PENYEMBELIHAN HEWAN SAPI DENGAN NIAT KURBAN DAN ‘AQIQAH

A. Pendahuluan.

Salah satu amal ibadah yang di sunahkan oleh Islam ialah melakukan qurban. yaitu, menyembelih seekor kambing untuk satu orang atau seekor sapi untuk tujuh orang. Waktu menyembelihnya ialah sesudah mengerjakan shalat Idul Qurban (Hari Raya Haji) sampai pada akhir hari tasyri’ (13 Zul hijjah). Adapun dasar-hukum dari qurban itu, antara lain disebutkan dalam al-Qur’an :

فَصَلِّ لِرَ بِّكَ وَا نْحَرْ {الكوثر : 2}

Artinya : “Maka sembahlah Tuhanmu  dan berqurbanlah. (QS. al-Kautsar : 2)

Berdasar kepada firman Allah itu, maka sebagian Ulama berpendapat bahwa melaksanakan ibadah qurban itu hukumnya adalah wajib bagi tiap-tiap Muslim yang mampu, sebab yang disebutkan pada ayat tersebut (Wanhar “berkurbanlah”) bersifat perintah. Akan tetapi, Ulama yang terbanyak (jumhur Ulama) ber­pendapat bahwa hukumnya ialah sunnat muakkad, yaitu sunnat yang sangat dianjurkan. Derajatnya lebih tinggi daripada sunnat yang biasa, nilai pahalanya pun lebih besar.

Dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibn Majah dari Abu Hurairah, dikatakan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ  يَقْرَ بَنَّ مُصَلاَّنَا{رواه ابن ماجه}[1]

Artinya : “Dari Abi Hurairah ra. Sesungghunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Barangsiapa yang mempunyai kelapangan (mampu) untuk berqurban tapi tidak dilakukannya, maka janganlah dia dekat-dekat ke tempat kami bersembahyang ini.”

Ucapan Rasulullah itu mengandung suatu nada peringatan. Dari semangat yang terkandung dalam Hadits tersebut dapat ditarik satu kesimpulan, bahwa ibadah qurban itu adalah sede­mikian penting, sehingga hukumnya seolah-olah mendekati hukum wajib, tegasnya buat orang-orang yang mampu, yang telah di­limpahkan Tuhan rezeki kepada mereka itu. Mengenai hewan yang di-qurban-kan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَ يْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ {رواه مسلم}[2]

Artinya : “Dari Jabir bin Abdullah ra. berkata : kami pernah melakukan qurban bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyah dengan seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang.” (HR. Muslim)

Adapun ‘aqiqah adalah binatang yang disembelih pada hari mencukur rambut anak yang baru dilahirkan. Mengenai binatang yang pakai dalam ‘aqiqah, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم اَمَرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنِ الْغُلاَمِ شَتَانِ مُكَافَئَتَانِ وَعَنِ اْلجَارِيَةِ شَاةٌ{رواه النسائي} [3]

Artinya : “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka agar menyembelih ‘aqiqah untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor kambing.

Dari penjelasan di atas maka jelaslah bahwa antara qurban dan ‘aqiqah terjadi perbedaan dalam menentukan hewan yang harus di sembelih, tetapi yang terjadi adalah, muncul pemikiran tentang melakukan penyembelihan sapi dengan niat qurban dan ‘aqiqah anaknya. Dari masalah inilah maka penulis dapat rumuskan masalahnya, yakni ; bagaimanakah hukum penyembelihan hewan sapi dengan niat qurban dan ‘aqiqah ?

B. Pembahasan.

1.      Definisi dan Dasar Hukum Kurban.

Qurban menurut bahasa berasal dari kata qaruba-yaqrabu-qurban, yang artinya dekat, mendekati.[4] Sedangkan dalam tradisi Arab, hal ini dikenal dengan sebutan al-udhiyah, yang berarti :

ما يذبح من النعم تقر با إلى الله تعالى من يوم النحر إلى آخر أ يام التشر يق [5]

Artinya : “Apa yang disembelih dari binatang ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. pada hari nahr (10 dzulhijjah) sampai pada akhir hari tasyriq (13 dzulhijjah).

