MENGAJI DENGAN PROF. DR. H. M. QURAISH SHIHAB

Hari ini sabtu 15 feb 2014 menjadi hari kebanggan bagi para pengkaji al quran dan pecinta kajian-kajian serta pemikiran Muhammad Quraish Shihab dalam acara International Conference on Qur’anic Studies atas harlah 10 tahun Pusat Studi al Qur’an dan 70 tahun Muhammad Quraish Shihab. Selain memperdengarkan kajian tentang ta’wil dari tiga model yang berbeda-beda, yakni Imam Masjid Haram dengan model tekstualis, Guru Besar dari Iran dengan model rasional, dan Naib Syekh Akbar al Azhar Mesir dengan model moderatnya, serta ditutup oleh Doktor al Quran dari Indonesia yang juga sedang menjabat sebagai Gubernur NTB dengan menjelaskan model tafsir Indonesia yang dikembangkan oleh Muhammad Quraish Shihab, juga diketengahkan tiga orang pemateri yang masing-masing dari Indonesia, Malaysia dan Singapura dengan fokus kajian pada pemikiran MQS dan visi Membukan al Qurannya.

Diakhir acara tersebut, dimintaklah kepada MQS oleh Moderator agar dapat memberi tanggapan atas berbagai materi dan kegiatan pada hari ini. Pada bagian inilah, terlihat kecemerlangan dan keluasan ilmu dari keturunan sayyid yang tidak pernah mau disebut habib ini. Ungkapan yang paling melekat adalah, ketika beliau menyebutkan bahwa di sinilah kita tempat kita melihat berbagai argumentasi keilmuan dan mengakui hadirnya argumentasi orang lain, namun bukan berarti bahwa mengakui tersebut sebagai justifkasi bahwa ia mengikutinya.

Sebagai contoh, ketika ada pertanyaan tentang siapa yang dimaksud dengan ulama dalam ayat “innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ulama’” maka pemateri dari Malaysia menjelaskan bahwa ulama dalam ayat tersebut adalah mereka yang sesuai dengan profil Nabi Muhammad saw, hal tersebut didasarkan pada sebuah hadits al ulama’ waratsatul anbiya’, ulama adalah pewaris para nabi. Dan ketika MQS ikut menanggapi pertanyaan tersebut, beliau tidak sama sekali menyalahkan pemateri dari Malaysia tersebut yang ternyata berbeda pendapat dengannya. Mengenai ayat tersebut menurut beliau, konteksnya adalah firman Allah tentang para ulama yang bukan beragama Islam akan tetapi kaum Yahudi, dan kata ulama dalam ayat itu pula tidak dikhususkan bagi ahli-ahli keislaman, akan tetapi orang-orang yang berilmu di luar materi-materi keagamaan, karena asal pembahasan di dalam ayat tersebut mengenai masalah bercocok tanam.

Subhanallah, sebuah pertunjukan yang masyarakat langitpun akan begitu bangga dengan keberadaannya. Untuk itu, doa kami semua yang hadir pada saat itu adalah, semoga Allah terus memberikan kesempatan yang luas baginya untuk dapat memberikan secercah ilmu untuk umat manusia, yang tentunya berasal dari-Nya. Selamat pak Quraish, kami bangga dan berayukur kepada Allah swt karena kehadiran beliau di bumi Indonesia ini.

image

Catatan hari ini :
Sabtu, 15 Februari 2014
Jam 21.58 WIB

BUKU NARASI SYARHIL QUR’AN

Buku ini berbicara tentang bagaimana cara melakukan pembinaan yang efektif bagi para peserta binaan syarhil qur’an sehingga mampu memberikan penampilan yang maksimal baik di dalam bermusabaqah ataupun pada saat berdakwah di masyarakat. Selain dari pada itu, diketengahkan pula di falam buku ini beberapa teks syarhil qur’an yang terangkum di dalam kompilasi teks-teks syarhil qur’an. Fungsi utamanya adalah untuk memberikan khazanah baru di dalam perbendaharan kajian syarhil qur’an di Indonesia.

Pada dasarnya, sudah banyak buku-buku yang megetengahkan tentang materi-materi Syarhil Qur’an, tapi buku ini adalah catatan-catatan penulis ketika membina secara khusus para peserta binaan di Padepokan Syarhil Qur’an Lampung sehingga mampu mengahdirkan para juara baik di dalam Prop. Lampung dan juga di luar Lampung. Dengah hadirnya buku ini, semoga mampu memberikan dampak yang positif dalam pembinaan syarhil qur’an kedepan.

