan perekat yang lengket. Fondasi kehidupan berkeluarga adalah ajaran agama, disertai dengan kesiapan fisik dan mental calon-calon ayah dan ibu.[3]

Karena begitu pentingnya nilai etik yang baik yang harus dibangun sebelum berumah tangga, sampai-sampai Rasulullah Muhammad saw memerintahkan umatnya agar memilih pasangan hidup dengan dominasi agama di dalam dirinya (fazhfar bi dzati al-din taribat yadak)[4]. Dalam kasus lain, Hasan al-Bashri pernah menasehati seseorang yang bertanya kepadanya mengenai pilihan pasangan hidup, maka ia (Hasan) berkata “terimalah yang paling baik agamanya, karena jika ia senang kepada istrinya, pasti ia menghormatinya, sedangka jika ia membencinya maka ia tidak akan menganiayanya[5].

Adapun stressing etik yang termaktub di dua ayat di atas, yang pertama yakni pada kata al-khabaits yang menjadi lawan kata al-thayyibat. Kata al-khabaits merupakan bentuk plural dari kata al-khabits yang memiliki makna “sesuatu yang dibenci”, namun fokus kebenciannya dari segi sifat dan zhahir-nya.[6] Quraish Shihab juga ketika menjelaskan firman Allah QS. 24:26 pada kata al-khabitsat, ia memaknainya dengan “wanita-wanita yang keji jiwanya dan buruk akhlaknya”[7]. Artinya, etika yang pertama yang harus ditanam di dalam diri sebelum membentuk keluarga sehingga mendapatkan visi yang baik, adalah menciptakan sifat dan perangai yang baik agar dapat menghadirkan pasangan yang serasi dengannya.

Stressing yang kedua adalah pada kata al-zina dan al-syirku yang tertuang di dalam QS. 24:3. Kedua kata di atas menunjukkan tentang amal perubatan, seperti kata zina yang berasal dari dari akar kata yang terdiri dari huruf zai, nun dan ya’, yang berarti berbuat zina atau melakukan hubungan badan tanpa ikatan yang sah menurut agama.[8] Berdasarkan pemaknaan di atas, maka maksud etik yang kedua ini adalah pada tataran amaliyah atau perbuatan, dan standar atau alat ukurnya adalah apa yang terlihat oleh mata. Jika nilai etik yang pertama adalah pada tataran sifat yang standarnya adalah kearifan lokal, maka  nilai etik yang kedua adalah sesuatu yang tidak bisa terbantahkan karena bukti terlihat secara nyata di depan mata.

Ayat lain yang juga menggambarkan tentang penciptaan etika yang baik, dari segi sifat dan perbuatan sebelum berkeluarga adalah firman Allah tentang kisah Nabi Musa as., dengan dua orang wanita anak Nabi Syu’aib as. ketika sedang mengambil air dan membawanya ke rumah untuk kebutuhan rumah tangga. Diperjalanan pada awalnya kedua wanita tersebut berjalan di muka Nabi Musa as., namun karena begitu banyak kemaksiatan yang terlihat olehnya dari tubuh kedua wanita tersebut, maka pada akhirnya Nabi Musa as. meminta kepada mereka untuk berjalan di belakangnya agar dapat terhindar dari kemaksiatan.[9] Adapun prinsip etik yang dibangun di dalam ayat ini adalah rasa malu yang dalam pada diri seseorang untuk melakukan kemaksiatan meskipun peluang itu ada ketika bertemu dengan lawan jenis. Dengan prinsip etik ini, tidak ada satupun yang terlukai dan tersakiti sebelum membangun bahtera tumah tangga.

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ * فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ * فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ {القصص : 25-23}

 Artinya : “Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” [23] Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, ke- mudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” [24] Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.”[25]

Etika Dalam Perjalanan Berkeluarga.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Islam sangat intens dalam membahas masalah keluarga. Keluarga di dalam bahasa Arab biasa dikenal dengan istilah usrah, yang kemudian di dalam terminologi Islam biasa diartikan dengan “unit (satuan) sosial terpenting bagi proses pembangunan umat, plus termasuk salah satu fondasi yang menyangga bangunan masyarakat muslim”[10].

