KECERDASAN ANAK BERSUMBER DARI IBU

Tingkat Kecerdasan Anak adalah Warisan dari Ibu? 

Pernahkah Anda mendengar anjuran “carilah istri yang cerdas supaya bisa mempunyai anak yang cerdas karena kecerdasan itu diturunkan dari seorang ibu”. Namun, Anda pasti bingung dan bertanya-tanya, yaitu bagaimana kecerdasan itu diturunkan dari ibu? apakah kecerdasan itu bisa ditingkatkan? dan apa saja yang mempengaruhi kecerdasan?Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, berikut uraian yang mungkin bisa menjadi referensi Anda.

Apakah Kecerdasan Diturunkan?

Menjelang akhir 1997, seorang ilmuwan mengumumkan bahwa ia telah menemukan satu gen kecerdasan di kromosom 6. Orang kebanyakan memiliki urutan tertentu pada gen tsb, tapi anak-anak cerdas dengan IQ 160 yang diteliti olehnya memiliki urutan agak berbeda pada gen IGF2R tsb. Penemuan Robert Plomin ini segera mengundang kontroversi. Tak banyak perdebatan dalam sejarah sains yang berlangsung seseru perdebatan seputar kecerdasan. Parameter uji kecerdasan dengan IQ sendiri merupakan kontroversi. Di akhir 1990-an, banyak ilmuwan memperkenalkan kecerdasan yang lain: emotional, spiritual, adversity quotience, dll. Seorang pakar, Howard Gardner, bahkan telah mendefinisikan 9 jenis kecerdasan yang berbeda, di antaranya kecerdasan visual, kecerdasan verbal, kecerdasan musik, bahkan kecerdasan atletik.

Penelitian yang terakhir ini rasanya lebih adil. Mengatakan Mozart, Hemingway, atau Zidane lebih bodoh daripada Newton, kini akan terdengar cukup konyol.Penelitian lain dilakukan Thomas Bouchard. Dimulai th 1979, ia mengumpulkan pasangan-pasangan kembar terpisah dari seluruh dunia dan menguji kepribadian dan IQ mereka. Hasil yang diluar dugaan dari penelitian ini adalah korelasi antara anak-anak adopsi yang dibesarkan bersama ternyata nol. Artinya,tidak ada pengaruh asuhan keluarga terhadap IQ. Jika bukan asuhan keluarga, lalu apa yang menentukan IQ? Jawabnya adalah peran penting rahim seorang Ibu!

Menurut studi lain, pengaruh peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kandungan terhadap kecerdasan tiga kali lebih besar dibanding apapun yang diperbuat oleh orangtua sesudah bayi lahir.Kesimpulan yang dapat diambil dari studi tadi adalah, kali ini menurut Ridley, bahwa kira-kira separuh IQ kita dapatkan melalui pewarisan, dan kurang dari 20% berasal dari asuhan keluarga. Sisanya berasal dari kandungan, sekolah, dan teman sepergaulan. Sifat pewarisan IQ sewaktu anak-anak porsinya kurang lebih 45%, sedangkan pada masa akhir remaja naik menjadi 75%.

Sejalan dengan pertumbuhan, anak secara berangsur mengekspresikan kecerdasan bawaan dan meninggalkan pengaruh-pengaruh sebelumnya yang ditanamkan orang lain. Akhirnya, meskipun terbukti sahih bahwa kecerdasan diwariskan, sifat pewarisan bukan berarti tidak dapat berubah. Kecerdasan bawaan sangat berperan, sebagaimana pengaruh lingkungan asuhan tak dapat disepelekan. Ambillah orok dari sepasang suami-istri profesor mekanika kuantum dan doktor biologi molekuler, lalu besarkanlah ia di Nusa Tenggara Timur, tempat dimana anak-anak menderita marasmus. Tujuh belas tahun kemudian kita akan membuktikan kesimpulan Ridley.