Pada awalnya, berkurban dalam Islam merupakan syariat yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Hal ini diterangkan dalam al-Qur’an ;

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ {الصفات : 107}

Artinya : “dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaffat : 107)

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meneruskan syari’at tersebut setiap ‘idul adha. Dan pelaksanaan qurban ini disyariatkan pada tahun kedua hijriyah, bersamaan dengan disyariatkannya zakat dengan shalat ‘idul fitri dan ‘idul adha,[6] sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

فَصَلِّ لِرَ بِّكَ وَانْحَرْ {الكوثر  : 2}

Artinya : “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar : 2)

2.      Definisi dan Dasar Hukum Aqiqah.

Secara etimologi, kata ‘aqiqah adalah :

اسم للشعر الذى على رأْس المولود

Artinya : “sebuah istilah untuk rambut kepala bayi yang baru lahir.

Sedangkan secara terminologi, kata ‘aqiqah adalah :

اسم لما يذبح فى اليوم السابع يوم حلق رأسه تسمية لها باسم مايقارنها[7]

Artinya : “menyembelih hewan pada hari ketujuh kelahiran anak, kemudian dicukur dan diberi nama.

Dalam kitab Mukhtar al-Shihhah sebagaimana yang dikutip oleh Said Sabiq disebutkan, bahwa yang dimaksud dengan ‘aqiqah adalah :

العقيقة بالكسر الشعر الذى يولد عليه كل مولود من الناس والبهائم ومنه سميت الشاة التى تذبح عن المولود يوم أسبوعه[8]

Artinya : “’Aqiqah adalah memotong rambut makhluk yang baru dilahirkan, berupa manusia dengan (menyembelih) binatang yang kemudian dinamai pula dari padanya binatang yang disembelih yakni domba untuk anak yang baru lahir pada hari keseminggunya.

Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan definisi-definisi di atas adalah, binatang yang disembelih dalam rangka menyambut anak yang baru dilahirkan. Dinamai dengan ‘aqiqah, karena binatang tersebut dipotong tenggorokannya pada waktu disembelih. Hal ini dilaksanakan berdasarkan hadits dari Samurah bin Jundub yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى {رواه أبوداود}[9]

Artinya : “Dari Qatadah dari Hasan dari Samurah bin Jundab, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Setiap anak yang lahir itu tergadai (terpelihara) dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ketujuh, ia dicukur rambutnya dan diberi nama.

3.      Penjelasan Tentang Jenis Hewan Kurban dan Aqiqah.

a.      Jenis Hewan Kurban.

Binatang yang boleh diqurbankan adalah binatang ternak seperti unta, sapi, dan kambing. Sebagaimana Allah swt berfirman :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ اْلأَنْعَامِ…{الحج : 34}

Artinya : “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka…

Dan dianggap memadai berkurban dengan domba yang berumur setengah tahun, kambing yang berumur satu tahun, sapi yang berumur dua tahun, unta berumur lima tahun. Tidak ada perbedaan antara jantan atau betina. Adapun syarat-syarat binatang yang dikurbankan adalah hewan yang bebas dari aib yakni yang jelas terlihat dan mengurang daging. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ فَيْرُوزَ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَفَعَهُ قَالَ لاَ يُضَحَّى بِالْعَرْجَاءِ بَيِّنٌ ظَلَعُهَا وَلاَ بِالْعَوْرَاءِ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَلاَ بِالْمَرِيضَةِ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَلاَ بِالْعَجْفَاءِ الَّتِي لاَ تُنْقِي {رواه الترمذى}[10]

Artinya : “Diceritakan kepada kami Ali bin Ja’far, dikabarkan kepada kami Jarir bin Hazim dari Muhammad bin Ishaq dari Yazid bin Abi Habib dri Sulaiman bin Abdirrahman dari ‘Ubaid bin Fairuz dari al-Barra’ bin ‘Azib (semoga Allah memuliakannya) berkata; Tidak boleh berqurban karena pincang sekali, picak yang nampak sekali, sakit yang terlihat, dan tidak pula karena yang kurus sekali.