Munurut Sayyid Qutub, keluarga seperti mesin inkubator ( المحضن الطبيعي ) yang bersifat alamiah dengan fungsi melindungi, memelihara dan mengembangkan jasmani dan akal anak-anak yang sedang tumbuh. Di bawah naungan keluarga, rasa cinta, kasih sayang dan solidaritas saling berpadu. Dalam lembaga keluargalah, individu manusia akan membangun perwatakannya yang khas seumur hidup, sekaligus menyiapkan diri untuk berinteraksi dengan dunia luar dan anggota masyarakat yang lain.[11]

Harus diakui bahwa sebelum datangnya Islam, prinsip-prinsip berkeluarga dibangun atas pondasi diskriminasi terhadap kaum wanita. Bahkan pada masa itu, yang paling terkenal perbuatan kejinya adalah pembunuhan terhadap anak-anak perempuan, menjadikan istri sebagai bahan taruhan, dan bahkan biasa untuk melakukan hubungan intim dengan ibu-ibu mereka, karena di dalam tradisi jahiliah, ibu juga termasuk bagian dari harta peninggalan bapak (waris). Lalu datanglah Islam dengan membawa prinsip rahmat bagi semua orang, termasuk mengangkat derajat wanita dan mengatur hubungan (relationship) antara suami-istri, pengasuhan anak dan antara anak dengan orang tua.

Adapun pembahasan mengenai etika berkeluarga dalam perjalanannya, saya klasifikasi pada dua pembahasan, yakni etika hubungan suami-istri, dan etika berbuat baik kepada orang tua.

  1. Etika Hubungan Suami-Istri.

Islam sangat memperhatikan masalah hubungan suami-istri yang diangap sebagai urat nadi kehidupan berkeluarga sekaligus penyebab keberhasilan dan kegagalan dalam berumah tangga. Untuk itu, pada pembahasan awal ini akan dibahas terlibah dahulu tentang status suami dalam perspektif Qur’an. Allah swt berfirman :

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ {الروم : 21}

 Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” [QS. Ar-Ruum : 21]

Melalui ayat ini, sesungguhnya tidak ditemukan sedikitpun dikotomi kekuasaan antara suami dan istri, karena pasangan pada ayat di atas merupakan bagian dari diri ini sendiri. Artinya, jika seseorang merasa bahwa pasangannya adalah bagian dari dirinya, maka tidak akan ada pemaksaan dan penindasan pada pasangannya, karena ketika itu terjadi maka sasungguhnya ia telah menyakiti dirinya sendiri. Prinsip al-musawah (kesamaan derajat) inilah yang dapat menciptakan visi sakinah, mawaddah dan rahmah dalam berkeluarga.

Lalu apakah sesungguhnya fungsi suami bagi pasangannya jikalau prinsip etik hubungan suami-istri adalah al-musawah ? Untuk menjawab hal ini, dapat dilihat dari keterkaitan ayat di atas dengan ayat yang lain (al-munasabah). Allah swt berfirman :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ…{النساء : 34}

 Artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” [QS. An-Nisa’ : 34]

Kata qawwam di dalam al-Qur’an terjemahan Departemen Agama selalu bermakna “pemimpin” sehingga ayat ini kemudian menjadi legetemasi umum bagi para suami untuk merendahkan istrinya. Padahal ayat di atas tidak berhenti hanya pada kalimat qawwamuna ‘ala an-nisa’, akan tetapi ada ayat lain yang terlupakan yakni bima anfaqu min amwalihim. Artinya, seorang suami di dalam rumah tangga adalah penjaga kebutuhan materi dan immateri bagi keluarganya, bukan boss yang dapat mengatur segalanya atas kehendaknya. Oleh karenanya, agar terjalin rumah tangga yang baik maka dibutuhkan kerja sama dan pembagian tugas antara suami dan istri. Hal ini sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Said Agil Husin al-Munawar mengenai konteks kalimat al-rijal qawwmuna ‘ala al-nisa’, bahwa kalimat ini menyajikan tentang pembagian tugas antara suami-istri.[12]

Adapun tugas dan posisi istri di dalam keluarga adalah sebagai pengelola kegiatan rumah tangga. Hal ini sejalan dengan bayan kalam Allah melalui hadits Rasulullah saw ;

…والمرأة راعية في بيت زوجها ومسؤولة عن رعيتها…{رواه البخاري}[13]

 Artinya : “…wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan diminta pertanggung jawabannya…” [HR. al-Bukhari]

Berdasarkan penjelasan di atas, maka jelaslah bahwa job description antara suami-istri merupakan prinsip etik yang harus dikedepankan demi sebuah kebersamaan. Suami menjadi pengada sekaligus penjaga kebutuhan rumah tangga, sedangkan istri mengatur keluar-masuk segala kebutuhan rumah tangga.