Siapa yang Lebih Berperan dalam Mewariskan Kecerdasan pada Anak? Faktor genetik seorang Ibu seangat berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands Dr Ben Hamel “Pengaruh itu sedemikian besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu”. Karena itu, ibu yang cerdas berpotensi besar melahirkan anak yang cerdas pula. “Dengan demikian, lebih baik memiliki ibu yang cerdas daripada ayah yang cerdas,” ujar Hamel. Namun, kelainan genetika dari seorang ibu juga dapat diturunkan kepada anak-anaknya, termasuk di antaranya retardasi mental.

Dalam keadaan normal, setiap manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri atas 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom seks. Ada 23 kromosom berasal dari ibu yang disebut kromosom XX dan 23 pasang lagi berasal dari ayah yang disebut kromosom XY. Kromosom dari ayah dan ibu akan bergabung saat terjadinya fertilisasi, yaitu pertemuan antara sel sperma dan sel telur yang akan menghasilkan zigot.

Dalam keadaan normal, zigot akan melakukan pembelahan sel secara mitosis sehingga setiap sel dalam tubuh manusia akan membawa informasi genetik yang sama.Otak dikatakan berfungsi optimal jika memiliki kemampuan berfikir kreativ dan innovative pada saat yang tepat. Untuk mendapatkan sel otak yang bisa berfungsi maksimal, selain factor genetic, juga dipengaruhi oleh asupan gizi, dan ransangan luar.

Genetik diturunkan dari kedua orang tua, asupan gizi dan ransangan dari luar tergantung dari bagaimana kita memenuhi kebutuhan gizi anak, dan melayani anak, apakah permainan, interaksi orang tua dan anak. Permainan edukatif dan yang banyak mengundang kreativitas anak tentu akan lebih baik untuk perkembangan otak yang sempurna. Sehingga kecerdasan yang sebenarnya itu adalah akumulasi dari genetic, supply gizi dan ransangan. Dengan artian walaupun orang tua mempunyai genetic yang baik, tapi anak tidak diberi makanan yang baik dan tanpa diransang justeru kecerdasan itu nggak akan muncul sempurna.

Bagaimana Seorang Ibu Berperan Penting dalam Pewarisan Kecerdasan Anak? Bagaimana bisa seorang ibu menjadi penentu kecerdasan anak-anaknya? Mungkin pertanyaan ini akan terdengar kurang indah ditelinga kaum laki-laki karena pada dasarnya seorang anak terlahir dari pertemuan antara sperma (laki-laki) dan ovum (perempuan) melalui proses fertilisasi dimana setelah terjadi proses fertilisasi tersebut, kedua sel gamet itu akan melebur menjadi satu dan membentuk zygot kemudian membelah menjadi morula, blastula, gastrula, dan berdiferensiasi menjadi makhluk hidup kecil di dalam rahim yg disebut dengan fetus (janin).

Ovum merupakan sel gamet yang terdiri dari inti sel dan sitoplasma lengkap dengan organel-organel yang akan berperan dalam proses pembelahan dan perbanyakan sel. Sperma merupakan sel gamet yang terdiri atas kepala dengan inti sel dan ekor yang mengandung mitokondria sebagai pemberi energi bagi pergerakan sperma. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa 14 jam setelah proses fertilisasi maka ekor sperma yang mengandung mitokondria akan dilepas dan dibuang, inti sel ovum dan sperma akan melebur menjadi satu sehingga terbentuklah sel baru (zygot) 2n. Inti zigot merupakan gabungan antara inti sperma dan ovum sedangkan sitoplasma dan organel-organel sel berasal dari organel sel ovum. Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa prosentase peran ovum lebih besar daripada sperma dalam aktivitas pembelahan sel selanjutnya. Di sinilah awal peran Ibu dalam menentukan kecerdasan, yaitu melalui mitokondria.