Bagi yang berminat segera hubungi kami.
Harga : Rp. 50.000 + Ongkir

image

POLITIK UANG DAN DZIKIR POLITIK MENJELANG PESTA DEMOKRASI

Oleh :

AHMAD RAJAFI SAHRAN

Pemilihan umum dan kepala daerah (gubernur) di Propinsi Lampung tidak lama lagi akan terlaksana di tahun ini. Begitu banyak baliho-baliho yang bertebaran untuk menunjukkan profil setiap calon, bahkan profil individu yang biasanya menunjukkan bahwa seseorang telah meninggal – seperti di dalam Surat Yasin – kini terus menjadi alat politik bagi setiap calon anggota dewan dan calon gubernur di Indonesia. bahkan Masih dalam ingatan kita pula di lima tahun yang lalu, di mana muncul gambar-gambar yang berbau politik di muka Kitab Suci umat Islam yakni al-Qur’an.

Fenomena politik di atas pada dasarnya merupakan “anak-cucu” yang lahir dari rahim Demokrasi. Sebuah sistem yang sangat diminati oleh hampir semua negara berkembang – untuk tidak menyebutkan sebagai negara miskin – dalam menciptakan negaranya yang lebih baik. Entah apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Demokrasi pada awalnya, akan tetapi secara historis istilah demokrasi merupakan lambang untuk menunjukkan persamaan hak dan kewajiban, tidak adanya pembedaan Suku, Agama, Ras, warna kulit, dll. Akan tetapi dalam perjalanannya, demokrasi saat ini seperti lari dari khithah-nya karena mengajarkan tentang penguasaan sepihak secara sistematis oleh orang-orang yang “berkuasa”.

Mark Woodward seorang Dosen Arizona State University dalam salah satu statemennya di dalam Seminar Internasioanal di PPs IAIN Raden Intan Lampung (12/12/13) menjelaskan bahwa salah satu dari dampak demokrasi adalah munculnya suasana gembira yang “membudaya” dengan bertebarannya politik uang demi meloloskan kehendaknya untuk meraih jabatan tersebut. Statemen tersebut memang tidak bisa dipungkiri oleh kita sebagai bangsa Indonesia yang baru bangun dari tidur panjang pasca lengsernya Orde Baru. Hal ini kemudian diperkuat dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah yang mewajibkan rakyatnya untuk memilih langsung para pemimpin di daerahnya seperti walikota, kabupaten dan propinsi. Akibatnya, pesta demokrasi yang seharusnya menciptakan pemerintahan yang akan semakin dekat dengan rakyat, sekaligus akan menciptakan akuntabilitas yang tinggi dari rakyat untuk pemerintahan lokal, rakyat menjadi semakin kritis dalam merespon kebijakan di tingkat lokal, dan terbangunnya political equality (persamaan politik) di tingkat lokal, namun terbalik seratus delapan puluh derajat dengan hanya menjadi lahan baru bagi mereka yang ingin berkuasa dan “berduit” plus menjadi lahan baru untuk meraih kuntungan yang sebesar-besarnya oleh oknum-oknum politik praktis dari para calon yang didekatinya.

Fenomena faktual di atas ternyata naik kelas, dari yang awalnya hanya menerapkan money politics, kini bertambah dengan menerapkan isu-isu agama dalam politik demokarsi di Indonesia. Sebut saja dengan merebaknya hadiah-hadiah umroh dan wisata religis secara gratis yang ditebar oleh para calon kepala daerah, dzikir dan istighatsah yang dilaksanakan demi mendapatkan “restu” Ilahi, dan lain-lain. Lalu apakah semua itu direstui oleh demokrasi ? Tentu secara normatif semua itu tidak diperkenankan di dalam demokrasi, akan tetapi hal ini bertentangan dengan sifat sosiologis yang selalu menghendaki adanya perubahan di dalam masyarakat.