Kemudian, jika seseorang berkurban dengan satu kambing domba atau kambing, ini berarti sudah dianggap memadai untuknya dan untuk keluarga seisi rumahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ ثُمَّ تَبَاهَى النَّاسُ فَصَارَ كَمَا تَرَى{رواه الترمذى}[11]

Artinya : “Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang berkurban dengan seekor domba untuknya dan untuk keluarga seisi rumahnya. Mereka memakan dan mereka berikan orang lain sampai manusia merasa senang (lega), sehingga mereka menjadi seperti yang engkau lihat.

Di dalam hadits lain disebutkan bahwa untuk sapi dan unta dapat berlaku untuk tujuh orang, jika mereka semua bermaksud berkurban dan ber-taqarrub kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana sabdanya :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ {رواه مسلم}

Artinya : “Diceritakan kepada kami Yahya bin Yahya berkata, aku mendapatkannya dari Malik dari Abi Zubair dari Jabir bin Abdillah berkata; kami menyembelih qurban bersama dengan Raslullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyah seekor unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang.

b.      Jenis Hewan Aqiqah.

Jumhur ulama fiqh berpendapat bahwa ketentuan syarat binatang yang disembelih untuk ‘aqiqah sama dengan ketentuan syarat binatang untuk kurban, yaitu minimal sudah berusia delapan bulan, tidak cacat, dan diutamakan yang sudah cupak (ganti) giginya dari gigi susu ke gigi permanen. Namun, terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai apakah sapi dan unta dapat digunakan untuk ‘aqiqah. Ahli fiqh umumnya berpegang pada prinsip keutamaannya, yaitu bahwa unta lebih baik dari sapi dan sapi lebih utama dari kambing. Perbedaan pendapat ini terjadi karena perbedaan dalam memahami hadits dan penggunaan qiyas. Hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan ‘aqiqah bagi kedua cucunya Hasan dan Husain masing-masing seekor kambing, dan hadits yang menerangkan bahwa bagi anak perempuan seekor kambing dan bagi anak laki-laki dua ekor kambing masing-masing diriwayatkan oleh Abu Daud adalah menunjukkan bahwa aqiqah itu harus dilakukan dengan menyembelih kambing.[12]

Selanjutnya, bagi kelompok yang menggunakan qiyas, yaitu meng-qiyas-kan ‘aqiqah dengan ibadah, akan mengambil kesimpulan bahwa ‘aqiqah dengan sapi atau kerbau lebih utama daripada kambing, karena ‘aqiqah sebagai ibadah harus dilakukan dengan cara yang lebih utama. Berdasarkan qiyas ‘aqiqah dengan ibadah ini “maka menyembelih unta atau sapi adalah lebih baik dari pada kambing”.[13]

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha’ mengenai jumlah  kambing yang digunakan untuk ‘aqiqah, “menurut Imam Malik, ‘aqiqah anak laki-laki dan perempuan masing-masing satu ekor kambing. Sementara Imam asy-Syafi’i, Abu Tsaur, Imam Abu Daud, Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa ‘aqiqah untuk anak perempuan satu ekor kambing, sedangkan anak laki-laki dengan dua ekor kambing. Perbedaan pendapat tersebut  terjadi  karena  perbedaan mereka dalam menafsirkan hadits-hadits di atas.”[14]