Yang menarik, mitokondria ini hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh ayah. Sebab, mitokondria berasal dari sel telur bukan dari sel sperma (sebagaimana penjelasan sebelumnya). Dalam setiap sel manusia ada sebuah organela yang sangat strategis fungsinya. Organela ini dinamakan mitokondria. Organelnya berongga berbentuk bulat lonjong, selaputnya terdiri dari dua lapis membran, membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks), serta mengandung banyak enzim pernapasan. Tugas utama mitokondria adalah memproduksi kimia tubuh bernama ATP (adenosin tri phosphat). Energi hasil reaksi dari ATP inilah yang menjadi sumber energi bagi manusia. Mitokondria bersifat semiotonom karena 40 persen kebutuhan protein dan enzimnya dihasilkan sendiri oleh gennya. Mitokondria adalah salah-satu bagian sel yang punya DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel. Itulah sebabnya investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75 persen.

Keseimpulannya, berdasarkan uraian 3 pertanayaan di atas. Secara teori, kecerdasan anak mungkin sangat dipengaruhi oleh kecerdasan seorang ibu. Namun, fenotip (penampakan) yang kita lihat bukanlah melulu hasil dari faktor genetik melainkan hasil interaksi dengan lingkungan juga.

Sumber : http://alief.wordpress.com

MEMBANGUN KAMPANYE PILPRES YANG BERKEADABAN

Oleh :
Ahmad Rajafi Sahran

Di dalam Islam ada konsep “tabayun” untuk mendapatkan kebenaran dari suatu kabar negatif yg menerpa dirinya dan bukan diri org lain, ari orang yg memberi kabar tersebut hingga bertemu dg sumber aslinya. Adapun kabar negatif yg perlu dilakukan “tabayun” adalah kabar yg betul2 berdampak pada terganggunya tabilitas kehidupan, dan bukan kabar negatif biasa.

Adapun pada tataran makro, sikap tabayun dibutuhkan demi mendapatkan kemashlahatan secara umum. Hal ini seperti yg terjadi beberapa hari ini di Indonesia. Di mana pada masa kampanye pilpres 2014, dua calon presiden mendapatkan berbagai serangan pemberitaan negatif di berbagai media. Anehnya, muncul beberapa orang yg ikut2an terseret arus pemberitaan tersebut sehingga dengan mudah terprovokasi untuk ikut menyebarkan pemberitaan tersebut dengan komentar2 tambahan yang sangat tidak berakhlak. Meskipun kedua capres tersebut telah memberikan klarifikasi atas pemberitaan negatif pada diri mereka.

Berdasarkan problem sosial di atas, maka sesungguhnya sumber utamanya terdapat pada lemahnya kontrol sosial akibat kebebasan informasi global yg kemudian menegasi paradigma berdirinya bangsa ini. Paradigma tersebut terakumulasi pada bagan ideologi bangsa Indonesia yakni Pancasila. Jika dirujuk pada lima sila tersebut, maka maknanya yakni ;

(1) Ketuhanan yang Maha Esa. Maka kita sebagai bagian dari warga negara, sudah disepakati haruslah beragama, dan konsekwensinya dari masyarakat yang beragama adalah terciptanya masyarakat yang beradab, tidak mudah memfitnah, dan selalu menghadirkan kebaikan-kebaikan bagi sekitarnya. Oleh karenanya, siapa saja yang mengaku warga negara Indonesia namun mudah untuk menghadirkan kemafsadatan sosial, maka bisakah dia disebut sebagai masyarakat yang beragama?

(2) Kemanusiaan yang adil dan beradab. Prinsip dasar yang kedua ini adalah semangat untuk membumikan prinsip-prinsip agama yang telah tertuang pada sila pertama. Di mana seseorang sesungguhnya bisa disebut sebagai manusia jika jiwa hidupnya adalah keadilan dan keberadaban. Sikap adil dapat diukur ketika seseorang mampu menjadi problem solver di dalam masyarakat. Sedangkan sikap keberadaban dapat diukur dari tingkah laku yang ditunjukkan di dalam masyarakat. Dan pada masalah pilpres kali ini, akan sangat terlihat mana manusia-manusia yang adil dan beradab dalam menanggapi kampanye negatif di lapangan.