Adapun prinsip etik yang selanjutnya adalah mengenai kewajiban memperlakukan pasangan (saling bergaul) dengan baik. Dalam hal ini, etika dapat dilihat dari dua kewajiban pelaksanaan hak dan kewajiban suami-istri. Yang pertama adalah etika pemenuhan hak suami-istri :

1)      Menjaga kehormatan pasangan. Dalam hal ini, Rasulullah saw sebagai penyampai risalah Allah menjelaskan ;

أيما امرأة وضعت ثيابها في غير بيت زوجها فقد هتكت ستر ما بينها وبين الله {رواه ابن ماجه}[14]

 Artinya : “Manakala wanita membuka pakaiannya di rumah selain rumah suaminya, maka dia sungguh telah menghancurkan tabir antara dia dan Allah swt.” [HR. Ibnu Majah]

2)      Terjadi timbalik balik saling membutuhkan ketika salah satu mengajak untuk melakukan hubungan suami-istri (al-wath`u / jima’). Standar tidak berlakunya hadits Rasulullah yang menjelaskan wanita mendapatkan laknat malaikat hingga subuh karena menolak hubungan suami-istri[15] adalah karena haidh[16], serta keadaan yang tidak memungkinkan secara alamiah[17], seperti sakit, terlalu lelah, dll. Untuk keadaan yang kedua ini, Allah menggunakan kata hartsun (tanah temapat bercocok tanam). Sifat alamiah tanah tidak bisa dilakukan penanaman secara normal adalah pada masa-masa sulit seperti kemarau, bencana alam, dll. Lalu apakah ketika pada masa-masa itu kita harus memaksakan diri untuk bercocok tanam ? tentu tidak, begitu pula yang harus dilakukan oleh suami kepada istri, dan sebaliknya. Hal ini sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Allah swt di dalam al-Qur’an, وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ (dan bergaullah dengan mereka secara patut)[18].

3)      Menjaga rumah dan perasaan pasangan. Dalam hal ini, etika yang sangat dibutuhkan adalah keterbukaan dan komunikasi. Hadits yang menjelaskan tentang jangan berpuasa kecuali mendapat izin suami,[19] pada dasarnya merupakan perintah untuk membangun komunikasi yang baik antara suami-istri.

4)      Memberikan kebutuhan jasmani dari rizki yang halal. Hal ini di jelaskan oleh Allah seperti di dalam surat QS. al-A’raf ;

…وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ…{الأعراف : 157}

 Artinya : “dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” [QS. al-A’raf : 157]

Etika Hubungan Anak dengan Orang Tua dan Sebaliknya.

Etika seorang anak terhadap orang tua dijelaskan oleh Allah swt melalui kisah Luqman yang memberikan nasehat kepada anaknya, dan dari delapan nasehat Luqman tersebut, terdapat dua bagian penting yang menyangkut masalah etika hubungan antara anak dengan orang tua, yakni ayat 14-15. Dalam hal ini, Allah swt berfirman :

وَوَصَّيْنَا اْلإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ * وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ {لقمان : 15-14}

 Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. [14] Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [15]” [QS. Luqman : 14-15]

Melalui ayat di atas, dapat dirangkum perintah Luqman kepada anaknya mengenai etika anak kepada orang tua; (1) selalu bersyukur, (2) taat dalam kebaikan, (3) berani mengambil sikap menolak dengan cara yang baik dalam hal kemaksiatan. Dari ketiga prinsip ini, maka sesungguhnya yang menjadi standar atau alat ukur dalam melaksanakannya adalah kesabaran, baik dari segi ucapan ataupun perbuatan.

