SEJARAH MUNCULNYA USHUL FIQH SEBAGAI DISIPLIN ILMU

A. Pendahuluan.

Sejak periode awal sejarah Islam, perilaku kehidupan kaum muslimin dalam keseluruhan aspeknya telah diatur oleh hukum Islam. Aturan-aturan ini, pada esensinya, bersifat religius.[1] Oleh karena itu, dalam pembinaan dan pengembangannya, selalu diupayakan berdasarkan kepada al-Qur’an, sebagai wahyu Ilahi yang terakhir, yang pengaplikasiannya untuk sebagian besar dicontohkan dan dioperasionalkan oleh sunnah Rasulullah saw.

Bagi umat Islam, syari’ah adalah “tugas umat manusia yang menyeluruh”, meliputi moral dan etika pembinaan umat, aspirasi spiritual, ibadah formal dan ritual yang rinci. Syari’ah mencakup semua hukum publik dan perseorangan, kesehatan bahkan kesopanan dan akhlak.[2] Mayoritas umat Islam meyakini bahwa keseluruhan syari’ah itu bersifat ilahiah. Dan pandangan yang menjadi keyakinan umat ini akan menjadi hambatan psikologis utama dalam upaya merekonstruksi syari’ah, apalagi jika ada yang menganggap bahwa bagian tertentu dari syari’ah sudah tidak memadai, akan dituduh sebagai bid’ah.[3]

Memang dari sekian aspek yang diatur oleh Islam, aspek hukum mempunyai kedudukan tersendiri, karena ia menyentuh langsung kenyataan yang dihadapi umat Islam. Kalau dilihat ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung dasar hukum, baik mengenai ibadah maupun sosial kemayarakatan, bila diikuti perbandingan yang diberikan oleh Abdul Wahab Khallaf, seperti yang dikutip oleh Harun Nasution hanyalah sekitar 5,8 persen dari seluruh ayat al-Qur’an yang berjumlah 6360 ayat.[4]

Rasulullah Saw, dalam memecahkan masalah yang muncul, terkadang meminta pendapat para sahabat melalui forum musyawarah. Sebagai contoh, beliau meminta pertimbangan kepada Abu Bakar dan Umar dalam menangani tawanan perang Badar.[5] Pada masa itu, segala masalah yang timbul di kalangan umat dapat diselesaikan di hadapan beliau yang memiliki otoritas keagamaan.[6] Yang jadi masalah barangkali setelah sepeninggal Rasul, yakni perihal siapa yang mengganti hak otoritatif tersebut. Pada satu sisi, sumber pemecahan masalah keagamaan telah terputus, sedang pada sisi lain, kejadian-kejadian yang timbul dalam masyarakat tentu berlangsung tanpa mengenal batas. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka dibutuhkan pranata ijtihad secara kontinu demi pemenuhan kebutuhan masyarakat Islam.[7]

Pada masa sahabat yang lebih dekat dengan tradisi kehidupan Rasulullah saw, pemecahan masalah hukum lebih banyak bersandar pada al-Qur’an dan tradisi yang dibawa oleh Rasul, dan mereka saling bertukar informasi tentang tradisi Rasul tersebut.[8] Apabila mereka tidak menemukannya dalam dua sumber tersebut, mereka dengan segala upaya dan kesungguh­an berijtihad mencari pemecahan masalah dengan selalu mengambil inspirasi dan menangkap pesan-pesan universal al-Qur’an dan sunnah. Dalam berijtihad seringkali mereka meng­hasilkan pemecahan yang berbeda.[9] Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Ibnu Khaldun, seorang sosiolog muslim yang terkenal mengatakan: “Tidaklah sahabat itu mampu berfatwa, dan tidak semua dari mereka itu dapat diambil dan dijadikan pedornan dalam agama.”[10] Lain halnya di kalangan Syi’ah yang berkeyakinan bahwa para imam mereka memiliki hak otoritatif sebagaimana juga yang dimiliki oleh Rasul dalam menginter­pretasikan wahyu Ilahi. Apapun yang diputuskan olehnya me­lalui interpretasi dan elaborasi adalah mengikat kaum muslimin.[11]

Dalam perkembangan selanjutnya, Islam yang sudah menyebar sedemikian luasnya, pluralitas masyarakat tidak dapat dihindarkan lagi, masalah yang timbul pun tidak kalah kom­pleksnya yang menuntut upaya ijtihad yang lebih komprehensip bagi segenap pengikutnya, khususnya para intelektual muslim yang memiliki tanggung jawab yang paling berkompeten dalam hal tersebut. Hal demikian dilakukan untuk lebih mengaktuali­sasikan misi Islam yang bersifat elastis[12] dan tidak ada unsur pemaksaan bagi manusia.