(3) Persatuan Indonesia. Pada aspek ini, manusia-manusia yang beragama dan terbangun di dalamnya sifat adil dan beradab, tentunya tidak akan menciptakan segala sesuatu yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan. Termasuk pada masalah pilpres kali ini, bukankah pemilihan presiden ditujukan untuk mendudukkan anak bangsa yang terbaik sebagai pemimpin bangsa ini, dan bukankah mereka juga telah diseleksi dengan ketat oleh Komisi Pemilihan Umum yang bekerja secara keras dan independen. Lalu mengapa kita menjadi lupa dan melakukan sesuatu yang tidak dirasa olehnya dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa ini.

(4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Artinya ada sikap kebersamaan baik dalam proses maupun menikmati hasilnya. Kita adalah rakyat yang sedang memilih calon pemimpin yang dapat mengayomi kita. Untuk itu, sikap penuh mencari kebaikan lewat hikmah dari Tuhan melalui jalan istikharah, dapat menghadirkan kebijaksanaan yang besar, dan pada saat musyawarah besar yakni masa pencoblosan, kita betul-betul dapat memilih dengan benar.

(5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah hulu dari semua keinginan besar dari pemilihan presiden nanti, yakni pemerataan di setiap lini kehidupan masyarakat.

Semoga semangat kebersamaan sebagai warga bangsa Indonesia mampu menutup sikap jumawa dan keras kepala dalam mendukung masing-masing calon presiden. Jangan mudah terprovokasi sehingga kemudharatan baik yang bersifat personal maupun global tidak akan muncul di bumi Indonesia ini. Cintailah masing-masing di antara kita karena sama-sama ciptaan Tuhan, sehingga Tuhan pun akan mencintai kita dan mendatangkan untuk kita kebaikan yang lebih besar lagi.

RAMADHAN DAN FATWA “GELAP” MENJELANG PILPRES

Oleh :

Ahmad Rajafi Sahran

Tidak terasa bulan Ramadhan 1435 H / 2014 M, dengan segala kewajiban dan pahala di dalamnya akan segera menghampiri umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Akan tetapi ada fenomena unik menjelang Ramadhan tahun ini di bumi Indonesia, di mana kesibukan rutinitas tahunan yang biasanya ramai memenuhi ruang-ruang media sosial dalam menunggu datangnya sang bulan suci melalui kegiatan hisab, rukyat dan sidang itsbat, sepertinya memudar akibat pengaruh politik menjelang pemilihan Presiden yang kebetulan berada di dalam bulan Ramadhan.

Ada yang menarik di masa-masa kampanye tersebut, di mana telah bermunculan fatwa-fatwa “gelap” yang tidak diketahui asal usulnya, baik konten maupun person pemberi fatwa, yang kemudian mendiskreditkan fisik, kemampuan personality, bahkan agama, demi mengangkat elektabilitas masing-masing calon pilihannya. Biasanya forum yang paling ramai digunakan adalah pada saat khutbah jum’at dan acara-acara keagamaan seperti ruwahan di hari-hari bulan Sya’ban sebelum bulan Ramadhan.

Semangat tersebut sepertinya akan terus berjalan dan bahkan akan lebih panas karena semakin meluasnya kesempatan mereka untuk melemahkan masing-masing calon pilihan mereka di dalam bulan Ramadhan. Bayangkan, dalam satu hari saja akan muncul berbagai forum-forum pengumpul masa yang efektif untuk digunakan sebagai alat politik kepentingan masing-masing kubu, seperti kultum sebelum shalat tarawih, setelah shalat subuh, menjelang buka bersama, pesantren kilat, nuzul qur’an, dll. Belum lagi spanduk dan selebaran-selabaran yang disebar ketempat-tempat ibadah yang bernuansa religis namun substansinya adalah kampanye politik. Jika hal tersebut terus berlangsung hingga Pilpres dilaksanakan, maka bisa dipastikan semangat Ramadhan yang menghadirkan pahala yang berlipat ganda bagi melakukannya, akan tereliminasi karena semangat politik sesaat yang dilakukan dengan maksud untuk saling menjatuhkan. Perlu diingatkan kembali bahwa puasa adalah milik orang-orang yang beriman demi mendapatkan kualitas takwa. Untuk itu, penyampaian fatwa-fatwa “gelap” di bulan suci tersebut hanya akan mempersulit obsesi mereka meraih takwa.