2.      Hukum Menyembelih Sapi Dengan Niat Qurban dan Aqiqah.

Pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, umat Islam apabila menghadapi suatu persoalan langsung menanyakan kepada Raulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Rasul-lah yang langsung memberikan jawaban. Terkadang dengan al-Qur’an yang turun berkenaan dengan masalah tersebut (sebagai jawaban), dan terkadang dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ketiga bentuknya yakni secara qauli (perkataan), fi’li (perbuatan), dan taqriri (ketetapan). Adakalanya pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda masalah itu atau menunggu hingga turunnya wahyu. Adapun bentuk jawaban rasul, pada hakikatnya tidak terlepas dari petunjuk Ilahi, sesuai firman Allah swt :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى{3}إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى{4}

Artinya : “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.[3]Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)[4]. (QS. An-Najm : 3-4)”

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa apa pun yang telah keluar dari nabi baik perkataan, perbuatan dan ketetapan merupakan sesuatu yang menjadi panduan hidup umat Islam Sedunia, termasuk dengan adanya kegiatan ibadah kurban yang merupakan ibadah turun temurun dari abu al-Anbiya’ Ibrahim as., dan diteruskan oleh baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu juga dengan ibadah ‘aqiqah yang ia lakukan sendiri terhadap cucunya Hasan dan Husen.

Dua dalil di atas menunjukkan bahwa kedua ibadah ini adalah ibadah yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Namun, muncul praktik kegiatan ibadah kurban pada bulan haji dengan mengurbankan sapi, dan ada anak yang lahir sebelum waktu penyembelihan hewan kurban maka mereka menggabungkan niat mereka dengan niat untuk mengaqiqahkan si jabang bayi tersebut. Alasannya adalah, bahwa hewan sapi adalah salah satu hewan yang mana jika seseorang berkurban dengannya maka ia dapat membawa enam nama yang ingin ia hadiahkan pahala kurbannya, hal ini di dasarkan bahwa jatah kurban hewan sapi adalah untuk tujuh orang. Dengan demikian, maka jika enamnya adalah untuk jatah ibadah kurban maka jatah yang satunya boleh saja untuk jatah ‘aqiqah bagi anak manusia yang baru lahir. Bagitu juga dengan makna hakiki dari sebuah ibadah penyembelihan hewan bahwa yang diterima oleh Allah bukanlah darah yang mengalir dari setiap penyembelihan, namun katekawaan seseoranglah yang diterima oleh-Nya.

Pada dasarnya, ada dua hal yang membedakan ibadah kurban masyarakat kuno dengan kurban dalam Islam. Pertama dari sisi orientasi atau tujuan ibadah. Jika pada masa lalu, kurban erat kaitannya dengan permohonan keselamatan kepada dewa, maka dalam Islam kurban dimaksudkan untuk ibadah kepada Allah swt. Pengorbanan seorang hamba apapun bentuknya hanya pantas dipersembahkan kepada Allah dan bukan kepada yang lain. Menariknya, kendati orientasi ibadah kurban kepada Allah, namun tetap mengacu kepada kepentingan manusia.

Kurban adalah sarana yang paling efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah. Lewat kurban, seseorang akan membuktikan cintanya kepada Allah Swt. Kesiapannya untuk berkurban dengan mengeluarkan biaya, paling tidak dapat dijadikan bukti awal bahwa Allah lebih ia cintai dari apapun di muka bumi ini. Kedua, perbedaan kurban masa lalu dengan kurbannya Islam adalah dari sisi pemanfaatan hewan kurban.

Bagi peradaban kuno, inti dari kurban bukanlah pendistribusian obyek kurban kepada orang ramai, karena biasanya, obyek kurban justru dimusnahkan dengan dibakar atau dihanyutkan ke sungai. Jelas tidak ada pemanfaatan buat manusia. Berbeda dengan Islam, hewan yang dikurbankan peruntukannya dikembalikan kepada manusia. Agaknya cukup menarik membaca firman Allah swt. yang maknanya, “Sesungguhnya yang sampai kepada Allah bukanlah darah atau dagingnya melainkan ketakwaaan kamu.