Dalam tulisan ini akan dipaparkan masalah awal penyu­sunan ilmu ushul fiqh (dan kemudian menjadi salah satu dari bagian displin ilmu) yang telah dipelopori Imam Syafi’i dalam menyusun ilmu tersebut secara sistematis, yang dengan kecerdasannya, ia mampu menangkap fenomena yang ada dari per­kembangan ilmu ushul fiqh dari periode sebelumnya dan diapli­kasikan dalam karyanya yang konkrit.

B. Pembahasan.

1. Imam al-Syafi’i Penulis Pertama Ushul Fiqh Sebagai Disiplin Ilmu.

Nama lengkapnya adalah Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, ia adalah keturunan Quraisy dengan nasab Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi bin Saib bin ‘Abid bin Abdu Yazid ibnu Hisyam bin Muthalib bin Abdu Manaf, ia lahir di Gaza Palestina pada bulan Rajab tahun 150 H/767 M. (bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah) dan wafat pada malam jum’at 29 Rajab tahun 204 H/ 29 Januari 820 M. Ia lebih kurang menulis 100 karya ilmiah. Di antaranya; ar-Risalah, al-Umm, Ikhtilaf al-‘Iraqiyyin, Ikhtilaf Malik, Ibthal al-Istihsan, Ahkam al-Qur’an, al-Musnad, al-Radd ‘ala Muhammad bin al-Hasan, al-Qiyas, al-Imla’, al-Amali, al-Qasamat, al-Jizyah, Qital Ahl al-Baghyi, Siyar al-Awza’i, dan lain-lain.[13]

Dalam masalah fiqh, ia belajar pertama kali dengan Syeikh Muslim bin Khalid al-Zinji hingga mendapat kesaksian untuk memberikan fatwa,[14] walau Syafi’i ketika itu masih berumur lima belas tahun. Meskipun demikian, ia keberatan memberi fatwa, karena dirinya telah dikuasai obsesinya untuk menguasai seluruh faham fiqh yang berkembang pada zamannya. Sebagaimana Imam Malik di Madinah, Abu Hanifah di Kufah, al-Auza’i di Syam, al-Laits di Mesir.

Demi memenuhi apa yang menjadi obsesinya tersebut, ia bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya, dengan menghafal karya monumental dari Imam Malik, yaitu kitab al-Muwaththa’, sebelum ia mulai berguru kepada penyusunnya. Sehingga ketika ia belajar pada Imam Malik hanya dalam beberapa hari saja kitab al-Muwaththa’ selesai. Imam Malik sempat heran atas kecerdasan dan kefasihan Syafi’i dan selalu meminta untuk mengulang atau meneruskan bacaannya ketika belajar.[15]

Setelah di Madinah bersama Imam Malik, ia meneruskan perkelanaannya mencari ilmu ke Kufah selama dua tahun. Dan Kufah, ia telah mentransfer seluruh fiqh Abu Hanifah dan telah banyak mendapat kemajuan yang luar biasa. Hal itu terlihat dalam setiap majlis pembahasan keagamaan Syafi’i sangat menonjol dan mendominasi. Di samping itu memang ditunjang oleh penguasaannya dalam ilmu filsafat, logika, fisika, kedokteran, falak dan ilmu-ilmu empiris lainnya, yang sebelumnya telah dipelajari dari tokoh rasionalis di Irak dan para murid Abu Hanifah selama di Madinah.[16] Syafi’i tinggal di Madinah di bawah naungan Imam Malik hingga Imam Malik wafat pada tahun 179 H. Pada saat itu, umur beliau dua puluh sembilan tahun.

Sepeninggal gurunya, Syafi’i pergi ke Najran dengan tujuan bekerja, namun di sana ia justru mendapat kesempatan meleng­kapi obsesinya menguasai fiqhnya al-Laits, di mana dia berguru pada Yahya bin Hissan, salah seorang murid al-Laits. Dan dialah, Syafi’i mengambil seluruh pengetahuan fiqh al-Laits.[17] Dan di sana pula lah, ia banyak bergaul dengan ulama Syi’ah dan banyak bergesekan dengan penguasa Sunni bahkan dia sempat dituduh memberontak dan menjadi pengikut golongan Syi’ah karena perkataan beliau yang bemada condong kepada keturuanan Ali bin Abi Thalib. Karena itu, ia sempat diajukan ke meja hijau di masa Harun al-Rasyid karena perkataannya sebagai berikut: “Jika Rafidhi (Syi’ah) itu mencintai keluarga Muhammad saw maka saksikanlah bahwa sesungguhnya saya Rafidhi.” Kejadian itu pada tahun 184 H, ketika ia berusia tiga puluh empat tahun.[18]