Namun perlu dipahami bahwa manusia sebagai mahluk sosial tidak bisa terlepas dari nilai etik. Manusia dapat berbuat dan meraih apapun, namun apakah cara yang ditunjukkannya tidak lari dari nilai etik di dalam masyarakat, atau bahkan termasuk dari golongan yang siap untuk merusak sistem sosial yang telah dibangun dengan baik ? Disinilah pentingnya untuk menguatkan idealisme setiap calon dan seluruh masyarakat dan tidak mengedepankan unsur pragmatisnya. Jangan sampai akibat kebutuhan maslahat yang sesaaat kemudian melahirkan kerusakan (mafsadat) yang berkepanjangan. Sebagai seorang yang beragama, prinsip menjaga kebaikan adalah keharusan setiap individu untuk menghadirkannya, dan menutup diri dari kerusakan adalah kewajiban selanjutnya.

Mengenai hal ini, di dalam Islam dikenal firman Allah swt yang menjelaskan bahwa “telah nyata kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan manusia” (QS.30:41) lalu firman lain yang menjelaskan bahwa “dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (QS.17:16). Sikap durhaka pada dasarnya bukan sekedar urusan keimanan yang menyangkut masalah person dengan Tuhannya, akan tetapi lebih karena keseimbangan hidup yang dirusak oleh person-person yang tidak bertanggungjawab tersebut. Dalam hal ini, nikmat adalah urusan di bumi dan bukan urusan langit, maka menjadi tanggung jawab masyarakat bumi untuk mengelolanya dengan baik. Sikap durhaka terhadap nikmat berarti meremehkan dan merendahkan potensi kebaikan yang ada pada diri setiap manusia yang tinggal di bumi ini dan makhluk disekelilingnya, inilah yang kemudian menurut hemat kami dapat disebut dengan durhaka terhadap ayat-ayat kosmik.

Untuk itu, menjadi sebuah harapan besar dari setiap orang-orang yang beragama agar para agamawannya tidak terbawa arus politik yang kemudian menelan mereka. Kita harus kembali pada kehendak positif dari keterlibatan para agamawan di dalam politik praktis, seperti memberi pengaruh berlangsungnya pesta demokrasi yang aman dan damai. Karena otoritas agama sebagai figur kharismatik bagi massa pemilih akan berfungsi sebagai elemen pemersatu, baik melalui tindakan atau ”fatwa” yang dikeluarkan. Bukan sebaliknya, yakni membawa umatnya masuk ke dalam kehendak politik kepentingan dan keuntungan sementara. Menjadi sangat positif ketika perputaran uang yang terjadi di dalam aksi politik di masyarakat dapat dijelaskan secara bijak oleh para agamawan melalui penggunaan dalil-dalil agama demi kebaikan semua orang. Bukan kemudian menjualnya dengan harga yang murah (QS.2:41) dan bahkan ikut menjual harga dirinya demi lembaran rupiah yang juga tidak terlalu banyak.

Harapan besar dari setip umat adalah, jangan sampai penggunaan ayat-ayat suci dalam ranah politik praktis. Seperti saat kampanye misalnya, yang lebih banyak ditujukan untuk kepentingan memperoleh dukungan suara, bukan untuk menjelaskan makna sesungguhnya dari ayat tersebut. Praktek seperti ini, yang selalu mengusung firman-firman Tuhan untuk meraih kekuasaan berkecenderungan tidak toleran terhadap pemahaman yang berbeda. Agama kemudian menjadi alat untuk menguatkan kehendak politiknya semata, sehingga setiap yang berbeda dengannya menjadi musuh mereka meskipun sama-sama mengusung firman-firman Tuhan.

Akibat dari politk uang dan dzikir politk di atas, maka terlihat ditataran aksi, uang menjadi “tuhan” baru bagi masyarakat, dan agama hanya sebatas simbol dan slogan, dengan demikian maka tidak ada sedikitpun kontribusi berupa pelajaran politik yang berguna bagi rakyat, apalagi yang mencerdaskan mereka, yang terangkum di dalam pola pikir mereka hanyalah keuntungan sesaat dan jauh dari substansi ajaran agama. Seharusnya agama dapat menjadi instrumen solutif dari berbagai masalah yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Pada sisi lain, wacana dan juga praktik politik yang dibangun atas slogan agama yang bersifat simbolik hanya akan mengantarkan pada perdebatan fanatisme antar kelompok agama dan keagamaan, yang apabila ditarik pada konstruk pesta demokrasi, akan mudah terjebak ke dalam eksklusifisme. Sebabnya, pesta demokrasi telah menempatkan komunitas agama tertentu sebagai identitas terpisah dari identitas lainnya. Pada akhirnya, semoga dengan penjelasan di atas, dapat memberi semangat baru bagi masyarakat dan para agamawan di tahun pesta demokrasi ini, baik ditingkat lokal (Lampung) maupun nasional agar mampu menjaga kehormatannya sehingga dapat menghadirkan kabaikan bagi semua.