Namun menariknya di dalam Islam, kendatipun ibadah kurban dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, namun nilai-nilai sosial (solidaritas sosialnya) tetap terpelihara. Bahkan esensi dari ibadah kurban itu sesungguhnya terletak pada distribusi hewan kurban kepada orang-orang yang tidak mampu agar mereka memiliki perbekalan makanan pada hari raya idul Adha dan hari tasyrik. Dengan pemberian daging kurban diharapkan mereka juga dapat bergembira dalam merayakan ‘Idul Adha.

Oleh karenanya, dalam hal ini memang jumhur ulama fiqh telah berpendapat bahwa ketentuan syarat binatang yang disembelih untuk ‘aqiqah sama dengan ketentuan syarat binatang untuk kurban, yaitu minimal sudah berusia delapan bulan, tidak cacat, dan diutamakan yang sudah cupak (ganti) giginya dari gigi susu ke gigi permanen. Namun, terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai apakah sapi dan unta dapat digunakan untuk ‘aqiqah. Ahli fiqh umumnya berpegang pada prinsip keutamannya, yaitu bahwa unta lebih baik dari sapi dan sapi lebih utama dari kambing.

Adapun argumentasi yang membolehkan digabungkannya niat ‘aqiqah dan kurban dengan menyembelih hewan sapi adalah dari makna hakiki sebuah penyembelihan yang bersumber dari hadits firman Allah swt :

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَ لاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ {الحج : 37}

Artinya : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Apalagi jika dilihat dari praktek Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang (terlihat) seperti bertentang dengan perintahnya kepada umat Islam saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى {رواه أبوداود}

Artinya : “Dari Qatadah dari Hasan dari Samurah bin Jundab, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; Setiap anak yang lahir itu tergadai (terpelihara) dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ketujuh, ia dicukur rambutnya dan diberi nama.

Namun dalam prakteknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyembelih satu ekor kambing untuk setiap satu orang cucunya, yakni Hasan dan Husen. Artinya, (menurut ustadz tersebut yakni Sugito) sesungguhnya yang terpenting dalam ibadah aqiqah dan kurban itu bukanlah pada penyembelihannya namun pada ketakwaan seseorang ketika melakukan ibadah tersebut, dan semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah melalui sedekah kurban dan aqiqahnya.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka sesungguhnya menurut hemat penulis ada dua jawaban penting yang dapat dituangkan dalam jawaban penelitian ini :

a.      Secara zhahir makna (tekstual), kegiatan menggabungkan dua niat antara ibadah kurban dan aqiqah dengan menggunakan hewan sapi memang tidak dibolehkan, atas dasar hadits nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ {رواه مسلم}[15]

Artinya : “Dari Jabir bin Abdullah ra. berkata : kami pernah melakukan qurban bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyah dengan seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang.” (HR. Muslim)

Adapun mengenai ‘aqiqah, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ {رواه الترمذي}[16]

Artinya : “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka agar menyembelih ‘aqiqah untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan anak perempuan satu ekor kambing.

Berdasarkan dalil di atas, maka menurut hemat penulis, dua dalil ini menunjukkan bahwa antara keduanya merupakan kegiatan yang berbeda dari segi filosofis dan historis. Dari segi filosofis, kurban untuk menunjukkan ketundukkan seorang hamba pada Rabb-nya (Allah), sedangkan ‘aqiqah untuk menebus penggadaian seorang anak dengan Rabbnya (Allah). Dari segi historis, kurban berasal dari syari’at Nabi Ibrahim as., sedangkan ‘aqiqah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