Jika dirujuk makna fatwa di dalam ilmu ushul fiqh, maka menurut Amir Syarifuddin (2001), unsur-unsur utamanya yakni : (1) Ia adalah usaha untuk memberikan penjelasan; (2) penjelasan yang diberikan itu adalah tentang hukum syara’ yang diperoleh melalui hasil ijtihad; (3) yang memberikan penjelasan itu adalah orang yang ahli dalam bidangnya; (4) penjelasan itu diberikan kepada orang yang bertanya yang belum mengetahui hukumnya.

Penjelasan di atas memberikan ketegasan bahwa yang terlontar dari fatwa adalah masalah-masalah hukum syari’at yang dapat menghadirkan kemashlahatan secara universal bukan personal. Proses ijtihad (research) menjadi faktor utama dalam melahirkan fatwa tersebut, untuk itu kuwalitas personality pembuat fatwa juga menjadi rujukan utama untuk menilai hasil fatwa yang dimunculkannya. Bahkan jika merujuk pada kitab-kitab klasik hukum Islam maka didapatkan persyaratan yang sangat ketat bagi seseorang yang dipintakan fatwanya, bukan “abal-abal” yang hanya dapat menunjukkan kemampuan retorika dan pesona fisik dengan berpakaian serta aksesoris keagamaan yang dianggap Islami. Biasanya, faktor inilah yang paling banyak menipu dan bahkan menyesatkan umat. Sebut saja istilah perang badar, Islam abangan, keluarga sakinah, dan yang baru-baru ini adalah istilah masuk surga dan neraka, demi menguatkan capres pilihannya dan melemahkan yang lainnya.

Pada dasarnya, apa yang terjadi di Indonesia saat ini tidaklah sesuai dengan wajah aslinya yang ramah, toleran dan penuh dengan semangat gotong royong, bukannya semangat pragmatisme, saling mencela, dan bahkan taklid buta. Akan tetapi inilah sifat dari kebudayaan (dalam ilmu antropologi budaya), di mana menurut Sjafri Sairin (1997), berubah adalah sifat utamanya. Kebudayaan selalu berubah dengan munculnya gagasan baru pada masyarakat pendukungnya. Secara garis besar, munculnya perubahan itu terjadi karena dipengaruhi oleh faktor-faktor internal yang muncul di dalam masyarakat pendukungnya, seperti munculnya inovasi ide-ide dan gagasan baru di dalam masyarakat.

Meskipun demikian (kembali ke masalah Ramadhan), umat Islam tidak boleh lengah, karena visi utama dari adanya bulan Ramadhan adalah memperbanyak pahala dan mengikis habis dosa, maka perubahan yang merupakan sifat utama dalam kebudayaan hendaknya tidak diarahkan kepada hal-hal yang negatif seperti fitnah dan ghibah. Alangkah baiknya jika stasiun-stasiun di dalam bulan tersebut, seperti sepertiga awalnya adalah rahmat, sepertiga kedua adalah ampunan Allah, dan sepertiga akhir adalah pembebasan dari api neraka betul-betul terlalui dengan sempurna.

Pada stasiun pertama misalnya, di mana rahmat Allah begitu melimpah ruah, maka sebagaimana makna dari rahmat itu sendiri yakni bentuk kasih, berkah dan segala kebaikan, maka tidak pantas jika fatwa-fatwa “gelap” dimunculkan di dalam bulan suci tersebut yang menegasi keberkahan dan kasih sayang sesama, termasuk Allah swt. Begitu juga dengan step selanjutnya yakni ampunan Allah, maka seharusnya di bulan tersebut sikap pemaaf, welas asih, menjadi pegangan setiap muslim. Apapun warna partainya, background kehidupannya, tidaklah menjadi pemicu untuk menuntup hati ini dalam memberikan maaf dan ampunan yang sebesar-besarnya, karena dua capres yang ada saat ini tentunya memiliki kelebihan dan kekurangnnya masing-masing. Dan step yang terakhir adalah selamat dari siksa api neraka. Dalam hal ini, neraka merupakan simbol dari segala bentuk kesusahan dan keburukan, untuk itu seorang muslim yang menghadirkan fatwa “gelap” yang kemudian di-share oleh orang lain dan terus menyebar hingga memunculkan keburukan persepsi terhadap masing-masing calon, maka mungkinkah visi selamat dari siksa api neraka akan tercapai ? di sinilah pentingnya menahan diri, sebagaimana makna puasa yakni al-imsak (menahan diri) dari segala hal yang dapat mempengaruhi rusaknya nilai ibadah.