BUKU KUMPULAN KHUTBAH JUM’AT DAN HARI RAYA : REFLEKSI ISLAM INDONESIA

Umat Islam Indonesia pasca reformasi telah mendapat kebebasan berekspresi dengan begitu lebar. Bahkan, karena begitu luasnya peluang untuk berekpresi, sampai-sampai bangsa ini mulai kewalahan karena siapapun kini dapat berbicara termasuk dalam hal agama, tanpa diketahui asal usul dunia akademik keislamannya. Batas-batas kewajaran dan toleransi kini telah “dikangkangi” karena semangat yang menggebu-gebu untuk menyampaikan ajaran agama karena adanya hadits Nabi Muhammad saw yang memerintahkan untuk menyampaikan ajaran agama walaupun hanya satu ayat, tanpa di dasari oleh kedalaman beragama.

Semangat seperti ini ternyata juga masuk ke dalam mimbar-mimbar jum’at dan kemudian menyamakan antara ceramah bebas dengan khutbah sehingga menegasi unsur-unsur penting di dalam khutbah, yakni syarat dan rukun khutbah. Seringkali saat ini, umat dihadirkan di dalam masjidnya para pengkhutbah seperti di atas, yang secara domisili bukan termasuk muqimin. Mereka menyampaikan agama melalui perspektif mereka tanpa mengetahui dan mencari tahu al-‘adah yang berkembang di tempat itu. Hasilnya, begitu banyak jama’ah jum’at yang akhirnya kecewa dengan peribadatan jum’at pada hari itu. Di sisi yang lain, karena tentunya di dalam peribadatan jum’at berkumpul antara orang-orang yang ‘alim dan awam, maka menjadi sebuah problem besar bagi mereka yang mengetahui adanya kekurangan rukun di dalam penyampaian khutbah tersebut, sehingga harus memaksa mereka untuk menyempurnakan peribadatan jum’at mereka, dengan kembali melaksanakan shalat zhuhur. Prinsip seperti ini merupakan ajaran yang berkembang secara luas di bumi nusantara melalui jalur pikir madzhab Imam asy-Syafi’i rahimahullah ta’ala.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa karena dampak dari reformasi, informasi dari luar Indonesia termasuk faham-faham agama selain yang berkembang secara major, kini masuk dan merasuk secara masal tanpa dapat dibendung. Termasuk di dalamnya faham wahabi dari Arab Sauidi, Syi’ah dari Iran, dan Liberal dari Eropa. Akan tetapi perlu diingat kembali, bahwa kita adalah umat Islam yang lahir dan besar di bumi Indonesia, sebuah wilayah di Asia Tenggara yang mengalami Islamisasi tanpa adanya paksaan dan kekerasan. Islam menyebar ke hampir seluruh bagian di wilayah Indonesia oleh tangan-tangan para penyebar Islam – termasuk Walisongo – dengan penuh ke’arifan, kebijaksanaan dan tingkat toleransi yang begitu tinggi. Mereka mengetahui bahwa semangat ajaran Hindu-Budha begitu kuat dipraktekkan di dalam sendi-sendi kehidupan mereka. Dan untuk menarik hati mereka, maka para penyebar Islam di tanah Nusantara saat itu juga menggunakan hati untuk melakukan pendekatan. Akhirnya, terjadilah asimilasi budaya antara Hindu-Islam dan kemudian menjadi model para pendakwah selanjutnya (yakni murid-murid Walisongo) untuk tetap menjaga nilai-nilai toleransi tersebut.