2. Displin Ilmu yang Dituangkan al-Syafi’i di Dalam Kitabnya al-Risalah.

Pada diri Syafi’i terakumulasi pemikiran fiqh dari para fuqaha’ Mekah, Madinah, Irak dan Mesir. al-Razi, seperti yang dikutip Abu Zahrah, mengatakan bahwa hampir semua ulama terkemuka yang hidup di zamannya pemah menjadi gurunya, paling tidak, pemah mendiskusikan persoalan dengannya. Guru­gurunya yang betul-betul ahli fiqh sekitar sembilan belas orang, lima orang dari Mekah, enam orang dan Madinah, empat orang dari Yaman dan empat orang dari Irak.[19]

Ada keterangan bahwa Imam Syafi’i tidak saja mengagumi rasionalisme Abu Hanifah, tradisionalisme Malik, reformisme Auza’i dan al-Laits akan tetapi juga pemikiran-pemikiran fun­damentalisme Syi’ah dan Mu’tazilah. Dalam kajian sejarah Ibn Katsir disebutkan bahwa Syafi’i berkata secara apresiasif : “Barang siapa yang ingin memperdalam fiqh, ia harus jadi anak asuh Abu Hanifah, yang ingin memperdalam sejarah harus menjadi anak asuh Muhammad bin Ishaq, yang ingin memperdalam hadis harus menjadi anak asuh Imam Malik dan yang ingin memperdalam tafsir harus menjadi anak asuh Muqathil bin Sulaiman.”[20]

Ketika al-Syafi’i telah menjadi seorang Imam untuk merealisasi­kan ilmunya, beliau membentuk majelis sebagai sarana dalam mengajar dan berfatwa. Beliau membuka majelis di Masjid al-Haram, Mekah, beberapa jam setelah shalat subuh. Sisa waktu lainnya digunakan untuk berkonsentrasi khusus mencari metode dalam fiqh. Dari hasil renungannya tersusunlah kitab “al-Risalah” yang berisi tentang kaidah-kaidah global untuk mengambil hukum dan prinsip penggalian hukum dan beliau tetapkan sebagai “ilmu ushul fiqh”.[21]

Dalam menentukan metode yang dikemukakannya, beliau sangatlah hati-hati, sikap ini tampak ketika ditanya tentang landasan beliau terhadap ijma’. Untuk menemukan jawaban tersebut beliau sampai membaca al-Qur’an sebanyak 300 kali dan akhimya menemukan jawabannya pada surat an-Nisa’ ayat 15.[22]

Dalam membangun pemikiran ushul fiqhnya ke dalam suatu displin ilmu, Imam Syafi’i meng­ikuti fenomena perbedaan dengan cermat sehingga melahirkan suatu sintesa pemikiran fiqh, yaitu antara fiqh ahl hadits dan ahl ra’yi yang benar-benar orisinil. Memang benar, bahwa perkem­bangan Imam Syafi’i pada masa awal perumusan dua mazhab (Hanafi dan Malik) itu telah banyak mewamai pemikiran fiqh mazhab Syafi’i yang moderat dan cenderung pada sikap jalan tengah.[23]

Di tengah-tengah pergumulan intelektual yang terjadi pada saat itu, Syafi’i menulis buku “al-Hujjah” (Argumentasi) yang secara komprehensif memuat sikapnya terhadap berbagai persoalan yang berkembang. Pemikiran-pemikiran baru Syafi’i itu diantara­nya tertuang dalam bukunya “al-Umm”, yang disampaikannya secara lisan pada murid-muridnya di Mesir.

Dalam merinci kajian ushul fiqh-nya sehingga menjadi suatu disiplin ilmu, ada beberapa tahapan yang perlu dicatat di sini; yang pertama, di Mekah selama kurang lebih sembilan tahun, saat itu adalah masa kehidupan ilmiah yang paling kreatif dan energik, ia mulai merumuskan pemikirannya khususnya dalam bidang fiqh, secara sungguh-sungguh dan mendalam. Tahap pertama ini merupakan periode perumusan metode berpikir dan kaidah-kaidah dasar, terbukti belum banyak memasuki masalah-masalah far’iyyah (cabang). Dengan kata lain, karakteristik pemikirannya masih bersifat global dan kaidah-kaidah dasar sebagai pijakan dalam berijtihad.

Kedua, dimulai pada tahun 195 H di Baghdad, di sinilah ia mulai memperlihatkan sikapnya terhadap pendapat-pendapat fuqaha’ yang hidup di zamannya dan bahkan pendapat para sahabat dan tabi’in. Ia mempraktekkan kaidah-kaidah ushuliyah terhadap perbedaan pendapat yang berkembang. Pluralisme pemikiran yang ada di Irak adalah faktor utama yang menyebabkan kematangan pemikiran fiqh Syafi’i.