Meskipun demikian, karena makna Ramadhan adalah salah satu nama Allah yang berarti panas, maka tidak bisa dipungkiri bahwa syetan-syetan berfisik manusia masih akan bermunculan untuk saling mengisi keburukan di bulan tersebut. Untuk itu, sikap saling mengingatkan adalah bagian dari kebaikan yang juga dapat mengumpulkan pahala yang banyak di bulan tersebut. Setiap orang bisa mengungkapkan apapun, akan tetapi Ramadhan hendaknya menjadi rem yang ampuh dalam menghalau fitnah dan ghibah terhadap masing-masing capres yang berbalut bahasa-bahasa agama. Ramadhan hendaknya menjadi sarana yang ampuh untuk mengajarkan kepada umat tentang pentingnya kebersamaan dan persatuan, karena dalam prinsip Islam, “persatuan dan kesatuan adalah rahmat sedangkan perpecahan dapat menghadirkan azab”. Wallahua’lam.

10 NASEHAT RASULULLAH MUHAMMAD SAW UNTUK PUTRINYA FATIMAH AZZAHRAH SEBELUM MENIKAH DENGAN ALI RA

1. Wahai Fatimah, sesungguhnya wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya. Dan dari setiap biji gandum itu akan melebur kejelekannya dan meningkatkan derajat wanita itu.

2. Wahai Fatimah, sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah akan menjadikan antara dirinya dengan neraka itu tujuh tabir pemisah.

3. Wahai Fatimah, tidaklah seseorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirkannya dan mencuci pakaiannya, maka Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang telanjang.

4. Wahai Fatimah, sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangganya maka Allah akan membantunya agar dapat minum di Telaga Kautsar pada hari kiamat nanti.

5. Wahai Fatimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan diatas adalah keridhaan suami terhadap istri, Andai kata suamimu tidak ridha kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.

6. Wahai Fatimah, pada saat seorang wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kejelekan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahiran, maka Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala pejuang di jalan Allah. Jika ia sudah melahirkan bayinya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan dari kandungan ibunya. Jika seorang wanita meninggal ketika melahirkan, maka ia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Didalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Dan, Allah memberi pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7. Wahai Fatimah, pada saat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya pada hari kiamat dengan pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan, Allah juga akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.

8. Wahai Fatimah, ketika seorang istri tersenyum di hadapan suaminya maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.

9. Wahai Fatimah, pada saat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru kepada wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang.

10. Wahai Fatimah, pada saat seorang wanita meminyaki kepala suaminya dan menyisirnya, meminyaki jenggotnya dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, maka Allah akan memberi minum yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah akan mempermudah sakaratul mautnya dan menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allah juga menetapkan baginya bebas dari siksa neraka dan dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.

Dikutip dari : La Tahzan for Women

MENGAJI DENGAN PROF. DR. H. M. QURAISH SHIHAB

Hari ini sabtu 15 feb 2014 menjadi hari kebanggan bagi para pengkaji al quran dan pecinta kajian-kajian serta pemikiran Muhammad Quraish Shihab dalam acara International Conference on Qur’anic Studies atas harlah 10 tahun Pusat Studi al Qur’an dan 70 tahun Muhammad Quraish Shihab. Selain memperdengarkan kajian tentang ta’wil dari tiga model yang berbeda-beda, yakni Imam Masjid Haram dengan model tekstualis, Guru Besar dari Iran dengan model rasional, dan Naib Syekh Akbar al Azhar Mesir dengan model moderatnya, serta ditutup oleh Doktor al Quran dari Indonesia yang juga sedang menjabat sebagai Gubernur NTB dengan menjelaskan model tafsir Indonesia yang dikembangkan oleh Muhammad Quraish Shihab, juga diketengahkan tiga orang pemateri yang masing-masing dari Indonesia, Malaysia dan Singapura dengan fokus kajian pada pemikiran MQS dan visi Membukan al Qurannya.