Melalui penjelasan di atas, maka buku Kumpulan Khutbah yang hadir di akhir Tahun 2013 ini menjadi kado istimewa bagi para pendakwah dan khatib yang ingin terus berdakwah dengan pemikiran yang progresif namun tetap menjaga nilai-nilai tradisi lama yang baik. Dengan bahasa yang lugas dan dengan ungkapan-ungkapan di dalam buku ini dengan memberikan gambaran dan solusi terhadap probelem sosial keagamaan di Indonesia, akan menjadi sangat menarik ketika disampaikan kepada jama’ah jum’at dan dua hari raya yang tentunya haus dengan ajaran Islam yang berwawasan ke-Indonesiaan. Terlebih lagi, buku ini diawali dengan penyampaian fiqh khutbah secara singkat tentang panduan menjadi khatib, maka akan menjadi sangat berhati-hati bagi para khatib dikemudian hari dalam menyampaikan khutbahnya, dengan tidak meninggalkan syarat dan rukun di dalam khutbah tersebut.

Buku Khutbah edit copycropped-beli-buku.jpg

MENGAJI “HIDUP” BERSAMA BUYA SYAFII MAARIF

Hari ini jum’at 6 Desember 2013 di aula Universitas Muhammadiyah Lampung diadakan bedah buku “Memoar Seorang Anak Kampung” karya Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif, MA., yang langsung mendatangkan penulisnya sebagai keynote speaker, dan sebagai pembanding, panitia menghadirkan Prof. Dr. Marzuki Noor, M.Si., Rektor Universitas Muhammadiyah Metro.

Ada beberapa ungkapan yang sangat menarik dan dapat dijadikan acuan dan penyemangat bagi anak-anak muda Indonesia, di mana beliau menekankan pentingnya untuk menerapkan filosofi garam dan meninggalkan filosofi gincu (lipstik). Menurut beliau, garam ketika berbaur dengan bumbu-bumbu lainnya dan tercipta sebuah produk makanan maka garam tadi sudah tidak lagi terlihat akan tetapi semua dapat merasakan asinnya garam. Berbeda dengan gincu yang begitu terlihat merahnya namun sangat menipu pandangan karena aslinya bibir yang tidak menarik menjadi tertutupi. Disinilah kemudian dia menegaskan agar kita harus down to earth dan jangan patah arang dalam beramal.

Beliau menceritakan, selain sambutan dan penghormatan yang positif dari banyak orang di sekelilingnya termasuk lembaga pendidikan dan negara, beliau juga mendapatkan cercaan, hinaan, bahkan pengkafiran dari orang-orang yang tidak memahami pemikirannya, percis seperti yang pernah terjadi oleh Gusdur sebelum wafatnya. Sampai saat inipun masih ada baliho besar di kota Jakarta yang memampangkan foto-foto dan nama-nama tokoh muslim di Indonesia yang di anggap liberal dan sesat termasuk beliau, dan namanya tertulis menjadi “Syafii Iblis Maarif”.

Lebih lanjut beliau menceritakan, bahwa sesungguhnya dahulu si anak kampung yang tidak pernah memilki cita-cita apapun ini tidak pernah akan tahu jika akan menjadi besar seperti saat ini, dan menjadi ketua PP Muhammadiyah itupun terjadi karena Amin Rais senang bermain politik dan terpilih menjadi ketua MPR. Disinilah kemudian ia berfilosofi bahwa perjalan panjangnya ditengah samudra hingga sampai ketepian terjadi hanyalah karena adanya belas kasih dari ombak. Artinya, selain adanya usaha yang keras dari diri kita masing-masing akan tetapi sesungguhnya Allah lah yang menghadirkan taqdir dari setiap manusia.

Pelajaran besar dari kedatangan beliau tadi untuk pribadi kita masing-masing adalah, bahwa menunjukkan apa adanya dari diri yang paling dalam dan dengan penuh ketulusan maka akan menghadirkan kebaikan di sekitar kita, akan tetapi jika kepalsuan yang ditunjukkan maka hanya akan menciptakan dan memupuk keburukan di dalam diri. Orang yang membenci dan menghina, menunjukkan bahwa ia sesungguhnya tidak memahami orang tersebut dengan dalam.

Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbih.

KHUTBAH ‘IDUL ADHA 2013 : BERKURBAN BERHALA KESOMBONGAN DI ERA MODERN

Oleh :

Ahmad Rajafi Sahran, M.Hi

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر {× 7} الله أكبر كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لا إ له إلا اللهُ وَحْدَ هْ صَدَقَ وَعْدَ هْ وَ نَصَرَ عَبْدَ هْ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَ هْ ، لا إ له إلا اللهُ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْن ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلمُنَافِقُوْنَ ، لا إ له إلا الله والله أكبر ، الله أكبر ولله الحمد.