Adapun ketika orang tua sudah meninggal maka seorang anak juga tidak boleh menanggalkan etika ketaatan terhadap keduanya. Dalam hal ini, Rasulullah Muhammad saw menjelaskan ; “Salah seorang dan kaum Anshar datang kepada Rasulullah saw, kemudian berkata, Wahai Rasulullah, apakah aku masih mempunyai kewajiban bakti kepada orang tua yang harus aku kerjakan setelah kematian keduanya? Rasulullah saw. bersabda, Ya ada, yaitu empat hal: mendoakan keduanya, memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-teman keduanya, dan menyambung sanak famili di mana engkau tidak mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dari jalur keduanya. Itulah bentuk bakti engkau kepada keduanya setelah kematian keduanya.” [HR Abu Daud]

Berdasarkan ayat-ayat dalam surat Luqman dan hadits di atas, Abu Bakr Jabir al-Jaziri menyebutkan bahwa setelah seorang muslim mengetahui hak kedua orang tua atas dirinya, dan menunaikannya dengan sempurna karena mentaati Allah swt, dan merealisir wasiat-Nya, maka juga menjaga etika-etika berikut ini terhadap kedua orang tuanya ; (1) Taat kepada kedua orang tua dalam semua perintah dan larangan keduanya, selama di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah dan pelanggaran terhadap syariat-Nya. Karena, manusia tidak berkewajiban taat kepada manusia sesamanya dalam bermaksiat kepada Allah, berdasarkan firman Allah, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15). Sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya ketaatan itu hanya ada dalam kebaikan.” (Muttafaq ‘Alaih). Sabda Rasulullah saw., “Tidak ada kewajiban ketaatan bagi manusia dalam maksiat kepada Allah.” (2) Hormat dan menghargai kepada keduanya, merendahkan suara dan memuliakan keduanya dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak menghardik dan tidak mengangkat suara di atas suara keduanya, tidak berjalan di depan keduanya, tidak mendahulukan istri dan anak atas keduanya, tidak memanggil keduanya dengan namanya namun memanggil keduanya dengan panggilan, “Ayah, ibu,” dan tidak bepergian kecuali dengan izin dan kerelaan keduanya. (3) Berbakti kepada keduanya dengan apa saja yang mampu ia kerjakan, dan sesuai dengan kemampuannya, seperti memberi makan pakaian kepada keduanya, mengobati penyakit keduanya, menghilangkan madzarat dari keduanya, dan mengalah untuk kebaikan keduanya. (4) Menyambung hubungan kekerabatan dimana ia tidak mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dan jalur kedua orang tuanya, mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji (wasiat), dan memuliakan teman keduanya.[20]

Sedangkan etika yang baik yang harus dibangun oleh orang tua terhadap anakanya adalah; (1) memberikan pilihan nama yang baik, (2) menunaikan penyembelihan hewan ‘aqiqah, (3) mengkhitankannya, (4) memberikan nafkah yang halal dan baik, pembinaan mental dan prilaku yang baik, (5) pengenalan dan penanaman ilmu-ilmu keislaman. Hal ini sejalan dengan firman Allah swt QS. al-Baqarah ayat 233 dan al-Tahrim ayat 6.[21]

Etika Penyelesaian Problem Keluarga.

Ada dua permasalahan penting yang harus dituangkan prinsip etik di dalam penyelesaian problem keluarga, yakni masalah cemburu, dan masalah perceraian. Kedua permaslahan ini, sering kali diselesaikan oleh suami dan istri dengan mendahulukan nafsu amarah sehingga menghilangkan nilai-nilai logis sebagai manusia. Bukan kemaslahatan dan rahmat Allah yang muncul, akan tetapi murka dan azab Allah yang akan datang.

Masalah Cemburu.