b.      Dari segi substansinya maka maknanya adalah untuk kepentingan sosial, dengan demikian hal ini akan bermakna terbalik 180 derajat dari jawaban sebelumnya yakni dengan jawaban diperbolehkannya berkurban hewan sapi dengan niat ganda yakni untuk ‘aqiqah pula, karena antara kurban dan ‘aqiqah sama-sama yang diterima oleh Allah bukanlah darah dan dagingnya namun sebuah ketakwaan dari seorang hamba tersebut. Namun, ketakwaan seseorang bukan hanya tercipta atas hubungan ia dengan Tuhan (hablu min Allah) semata namun juga memberikan kesempatan hidup yang sama kepada sesama manusia (hablu min annas). Oleh karenanya, daging hewan yang sudah disembelih tersebut hendaknya dapat memberikan kebahagian kepada orang lain pula.

Adapun pendapat yang lebih kuat menurut penulis, adalah pendapat yang menyatakan tidak boleh menggabungkan kedua niat tersebut dalam satu sembelihan, karena secara zhahir nash kedua ibadah ini dibedakan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri dengan mengelompokkan hewan-hewan kurban dan mengkhususkan untuk ibadah ‘aqiqah dengan hanya menyebutkan hewan kambing dan sekaligus ia praktekkan ketika mengaqiqah cucunya Hasan dan Husen.

C. Kesimpulan.

Setelah penulis mengkaji dan memaparkan pembahasan dia atas, maka dari hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa secara zhahir makna (tekstual), kegiatan menggabungkan dua niat antara ibadah kurban dan ‘aqiqah dengan menggunakan hewan sapi memang tidak diperbolehkan atas dasar hadits nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membedakan antara kedua ibadah ini. Namun, secara substansial hal ini dibolehkan, karena antara kurban dan ‘aqiqah sama-sama yang diterima oleh Allah bukanlah darah dan dagingnya namun sebuah ketakwaan dari seorang hamba tersebut karena untuk kepentingan sosial menuju kesalehan sosial.


[1] Imam ibn Majah, Sunan ibn Majah Bab al-Adhahy Wajibatun Hiya am La, No. 3114, Juz 9, hlm. 276, CD. al-Maktabah al-Syamilah

[2] Muslim, Shahih Muslim Kitab al-Hajj Nomor 2322, CD. Al-Bayan

[3] Imam al-Nasai, Sunan al-Nasai Kitab al-‘Aqiqah nomor Hadits 4141, CD. Al-Bayan

[4] Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Pondok Pesantren al-Munawwir, 1984), h. 1185

[5] Ahmad bin Umar al-Syathiry al-‘Uluwy al-Husaini al-Tarimy, al-Yaqut al-Nafis fi Madzhab ibnu Idris, (Beirut: Dar al-Tsaqafah al-Islamiyah, t.th.), h. 204

[6] Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], op.cit., h. 994

[7] Imam Taqy al-Din Abi Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Damasyqy al-Syafi’i, Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar, (Semarang: Maktabah Usaha Keluarga, t.th.), Juz 2, h. 242

[8] Al-Syaikh al-Said Sabiq, Fiqh al-Sunah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), Jilid 3, h. 279

[9] Abu Daud, Sunan Abi Daud, Kitab al-Dhahaya Nomor Hadits 2455, CD. Al-Bayan

[10] Imam al-Turmudzi, op.cit., Nomor Hadits 1417, CD. Al-Bayan

[11] Imam al-Turmudzi, Sunan al-Turmudzi Bab Ma Jaa an Syat Nomor 1587, Juz 6, hlm. 136, CD. Al-Maktabah al-Syamilah

[12] Abdul Aziz Dahlan,…[et al.], op.cit., h. 81

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Imam Muslim, Shahih Muslim, Bab al-Isytirak fi al-Hadyi wa al-Ijza’ Nomor 350, Juz 2, hlm. 955, CD. Al-al-Maktabah al-Syamilah

[16] Imam al-Turmudzi, Sunan al-Turmudzi Bab ma ja`a fi al-‘Aqiqah, Nomor 1595, Juz 6, hlm. 150, CD. Al-Maktabah al-Syamilah

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s