اْلحَمْدُ للهِ الَّذِي مَنْ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ الْجَسِيْمِ، اِذْ مَنَّ عَلَيْنَا بِمُحَمَّدٍ اَفْضَلِ الْخَلْقِ اَجْمَعِيْنَ، فَهَدَانَا اِلَى دِيْنِ الْحَقِّ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْكَرِيْمِ الْحَلِيْمِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ الَّذِي خَصَّى بِالْخُلُقِ الْعَظِيْمِ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَلَّذِيْنَ فَازُوْا بِالْحَظِّ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَِثيْرًا {أما بعد}

فَيَا أ يُّهَاالنَّاسُ اتَّقُواللهَ وَافْعَلُوا مَأْمُوْرَاتِهِ وَاتْرُكُوْا مَنْهِيَّاتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {الأعراف : 204} وقال أيضا: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ، فَصَلِّ لِرَ بِّكَ وَانْحَرْ ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَ بْتَرُ {التكاثر : 3-1}

الله أكبر {× 5} ، الله أكبر ولله الحمد

Hadirin Jama’ah Shalat Idul Adha yang Dirahmati Oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Tidak terasa perjalanan waktu hingga saat ini, masih mencatat kita sebagai bagian kelompok manusia, yang dapat ikut meramaikan ibadah sunnah ‘idul adha. Bersamaan dengan hal itu pula, satu persatu orang-orang terdekat kita, tidak terasa telah pergi terlebih dahulu meninggalkan kita menghadap Allah Jalla wa ‘Ala. Untuk itu, marilah kita berdoa agar kita yang masih hidup pada kesempatan ini, dapat terus berusaha untuk menjadi hamba yang lebih baik, dan meraih akhirat yang penuh dengan kenikmatan, bukan murka-Nya Allah ta’ala, amin ya Rabbal ‘alamin.

 Hadirin yang Berbahagia.

Fenomena kesombongan sesama makhluk di dunia ini kini semakin menjadi-jadi. Bahkan tanpa disadari, kesombongan baik yang tersirat maupun tersurat pada diri seorang manusia telah sampai pada pembajakan hak-hak Tuhan yakni Allah swt di dunia. Dengan demikian, maka pantas jika kemudian, kesombongan telah menjadi berhala baru di era modern ini.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata kesombongan berasal dari kata sombong yang berarti menghargai diri sendiri secara berlebihan, congkak, dan pongah. Sedangkan di dalam bahasa Arab, kata sombong biasanya merupakan terjemahan dari kata al-kibr yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi istilah takabur.

Al-Qur’an yang merupakan firman Allah subhanhau wa ta’ala telah menyampaikan tentang permasalahan kesombongan sebanyak 58 ayat dengan redaksi yang berbeda-beda. Salah satunya adalah :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا ِلآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ {البقرة : 34}

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur, maka ia kemudian termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. al-Baqarah : 34)

 Pada ayat di atas, Allah swt menggunkan kata istakbara yang berasal dari kata kabara ( كبر ) dengan huruf asalnya adalah kaf ( ك ), ba’ ( ب ), dan ra’ ( ر ), yang kemudian juga menjadi bagian nama-nama Allah swt yang terangkum di dalam 99 asma’ al-husna yakni al-Mutakabbir ( المتكبر ) Sang Maha Pemilik Kebesaran, al-Kabir ( الكبير ) Sang Maha Besar.

Pembajakan seorang hamba terhadap hak Allah di atas inilah yang kemudian memunculkan berbagai sifat keangkuhan dan kebesaran yang tercela terhadap Allah swt beserta tanda-tanda kebesaran-Nya, terhadap Nabi dan Rasul-Nya, dan terhadap makhluk-makhluk-Nya. Adapun kesombongan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala merupakan puncak dari segala keangkuhan, seperti ulah Namrud la’natullah ‘alaih, seorang penguasa pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آَتاهُ اللهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ {البقرة : 258}

Artinya : “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (QS. al-Baqarah : 258)

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Hadirin Rahimakumullah.