Cemburu adalah sifat alamiah seorang manusia, baik pria ataupun wanita, bahkan istri-istri nabi sendiri selalu saling cemburu berkenaan dengan hubungan mereka dengan Rasulullah Muhammad saw. Bint asy-Syathi menyebutkan, bahwa karena cemburu merupakan watak logis dan sehat, maka Rasulullah saw mengizinkan istri-istrinya mengisi dunia pribadinya dengan kehangatan, emosi dan kegembiraan, menentang semua stagnasi, kelesuan, dan sifat yang membosankan[22]. Bahkan Nabi tidak dengan sendirinya selalu meluangkan waktu untuk melihat dan mengamati peperang-perangan kecil yang terjadi di antara istri-istrinya, dan sebagai seorang manusia, Nabi pun merasa “senang” karena mereka salaing cemburu karena cinta mereka kepada suami mereka yakni Rasulullah Muhammad saw.[23]

Adapun dalam memberikan hukuman bagi yang membangkang, Nabi menarik mereka dari kontak sosial dan seksual. Hal ini sejalan dengan firman Allah swt  ;

…وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا{النساء : 34}

 Artinya : “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [QS. An-Nisa’ : 34]

Masalah Perceraian.

Masalah perceraian merupakan perbuatan yang mubah (boleh) namun dibenci Allah swt. Akan tetapi meskipun ia dibenci Tuhan akan tetapi Islam memberikan peluang untuk dapat melakukan perceraian jika jalan perdamaian dengan “al-ma’ruf” atau kebaikan sudah tidak bisa menjadi solusi. Dalam hal ini, Allah mengajarkan kepada umat Islam agar menjadikan pengadilan sebagai sarana perceraian agar fitnah dan kemaksiatan tidak merajalela, sebagaimana firman Allah swt ;

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاَحًا يُوَفِّقِ اللهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا{النساء : 35}

 Artinya : “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. An-Nisa’ : 35]

Melalui firman Allah di atas, maka Muhammad Sahrur dengan tegas menyebutkan bahwa semua penyelesaian perceraian harus di depan pengadilan. Hal ini bagi hemat penulis berguna untuk menutup semua aib yang ada pada masa pernikahan dan harus tetap dijaga pasca perceraian.

الطلاق بين الرجل والمرأة لا يكون إلا عن طر يق القضاء حصرا [24]

Artinya : “Perceraian antara suami-istri secara tegas harus diselesaikan melalui jalur persidangan.

Prinsip lain yang juga terjaga dengan mengedepankan nilai etik di atas adalah terselesaikannya seluruh kasus-kasus harta pasca perceraian, seperti kasus yang dituangkan oleh Allah di dalam al-Qur’an ;

الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آَتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلاَّ أَنْ يَخَافَا أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللهِ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ {البقرة : 229}

 Artinya : “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” [QS. al-Baqarah : 229]

C.    Kesimpulan.

Berdasarkan penjelasan dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan mengenai etika berkeluarga yakni :

  1. Etika sebelum membangun keluarga adalah pada tataran sifat yang standarnya adalah kearifan lokal (dengan standar al-khabits dan al-thayyib) dan sesuatu yang tidak bisa terbantahkan karena bukti terlihat secara nyata di depan mata (dengan standar al-zina dan al-syirk), serta rasa malu (al-haya’).
  2. Etika di dalam perjalan berkeluarga antara suami dan istri yakni dengan menjadikan pasangan sebagai bagian dari dirinya (min nafs al-wahidah) dan menempatkan tugas masing-masing secara proposional. Sedangka etika anak terhadap orang tua dibangun dengan pondasi sabar, baik perkataan maupun perbuatan.
  3. Dalam menyelesaikan permasalahan perkawinan, al-Qur’an mengajarkan agar menghukum pasangan dengan menarik mereka dari kontak sosial dan seksual. Dan jika harus dengan jalan perceraian maka semua harus diselesaikan di muka persidangan.

DAFTAR PUSTAKA

 al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin al-Husain bin Ali., al-Sunan al-Kubra, al-Hindi: Majelis Dairah al-Ma’arif al-Nizhamiyah al-Kainah, 1344 H

al-Bukhari, Muhammad bin Isma’il Abu Abdillah., al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987

al-Darimi, Adullah bin Abd al-Rahman Abu Muhammad., Sunan al-Darimi, Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1407 H

al-Ja`iri, Abu Bakr Jabir., Minhaj al-Muslim, Beirut: Dar al-Fikr, 1999

Al Munawar, Said Aqil Husin., al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta: Ciputat Press, 2003

al-Quzhawaini, Muhammad bin Yazid Abu Abdillah., Sunan Ibnu Majah, Beirut:  Dar al-Fikr, t.th.

al-Syaibani, Ahmad bin Hanbal Abu Abdillah., Musnad al-Imam Ahmad binHanbal, Kairo: Mu`assasah Qurthubah, t.th.

al-Turmudzi, Muhammad Ibnu Isa Abu Isa., al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Turmudzi, Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dkk, Beirut: Dar Ihya’ al- Turats al-‘Arabi, t.th.