Diakhir acara tersebut, dimintaklah kepada MQS oleh Moderator agar dapat memberi tanggapan atas berbagai materi dan kegiatan pada hari ini. Pada bagian inilah, terlihat kecemerlangan dan keluasan ilmu dari keturunan sayyid yang tidak pernah mau disebut habib ini. Ungkapan yang paling melekat adalah, ketika beliau menyebutkan bahwa di sinilah kita tempat kita melihat berbagai argumentasi keilmuan dan mengakui hadirnya argumentasi orang lain, namun bukan berarti bahwa mengakui tersebut sebagai justifkasi bahwa ia mengikutinya.

Sebagai contoh, ketika ada pertanyaan tentang siapa yang dimaksud dengan ulama dalam ayat “innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ulama’” maka pemateri dari Malaysia menjelaskan bahwa ulama dalam ayat tersebut adalah mereka yang sesuai dengan profil Nabi Muhammad saw, hal tersebut didasarkan pada sebuah hadits al ulama’ waratsatul anbiya’, ulama adalah pewaris para nabi. Dan ketika MQS ikut menanggapi pertanyaan tersebut, beliau tidak sama sekali menyalahkan pemateri dari Malaysia tersebut yang ternyata berbeda pendapat dengannya. Mengenai ayat tersebut menurut beliau, konteksnya adalah firman Allah tentang para ulama yang bukan beragama Islam akan tetapi kaum Yahudi, dan kata ulama dalam ayat itu pula tidak dikhususkan bagi ahli-ahli keislaman, akan tetapi orang-orang yang berilmu di luar materi-materi keagamaan, karena asal pembahasan di dalam ayat tersebut mengenai masalah bercocok tanam.

Subhanallah, sebuah pertunjukan yang masyarakat langitpun akan begitu bangga dengan keberadaannya. Untuk itu, doa kami semua yang hadir pada saat itu adalah, semoga Allah terus memberikan kesempatan yang luas baginya untuk dapat memberikan secercah ilmu untuk umat manusia, yang tentunya berasal dari-Nya. Selamat pak Quraish, kami bangga dan berayukur kepada Allah swt karena kehadiran beliau di bumi Indonesia ini.

image

Catatan hari ini :
Sabtu, 15 Februari 2014
Jam 21.58 WIB

BUKU NARASI SYARHIL QUR’AN

Buku ini berbicara tentang bagaimana cara melakukan pembinaan yang efektif bagi para peserta binaan syarhil qur’an sehingga mampu memberikan penampilan yang maksimal baik di dalam bermusabaqah ataupun pada saat berdakwah di masyarakat. Selain dari pada itu, diketengahkan pula di falam buku ini beberapa teks syarhil qur’an yang terangkum di dalam kompilasi teks-teks syarhil qur’an. Fungsi utamanya adalah untuk memberikan khazanah baru di dalam perbendaharan kajian syarhil qur’an di Indonesia.

Pada dasarnya, sudah banyak buku-buku yang megetengahkan tentang materi-materi Syarhil Qur’an, tapi buku ini adalah catatan-catatan penulis ketika membina secara khusus para peserta binaan di Padepokan Syarhil Qur’an Lampung sehingga mampu mengahdirkan para juara baik di dalam Prop. Lampung dan juga di luar Lampung. Dengah hadirnya buku ini, semoga mampu memberikan dampak yang positif dalam pembinaan syarhil qur’an kedepan.

Bagi yang berminat segera hubungi kami.
Harga : Rp. 50.000 + Ongkir

image