Berdasarkan fenomena faktual di atas yang kemudian dikuatkan dengan firman-firman Allah swt, maka pantas rasanya jika hal tersebut kita kaitkan dengan adanya perintah berkurban di dalam Islam. Dan tentunya melalui khutbah ini, kerangka berpikir filosofis akan menjadi modal dasar dalam melakukan analisis. Maksudnya adalah, bahwa saat ini kita sebagai umat Islam, sedang terjebak pada ritual keagamaan, senang dengan sifat untuk menonjolkan aksesoris keagamaan akan tetapi sangat miskin makna dan pemahaman. Kita sangat senang untuk menyalahkan praktek ibadah orang lain yang berbeda, tapi minim koreksi diri (al-muhasabah). Dari sinilah kemudian hadir sifat-sifat kesombongan yang tidak pernah diketahui sedikitpun bagi yang melakukan. Untuk itulah, memaknai perintah qurban yang lebih humanis, dirasa lebih resposif dengan kondisi saat ini.

Jika kita kita lihat bersama definisi qurban dari segi bahasa, menurut Ahmad Warson Munawwir alm, di dalam al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, qurban berasal dari kata qaruba-yaqrabu-qurban, yang artinya dekat dan mendekati. Sedangkan dalam tradisi Arab menurut Ahmad bin Umar al-Syathiry al-‘Uluwy al-Husaini al-Tarimy di dalam Kitab al-Yaqut al-Nafis fi Madzhab ibnu Idris, hal ini dikenal dengan istilah al-udhhiyyah, yang berarti :

مَا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ تَقَرُّ بًا إِلىَ اللهِ تَعَالىَ مِنْ يَوْمِ النَّحْرِ إِلىَ آخِرِ أَ يَّامِ التَّشْرِ يْقِ

Artinya : “Apa yang disembelih dari binatang ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. pada hari nahr (10 dzulhijjah) sampai pada akhir hari tasyriq (13 dzulhijjah).

 Artinya, jika dilihat dari segi definisi qurban dan udhhiyyah, maka maksud dan tujuan dari ibadah tersebut adalah, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Apalagi jika kita ingat kembali sejarah hadirnya perintah qurban ini, di mana sifat-sifat ketawadhu’an, ketundukan, keikhlasan, tertanam dan tumbuh dengan hebat di dalam diri seorang anak manusia bernama Ism’ail ‘alaihissalam, keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Perintah Allah swt kepada Nabi Ibrahim alaihissalam untuk menyembelih anaknya Isma’il ‘alaihissalam yang jika dipikirkan, sangatlah tidak masuk akal, akantetapi tetap ia sampaikan perintah Allah tersebut kepada anaknya, dan dijawab dengan lantang oleh Isma’il ‘alaihissalam, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an al-Karim :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ {الصفات : 102}

Artinya : “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. ash-Shaffaat : 102)

 Karena sikap dan sifat yang begitu mulia yang ditinjukkan oleh Nabi muda tersebut, maka kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengubah qurban tersebut menjadi sebuah sebuah qibas yang besar, Allah swt berfirman :

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ {الصفات : 107}

Artinya : “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Hadirin Jama’ah Shalat ‘Idul Adha Rahimakumullah.

Sikap Isma’il ‘alaihissalam di atas, menjadi cermin yang nyata, bagi siapapun yang ingin menjadi hamba yang lebih baik. Sebuah sikap yang mungkin sangat sulit untuk dipraktekkan saat ini, di mana semua kehendak sifat-sifat manusianya takluk di bawah kehendak Allah swt. Semua yang diucapkannya adalah karena Allah ta’ala. Semua yang ia kerjakan adalah kerena Allah semata. Dan seluruh sifatnya, masuk kepada sifat-sifat baik Allah swt.

Inilah ajaran tauhid yang telah diajarakan oleh kisah Nabi Allah Isma’il ‘alaihissalam dan diteruskan oleh baginda Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hasil yang diraih olehnya, sesuai dengan doa yang diajarkan oleh Allah di dalam al-Qur’an :

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ {البقرة : 201}

Artinya : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah : 201)

 Inilah pemaknaan qurban yang sesungguhnya, yang harus dihadirkan saat ini. Qurban yang betul-betul menyembelih semua sifat kesombongan yang ada pada diri setiap manusia. Qurban yang bukan saja sekedar menjalankan sebuah ritus, namun keinginan untuk menonjolkan diri baik dari segi harta, jabatan dan ilmu begitu tinggi. Kita harus dapat merasakan susah dan getirnya kehidupan orang-orang miskin disekitar kita, karena sesungguhnya rasa dari sebuah kemiskinan seperti teriakan hewan qurban yang sedang disembelih. Maka pantaskah jika kita sebagai seorang manusia, makhluk ciptaan Sang Khaliq Allah subhanahu wa ta’ala, berjalan di bumi-Nya dengan sikap sombong dan angkuh ? na’udzubillahi min dzalik.