Bint asy-Syathi, Tarajim Sayyidat Bait al-Nubuwwah, Beirut: Dar al-Kitab al- Arabi, 1984

CD. Al-Maktabah al-Syamilah

Luis, Ma’luf., al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, Beirut: Dar al-Masyriq, 2003

Sahabuddin…[et.al]., Ensiklopedia al-Qur’an; Kajian Kosakata, Jakarta: Lentera    Hati, 2007

Sattar, Al-Syaikh Abdul Aziz Abdus., al-Wa’yu al-Islami, Kuwait: Kementrian Wakaf, 1972

Shihab, Muhammad Quraish., Membumikan al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1994

……………., Tafsir al-Mishbah; Pesan dan Kesan Keserasian al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2002

Syahrur, Muhammad., al-Kitab wa al-Qur’an Qira`ah Mu’ashirah, Beirut: Binayat al-Wahhad, 2000

Utang Ranuwijaya…[et.al.]., Pustaka Pengetahuan al-Quran, Jakarta: Rehal  Publika, 2007


[1] Muhammad Ibnu Isa Abu Isa al-Turmudzi, al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Turmudzi, Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dkk, (Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, t.th.), Juz. 4, h. 605

[2] Ahmad bin Hanbal Abu Abdillah al-Syaibani, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, (Kairo: Mu`assasah Qurthubah, t.th.), Juz 6, h. 71

[3] Muhammad Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1994), h. 254

[4] Muhammad bin Isma’il Abu Abdillah al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987), Juz 5, h. 1958

[5] Al-Syaikh Abdul Aziz Abdus Sattar, al-Wa’yu al-Islami, (Kuwait: Kementrian Wakaf, 1972), h. 75

[6] Ma’luf Luis, al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, (Beirut: Dar al-Masyriq, 2003), Cet. Ke-40, h. 166

[7] Muhammad Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan dan Kesan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vol. 9, h. 315

[8] Sahabuddin…[et.al]., Ensiklopedia al-Qur’an; Kajian Kosakata, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), Jilid. 3, h. 1135

[9] Lihat Tafsir QS. 28:23-25., Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alwasi, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim wa al-Sab’u al-Matsani, CD. Al-Maktabah al-Syamilah

[10] Utang Ranuwijaya…[et.al.]., Pustaka Pengetahuan al-Quran, (Jakarta: Rehal Publika, 2007), Jilid. 3, h. 135

[11] Sayyid Qutub, Fi Zhilal al-Qur’an, CD. Al-Maktabah al-Syamilah, Juz 1, h. 214

[12] Said Aqil Husin Al Munawar, al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Jakarta: Ciputat Press, 2003), Cet. III, h. 229

[13] al-Bukhari, op.cit., Juz. 1, h. 304

[14] Muhammad bin Yazid Abu Abdillah al-Quzhawaini, Sunan Ibnu Majah, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), Juz. 2, h. 1234

[15] Abu Bakr Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, (al-Hindi: Majelis Dairah al-Ma’arif al-Nizhamiyah al-Kainah, 1344 H), Juz. 2, h. 176

[16] Lihat QS. 2:222

[17] Lihat QS. 2:223

[18] Lihat QS. 4:19

[19] Adullah bin Abd al-Rahman Abu Muhammad al-Darimi, Sunan al-Darimi, (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1407 H), Juz. 2, h. 21

[20] Lihat Abu Bakr Jabir al-Ja`iri, Minhaj al-Muslim, (Beirut: Dar al-Fikr, 1999), h. 73

[21] Ibid., h. 74

[22] Bint asy-Syathi, Tarajim Sayyidat Bait al-Nubuwwah, (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1984), h. 204

[23] Ibid., 207

[24] Muhammad Syahrur, al-Kitab wa al-Qur’an Qira`ah Mu’ashirah, (Beirut: Binayat al-Wahhad, 2000), h. 626

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s