Ketiga, periode ini dimulai tahun 199 H setelah pindah ke Mesir, hingga wafatnya tahun 204 H. Pada masa-masa akhir inilah, ia menggunakan sebagian besar waktunya untuk menulis buku-bukunya, bahkan merevisi buku-buku yang pernah ditulis­nya seperti al-Risalah yang merupakan karya monumental pertama sepanjang sejarah dalam bidang ushul al-fiqh[24] sekaligus menjadi bukti kecerdasan Syafi’i dalam menganalisis fenomena yang berkembang dalam pergulatan masalah fiqhiyah. Ia mampu mengakumulasikan hampir semusa masalah hukum Islam dalam karya­nya tersebut, di mana secara garis besar ia menuangkan tahap­an metode pengambilan hukum, sebagai berikut, pertama melalui rujukan al-Qur’an sebagai pijakan dasar. Ia berargumentasi bahwa al-Qur’an telah memuat segala ketetentuan hukum dari segala persoalan yang muncul.[25] Kedua, al-sunnah, ia menempatkannya setara dengan al-Qur’an sebagai sumber hukum, karena pada hakekatnya antara keduanya memiliki hubungan yang integral. Pranata yang ketiga ijma’, dan yang keempat qiyas (analog).

Keempat landasan tersebut dijadikannya patokan dalam pengambilan suatu hukum. Sedangkan istihsan, istishhab, sadd al-dzari’ah dan metode lainnya dimasukkan ke dalam qiyas bi al-qawa’id (penalaran analogis terhadap prinsip umum yang terkan­dung dalam preseden itu sendiri).

C. Kesimpulan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapatlah di simpulkan bahwa sesungguhnya yang pertama kali merumuskan dan membukukan sehingga memunculkan salah satu disiplin ilmu baru yang bernama ushul fiqh adalah Imam al-Syafi’i rahimahullah ta’ala. Displin ilmu yang ia kemukakan merupakan usaha yang kuat untuk memoderasi antara pikir ahl al-ra’yi dan ahl al-hadits.


[1] Fazlur Rahman, Islam, (Chicago: University of Chicago Press, 1979), Edisi Kedua, h. 68

[2] Ibid., h. 101-109

[3] Abdullah Ahmad al-Na’im, Dekonstruksi Syari’ah, (Yogyakarta: LKiS, 1994), h. 25

[4] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Bulan Bintang, t.th.), h. 7

[5] Badran Abu al-’Ainaini Badran, Ushul al-Fiqh al-Islami, (Mesir: Muassasah Syabab al-Jami’ah al-Iskandariyah, t.th.), h. 5

[6] Ibid.

[7] Abdul Wahhab Khalaf, Mashadir al-Tasyri’ al-Islami, (Kuwait: Dar al-Qalam, 1976), h. 6

[8] Muhammad Yusuf Musa, Tarikh al-Fiqh al-Islami, (Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsah, 1958), h. 277

[9] Amir Nurudin, Ijtihad Umar ibn al-Khattab, (Jakarta: Rajawali Press, 1991), h. 71

[10] Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun, (t.t.: Dar al-Bayan, t.th.), h. 446

[11] Abdul Aziz A Sachenia, Kepemimpinan Dalam Islam Perspektif Syi’ah, (Bandung: Mizan, 1991), h. 23

[12] Muhammad Khudari Beik, Tarikh Tasyri’ al-Islami, (Beirut: Dar al-Fikr al-Islami, 1981), h. 17

[13] Muhammad Abu Zahrah, Imam Syafi’i : hayâtuhu wa ‘asruhu wa fikruhu ara’uhu wa fiqhuhu, diterjemahkan oleh Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman, Imam Syafi’i Biografi dan Pemikirannya dalam Masalah Akidah Politik & Fiqh, (Jakarta: Lentera, 2005), h. 27-28

[14] Husain Hamid Hasan, al-Madkhal li Dirasat al-Fiqh al-Islami, (Mesir: t.p., 1981), h. 193

[15] Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, (Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, t.th.), Jilid II, h. 131

[16] Abdurrahman al-Syarqawi, Lima Imam Madzhab Terkemuka, (Bandung: al-Bayan, 1994), h. 101

[17] Ibid., 106

[18] Abu Zahrah, Tarikh op.cit., h. 233

[19] Abu Zahrah, al-Syafi’i op.cit., h. 41

[20] Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, (Beirut: Dar al-Kutub, 1995), Jilid V, h. 263-264

[21] Abdurrahman al-Syarqawi, op.cit., h. 118

[22] Abdul Fatah, al-Ijma’, (Mesir: t.p., 1879), h. 74

[23] Mun’im A Sirry, Sejarah Fiqh Islam, (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), h. 106

[24] Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, (Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi, t.th.), h. 13

[25] Imam al-Syafi’i, al-Risalah, (Beirut: t.p., t.th.), h. 20

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s