Fenomena sikap sombong di Indonesia saat ini begitu tinggi. Jabatan yang sifanya sementara begitu ditonjol-tonjolkan sehingga tidak lagi merasa takut untuk melakukan korupsi. Kekayaan yang sifatnya tak kekal begitu ditunjukkan sehingga menindas yang lemah. Di antara kita saat ini masih ada rasa risih untuk kumpul dan bersama-sama dengan orang-orang miskin. Orang-orang miskin merasa malu untuk dapat bertemu dengan siapun yang tingkat sosialnya tinggi, meskipun masih ada hubungan keluarga dengannya. Urusan kantor jika bukan dengan orang-orang yang terpandang, apalagi jika tidak beruang, maka wujudnya sama seperti tidak adanya (wujuduhu ka ‘adamihi). Mereka seringkali kemudian, tidak dianggap sebagai manusia.

Jika ini yang terjadi, maka masih pantaskah kita berkeyakinan untuk menjadi penghuni surga-Nya Allah subhanahu wa ta’ala ? atau sesungguhnya kita inilah kayu bakarnya neraka jahannam, yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ? Untuk itu hadirin, menyembelih qurban berupa sifat kesombongan dan angkuh sebagai berhala kehidupannya, sama wajibnya dengan perintah untuk berkurban dengan menyembelih hewan qurban. Pemahaman seperti ini, sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an :

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ {لقمان : 18}

Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

 Begitu juga dengan nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ : إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ {رواه مسلم}

Artinya : “Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan. Seorang laki-laki bertanya; Sesungguhnya seseorang menyukai baju dan sandal yang bagus (apakah ini termasuk kesombongan)? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

 الله اكبر الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Pada akhirnya kami mengajak kepada kita semua sebagai umat Islam, untuk bersama-sama mulai hari ini, agar dapat mengurbankan berhala kesombongan kita yang mengalir didarah kita masing-masing. Jangan sampai kita hidup di era modern ini, akan tetapi nuansanya penuh dengan kebodohan seperti masa-masa jahiliyyah. Kita alirkan dan habiskan darah keangkuhan kita seperti kita mengalirkan darah hewan qurban. Sehingga nilai ketakwaan betul-betul masuk dan merasuk ke dalam diri kita masing-masing. Allah swt berfirman :

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ {الحج : 37}

Artinya : “Daging-daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Hajj : 37)

 Hadirin Rahimakumullah.

Untuk menutup khutbah ‘Idul Adha ini, marilah kita bersama-sama menengadahkan tangan berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan penuh harapan dan keikhlasan :

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَ ْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِ يْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ

Ya Allah, sesungguhnya kami adalah hamba-hamba-Mu yang begitu penuh dengan dosa dan khilaf, tak pantas rasanya kami menjadi penghuni surga-Mu, akan tetapi kami tak akan pernah mampu jika engkau masukkan ke dalam neraka-Mu. Untuk itu ya Rabb, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengaihi kami diwaktu kecil.

Ya Allah ya Rabbana, berilah kami kekuatan dan kemampuan agar kami senantiasa dapat berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Mu kapanpun dan di mana pun kami berada. Tumbuhkanlah kecintaan, keikhlasan dan ketulusan di dalam hati kami untuk saling memaafkan, mencintai dan melindungi.

Ya Allah, dihari yang mulia ini turunkanlah kepada kami cahaya yang menyinari hati kami dan yang memberi kekuatan dalam menjalani hari-hari ini dan dalam menempuh hari-hari yang akan datang. Berilah petunjuk dan kemampuan kepada para pemimpin kami agar dapat membawa bangsa ini keluar dari segala kesulitan menuju ke dalam suasana kedamaian dan kemakmuran di bawah ampunan dan keridhaan-Mu.

اللهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا وَاجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللهُمَّ أَعِزَ اْلإِسْلاَ مَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاخْذُلِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِيْنِ